Beranda

Rabu, 04 Juli 2018

AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)


Pendahuluan

Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya. Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan Hindu di masa depan.
Agnihotra yang juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.  Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ke tempat lain.

Dasar Sastra Upacara Agnihotra

1.      Agnimile Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam

Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)

Mantra di atas mengandung makna bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada manifestasi/Tuhan itu sendiri.


2.      dhrtavratah ksatriya yajnaniskrto brhaddiva adhvaranamabhisriyah, agnihotara rtasapo adruho’po asrjannanu vrtraturye

para ksatriya setelah menghadiri upacara persembahan, diberkati dengan kekuatan, pembangun upacara persembahan, yang memiliki kecemerlangan berlimpah, penyelamat persembahan, yang mana agni adalah pandhitanya, penikmat kebenaran, tidak terkalahkan. (Regweda 10.66.8)


3.      Api (Deva Agni) khususnya dalam Upacara Agnihotra memiliki posisi sebagai perantara untuk menghadirkan para Deva yang dipuja oleh umat. Hal ini dapat dilihat dalam mantra Regveda sebagai berikut :

Agnih purvebhir rsibbhir
Idhayo nutanair uta
Sa devam cha vaksati             
(Rgveda 1. 1.2)

Artinya :
Oh Deva Agni, Engkau dipuja oleh para maharsi utama di masa lalu, masa kini, dan masa akan datang. Semoga Engkau menghadirkan para Deva di tempat upacara ini.
            
Api atau Deva Agni merupakan Deva yang dipuja oleh para Maharsi dengan tujuan untuk menghadirkan para Deva ke tempat pelaksanaan upacara Yajna. Api/Deva Agni dianggap mampu untuk menghadirkan para Deva tersebut. Inilah mengapa api/Deva Agni disebut sebagai perantara pemuja dengan yang dipuja.

4.      Agnihotram ca sraddha ca vasatkaro vratam tapah, daksinestam purtam cocchiste’dhi samahitah

Baik upacara api suci agnihotra dan keyakinan padanya, ikrar-ikrar suci, peleburan kesalahan, persembahan daksina, apa yang dipersembahkan, dan apa yang dihadiahkan – semuanya bersatu padu dalam persembahan itu. (Atharwa Weda 11.7.9)

5.      Yatra suharda, sukrtam Agnihotra hutam yatra lokah tam lokam yamniyabhisambhuva sano himsit purusram pasumsca.

Dimana mereka yang hatinya mulia bertempat tinggal, orang yang pikirannya damai dan mereka yang mempersembahkan dan melaksanakan Agnihotra, disanalah pimpinan masyarakat bekerja dengan baik, memelihara masyarakat, tidak menyakiti mereka dan binatang ternaknya (Atharwa Weda XXVIII.6)

6.      Agnihotra phala veda, datta bhuktaphalam dhanam, Ratiputraphala nari cila, wrttaphalam crutam

Inilah yang harus dilakukan guna mempelajari Weda, melaksanakan Puja kepada Agni, sedangkan gunanya harta untuk dinikmati dan didana puniakan. Gunanya wanita untuk diperistri melanjutkan keturunan, guna kepandaian untuk budi pekerti dan prilaku yang benar (Sarasamuscaya, 177)

7.      Agnihotra bina veda, na ca dana bina kriyah, na bhavena bina siddhis, tasmad bhavo hi karanam

Belajar veda tanpa korban suci agnihotra adalah sia-sia belaka. Korban suci tanpa disertai punia tidaklah sempurna. Tanpa disertai rasa bhakti maka tidak akan berhasil, oleh karena itu bhakti adalah penyebab dari segala keberhasilan. (Canakya Nitisastra, 8.10)

8.      Dalam Kitab Satapatha Brahmana 2.3.1.6 dijelaskan bahwa seperti seekor ular bisa bebas dari kulitnya, demikian pula ia membebaskan dirinya dari kejahatan malam hari, demikian pula halnya yang mengetahui dengan melakukan persembahan Agnihotra ia akan bebas dari kejahatan.

9.      Sedangkan Kitab Jaiminiya Brahmana 1.8, 1.9-10 menjelaskan bahwa pembebasan dari kejahatan dan dosa dapat dilakukan dengan melaksanakan agnihotra pada saat matahari terbenam.


Hoṁa  Yajña/Agnihotra menurut sumber Jawa Kuno (Kawi)

10.  Bila kita membuka sumber tertua Jawa Kuno, maka dalam bagian awal dari Kakawin Rāmāyana, yakni ketika prabhu Daśaratha memohon kelahiran putra-putranya dipimpin oleh Maharsi Ṛṣyaśṛṅga untuk mendapatkan keturunan.

