Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan untuk memuja dewa tertentu, dalam jumlah berapa dan apa manfaat spiritualnya bunga tersebut maka kita akan mendapatkan lebih banyak manfaatnya dari pemujaan tersebut.
Ada frekuensi halus para dewa yang aktif di atmosfer. Frekuensi ini ditarik oleh bunga-bunga tertentu. Frekuensi ini kemudian oleh bunga tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dan kemudian dikenal sebagai 'pavitrak'. Inilah perbedaan antara frekuensi dan pavitrak.
·
Prinsip
halus para dewa yang ditarik oleh bunga dari atmosfer disebut frekuensi, dan
frekuensi kedewaan ini oleh bunga dipancarkan lagi ke atmosfer sebagai pavitrak.
·
Frekuensi
ini sangat halus dan tidak berwujud (nirguna), sementara pavitrak adalah bentuk halus dan nyata dari prinsip dewa tersebut.
·
Energi
yang dipancarkan dewa Ganesha di alam semesta ini akan ditarik ke bagian tengah
bunga Sepatu yang berwarna merah dan dipancarkan dalam bentuk lingkaran.
·
Energi
Ganesha yang diserap oleh tangkai bunga akan dipancarkan melalui kelopak bunga
ke atmosfer.
·
Benang
sari bunga menyerap energi Ganesha yang ada di atmosfer dan memancarkan
partikel yang berfungsi sebagai energi vital atau pranshakti.
·
Bunga
Sepatu memiliki sifat sattvam, oleh
karena energi ilahi (shakti) dan
kesadaran ilahi (Chaitanya)
dipancarkan dari kelopaknya.
Dengan demikian gambar diatas menjelaskan kepada kita semua bagaimana frekuensi kedewaan diserap oleh bunga dan bagaimana melalui media berbagai bagian dari bunga tersebut frekuensi kedewaan tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dalam bentuk pavitrak. Dengan demikian cukup jelas bahwa pancaran atau proyeksi frekuensi kedewaan dan pavitrak adalah proses yang terjadi pada tingkat spiritual. Efek dari proses ini sangat menentukan. Salah satunya bisa mengurangi kekuatan dari prinsip tamas yang ada di atmosfer ini.
Energi negatif yang ada di atmosfer mendapatkan tekanan oleh karena pavitrak yang dipancarkan oleh bunga-bunga yang sifatnya sattvam. Energi tamas atau apa yang kita sebut sebagai energi hitam akan berkurang atau akan hancur. Singkatnya bunga yang memiliki sifat sattvam bertarung dengan energi negatif yang ada di atmosfer dengan memancarkan frekuensi kedewaan. Bunga yang sattvik seperti itu ketika terjadi kontak dengan seseorang yang menderita karena energi negatif maka energi negatif yang diderita tersebut bisa mereda.
Untuk memahami topik ini dengan jelas maka kita harus terlebih dahulu mengetahui perbedaan antara 'energi negatif' dan 'energi hitam'. Ada beberapa energi yang menyusahkan di atmosfer sehingga bisa menyulitkan kita. Energi itu sangat halus, disebut 'energi negatif'. Energi kedewaan disebut dengan istilah-istilah seperti Chaitanya (kesadaran ilahi), kebahagiaan (ananda) dan shanti (damai), sementara energi negatif dikenal sebagai 'energi hitam'. Energi kedewaan sifatnya sattvam sedangkan energi negatif sifatnya tamas.
Energi kedewaan memurnikan diri kita sedangkan energi negatif merugikan diri kita. Ketika seseorang sangat dipengaruhi oleh tekanan energi negatif, maka kendalinya atas pikiran, tubuh dan kecerdasan akan berkurang dan energi negatif menjadi meningkat. Hal ini mempengaruhi pikiran, emosi, dll dari orang tersebut. Orang tersebut ketika bersentuhan dengan suasana yang sattvam maka ada gesekan antara atmosfer positif yang sattvam dan energi negatif. Hal ini dapat terwujud dalam berbagai bentuk. Ini bisa dalam bentuk pemikiran yang sederhana misal timbul pemikiran untuk meninggalkan tempat tersebut. Kadang-kadang pemikiran-pemikiran yang buruk/merusak dapat menjadi nyata pada tingkat fisik. Dalam keadaan tersebut energi negatif dapat bermanifestasi dalam bentuk ledakan kemarahan yang tiba-tiba, berteriak, melempar benda dan tidak hanya itu, bisa dalam bentuk berbagai perilaku yang buruk.
Efek
dari bunga sepatu pada wanita yang menderita karena tekanan dari energi negatif
dalam dimensi halus
·
Frekuensi
energi Dewa Ganesha memancar ke seluruh penjuru alam semesta ini, dan bunga
sepatu menarik energi ini dari sekitar.
·
Frekuensi
energi yang ditarik dikonversi menjadi shakti
dan Chaitanya dan kemudian dipancarkan
ke atmosfer.
·
Energi
yang dipancarkan bersifat menghancurkan energi negatif di sekitar wanita
tersebut.
·
Ada
pembentukan Chaitanya di jantung
wanita sebagai akibat dari dipancarkannya Chaitanya.
·
Partikel
halus energi negatif diproyeksikan ke atmosfer.
Ketika kita menggunakan bunga yang bersifat sattvik tersebut untuk memuja dewa maka frekuensi dewa tersebut dipancarkan dari bunga dalam skala besar. Hal ini tidak hanya menguntungkan penyembah tetapi juga membuat suasana sekitar menjadi sattvik.
2. Mengapa menggunakan bunga tertentu untuk memuja dewa tertentu?
Sebaiknya para dewa dipuja dengan menggunakan bunga tertentu yang Dia suka. Mari kita lihat alasan yang sebenarnya menurut ilmu spiritualitas.
Sekuntum bunga memiliki warna tertentu dan aroma khusus. Pada tingkat yang halus, warna dan aroma partikel dalam bunga memiliki kemampuan untuk menarik frekuensi energi dewa tertentu yang menguntungkan penyembah. Itulah prinsip di balik menggunakan bunga yang khusus untuk dewa dan bukan karena Dia menyukainya.
Contoh bunga warna putih seperti bunga Terompet (Dhatura) lebih cocok untuk memuja Siwa, bunga berwarna merah seperti bunga sepatu cocok untuk Ganesha, dan semua bunga-bunga yang berwarna merah juga cocok untuk Durga. Jika penyembah memiliki tingkat spiritual yang lebih maka frekuensi energi dewa akan lebih aktif melalui media bunga-bunga ini dan masuk ke dalam badan penyembah secara langsung.
3. Mengapa harus menggunakan bunga yang masih segar untuk memuja dewa?
Hanya
benda-benda yang tepat dan terbaik yang harus dihaturkan kepada dewa, termasuk bunga. Oleh karena itu penggunaan bunga
yang kering atau yang penuh dengan serangga dilarang dalam memuja dewa. Ada dua
alasan yang sesuai dengan ilmu spiritual:
·
Apapun
yang kita persembahkan kepada dewa maka diterima oleh dewa tersebut pada
tingkat niskala dan kemudian dewa senang
dan memberkati kita. Oleh karena itu apa pun yang kita persembahkan haruslah
yang terbaik.
·
Kemampuan
bunga untuk menyerap dan memancarkan frekuensi dewa dan frekuensi sattvik akan
berkurang jika bunga sudah kering atau penuh dengan serangga.
Hal
lain yang penting adalah dilarang untuk menggunakan bunga yang sudah digunakan (Nirmalya). Alasan yang mendasari ini
adalah bahwa bunga digunakan terutama oleh karena warnanya, bukan karena aromanya.
Ketika bunga sudah digunakan maka terjadi perubahan warna. Dan oleh karena warna
berubah maka penerimaan frekuensi dewa menurun dan kemudian berhenti sama
sekali. Oleh karena itu kita harus menggunakan bunga yang segar untuk dewa
setiap hari. Selain itu ada larangan lain yang berlaku untuk bunga yang akan dipersembahkan
kepada dewa.
·
Kita
tidak seharusnya mempersembahkan bunga yang telah menyentuh badan kita, yang telah
dipegang dengan tangan kiri atau yang telah busuk.
·
Kita
tidak seharusnya mempersembahkan bunga yang tanpa aroma atau memiliki aroma
yang sangat kuat tetapi telah jatuh di tanah atau di permukaan yang kotor.
·
Sekuntum
bunga yang tidak mekar sepenuhnya, atau yang kelopaknya telah layu tidak seharusnya
dipersembahkan.
·
Tidak
dianjurkan untuk menggunakan bunga yang masih kuncup.
·
Bunga
yang dicuri dari rumah orang lain tidak boleh digunakan, karena bisa membuat
mereka tidak bahagia.
·
Bunga-bunga
yang dipetik berada pada posisi di bawah pakaian dalam yang terpakai, atau yang
dibungkus daun Arka (rui atau Calotropis) atau yang dibungkus dengan daun yang
terkoyak tidak boleh digunakan untuk memuja dewa.
·
Dilarang
menggunakan bunga yang dicelupkan atau dicuci dalam air.
Jadi harus diperhatikan bahwa bunga ketika dihaturkan bisa merugikan ataupun menguntungkan. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa unsur yang tepat ketika dihaturkan dalam bentuk yang tepat seperti yang disebutkan dalam sastra suci kepada dewa membantu kita untuk mendapatkan lebih banyak manfaat dari frekuensi energi dewa dan juga memurnikan tempat pemujaan.
Ada beberapa pengecualian terhadap larangan
·
Bunga
yang masih kuncup tidak boleh digunakan kecuali teratai.
·
Meskipun
kita tidak boleh mencuci bunga dengan air dengan mencelupkannya tetapi kita bisa
memerciki bunga itu dengan air.
4. Mengapa tidak
dianjurkan untuk memetik bunga setelah matahari terbenam?
Siklus kehidupan dari makhluk hidup berjalan sesuai dengan siklus alam. Dengan ini menjadi pertimbangan bahwa waktu yang tepat untuk setiap hal dalam hidup kita telah dipertimbangkan dalam Sanatana Dharma. Demikian pula, ada waktu yang paling tepat untuk memetik bunga. Saat ini banyak yang terbiasa memetik bunga-bunga pada sore harinya sebelum puja. Tetapi ini kurang tepat jika dikaji dari ilmu spiritualitas.
Pada
Brahma muhurta, pavitrak para dewa dipancarkan dengan skala besar ke bumi. Pavitrak ini ditarik sedemikian besar oleh
bunga-bunga yang memiliki kapasitas untuk menarik pavitrak dewa-dewa tertentu. Sinar matahari menyebabkan
disintegrasi partikel-partikel tamas yang
ada di atmosfer. Oleh karena itu suasana sebelum matahari terbenam adalah lebih
sattvik dibandingkan dengan setelah
matahari terbenam.
Setelah
matahari terbenam maka kekuatan energi negatif di atmosfer meningkat yang
mengarah ke peningkatan frekuensi yang negatif di atmosfer. Oleh karena itu bunga-bunga
ditutupi oleh partikel tamas.
Sehingga kemampuanya untuk menarik pavitrak
berkurang. Oleh karena itulah bunga-bunga tidak seharusnya dipetik setelah
matahari terbenam.
Namun ada beberapa pengecualian terkait hal ini. Misalnya ada beberapa bunga yang mulai mekar saat matahari terbenam seperti chameli (melati jenis tertentu) dan Rajanigandha (sedap malam), dll. Bunga-bunga ini sangat menunggu Brahma muhurta. Seolah-olah mereka ingin menyerahkan diri di kaki para dewa. Bunga-bunga ini lebih wangi bila dibandingkan dengan bunga lainnya. Itulah mengapa energi para dewa yang ditarik oleh bunga-bunga ini cukup besar.
Aturan dalam memetik bunga:
·
Jangan
memetik bunga-bunga sebelum mandi
·
Jangan
memetik bunga untuk puja saat kaki masih memakai sepatu.
·
Nyatakan
rasa terima kasih kepada pohon dari mana anda memetik bunga tersebut.
·
Selagi
memetik bunga untuk puja berdoalah kepada dewa yang hendak dipuja dengan bunga
itu.
·
Petiklah
sejumlah bunga yang diperlukan saja untuk puja. Nyanyikan/kidungkan nama dewa pujaan
anda saat memetik bunga.
·
Dewi
Durga, menggunakan bunga melati, bunga kupu-kupu ungu, sepatu, teratai
biru-ungu, marigol, kantil, kamboja merah.
·
Dewa
Siwa, menggunakan jempiring, bunga sedap malam, kamboja, banyan, terompet,
melati, anggrek ungu,
·
Dewa
Visnu, menggunakan bunga kenanga, cempaka, melati, teratai merah muda,
jempiring, tulasi, parijata
·
Dewi
Laksmi, menggunakan bunga melati merah, asoka, pandan, teratai, kamboja kuning.
·
Dewi
Saraswati, menggunakan bunga cempaka kuning, teratai putih, kamboja putih.
·
Dewa
Ganesha, menggunakan bunga sepatu warna merah, semua bunga warna merah
·
Dewa
Surya, bunga kusuma wijaya, bunga matahari
Dengan demikian kita telah
mengetahui tentang bunga yang merupakan unsur penting pemujaan. Semoga bisa dipraktekkan
dalam pemujaan dan dengan demikian memperoleh manfaat spiritual.
Agus Widodo
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat


Tidak ada komentar:
Posting Komentar