Beranda

Selasa, 13 Januari 2026

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi

Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara hari suci lainnya, Siwaratri memang unik dan sangat berbeda, sangat menantang bagi para bhakta yang mau melakukannya. Betapa tidak, ada beberapa jenis brata yang memang tidah mudah untuk dilakukan, namun juga tidak sulit jika dilakukan dengan penuh kesadaran, semangat spirit dalam melakukan berbagai sadhana (disiplin spiritual) yang ada. Hari-hari raya yang lain terkesan lebih menonjolkan ritual, namun Siwaratri menuntut para bhakta untuk menyelami lautan spiritual yang memerlukan kemampuan pikiran untuk berenang hingga mencapai pantai realisasi diri. Adalah PERLU DIPERTANYAKAN BILA HARI RAYA SIWARATRI TERNYATA PEMAKAIAN SESAJEN/BANTEN MASIH CUKUP BANYAK, karena dalam Siwaratri lebih MENGEDEPANKAN MENGGEMBLENG THE SELF (SANG DIRI) yang bersemayam dalam setiap diri kita sendiri. Disini penulis lebih ber-explore tentang bagaimana melalukan brata-brata Siwaratri, tentu yang berdasarkan pengalaman, tidak berdasarkan kata orang.

Pertama, UPAWASA, merupakan brata yang dilakukan dengan tidak/mengurangi makan dan minum. Bagi yang mampu bisa dilaksanakan dengan tidak makan dan minum sama sekali, namun bagi yang tidak mampu bisa dilaksanakan dengan mengurangi porsi makan, suatu contoh pada hari biasa makan sehari tiga piring maka saat Upawasa cukup makan sepiring saja, ini sebagai tahap awal atau tahap belajar. Ada yang mengatakan bahwa sadhana ini hendaknya dilakukan selama 24 jam, namun tidak menutup kemungkinan kurang dari itu dengan menyesuaikan kemampuan diri juga sebagai tahap pembelajaran. Apa konsekuensinya apabila perut kosong? Secara alami maka akan muncul rasa lapar dan haus. Perlu diketahui bahwa antara perut kosong karena belum makan alias lapar dengan perut kosong karena sedang melakukan Upawasa sangat berbeda. Perut kosong oleh karena belum/terlambat makan bisa menyebabkan penyakit, ini dikarenakan ada keinginan untuk makan dalam pikiran sehingga lambung terus mengeluarkan enzim pencernaan, dan pada kenyataannya pada saat itu belum ada yang dicerna karena belum makan, akibatnya lambung perih. Namun perut kosong oleh karena sedang Upawasa tidak akan menyebabkan penyakit, bila Upawasa tersebut memang dilakukan atas kesadaran dirinya sendiri, atas niat yang tulus sebagai sadhana spiritual. Ketika Upawasa dilakukan benar-benar atas dasar niat (bukan karena ikut-ikutan atau gagah-gagahan), ini berarti sama sekali tidak ada pemikiran untuk makan dan minum yang muncul dalam pikiran, karena tidak adanya pemikiran makan dan minum maka secara otomatis lambung tidak mengeluarkan enzim pencernaan dan berhenti melakukan gerakan meremas-remas, sehingga tidak akan ada luka lambung yang menyebabkan perih, lalu rasa lapar pun tidak ada. RASA LAPAR ADA KARENA ADA PEMIKIRAN MAKAN DALAM PIKIRAN.

Jadi ketika sedang melakukan Upawasa pun agar tidak merasakan lapar dan tetap bertenaga adalah sangat mungkin. Ingatlah bahwa Pikiran adalah Rajendriya (rajanya indriya). Dengan pikiran, kita bisa memerintahkan indriya kita lainnya untuk off. Kita bisa mensugestikan pada diri sendiri pada saat Upawasa, misal dengan sugesti “Hai indriya pencernaan, hari ini aku sedang melaksanakan upawasa, maka berhentilah bekerja sampai aku selesai upawasa”. Rasa apapun yang muncul jangan sampai dianalisa atau dibawa ke pikiran, biarlah itu sekedar rasa yang tidak dirasakan (alias tidak dipikirkan). Agar badan tetap bertenaga maka bisa diatasi dengan melakukan pranayama, dalam kitab Yoga Sutra Patanjali dijelaskan bahwa dalam setiap tarikan nafas kita tidak hanya oksigen yang kita hirup, tetapi juga prana. Bahkan di dalam Atharva Veda prana dianggap sebagai Sang Hidup itu sendiri. Prana adalah energi vital yang terkandung dalam udara, karena prana yang kita hirup-lah badan kita bisa bekerja, kita bisa melihat, bisa mendengar, bisa berjalan, dan aktivitas apapun lainnya selalu membutuhkan tenaga (prana). Dalam pernafasan normal, prana yang kita hirup tidak terlalu banyak, namun dengan teknik pernafasan tertentu dalam pranayama maka kuantitas prana yang kita hirup bisa berlimpah, sehingga badan akan sangat bertenaga. Para pelaku sadhana spiritual banyak yang mengatakan bahwa pranayama akan lebih mudah dilakukan dan akan mencapai hasil yang lebih optimal bila dilakukan dalam keadaan perut tidak penuh atau kosong. Artinya, dalam melaksanakan Upawasa (tidak makan dan minum) dianjurkan untuk lebih banyak melakukan pranayama agar tubuh tetap kuat, sehat, dan bugar agar pikiran dan jiwa tetap dalam keadaan keseimbangan. Mengingat peningkatan rohani akan tercapai bila didukung oleh tubuh yang dalam keadaan kuat pula.

MANFAAT PUASA (puasa) baca di sini: PESAN HARMONI: Hasil penelusuran untuk Manfaat puasa

Kedua, MONABRATA adalah suatu cara untuk mengendalikan perkataan (wacika) yang bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian, sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Monabrata dilakukan dengan cara tidak berbicara sama sekali, baik verbal maupun non-verbal. Menggunakan isyarat dengan tangan atau bagian tubuh lainnya sudah termasuk dikatakan berbicara. Ada yang mengatakan sadhana ini hendaknya dilakukan selama 12 jam tanpa putus, namun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan secara bertahap, misal 3 jam melakukan, lalu 2 jam berhenti, dan dilanjutkan 3 jam berikutnya hingga selesai. Lantas, bagaimana Monabrata yang sesungguhnya? Adalah DENGAN TIDAK BERBICARA MESKI DALAM PIKIRAN. Pernah di sebuah pura pada suatu Siwaratri seorang pemudi sedang melakukan Monabrata, menunjukkan secarik kertas berisi pesan tertulis yang berbunyi “mas, nitip tas ya saya mau ke kamar kecil”, saya hanya melihat tidak menanggapi apapun. MELIHAT TETAPI MERASA TIDAK MELIHAT. Meski itu adalah sebuah pesan yang ditulis, namun ini sudah termasuk berbicara, siapa yang berbicara?, pikiranlah yang berbicara, bila pikiran masih berbicara berarti belum pada tahap Monabrata. Namun, sebagai langkah awal atau tahap pembelajaran dalam menjalankan Monabrata maka bisa dilakukan dengan mengurangi bicara, atau berkata-kata seperlunya dengan orang lain. Ini bisa dilakukan ketika tidak bisa menjalankan Siwaratri secara full oleh karena terikat dengan kerja/aktivitas sehari-hari di tempat kerja. Tantangan dalam melaksanakan Monabrata memang cukup berat, sebelumnya kita tidak boleh memberitahu orang lain bahwa kita akan melakukan Monabrata dengan maksud agar orang lain tidak berbicara dengan kita. Ketika ada orang lain yang berbicara pada kita maka kita harus bijak apakah harus menjawab atau tidak, jika harus menjawab maka harus bicara seperlunya saja, ketika tidak menjawab bisa saja menimbulkan keheranan pada orang yang berbicara tersebut, atau bahkan mungkin saja dia negatif thinking dengan kita yang sedang Monabrata karena tidak menjawab pembicaraanya. Nah, disinilah contohnya berbagai tantangan itu. MENDENGAR TETAPI TIDAK MERASA MENDENGAR. Telinga kita sudah pasti mendengar suara-suara, namun yang penting adalah tidak membawa pendengaran itu ke dalam pikiran sehingga tidak ada analisa tentang pendengaran itu dalam pikiran yang bisa memunculkan pemikiran AKU SEDANG MENDENGAR. Apakah kita sanggup?  Sadhana ini sebaiknya dilakukan siang hari dan selesai pada malam hari karena pada malam hari harus dilanjutkan dengan Japa Seribu Nama Siwa. Monabrata menuntut keheningan dari seluruh indriya kita termasuk pikiran (rajendriya) yang merupakan rajanya indriya, hasilnya adalah keheningan jiwa, dengan pencapaian ini maka kita akan sampai pada realisasi diri. MONA BRATA YANG SERING DILAKUKAN AKAN MENJADIKAN UCAPAN KITA SEHARI-HARI MENJADI SIDDHI.

Ketiga, JAGRA adalah menjaga kesadaran diri kita. Kebanyakan orang melaksanakan dengan cara tidak tidur sama sekali bahkan hingga selama 36 jam. Inti dari Jagra adalah menjaga kesadaran diri terhadap Ilahi yang muaranya adalah pencapaian realisasi diri. Sebagai manusia kita harus menyadari berbagai hal dalam hidup ini, berbagai hal yang terjadi setiap hari terutama yang terjadi disekeliling diri kita. Bila setiap orang mempunyai kesadaran diri yang tinggi, maka hidup ini akan tertib, harmonis, dan damai; tidak akan ada permasalahan yang muncul dalam hidup bermasyarakat oleh karena setiap anggota masyarakat punya kesadaran. Contoh; sadar bahwa perkataan yang akan kita katakan kemungkinan bisa melukai orang lain sehingga kita mengurungkan untuk mengatakan itu, sadar bahwa memutar lagu-lagu dengan volume yang keras adalah mengganggu tetangga, sadar bahwa perilaku kita kemungkinan bisa membuat orang lain tidak senang dan tidak nyaman, sadar bahwa kita harus beryajna, sadar bahwa kita harus berpunia, dan sebagainya. Pada prinsipnya adalah dengan Jagra ini pada tingkatan awal kita didorong untuk memiliki kesadaran sosial yang tinggi, karena itu adalah modal yang penting dalam hidup bermasyarakat. Jagra dalam brata Siwaratri mengajarkan dan memerintahkan agar manusia ‘bangun’ dari tidurnya. Jagra, eling akan sang diri sejati, merupakan ajaran puncak dalam setiap ajaran kerohanian. Tentu yang dimaksudkan adalah jagra dalam arti kebangkitan dan kebangunan diri dari nyenyaknya tidur dalam selimut maya. Maya sebagai ciptaan triguna merupakan kekuatan sihir yang mahadasyat yang mengungkung kesadaran manusia dalam keterukuran nama dan rupa. Apabila manusia bisa keluar dari sihir maya maka ia akan memasuki kesadaran akan sang diri sejati. Dalam JAGRA saat malam hari maka yang harus dilakukan adalah JAPA SERIBU NAMA SIWA.

