Oleh: Aguswi
Kita semua sudah tahu bagaimana virus
corona menyebar dan menginfeksi jutaan manusia di seluruh Bumi ini yang
menyebabkan kerugian diberbagai sisi kehidupan bahkan menyebabkan angka kematian
meningkat drastis di setiap negara. Ini merupakan peristiwa alam yang sama
sekali belum pernah kita hadapi dimasa-masa yang sebelumnya dimana seluruh
manusia di Bumi menjadi terdampak pada berbagai sektor kehidupan baik fisik (ekonomi,
sosial, budaya, pendidikan, dll) maupun non-fisik (psikologi, spiritual).
Sejak awal penyebaran virus ini sudah dilakukan berbagai cara atau strategi bagaimana agar virus corona ini berhenti menyebar dan menyebabkan pandemi; seperti menjaga jarak, menjaga kebersihan, memakai masker, mengkarantina warga, mengembangkan vaksin, dll. Bahkan para spiritualis baik secara kelompok ataupun pribadi melalukan doa-doa dengan tujuan terhindar dari pandemi ini. Namun ternyata virus corona ini semakin menggila, dengan sangat cepat menyebar dan menginfeksi jutaan manusia Bumi dan menyebabkan jutaan kematian.
Setiap siklus melewati tahap penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran. Saat kita mendekati masa akhir dari suatu siklus maka polusi spiritual di lingkungan mulai meningkat pesat dan mencapai tingkat tertinggi, yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran siklus dan kemunculan siklus baru. Polusi spiritual disebabkan oleh perilaku-perilaku yang rendah yang dimiliki banyak orang di Bumi. Dan apabila itu terus terjadi maka semakin memperburuk degradasi spiritual di lingkungan. Polusi spiritual inilah yang memicu terbentuknya energi negatif di lingkungan kita. Bila banyak penduduk Bumi memiliki perilaku yang rendah maka polusi spiritual yang terjadi akan semakin tinggi dan itu akan membentuk energi negatif tingkat tinggi di seluruh lingkungan Bumi. Dan energi negatif inilah yang memicu materialisasi dari virus dan mempercepat penyebarannya serta menambah kedahsyatan (sifat merugikan) dari virus tersebut.
Setiap perilaku buruk seseorang sudah pasti mengandung konsekuensi yang buruk biasanya dalam bentuk penderitaan yang harus diterima/dialami oleh orang tersebut dalam kehidupan saat ini atau kehidupan yang akan datang. Hal ini dikenal sebagai karma individual orang tersebut. Sama seperti seorang individu yang memiliki hasil karmanya sendiri, begitu juga dengan wilayah, negara dan keseluruhan umat manusia memiliki hasil karma sesuai dominasi perilaku kebanyakan. Hal inilah yang disebut karma kolektif dari wilayah tertentu beserta penduduknya. Sebagai keluarga, komunitas, bangsa, ataupun sebagai bagian dari keseluruhan umat manusia; memori karma kita saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya. Mungkin secara individu kita tidak melakukan sesuatu, tetapi masyarakat dimana kita menjadi bagiannya melakukan sesuatu itu yang tentu memiliki konsekuensi yang bisa dialami semua anggota masyarakat. Situasi apapun bisa terjadi terhadap kita oleh karena realita sosial atau realita dunia. Ada jutaan situasi dimana manusia bisa meninggal setiap hari oleh karena sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan. Banyak orang menderita dan sakit meski mereka tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Namun mereka berada dalam situasi itu, itulah karma mereka.
Banyak orang bertanya seputar karma sebagai “Apakah ini kesalahanku? Aku tidak melakukannya. Lalu mengapa ini terjadi pada diriku?” Karma bukanlah seperti itu, karma adalah sebuah sistem memori. Tanpa memori ini maka tidak akan ada struktur yang berbagai macam. Seluruh struktur dibangun dan secara khusus struktur kehidupan bisa terulang hanya karena ada simpanan memori dalam setiap kehidupan. Masyarakat memiliki memori dan terjadilah sebuah situasi, dunia memiliki memori dan terjadilah sebuah situasi. Dan apapun perilaku yang dilakukan ataupun situasi di sekitar kita maka akan berdampak kepada kita.