·         Saji ning yajna ta humadang, sri wrksa samiddha puspa gandha phala,
dadhi ghrta krsnatila madhu. mwang kusagra wrtti wetih
 (24)
Sesajen upacara korban telah siap, kayu cendana, kayu bakar, bunga, harum-haruman dan buah-buahan, susu kental, mentega, wijen hitam, madu, periuk, ujung alang-alang, bedak dan bertih

·         Lumekas ta sira mahoma, pretadi pisaca raksasa minantram, bhuta kabeh inilagaken, asing mamighna rikang Yajna (25) 
Mulailah beliau melangsungkan upacara homa (Agnihotra), roh jahat dan sebagainya, pisaca dan raksasa dimentrai. Bhuta yang akan menggangu upacara korban itu semuanya diusir.

Dari sloka diatas, dapat dipahami bahwa upacara Agnihotra tidak hanya memiliki tujuan untuk penyucian diri (batin), tetapi juga untuk penyucian lahir (lingkungan).

·         Sakali karana ginawe, awahana len pratista sannidhya, Parameswara inangen-angen, umunggu ring kunda bahnimaya (26). 
Segala perlengkapan ūpacāra telah tersedia. Doa dan tempat peralatan hadirnya Devata. Bhatara Śiva yang dimohon kehadiran-Nya, hadir pada tungku persembahan

·         Sampun Bhatara inenah, tinitisaken tang minak sasomyamaya, lawan krsnatila madhu, sri wrksa samiddha rowang nya (27)
Sesudah Devata disthanakan, diperciki minyak “soṁa”, wijen hitam dan kayu cendana beserta kayu bakar

11.  Nagarakrtagama 8.4
“Di sebelah timur, pahoman (tempat menyelenggarakan upacara homa yajna-agnihotra) berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa. Di selatan, tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara, tempat Budha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkorban”.

12.  Dalam Silakrama, 4.1 juga ada disebutkan bahwa salah satu usaha untuk menyucikan diri bagi seorang Sadhaka adalah dengan melakukan Agnihotra atau Hoṁa yajna:

Suddha ngaranya enjing-enjing madyus, asuddha sarira, masurya sewana, mamuja,
majapa, mahoma

Bersihlah namanya, tiap hari membersihkan diri, memuja Surya , melakukan pemujaan, melakukan Japa dan melaksanakan Hoṁa yajna (Agnihotra).

13.  Seluruh tindakan manusia adalah ritual yang dipersembahkan kepada Tuhan. pada pengertian ini, pengamalan dharma juga merupakan suatu bentuk Yajna yang dapat dilakukan oleh manusia. Seperti yang disebutkan dalam Lontar Wrspati Tattwa 25 :

Sila yajnam tapo danam prabaya bhiksu revaca
Yogascapi savasena dharmasyeka vinirmayah//

Dharma ngaranya : sila ngaraning mangaraksa acara rahayu, yajna ngaraning manghadaken homa, tapa ngaranya umati indriyanya, tan wineh ring wisanya, dana ngaranya wineh, pravrjya ngaraning wiku anasaka, bhiksu ngaraning diksita, yoga ngaraning magawe Samadhi, nihan pratyekaning dharma ngaranya nihan tang jnanan ngaranya (25)

Terjemahan :Pelaksanaan Dharma meliputi : (Sila melaksanakan tingkah laku yang baik, yajna berarti melaksanakan upacara Homa (Agnihotra). Tapa berarti mengendalikan indria, tidak terikat kepada obyeknya. Dana berarti memberi (pemberian sesuatu kepada yang memerlukan). Pravrja berarti pandita yang melakukan puasa (pertapaan), Bhiksu berarti yang melaksanakan dwijati, yang menjadi pandita. Yoga berarti melaksanakan meditasi. Demikianlah bentuk realisasi pengamalan dharma).

14. Agastya Parwa menyatakan:
      "Yajna ngaranya agnihotradi kapujan Sang Hyang Siwagni pinakadinya"
      
       Artinya: Yajna artinya Agnihotra yang utama yaitu pemujaan atau persembahan 
       kepada Sang Hyang Siwa Agni.

Sarasamuscaya 59 menyebutkan ada 3 jenis api yaitu:
1. Ahawanya Agni yaitu api suci untuk menyucikan makanan. Ini artinya carilah makanan dengan
    cara-cara yang suci.
2.  Grha Patya Agni adalah api perkawinan untuk membangun rumah tangga yang mulia.
3. Citta Agni adalah api suci yang mengantarkan Sang Hyang Atma menuju alam niskala

Sumber lain menjelaskan ada lima aspek atau wujud api ritual dalam agama Hindu yaitu :
Brahma Agni (Api yang sangat luas) digunakan selama pelaksanaan upacara yang muncul sebagai api dunia.
Prajapatya Agni, Api yang diberikan kepada para Brahmacari (para pelajar/sisya spiritual) ketika menerima benang Upavita. Dengan Api ini mereka mempersembahkan upacara Agnihotra. Agnihotra merupakan upacara pemujaan kepada Dewa Agni.
Garhyapatya Agni, api untuk kepentingan keluarga yang diperoleh setelah upacara perkawinan di tengah-tengah upacara keluarga, Api ini hendaknya dipelihara selama hidup. Maksud dari hal ini adalah kekuatan api cinta kasih yang ada dalam diri setiap orang. Kita harus terus menjaga api itu dalam keluarga sehingga terbina keharmonisan dan kesejateraan dalam keluarga (Keluarga Sukinah).
Daksina Agni adalah api yang ditujukan atau digunakan dalam upacara persembahan kepada para leluhur. Ketika kita melaksanakan Pitra Yadnya atau upacara penghormatan kepada para leluhur biasanya menggunakan sarana api baik dalam bentuk dupa atau asepan.
Kravyada agni merupakan api yang digunakan dalam upacara pembakaran jenasah/ngaben. Ketika proses Ngaben, biasanya dari pihak keluarga akan melekatkan api pertama pada proses pembakaran jenasah. 