Keempat, JAPA SERIBU NAMA SIWA, sadhana ini sebaiknya dilakukan menjelang tengah malam sampai selesai. Pertanyaannya adalah apakah banyak yang melakukan sadhana ini? Survei yang dilakukan oleh penulis membuktikan amat sangat sedikit yang melakukan sadhana Seribu Nama Siwa ini. Setiap Maha Siwaratri penulis hampir selalu melakukan sadhana ini. Memang, untuk melantunkan Seribu Nama Siwa memerlukan waktu yang cukup panjang durasinya, yaitu antara 2,5 sampai 3 jam. Coba bayangkan Japa Seribu Nama Siwa tanpa henti bukanlah sadhana yang ringan, namun juga bukan sadhana yang berat kalau itu disertai dengan niat sebagai sadhana spiritual. Akan banyak sensasi yang kita rasakan selama kita mengucapkan itu, mulai dari sensasi bosan, sangat lelah, sangat letih, haus, badan pegal hingga sensasi penuh power, sensasi badan astral dan sensai melayang, dan sensasi yang penuh kedamaian. Orang bilang “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.” Sudah tentu sensasi awal adalah berbagai sensasi yang sama sekali tidak mengenakkan, dan disinilah kita diuji apakah kita bisa bertahan atau tidak dengan berbagai sensasi yang tidak mengenakkan tersebut untuk tetap melanjutkan Japa Seribu Nama Siwa. Rasa lelah, letih, lesu, haus dan sebagainya adalah sangat alami sekali, ini oleh karena setiap lantunan nama Siwa pasti memerlukan tenaga untuk mengucapkannya, serta pada saat itu brata Upawasa mungkin masih berlangsung, dan disinilah kita harus mahir dalam teknik pengucapannya juga disertai dengan pranayama agar kita tidak kehabisan tenaga yang bisa berujung pada keputusan untuk berhenti melakukannya. Sayang sekali kalau berhenti karena menurut sastra purana Janji Siwa sudah menunggu, yaitu untuk menganugerahkan kedamaian, kebahagiaan, melebur dosa-dosa, hidup sejahtera lahir batin, hidup berkelimpahan, dsb. Semua prinsip dalam Astangga Yoga harus dilakukan pada saat Japa Seribu Nama Siwa ini seperti, Asana (sikap duduk yang rilek), Pranayama (cara bernafas), Pratyahara (berusaha mempertahankan obyek dan tidak terganggu dengan apapun), Dharana (tingkat konsentrasi/teguh pada obyek), Dhyana (tingkat meditasi-bersatunya antara konsentrasi dan ideasi), terakhir adalah pencapaian yang sebenarnya yaitu samadhi,  suatu tingkat yang bukan sembarang orang yang mampu mencapainya, tentunya adalah mereka-mereka yang sudah mencapai kemurnian diri. MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI.  

 

Selasa, 06 Januari 2026

KORUPSI MERUSAK PILAR-PILAR PENYANGGA DUNIA

 
(Veda - koruptor harus dihukum potong tangan hingga hukuman mati)  

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, yayasan, dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.
Bagaimana pandangan Hindu (Veda) tentang Korupsi?

Tujuan hidup manusia tertuang didalam konsep Catur Purusartha yaitu Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Kitab Sarasamuccaya menjelaskan bahwa:

“dharmmscarthasca kamasca tritayam jivite phalam”
terjemahan:
dharma, artha, dan kama adalah tiga perwujudan kehidupan.

Jadi dharma (kebenaran), artha (kekayaan), dan kama (keinginan) merupakan sesuatu yang melekat pada kehidupan itu sendiri. Mengapa “dharma” disebut sebagai yang pertama? Karena dia menjadi pondasi atau pijakan bagi yang lainnya. Bahwa dalam mengusahakan “artha” dan pemenuhan “kama” harus selalu berpijak pada pondasinya yaitu “dharma”. Bila tidak berpijak pada pondasinya maka akan menimbulkan berbagai permasalahan bahkan kehancuran.

Secara umum “artha” adalah kekayaan dalam segala bentuknya, termasuk uang, aset bergerak dan tidak bergerak, serta banyak hal lainnya. Rsi Vatsyayana dalam kitab Kamasutra menjelaskan bahwa artha adalah kekuatan dalam bentuk kekayaan, yang terdiri dari perolehan pengetahuan, tanah, emas, ternak, biji-bijian, barang-barang rumah tangga dan perabotannya, teman, dan sebagainya, serta peningkatan apa yang telah diperoleh.


A.    Pesan Veda Terkait “Artha”

1.“sam īm paṇer ajati bhojanam muṣe vi dāśuṣe bhajati sūnaraṃ vasu, durge cana dhriyate viśva ā 
     puru jano yo asya taviṣīm acukrudhat”

Terjemahan:
Dia (Tuhan) akan mengambil kekayaan dari orang-orang yang kikir (paner), kekayaan yang didapat dengan cara mencuri (muse) dan menganugerahkannya kepada orang-orang yang dermawan (bhojanam). Mereka yang mencuri kekayaan akan terlibat dalam kesulitan (acukrudhat) besar.  Rigveda, V.34.7

Penjelasan:
Orang-orang yang kikir akan mendapatkan berbagai masalah dengan kekayaannya, dan Sang Kekayaan akan selalu berpihak pada orang-orang yang dermawan.

2.  “ava tmanā bharate ketavedā ava tmanā bharate phenam udan, kṣīreṇa snātaḥ kuyavasya yoṣe hate 
     te syātām pravaṇe śiphāyāḥ.”

Terjemahan:
Dia yang mengetahui kekayaan orang lain lalu membawanya pergi (bharate) untuk kepentingan (ketaveda) dirinya sendiri (tmana); maka sama halnya dia membawa dirinya sendiri tenggelam dalam aliran deras samudera penderitaan (hate).  Rigveda, I.104.3

Penjelasan:
Mereka yang mencuri kekayaan orang atau pihak lain berarti sedang menciptakan penderitaan bagi dirinya sendiri. Itulah hukum karmaphala
 

3. “akṣair mā dīvyaḥ kṛṣim it kṛṣasva vitte ramasva bahu manyamānaḥ, tatra gāvaḥ kitava tatra jāyā 
      tan me vi caṣṭe savitāyam aryaḥ.”
 
