Beranda

Sabtu, 18 Agustus 2018

OJO WATON NGOMONG, NANGING NGOMONGO NGANGGO WEWATON

Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan sifat kepanditaan (yang mulia) adalah sabar, tanpa pamrih, tenang dan halus budinya. Dan jika ada seorang pandita/pendeta/ulama tidak menunjukkan sifat-sifat itu maka ia tidak akan dihormati selayaknya seorang yang sangat terhormat dan dia hanya akan dianggap sebagai manusia awam saja. 

Hal ini dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra Sargah I.6:

Jroning wwé parimāna nāla gaganging tuñjung dawut kawruhi
Yan ring jātikula pracāra winaya mwang śīla karménggita
Yan ring paṇḍita ring kṣamā mudita śāntopékṣa ris mardawa
Sang śāstrajña wuwus nirāmrĕtā padanyāngdé sutusténg prajā


Terjemahan:
Jika ingin mengetahui dalamnya air, maka cabutlah batang teratai untuk memperkirakannya. Tanda kehormatan keluarga seseorang, akan nampak pada tingkah laku, tabiat serta geraknya. Ciri seorang pandita tampak pada kesabaran, tanpa pamrih, kehalusan, dan ketenangan budinya. Sementara itu ciri orang yang sempurna ilmunya adalah tutur bahasanya ibarat air penghidupan yang mampu membuat tenang dan senang semua orang.

Tentang hal bertutur kata ada peribahasa Jawa yang berbunyi “aja waton ngomong, nanging ngomonga nganggo wewaton” (jangan asal bicara, tetapi bicaralah dengan patokan atau dasar yang jelas). Jaman sekarang banyak orang ngomong asal ngomong tidak dipikir lebih dahulu apakah omongannya itu benar atau tidak, menyinggung perasaan orang lain atau tidak, menghina atau tidak, dsb.....banyak yang orang ngomong "sak enak udele dewe, sak mangap lambene dewe" tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu.

Tri Kaya Parisudha salah satunya mengingatkan bahwa kita harus berbicara yang benar saja (wacika), menghindari kata-kata yang tidak baik apalagi menyakitkan orang lain. 

Agus Widodo
Satriya Jawa
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...