Karma kolektif, sebagai contoh sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang cerdas, menguasai teknologi tinggi dan mewujudkannya pada berbagai produk berteknologi tinggi yang sangat banyak dibutuhkan seluruh manusia, akibatnya perekonomian negara menjadi sangat berkembang dan dampaknya adalah seluruh warga negara tersebut menjadi makmur dan sejahtera. Penduduk yang seluruhnya menderita akibat dari negaranya yang sedang berperang juga adalah contoh dari karma kolektif buruk yang dialami oleh seluruh penduduk negara itu yang disebabkan oleh peperangan yang sedang terjadi meski yang perang adalah militer dari negara itu. Sebuah wilayah yang tertimpa bencana yang dahsyat dengan korban yang sangat banyak, ini juga contoh dari karma kolektif buruk yang harus dialami bagi para korban bencana. Karma buruk masa lalu mereka yang memiliki tingkatan yang sama mengarahkan mereka untuk menempati suatu wilayah yang pada suatu waktu akan menerima karma bersama. Ratusan ribu orang menempati suatu wilayah yang pada suatu waktu terjadi tsunami dan ribuan orang tersebut menjadi korban, tsunami memang disebabkan oleh faktor alam, dan ribuan orang yang menjadi korban bersama adalah faktor karma kolektif yang buruk, dan tsunami menjadi perantara yang diberikan oleh alam bagi ribuan orang itu untuk menerima karma buruknya bersama-sama.
Secara fisik, kita mengamati bahwa penyebaran virus corona disebabkan karena pergerakan manusia dan kontak dari orang ke orang. Namun ditingkat spiritual, penyebabnya berbeda. Negara-negara akan terpengaruh lebih awal sesuai dengan karma kolektifnya. Semakin banyak karma kolektif merugikan di suatu wilayah, maka semakin besar pula kerentanannya terhadap penyebaran virus corona. Dan juga semakin besar polusi spiritual di suatu daerah, maka semakin rentan orang-orang di daerah itu untuk tertular virus corona. Polusi spiritual dapat meningkat karena sejumlah alasan seperti kurangnya latihan spiritual, keserakahan, materialisme, kekejaman terhadap makhluk hidup, tren dan tradisi yang tidak baik secara spiritual, dll. Saat ini sebagian besar umat manusia tidak siap secara spiritual (karena kurangnya latihan spiritual) dan oleh karena itu mudah terpengaruh oleh peningkatan polusi spiritual ini.
Lalu kapan virus corona ini akan berakhir? Ada suatu aturan kehidupan yang menjadi bagian dari Hukum Alam bahwa segala sesuatu yang diciptakan akan dipertahankan selama beberapa waktu dan kemudian akan dihancurkan. Ini juga berlaku bagi pandemi virus corona yang akan berakhir ketika energi dari entitas negatif yang menciptakannya mulai berkurang dan hancur sama sekali. Perilaku-perilaku baik yang dilakukan seluruh manusia sebagai usaha menghadapi pandemi virus corona akan membentuk suatu kumpulan energi yang kuat dan sedikit-demi sedikit akan mampu mengikis entitas negatif yang berperan dalam menciptakan virus corona ini. Menjaga jarak, menjaga kebersihan, menjaga imunitas tubuh, latihan spiritual; adalah perilaku baik yang bisa dilakukan setiap orang. Para ilmuwan berusaha membuat vaksin ataupun alat-alat antivirus adalah usaha-usaha yang lebih utama dibidang Sains.
Apakah doa membantu mengatasi virus corona? Hal ini sangat bergantung pada dua hal yaitu kekuatan karma yang harus dijalani seseorang dan kekuatan spiritual doanya untuk mengatasi penderitaan. Perlu diketahui bahwa kekuatan spiritual doa berbanding lurus dengan level spiritual seseorang. Agar doa dapat mengatasi karma buruk, maka orang yang berdoa perlu memiliki tingkat spiritual yang tinggi. Dalam kaitannya dengan karma kolektif yang buruk, doa yang diucapkan oleh orang-orang dengan level spiritual rata-rata tidaklah manjur untuk mengatasi penderitaan yang harus dijalani. Doa bersama yang dilakukannya pun juga tidak mampu mengatasi hai ini. Doa tersebut hanyalah sebatas memberikan manfaat psikologis bagi mereka sendiri yang berdoa.
Paradoksnya adalah mereka yang memiliki level spiritual yang tinggi dan yang doanya mampu membuat perubahan dalam situasi duniawi tidak memanjatkan doa yang duniawi dan menerima apapun yang terjadi sesuai dengan kehendak alam. Namun disisi lain orang-orang dengan level spiritual rata-rata berdoa untuk memperoleh hasil tertentu seperti menghentikan virus corona, akan tetapi mereka tidak memiliki kekuatan spiritual yang diperlukan untuk membuat perubahan dalam karma kolektif yang buruk, khususnya bebas dari pandemi virus corona ini.
Rahayu Sagung Dumadi
AGUSWI