Terjemahan:
Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, jangan bermain judi (aksair); tekunlah dalam pertanian (krsim); puas (ramasva) dengan kekayaan (vitte) yang telah dimilikinya; wahai para penjudi (kitava), ingatlah sapi; dan keluargamu; demikianlah yang telah dinyatakan oleh penguasa Savita ini kepadaku.  Rigveda, X.34.13
 
Penjelasan:
Ketika seseorang memiliki kekayaan, tidak dibenarkan digunakan untuk berjudi, justru sebaliknya hendaknya digunakan untuk berbagai upaya (misalnya pertanian, peternakan,  atau memenuhi kebutuhan keluarga) yang bermanfaat namun tidak boleh disertai sifat rakus terhadap kekayaan itu, berapapun yang dimiliki harus puas dengan kekayaannya sendiri, tidak boleh iri dengan kekayaan orang lain.
 
 
4. “yena dhanena prapanam carami dhanena deva dhanamicchamanah, tasmin ma indro rucima 
     dadhatu prajapatih Savita somo agnih”.
 
Terjemahan:
Dengan kekayaan itu aku berdagang, mencari kekayaan dengan kekayaan (berbisnis), wahai para dewa, biarlah Indra menganugerahkan kepadaku kesenangan, wahai Agni, Savita, Prajapati melalui pengorbanan kejarlah mereka yang menghalangi keberuntungan.  
Atharvaveda, III.15.6
 
Penjelasan:
Hendaknya seseorang bijaksana dalam mencari dan menggunakan kekayaan yang dimilikinya. Untuk mengembangkan kekayaannya maka bisa menggunakan sebagian dari kekayaannya yang dimanfaatkan untuk berbisnis dalam bidang tertentu.
 
 
5.  Petikan Kakawin Nitisastra, Sargah II.2
 
Uttamaning dhanolihing amet prih awak aputeran, madhyama ng arthaning bapa kanista dhana saking ibu, nistanikang kanista dhana yan saka ring anakebi, ….”

Terjemahan:
Kekayaan yang terbaik adalah yang didapat dari jerih payah sendiri, yang baik adalah kekayaan dari bapak, yang tidak baik adalah harta pemberian ibu, adapun yang sangat tidak baik adalah harta dari sang istri, ….”
 
Penjelasan:
Bahwa dalam hal mengupayakan kekayaan hendaknya dengan usahanya sendiri, bukan dengan cara korupsi, mencuri, menggelapkan, menipu atau pun cara lain yang bertentangan dengan nilai kebenaran. Pemberian kekayaan dari bapak dikatakan baik karena pada dasarnya seorang bapak berkewajiban menghidupi atau membahagiakan anak-anaknya. Namun, pemberian kekayaan dari ibu (terutama ibu kandung) dikatakan tidak baik karena kepada seorang ibu justru sebaliknya seorang anak (yang sudah dewasa dan mandiri) seharusnya memberikan, bukan menerima dari ibu, karena seorang ibu jasanya kepada seorang anak tidak bisa dihitung dengan angka. Jadi seorang anak berhutang hidup kepada seorang ibu yang tidak akan pernah terlunaskan.
 
 
6.  Petikan Kakawin Nitisastra, Sargah III.8
 
Prayoganikang artha kancana tulungakena ngalara duhka kasyasih, karaksanikang artha tan hana waneh dana pinaka pager suraksaka, ….”
 
Terjemahan:
Kegunaan kekayaan adalah untuk menolong orang-orang yang dalam kesusahan dan penderitaan, cara yang tepat untuk menjaga kekayaan tiada lain dengan berdana punia, itulah pagar yang kokoh, ….”
 
Penjelasan:
Salah satu manfaat kekayaan adalah digunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan, bukan hanya digunakan untuk memenuhi keinginan pribadi semata. Dan itu adalah cara untuk menjaga kekayaan itu sendiri karena pada dasarnya kekayaan yang dipuniakan suatu saat nanti akan kembali ke diri sendiri bahkan bisa berlipat. Itulah hukum karmaphala.
 

7.      Sarasamuccaya, 267
 
“Lawan tekapaning mangarjana, makapagwanang dharma ta ya, ikang dana antukning mangarjana, yatika patelun sadhana ring telu, kayatnakena
 
Terjemahan:
“Dan caranya berusaha memperoleh sesuatu (artha), hendaklah berdasarkan dharma, dana yang diperoleh karena usaha, hendaklah dibagi menjadi tiga, guna mendapatkan biaya mencapai yang tiga itu, perhatikanlah itu baik-baik”
 
Penjelasan:
Dharma (kebenaran) harus menjadi landasan bagi seseorang dalam mencari kekayaan, tidak boleh dengan cara yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran misalnya korupsi, dan lain-lain. 
 
 
8.      Sarasamuccaya, 268

“Niham kramanyan pinatelu, ikang sabhaga, sadhana rikasiddhaning dharma, ikang kaping rwaning bhaga sadhanari kasiddhaning kama ika ikang kaping tiga, sadhana ri kasiddhaning artha ika, wreddhyakena muwah, mangkana kramanyan pinatiga, denika sang mahyun manggihakenang hayu.
 
Terjemahan:
“Demikianlah hakekatnya (artha) dibagi menjadi tiga, yang satu bagian digunakan untuk mencapai dharma, bagian yang kedua adalah untuk memenuhi kama, bagian ketiga digunakan untuk melakukan kegiatan usaha dalam bidang artha, ekonomi, agar berkembang kembali, demikian hakekatnya maka dibagi tiga, oleh orang yang ingin memperoleh kebahagiaan.
 
Penjelasan:
Kekayaan yang dimiliki hendaknya dimanfaatkan untuk tiga hal, sebagian untuk menjalankan dharma (kebaikan dalam kehidupan sehari-hari), sebagian untuk memenuhi berbagai keinginan (atau kebutuhan) sehari-hari, dan sebagian lagi untuk dikembangkan dalam kegiatan usaha (bisnis) dengan tujuan agar kekayaan itu berlipat.   
 
 
9.      Sarasamuccaya, 269

“Apan ikang artha, yan dharma lwirning karjananya, ya ika labha ngaranya, paramartha ning amanggih sukha sang tumemwaken ika, kuneng yan adharma lwirning      karjananya, kasmala ika, sininggahan de sang sajjana, matangnyan haywa anasar sangkeng dharma, yang tangarjana
 
Terjemahan:
Sebab uang itu, jika dharma landasan memperolehnya, yaitu untung namanya, sungguh-sungguh mengalami kesenangan orang yang memperolehnya, akan tetapi jika uang itu diperoleh dengan jalan adharma, itu adalah noda, dihindari oleh orang yang berbudhi utama, oleh karena itu janganlah berbuat menyalahi dharma jika anda berusaha menuntut sesuatu.
 
Penjelasan:
Kekayaan yang didapatkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan etika maka bisa mengakibatkan penderitaan bagi pelakunya. Kekayaan yang seperti itu bisa mendatangkan penyakit atau bahkan malapetaka pada diri sendiri.
 
 
10.  Sarasamuccaya, 271
 
“Apan ri sakweh ning sauca, nang patrasauca, mretsauca, jalasauca, bhasmasaucadi, nghing arthasauca, juga lwih, kalinganya, ikang suci ring artha ngaranya, suminggah     ing anyayartha, ya ika paramartha ning suci ngaranya, kunang ikang suci dening jalasaucadi, tan paramartha ning suci ika”
 
Terjemahan:
Sebab diantara banyak macam pembersihan (penyucian) yaitu penghilangan kotoran dengan daun-daunan, penghilangan kotoran dengan cara berlutut, penghilangan kotoran dengan air, penghilangan kotoran dengan abu, maka pembersihan kotoran dengan uang adalah yang lebih utama, artinya yang disebut penyucian dengan uang, adalah menjauhi uang yang ternoda, itulah disebut penyucian yang utama, adapun penyucian dengan air dan sejenisnya bukanlah penyucian yang utama.
 
Penjelasan:
Menjauhi cara-cara yang tidak benar dalam mencari kekayaan atau tidak menerima kekayaan yang ternoda (kekayaan yang didapat dengan melanggar dharma) adalah salah satu jenis penyucian. Kekayaan yang didapat dengan cara yang benar maka akan mendatangkan kebahagiaan.
 
 
11.  Sarasamuccaya, 272

“Hana yartha ulih ning pariklesa, ulih ning anyaya kuneng, athawa kasembahan ing satru kuneng, hetunya ikang artha mangkana kramanya, tan kenginakena ika”
 
Terjemahan:
Adalah uang yang diperoleh dengan jalan jahat melakukan siksaan, uang yang diperoleh dengan jalan melanggar hukum ataupun uang persembahan musuh, sebabnya uang yang demikian halnya jangan hendaknya diinginkan.
 
Penjelasan:
Orang yang bijaksana dalam keadaan apapun hendaknya menghindari cara-cara yang melanggar dharma dalam usaha mendapatkan kekayaan.
 
 

B.     Bentuk-Bentuk Korupsi Menurut Arthasastra
 
1.      Pratibandhaḥ pravṛttānām apravṛttir avāstavaḥ. (2.8.20)
 
Penjelasan:
Korupsi jenis ini melibatkan penundaan atau kegagalan yang disengaja (pratibandhah) untuk memulai suatu usaha, yang mengakibatkan hilangnya potensi keuntungan bagi negara/masyarakat.
 
2.      Avastāro vrajān vā rūpavṛttayaś cāyuṣṭayaḥ. (2.8.25)

Penjelasan:
Hal ini melibatkan pemalsuan (avastaro) catatan keuangan untuk menyembunyikan penggelapan atau penyalahgunaan, sebuah praktik umum bahkan dalam penipuan keuangan masa kini.
 
 3.      Parihāpaṇaṃ ca yuktam avastārāt pravṛttinaś ca. (2.8.26).
 
Penjelasan:
Seseorang yang dengan sengaja mengurangi pendapatan atau meningkatkan pengeluaran yang tidak sah (parihapanam) dalam catatan atau laporan sehingga menimbulkan kerugian negara yang signifikan.
 
 4.      Upabhogo hi tasyopāyaiḥ svasvāminaḥ (2.8.27).

Penjelasan:
Bentuk korupsi ini melibatkan penggunaan sumber daya negara yang tidak sah untuk keuntungan pribadi (upabhogo), sebuah malpraktik yang terus-menerus merusak kepercayaan publik terhadap pemerintahan. Sumber daya negara hanya boleh digunakan untuk kepentingan negara, bukan untuk kepentingan pribadi.
 


C.    Konsekuensi atau Hukuman Bagi Pelaku Korupsi
 
Korupsi dapat juga diartikan tindakan mencuri, pelakunya bisa disebut pencuri, dan tindakan pencurian adalah kejahatan. Maka sastra Veda menjelaskan:
 
1.      Agni Purana, adhyaya 227, puskara 37 
      “yena yena yathāhgena steno nṛṣu viceṣṭate, tattadeva haredasya pratyādeśāya pārthivaḥ”
 
Terjemahan:
Tangan yang digunakan untuk mencuri (steno) dari orang lain harus dipotong oleh raja (penguasa) demi kedisiplinan.
 
2.      Manu Smrti, 8.302
     “paramaṃ yatnamātiṣṭhet stenānāṃ nigrahe nṛpaḥ, stenānāṃ nigrahādasya yaśo rāṣṭraṃ ca 
      vardhate”
 
Terjemahan:
Pemimpin harus berusaha sekuat tenaga untuk memberantas (nigrahe) pencuri (stenanam); dengan memberantas pencuri, kerajaan akan menjadi terkenal dan makmur.

Penjelasan:
Negara bisa tidak berkembang jika banyak kekayaannya dikorupsi. Kekayaan negara yang harusnya bisa digunakan untuk membangun negara, karena dikorupsi maka masuk kantong pribadi.
 
3.      Manu Smrti, 8.310
     “adhārmikaṃ tribhirnyāyairnigṛhṇīyāt prayatnataḥ, nirodhanena bandhena vividhena vadhena ca” 

Terjemahan:
Pemimpin harus mengendalikan orang yang jahat dengan tiga cara, yaitu dengan memenjarakannya, mengikatnya (membelunggu), dan berbagai cara hukuman badan.

Penjelasan:
Maksud dari "mengikat" disini diera sekarang bukanlah diikat dengan tali, melainkan dibatasi ruang geraknya seperti "wajib lapor" dalam waktu tertentu. 
 
4.      Manu Smrti, 8.322
      “pañcāśatastvabhyadhike hastacchedanamiṣyate, śeṣe tvekādaśaguṇaṃ mūlyād daṇḍaṃ 
       prakalpayet” 

Terjemahan:
Untuk yang mencuri lebih dari lima puluh pala maka dihukum potong tangan, tetapi dalam hal yang lain dapat dihukum denda sebesar sebelas kali dari nilai barang.
 
5.      Manu Smrti, 8.323
     “puruṣāṇāṃ kulīnānāṃ nārīṇāṃ ca viśeṣataḥ, mukhyānāṃ caiva ratnānāṃ haraṇe vadhamarhati” 

Terjemahan:
Karena menculik orang-orang mulia, dan khususnya menculik wanita, dan juga mencuri permata-permata berharga (ratnanam), maka pencurinya pantas (arhati) untuk dihukum mati (vadham).
 
6.      Manu Smrti, 8.337-338
      “aṣṭāpādyaṃ tu śūdrasya steye bhavati kilbiṣam, ṣoḍaśaiva tu vaiśyasya dvātriṃśat kṣatriyasya ca 
       brāhmaṇasya catuḥṣaṣṭiḥ pūrṇaṃ vā'pi śataṃ bhavet, dviguṇā vā catuḥṣaṣṭistaddoṣaguṇavidd hi           saḥ”
 
Terjemahan:
Dalam kasus pencurian (steye), kesalahan seorang Śūdra adalah delapan kali lipat, kesalahan seorang Vaiśya enam belas kali lipat, dan kesalahan seorang Kṣatriya tiga puluh dua kali lipat—(337); kesalahan seorang Brāhmaṇa enam puluh empat kali lipat, atau seratus kali lipat penuh, atau dua kali lipat enam puluh empat kali lipat; ketika ia menyadari kualitas baik atau buruk dari tindakan tersebut.

Penjelasan:
Tingkat kesalahan seorang Sudra dianggap lebih ringan kemungkinan karena seorang Sudra dianggap lebih rendah dalam hal pengetahuan dari pada Vaisya, Ksatriya, dan Brahmana. Dan tingkat kesalahan seorang Brahmana dianggap tinggi kemungkinan karena golongan Brahmana dianggap sebagai orang-orang yang berpengetahuan. Secara logika orang-orang yang berpengetahuan harusnya lebih memahami moralitas dari pada golongan lainnya. 
 
7.      Manu Smrti, 8.314
      “rājā stenena gantavyo muktakeśena dhāvatā, ācakṣāṇena tat steyamevaṅkarmā'smi śādhi mām”  
 
Terjemahan:
Seorang pencuri harus menghadap raja dengan rambut tergerai, mengakui pencuriannya (steyamevaṅkarma) (dan berkata), 'Beginilah yang telah kulakukan, hukumlah aku.
 
8.      Rigveda, I.142.3
     “apa tyam pari-panthinam muṣīvāṇam huraḥ-citam dūram adhi sruteḥ aja”
 
Terjemahan:
Usirlah dia jauh-jauh dari jalan hidupku, dialah yang menghalangi jalan kita, pencuri dan penipu (muṣīvāṇam).
 
9.      Petikan Kakawin Nitisastra, III.5:
     “…pamidanani sang mahajana caturtha dhinik inujaran nda tan hade, panidananing artha tan                 wawa rengen weksasnika dinanda ring pati”
 
Terjemahan:
Untuk menghukum seorang penjahat dapat dilakukan dengan empat tahapan: dinasehati dan dimarahi, jika tidak menjadi baik karenanya maka didenda, jika tetap tidak mengindahkannya maka dihukum mati.
 
Penjelasan:
Hukuman mati disini adalah pilihan terakhir jika hukuman lainnya tidak bisa membuat pelaku berubah. 

10.  Kakawin Nitisastra, XV.4-6:
      “Nang wadwa tan kapareking nagararyakenta, wwang bwat masabha lemehan mapi-tuwi langguk,         nityeki yan pameng-ameng manutindriyanya, buddhinya durjana katungka papa nicara”
 
Terjemahan:
Warga negara yang tidak mencintai negerinya, yang banyak omong, tidak suka menurut (melanggar aturan negara) dan sombong, yang selalu bersenang-senang dan melakukan kehendaknya sendiri, juga yang perangainya jahat, rendah buddhi dan tidak beradab.
 
     “Krureka tan hana kasomyanika wuwusnya, tan hantusa ng kedi-kedik yati-moha garwa,  tan bhakti         matwang i tuhan titir sampe senghit, yeku ng balacemer ulahnya ya dohakena”
 
Terjemahan:
Begitu juga mereka yang buas, yang tiada kehalusan kata-katanya, yang tidak mempunyai sifat penyayang, yang angkuh dan serba kasar, yang tidak hormat dan cinta kepada tuannya, yang suka menghina serta membikin sakit hati orang lain, mereka itu warga yang kelakuannya buruk sekali, mereka harus dienyahkan (dohakena).
 
    “Mwang wadwa tinggalakena pwa tekap narendra, kopa pragalbha tuwi tan hana mardawanya,              nityeki lalana taman hana matra denya, sakteng pirak kanaka ngisti dhana pwa tansah.”
 
