Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan sifat kepanditaan (yang mulia) adalah sabar, tanpa pamrih, tenang dan halus budinya. Dan jika ada seorang pandita/pendeta/ulama tidak menunjukkan sifat-sifat itu maka ia tidak akan dihormati selayaknya seorang yang sangat terhormat dan dia hanya akan dianggap sebagai manusia awam saja.
Hal ini dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra Sargah
I.6:
Jroning
wwé parimāna nāla gaganging tuñjung dawut kawruhi
Yan
ring jātikula pracāra winaya mwang śīla karménggita
Yan
ring paṇḍita ring kṣamā mudita śāntopékṣa ris mardawa
Sang śāstrajña
wuwus nirāmrĕtā padanyāngdé sutusténg prajā
Terjemahan:
Jika
ingin mengetahui dalamnya air, maka cabutlah batang teratai untuk
memperkirakannya. Tanda kehormatan keluarga seseorang, akan nampak pada tingkah
laku, tabiat serta geraknya. Ciri seorang pandita tampak pada kesabaran, tanpa
pamrih, kehalusan, dan ketenangan budinya. Sementara itu ciri orang yang
sempurna ilmunya adalah tutur bahasanya ibarat air penghidupan yang mampu
membuat tenang dan senang semua orang.
Tentang hal bertutur kata ada peribahasa Jawa yang berbunyi “aja waton ngomong, nanging ngomonga nganggo wewaton” (jangan asal bicara, tetapi bicaralah dengan patokan atau dasar yang jelas). Jaman sekarang banyak orang ngomong asal ngomong tidak dipikir lebih dahulu apakah omongannya itu benar atau tidak, menyinggung perasaan orang lain atau tidak, menghina atau tidak, dsb.....banyak yang orang ngomong "sak enak udele dewe, sak mangap lambene dewe" tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu.
Tri Kaya Parisudha salah satunya mengingatkan bahwa kita harus berbicara yang benar saja (wacika), menghindari kata-kata yang tidak baik apalagi menyakitkan orang lain.
Agus Widodo
Satriya Jawa
Bogor - Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar