Beranda

Rabu, 06 Juni 2018

Mengapa bunga digunakan untuk pemujaan kepada para dewa?


Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan untuk memuja dewa tertentu, dalam jumlah berapa dan apa manfaat spiritualnya bunga tersebut maka kita akan mendapatkan lebih banyak manfaatnya dari pemujaan tersebut.

1. Pentingnya bunga dalam pemujaan

Ada frekuensi halus para dewa yang aktif di atmosfer. Frekuensi ini ditarik oleh bunga-bunga tertentu. Frekuensi ini kemudian oleh bunga tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dan kemudian dikenal sebagai 'pavitrak'. Inilah perbedaan antara frekuensi dan pavitrak.
·         Prinsip halus para dewa yang ditarik oleh bunga dari atmosfer disebut frekuensi, dan frekuensi kedewaan ini oleh bunga dipancarkan lagi ke atmosfer sebagai pavitrak.
·         Frekuensi ini sangat halus dan tidak berwujud (nirguna), sementara pavitrak adalah bentuk halus dan nyata dari prinsip dewa tersebut.

Mari kita lihat bunga Sepatu (Hibiscus) ini.



·         Energi yang dipancarkan dewa Ganesha di alam semesta ini akan ditarik ke bagian tengah bunga Sepatu yang berwarna merah dan dipancarkan dalam bentuk lingkaran.
·         Energi Ganesha yang diserap oleh tangkai bunga akan dipancarkan melalui kelopak bunga ke atmosfer.
·         Benang sari bunga menyerap energi Ganesha yang ada di atmosfer dan memancarkan partikel yang berfungsi sebagai energi vital atau pranshakti.
·         Bunga Sepatu memiliki sifat sattvam, oleh karena energi ilahi (shakti) dan kesadaran ilahi (Chaitanya) dipancarkan dari kelopaknya.


Dengan demikian gambar diatas menjelaskan kepada kita semua bagaimana frekuensi kedewaan diserap oleh bunga dan bagaimana melalui media berbagai bagian dari bunga tersebut frekuensi kedewaan tersebut dipancarkan kembali ke atmosfer dalam bentuk pavitrak. Dengan demikian cukup jelas bahwa pancaran atau proyeksi frekuensi kedewaan dan pavitrak adalah proses yang terjadi pada tingkat spiritual. Efek dari proses ini sangat menentukan. Salah satunya bisa mengurangi kekuatan dari prinsip tamas yang ada di atmosfer ini.

Energi negatif yang ada di atmosfer mendapatkan tekanan oleh karena pavitrak yang dipancarkan oleh bunga-bunga yang sifatnya sattvam. Energi tamas atau apa yang kita sebut sebagai energi hitam akan berkurang atau akan hancur. Singkatnya bunga yang memiliki sifat sattvam bertarung dengan energi negatif yang ada di atmosfer dengan memancarkan frekuensi kedewaan. Bunga yang sattvik seperti itu ketika terjadi kontak dengan seseorang yang menderita karena energi negatif maka energi negatif yang diderita tersebut bisa mereda.

Untuk memahami topik ini dengan jelas maka kita harus terlebih dahulu mengetahui perbedaan antara 'energi negatif' dan 'energi hitam'. Ada beberapa energi yang menyusahkan di atmosfer sehingga bisa menyulitkan kita. Energi itu sangat halus, disebut 'energi negatif'. Energi kedewaan disebut dengan istilah-istilah seperti Chaitanya (kesadaran ilahi), kebahagiaan (ananda) dan shanti (damai), sementara energi negatif dikenal sebagai 'energi hitam'. Energi kedewaan sifatnya sattvam sedangkan energi negatif sifatnya tamas.

Energi kedewaan memurnikan diri kita sedangkan energi negatif merugikan diri kita. Ketika seseorang sangat dipengaruhi oleh tekanan energi negatif, maka kendalinya atas pikiran, tubuh dan kecerdasan akan berkurang dan energi negatif menjadi meningkat. Hal ini mempengaruhi pikiran, emosi,  dll dari orang tersebut. Orang tersebut ketika bersentuhan dengan suasana yang sattvam maka ada gesekan antara atmosfer positif yang sattvam dan energi negatif. Hal ini dapat terwujud dalam berbagai bentuk. Ini bisa dalam bentuk pemikiran yang sederhana misal timbul pemikiran untuk meninggalkan tempat tersebut. Kadang-kadang pemikiran-pemikiran yang buruk/merusak dapat menjadi nyata pada tingkat fisik. Dalam keadaan tersebut energi negatif dapat bermanifestasi dalam bentuk ledakan kemarahan yang tiba-tiba, berteriak, melempar benda dan tidak hanya itu, bisa dalam bentuk berbagai perilaku yang buruk.

Efek dari bunga sepatu pada wanita yang menderita karena tekanan dari energi negatif dalam dimensi halus
·         Frekuensi energi Dewa Ganesha memancar ke seluruh penjuru alam semesta ini, dan bunga sepatu menarik energi ini dari sekitar.
·         Frekuensi energi yang ditarik dikonversi menjadi shakti dan Chaitanya dan kemudian dipancarkan ke atmosfer.
·         Energi yang dipancarkan bersifat menghancurkan energi negatif di sekitar wanita tersebut.
·         Ada pembentukan Chaitanya di jantung wanita sebagai akibat dari dipancarkannya Chaitanya.
·         Partikel halus energi negatif diproyeksikan ke atmosfer.

Ketika kita menggunakan bunga yang bersifat sattvik tersebut untuk memuja dewa maka frekuensi dewa tersebut dipancarkan dari bunga dalam skala besar. Hal ini tidak hanya menguntungkan penyembah tetapi juga membuat suasana sekitar menjadi sattvik.

2. Mengapa menggunakan bunga tertentu untuk memuja dewa tertentu?

Sebaiknya para dewa dipuja dengan menggunakan bunga tertentu yang Dia suka. Mari kita lihat alasan yang sebenarnya menurut ilmu spiritualitas.

Sekuntum bunga memiliki warna tertentu dan aroma khusus. Pada tingkat yang halus, warna dan aroma partikel dalam bunga memiliki kemampuan untuk menarik frekuensi energi dewa tertentu yang menguntungkan penyembah. Itulah prinsip di balik menggunakan bunga yang khusus untuk dewa dan bukan karena Dia menyukainya.

Contoh bunga warna putih seperti bunga Terompet (Dhatura) lebih cocok untuk memuja Siwa, bunga berwarna merah seperti bunga sepatu cocok untuk Ganesha, dan semua bunga-bunga yang berwarna merah juga cocok untuk Durga. Jika penyembah memiliki tingkat spiritual yang lebih maka frekuensi energi dewa akan lebih aktif melalui media bunga-bunga ini dan masuk ke dalam badan penyembah secara langsung.

3. Mengapa harus menggunakan bunga yang masih segar untuk memuja dewa?

Hanya benda-benda yang tepat dan terbaik yang harus dihaturkan kepada dewa, termasuk bunga. Oleh karena itu penggunaan bunga yang kering atau yang penuh dengan serangga dilarang dalam memuja dewa. Ada dua alasan yang sesuai dengan ilmu spiritual:
·         Apapun yang kita persembahkan kepada dewa maka diterima oleh dewa tersebut pada tingkat niskala dan kemudian dewa senang dan memberkati kita. Oleh karena itu apa pun yang kita persembahkan haruslah yang terbaik.
·         Kemampuan bunga untuk menyerap dan memancarkan frekuensi dewa dan frekuensi sattvik akan berkurang jika bunga sudah kering atau penuh dengan serangga.

Hal lain yang penting adalah dilarang untuk menggunakan bunga yang sudah digunakan (Nirmalya). Alasan yang mendasari ini adalah bahwa bunga digunakan terutama oleh karena warnanya, bukan karena aromanya. Ketika bunga sudah digunakan maka terjadi perubahan warna. Dan oleh karena warna berubah maka penerimaan frekuensi dewa menurun dan kemudian berhenti sama sekali. Oleh karena itu kita harus menggunakan bunga yang segar untuk dewa setiap hari. Selain itu ada larangan lain yang berlaku untuk bunga yang akan dipersembahkan kepada dewa.
·         Kita tidak seharusnya mempersembahkan bunga yang telah menyentuh badan kita, yang telah dipegang dengan tangan kiri atau yang telah busuk.
·         Kita tidak seharusnya mempersembahkan bunga yang tanpa aroma atau memiliki aroma yang sangat kuat tetapi telah jatuh di tanah atau di permukaan yang kotor.
·         Sekuntum bunga yang tidak mekar sepenuhnya, atau yang kelopaknya telah layu tidak seharusnya dipersembahkan.
·         Tidak dianjurkan untuk menggunakan bunga yang masih kuncup.
·         Bunga yang dicuri dari rumah orang lain tidak boleh digunakan, karena bisa membuat mereka tidak bahagia.
·         Bunga-bunga yang dipetik berada pada posisi di bawah pakaian dalam yang terpakai, atau yang dibungkus daun Arka (rui atau Calotropis) atau yang dibungkus dengan daun yang terkoyak tidak boleh digunakan untuk memuja  dewa.
·         Dilarang menggunakan bunga yang dicelupkan atau dicuci dalam air.