Terjemahan:
Warga lainnya yang harus disingkirkan oleh pemimpin adalah mereka yang suka marah, terlampau berani serta tiada kehalusan, yang suka menuruti hawa nafsu dengan tiada batasnya, dan yang terlalu suka kepada uang dan emas dan senantiasa menghasratkan kekayaan.
 

D.    Mengapa Mereka Melakukan Korupsi? (dalam perspektif Hindu)
 
1. Karena kebanyakan orang-orang jaman sekarang tidak memiliki pengendalian diri (tapa) yang mantap.

Melihat orang lain yang lebih kaya dari dirinya, lebih mampu membeli berbagai barang-barang yang mewah, lebih bergaya dalam hidupnya; ataupun tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi namun pendapatan tidak mencukupi, lalu saat ada peluang timbul keputusan untuk melakukan korupsi. Namun bagi orang yang mantap dalam pengendalian diri, dalam keadaan apapun meski sedang terhimpit ekonominya, dia tidak akan melakukan korupsi.
 
2.      Karena Avidya (kebodohan)

Sebenarnya mereka mengetahui bahwa tindakan korupsi itu adalah kejahatan, merugikan pihak lain (orang lain), dan menodai kehidupan; namun tetap saja melakukan korupsi demi ambisinya terwujud, dan mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran.      
 

E.     Korupsi Bertentangan Dengan Prinsip-Prinsip Dharma
 
Menurut Atharvaveda, XII.1.1 yang berbunyi:

“Satyam brhad rtam ugram diksa, tapo brahma yajna prthiwim dharayanti”
 
Terjemahan:
Sesungguhnya kebenaran (satyam), hukum alam (rtam), penyucian (diksa), pengendalian diri (tapo), pengetahuan (brahma) dan pengorbanan suci (yajna) yang menyangga dunia.
 
Maka tindakan korupsi:
      bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran (satyam),
      membuahkan penderitaan diri sendiri dan orang lain (rtam),
      menodai kesucian diri dan nama baik masyarakat (diksa)
      mencerminkan ketiadaan pengendalian diri (tapo)
      adalah kebodohan atau ketiadaan pengetahuan (brahma)
      mencerminkan ambisi untuk kepentingan diri sendiri yang bertentangan dengan yajna

Oleh karena penyangga dunia (satyam, rtam, diksa, tapa, brahma, yajna) terkikis karena perilaku korupsi maka akibatnya kehidupan masyarakat (dunia) mengalami kekacauan. 
 

F.     Apa Yang Bisa Kita Berikan Kepada Dunia Untuk Menanggulangi Korupsi?
 
1.  Membumikan konsep-konsep dharma dalam bentuk pemikiran agar merasuk bersenyawa dalam 
    pemikiran orang lain. Bagi masyarakat biasa inilah yang bisa dan mudah untuk dilakukan, lebih lagi 
    jika kita memiliki pengetahuan. Jika pemikiran masyarakat dibanjiri dengan konsep-konsep dharma        maka setidaknya bisa meredam berbagai tindakan adharma.

2.  Membumikan praktek-praktek sadhana spiritual misalnya Astangga Yoga. 
    Mempraktekkan Astangga Yoga berarti membangun kesadaran diri dari dalam, merepair diri                    langsung dari dalam dengan inner power. Dan ini adalah cara yang lebih dahsyat dari pada cara              lainnya dalam hal membangun kesadaran dalam diri. Orang yang memiliki kesadaran diri yang                tinggi maka dia akan menghindari dari tindakan-tindakan yang adharma.


#Aguswi
#Archangel
#VrilSociety
#KalkiTeam
 

Senin, 22 Desember 2025

Metode Rahasia Untuk Panjang Umur atau Awet Muda

Lakukan Ini Sebagai Salah Satu Metode

Ribuan tahun lalu para ahli Ayurveda telah mengetahui manfaat yang luar biasa dari melakukan sadhana upawasa (puasa). Begitu juga Sains modern telah membuktikan manfaat puasa yang sangat signifikan pada tubuh. Dr. Yoshinori Ohsumi melalui penelitiannya telah membuktikan bahwa saat tubuh tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu tertentu, ia memasuki fase pembersihan alami yang disebut Autophagy yang berarti self eating, suatu proses saat tubuh menghancurkan dan mendaur ulang sel-sel yang rusak atau berbahaya, termasuk yang berpotensi menyebabkan penyakit seperti kanker dan Alzheimer. Setelah 12 jam tanpa makanan, tubuh mulai mengaktifkan 'survival repair mode' dengan beralih membakar lemak sebagai sumber energi. Pada jam ke-16, autophagy mulai bekerja untuk membersihkan sel-sel rusak dan protein yang tidak berfungsi. Proses ini juga meningkatkan produksi hormon pertumbuhan yang mendukung regenerasi jaringan. Sel induk mulai beregenerasi, peradangan berkurang, dan sistem kekebalan tubuh diperbarui dengan sel-sel imun baru. Autophagy turut berperan dalam membersihkan racun, logam berat, dan sel pra-kanker, menjadikannya mekanisme penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Menurut sastra Ayurveda, ada beberapa jenis puasa:

1.  1. Puasa hanya minum air putih: ini merangsang mekanisme detoksifikasi tubuh.

2. 2. Puasa hanya makan buah dan sayuran segar: menyediakan nutrisi saat mengistirahatkan         saluran pencernaan.

3. 3. Puasa selama periode waktu tertentu: membatasi rutinitas makan harian, misal hanya              makan setelah 8 jam. Metode ini mudah diterapkan dalam rutinitas sehari-hari.

Puasa selama 1-3 hari akan memberikan kesempatan badan dan pikiran untuk istirahat dan mengembalikan keseimbangannya. Menurut Ayurveda, puasa yang ideal adalah selama 24-36 jam. Ini akan memberikan sistem pencernaan anda istirahat selagi tetap menyediakan cukup waktu bagi badan untuk puasa dan mendapatkan manfaatnya. Jika lebih lama dari 36 jam maka akan beresiko kekurangan nutrisi dan energi.