Fungsi Agnihotra

Pada hakekatnya Agnihotra adalah upacara multifungsi, sebab dengan jelas bahwa Bhagavadgita menyatakan yajna ini adalah rajanya upacara.


Waktu Pelaksanaan Agnihotra

Pelaksanaannya ditentukan oleh keberadaan matahari yaitu matahari terbit atau terbenam. Seperti disebutkan dalam beberapa kitab suci, yaitu :
1.      Kitab Kataka Samhita ada bagian yang menjelaskan “dia hendaknya melaksanakan agnihotra disore hari ketika saat matahari terbenam, pagi hari ketika matahari belum terbit”
2.      Kitab Maitrayani Samhita ada juga bagian yang menjelaskan “agnihotra hendaknya dilaksanakan pada saat malam tiba dan pagi hari setelah matahari terlihat bersinar terang”

Jadi agnihotra bisa dilaksanakan sesuai dengan waktu yang dipilih oleh Yajamana dan Purohita.

Cara Kerja Agnihotra

Prinsip keseimbangan sangat dominant dalam kerja Agnihotra. Seperti proses terjadinya hujan, dimana Air laut menguap karena panas matahari, membentuk awan tebal, terbawa angin kearah pegunungan, karena dingina membentuk titik-titik air, jatuh menjadi hujan, memberikan kesuburan kepada hutan. Air hujan meresap dan disimpan oleh lapisan hutan, mengalir mengikuti aliran sungai dan berakhir di samudra. Siklus ini terulang terus, tiada henti. Dengan adanya hujan ini maka kelangsungan hidup semua mahluk hidup menjadi terjaga. Demikian juga kerja agnihotra dengan menyalakan api suci, dimana persembahan utama ghee, biji-bijian, dan bunga-bungaan, semua keharuman ini terbawa oleh asap yang bergabung bersama awan, kemudian menjatuhkan hujan. Hujan mendatangkan kesuburan, kesuburan ini dinikmati umat manusia dalam menjalani hidupnya di dunia.

Yajna Sebagai Pusat Alam Semesta

Yajna sebagai pusat alam semesta disebutkan dalam Regveda I.164.35:

“iyam vedih paro antah prthivya ayam yajno bhuvanasya nabhih, ayam somo Vrishno asvasya reto brahmayam vacah paramam”

Artinya:
”Altar (kunda pemujaan) adalah tempat tertinggi di bumi, tempat yajna (kunda) adalah putsat alam semesta. Persembahan berupa daun-daun atau rerumputan akan menyuburkan bumi dengan jatuhnya hujan secara teratur, Oh Tuhan, Engkau adalah Mahakuasa dan tersuci diantara semuanya”

Makna sloka ini, dimana ada satu kalimat ”yajno bhuvanasya nabhih” artinya ”dimana ada pusat, disana ada mandala (lingkaran/bundaran) yang mengelilinginya”. Pusat mandala membentuk bagian integral dari lingkaran yang sama, dan masing-masing menjadi yang lain. ”bhuvanasya nabhih” = ”pusat alam semesta” adalah deskripsi dan sekaligus definisi yajna dalam segala bentuk manifestasi.


Duduk Melingkar, Mengelilingi Kunda

Regveda I.1.4 menjelaskan mengapa peserta agnihotra duduk melingkar mengelilingi kunda atau Vedi (atau punden, sebutan kunda jaman dahulu)

Agneyam yajnam advaram, visvatah pariburasi sa
Id devesu gacchati

Artinya
Dengan persembahan tanpa himsa, persembahan dilakukan dari segala arah, semoga sampai kepada para deva-deva

Persembahan yang dilakukan dari segala arah memiliki makna bahwa kunda menjadi pusat persembahan, karena pusat alam semesta ada pada api suci, kunda pemujaan adalah tempat tertinggi dan pusat alam semesta. Sloka diatas juga menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan agnihotra antara hotri (pemimpin upacara), yajamana, serta peserta lainnya yang duduk sejajar mengelilingi kunda sebagai pusat alam semesta menyimbolkan kedudukan yang sama dihadapan Tuhan, diantaranya tidak ada yang lebih tinggi. Pada pelaksanaan upacara pada umumnya, pemimpin upacara selalu duduk pada posisi yang lebih tinggi (mungkin disimbolkan sebagai yang utama), namun tidak pada pelaksanaan Agnihotra.



Oleh:
AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...