Jadi harus diperhatikan bahwa bunga ketika dihaturkan bisa merugikan ataupun menguntungkan. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa unsur yang tepat ketika dihaturkan dalam bentuk yang tepat seperti yang disebutkan dalam sastra suci kepada dewa membantu kita untuk mendapatkan lebih banyak manfaat dari frekuensi energi dewa dan juga memurnikan tempat pemujaan.

Ada beberapa pengecualian terhadap larangan
·         Bunga yang masih kuncup tidak boleh digunakan kecuali teratai.
·         Meskipun kita tidak boleh mencuci bunga dengan air dengan mencelupkannya tetapi kita bisa memerciki bunga itu dengan air.

4. Mengapa tidak dianjurkan untuk memetik bunga setelah matahari terbenam?

Siklus kehidupan dari makhluk hidup berjalan sesuai dengan siklus alam. Dengan ini menjadi pertimbangan bahwa waktu yang tepat untuk setiap hal dalam hidup kita telah dipertimbangkan dalam Sanatana Dharma. Demikian pula, ada waktu yang paling tepat untuk memetik bunga. Saat ini banyak yang terbiasa memetik bunga-bunga pada sore harinya sebelum puja. Tetapi ini kurang tepat jika dikaji dari ilmu spiritualitas.
Pada Brahma muhurta, pavitrak para dewa dipancarkan dengan skala besar ke bumi. Pavitrak ini ditarik sedemikian besar oleh bunga-bunga yang memiliki kapasitas untuk menarik pavitrak dewa-dewa tertentu. Sinar matahari menyebabkan disintegrasi partikel-partikel tamas yang ada di atmosfer. Oleh karena itu suasana sebelum matahari terbenam adalah lebih sattvik dibandingkan dengan setelah matahari terbenam.
Setelah matahari terbenam maka kekuatan energi negatif di atmosfer meningkat yang mengarah ke peningkatan frekuensi yang negatif di atmosfer. Oleh karena itu bunga-bunga ditutupi oleh partikel tamas. Sehingga kemampuanya untuk menarik pavitrak berkurang. Oleh karena itulah bunga-bunga tidak seharusnya dipetik setelah matahari terbenam.

Namun ada beberapa pengecualian terkait hal ini. Misalnya ada beberapa bunga yang mulai mekar saat matahari terbenam seperti chameli (melati jenis tertentu) dan Rajanigandha (sedap malam), dll. Bunga-bunga ini sangat menunggu Brahma muhurta. Seolah-olah mereka ingin menyerahkan diri di kaki para dewa. Bunga-bunga ini lebih wangi bila dibandingkan dengan bunga lainnya. Itulah mengapa energi para dewa yang ditarik oleh bunga-bunga ini cukup besar.

Aturan dalam memetik bunga:
·         Jangan memetik bunga-bunga sebelum mandi
·         Jangan memetik bunga untuk puja saat kaki masih memakai sepatu.
·         Nyatakan rasa terima kasih kepada pohon dari mana anda memetik bunga tersebut.
·         Selagi memetik bunga untuk puja berdoalah kepada dewa yang hendak dipuja dengan bunga itu.
·         Petiklah sejumlah bunga yang diperlukan saja untuk puja. Nyanyikan/kidungkan nama dewa pujaan anda saat memetik bunga.


5. Contoh jenis bunga yang cocok digunakan untuk memuja dewa tertentu

·         Dewi Durga, menggunakan bunga melati, bunga kupu-kupu ungu, sepatu, teratai biru-ungu, marigol, kantil, kamboja merah.
·         Dewa Siwa, menggunakan jempiring, bunga sedap malam, kamboja, banyan, terompet, melati, anggrek ungu,
·         Dewa Visnu, menggunakan bunga kenanga, cempaka, melati, teratai merah muda, jempiring, tulasi, parijata  
·         Dewi Laksmi, menggunakan bunga melati merah, asoka, pandan, teratai, kamboja kuning.
·         Dewi Saraswati, menggunakan bunga cempaka kuning, teratai putih, kamboja putih.
·         Dewa Ganesha, menggunakan bunga sepatu warna merah, semua bunga warna merah
·         Dewa Surya, bunga kusuma wijaya, bunga matahari

Dengan demikian kita telah mengetahui tentang bunga yang merupakan unsur penting pemujaan. Semoga bisa dipraktekkan dalam pemujaan dan dengan demikian memperoleh manfaat spiritual.


Agus Widodo
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...