Pada mulanya puasa bisa dilakukan selama 24 jam dan amati yang terjadi pada diri sendiri. Anda dapat meningkatkan selama 36 jam jika memungkinkan, kuncinya adalah rasakan tubuh anda sendiri dan jangan memaksa diri sendiri melewati batasannya. Puasa singkat yang dilakukan dengan baik adalah lebih baik dari pada puasa yang lebih lama tetapi berakhir dengan kondisi yang lemah dan sakit.

Waktu yang terbaik untuk puasa menurut Ayurveda adalah selama periode Kapha dalam siklus 24 jam, yaitu dari jam 6 pagi hingga 10 pagi, dan jam 6 sore hingga jam 10 malam. Puasa bisa dilakukan dari periode Kapha pagi hari hingga periode Kapha malam hari, atau periode Kapha pagi hari hingga Kapha pagi hari esoknya, atau periode malam hingga malam esoknya. Energi badan sangat stabil dan tenang selama periode ini. Puasa pada periode ini bisa membantu anda mengatur keseimbangan dan mendapatkan manfaat yang maksimal.

Hari-hari sebelum melakukan puasa hendaknya mengkonsumsi makanan yang ringan yang mudah dicerna oleh tubuh, misalnya misalnya nasi, sayuran rebus, dan buah-buahan. Hindari memakan daging, produk susu, dan biji-bijian. Ini akan membuat transisi tubuh memasuki kondisi puasa menjadi lebih halus. Ketika puasa selesai, akhiri dengan meminum air hangat dicampur lemon, kemudian jus buah beberapa saat kemudian. Untuk selanjutnya makan seperti biasa.

 

Manfaat puasa:

1.    Sel-sel tubuh yang muda dan kuat mulai memecah dan mengurai sel-sel yang tua yang sudah tidak produktif, protein yang telah lama mengendap dalam sel-sel juga dihancurkan. Proses pembersihan sel-sel inilah yang disebut autophagy. Ini adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah penuaan dini dan mengurangi resiko terkena penyakit. Puasa membantu anda meremajakan sel-sel tubuh dan berfungsi lebih sempurna.

2.  Tubuh akan memfokuskan energinya pada proses detoksifikasi dalam badan yang disebut ama pachana.

3.    Membantu mengurangi peradangan dan memperkuat fungsi otak. Badan memproduksi enzim ketone (senyawa dari acetone, acetoacetic acid, beta-hydroxybutyric) yang bisa bertindak sebagai sumber energi bagi otak.

4.    Enzim ketone bahkan bisa membantu menghasilkan jalur syaraf baru dalam otak.

5.    Tubuh menjadi berumur panjang dan mendukung masa tua yang sehat.

6.  Puasa yang dilakukan secara periodik mampu memperlambat penuaan sel-sel tubuh dan mendorong proses pembersihan sel-sel yang sudah tidak produktif, inilah cara tubuh untuk membersihkan residu dan toksin pada tingkat sel.

7.   Memberikan kesempatan organ pencernaan beristirahat sehingga fungsi organ pencernaan meningkat,

8. Memacu regenerasi sel-sel tubuh dan jaringan tubuh mengalami peremajaan, dan ini memungkinkan tubuh menjadi panjang umur.

9.    Memperbaiki ketidakseimbangan dan membangun harmoni dalam tubuh dan pikiran.

10 Menstabilkan unsur api dalam tubuh yang dibutuhkan untuk kesehatan, imunitas, dan metabolism.

11. Memperkuat fungsi organ vital tubuh, sehingga tubuh memiliki kemampuan penyembuhan diri dan anti penuaan dini.

12. Mendorong energi tubuh menjadi lebih sempurna dan pikiran menjadi lebih jernih. Menjadi memiliki tingkat pengendalian diri yang tinggi. 

 

Beberapa kelompok orang tidak dianjurkan untuk melakukan puasa:

1.  Wanita hamil atau menyusui: puasa bisa menurunkan energi dan nutrisi sang ibu selama periode kehamilan atau menyusui

2.    Anak-anak yang rentan dengan stunting: perkembangan badan memerlukan nutrisi dan energi yang konsisten, puasa bisa memperparah stunting.

3.   Kelompok tua renta dan yang lemah: puasa dapat menurunkan imunitas dan ketahanan tubuh.

4.  Yang kurang berat badan: pada dasarnya individu yang kurang berat badan berarti kekurangan simpanan lemak untuk menjaga energi selama puasa.

5.    Berpenyakit kronis: diabetes, penyakit jantung, atau penyakit saluran pencernaan bisa menjadi lebih parah dengan puasa.    

 

Saat puasa ada beberapa petunjuk yang perlu diperhatikan:

1.    Boleh minum air hangat bercampur lemon untuk menjaga hidrasi, ini akan membantu membersihkan toksin dalam tubuh.

2.    Istirahat secara cukup untuk menghemat energi. Namun yoga asana justru dianjurkan karena yoga asana akan mengisi tubuh dengan energi.

3.    Boleh minum teh herbal untuk mereda naluri berkeinginan dan menjaga sistem pencernaan.

4.    Sibukkan diri dengan aktivitas yang ringan seperti meditasi, membaca, dll. Jangan memikirkan makanan.

5.    Akhiri puasa dengan dengan makanan yang ringan seperti bubur kacang hijau, buah segar, yogurt, atau air kelapa. Hindari makanan yang berat dan berminyak.

6.    Rilekkan tubuh dan rasakan tubuh sendiri. Jika pada level tertentu anda merasa kurang nyaman, segera akhiri puasa. Puasa harusnya membuat anda merasa ringan dan pikiran jernih, bukan lemah dan rasa mual.

7.    Hindari untuk merokok, minuman beralkohol, atau drug. Karena bisa mengganggu proses detoksifikasi dalam tubuh.   

 

 

 

 

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...