Dalam sistem Yoga, badan manusia terdiri dari 5 lapisan yang disebut Panca Mayakosha. Lapisan-lapisan tersebut antara lain:
1. Ana Mayakosha
Ini adalah lapisan badan yang kita kenal
sebagai badan fisik. Ibarat sebuah komputer lapisan badan ini adalah hardwarenya.
Lapisan badan ini tersusun dari sari-sari makanan yang kita makan setiap hari.
Seluruh bagian badan fisik dari kaki hingga kepala semuanya tersusun dari
sari-sari makanan yang masuk dan terserap ke dalam sistem tubuh kita. Lebih
detil lapisan badan Ana Mayakosha ini terdiri dari 5 unsur yang kita kenal
sebagai Panca Mahabhuta yaitu unsur padat (pertiwi), unsur cair (apah), unsur
udara (bayu), unsur panas/cahaya (teja), dan unsur ruang (akasa).
Bagian tubuh yang termasuk unsur padat
misalnya: gigi, tulang, rambut, daging, otot, kuku, dll. Yang termasuk unsur
cair misalnya: darah, lendir, enzim, air kencing, air liur, dll. Yang termasuk
unsur udara misalnya: nafas, gas-gas dalam tubuh, bau badan, dll. Yang termasuk
unsur panas/cahaya misalnya: suhu badan, warna kulit, dll. Yang termasuk unsur
ruang misalnya: rongga mulut, rongga hidung, rongga perut, rongga tenggorokan,
dll.
Pada orang yang meninggal maka lapisan
badan ini cepat atau lambat akan membusuk atau terurai kembali kepada sumbernya
yaitu Panca Mahabhuta. Bila orang yang meninggal jenazahnya dikubur maka proses
penguraian akan terjadi secara alami di dalam tanah. Jika jenazah tersebut
dikremasi (dibakar) maka proses penguraian akan lebih cepat; unsur cair, unsur
udara, unsur panas/cahaya, dan unsur akasa akan terurai sepenuhnya ketika
proses pembakaran selesai, dan yang tertinggal adalah abu pembakaran yaitu
unsur padat yang lambat laun akan menjadi tanah. Ada pula jenazah yang tidak
dikubur atau dibakar melainkan ditaruh begitu saja di tempat tertentu seperti
misalnya di bawah pohon, di dalam gua, dll. Di Tibet ada tradisi jenazah
ditaruh begitu saja di tempat dimana banyak burung pemakan bangkai, begitu
ditaruh dalam waktu yang tidak lama jenazah habis dimakan burung. Ada lagi yang
dihanyutkan begitu saja di sungai seperti di tempat-tempat tertentu di India. Dan
semua cara itu hanyalah metode pengembalian unsur Panca Mahabhuta.
2. Mano Mayakosha
Kita mengenal juga lapisan badan ini
sebagai badan mental. Juga ada yang menyebutnya sebagai pikiran, meski sebenarnya
jika dibedah lebih dalam maka lapisan badan ini lebih dari yang dipahami
sebagai pikiran oleh kebanyakan orang. Lapisan badan ini bertindak sebagai
software dari lapisan badan Ana Mayakosha sebagai hardwarenya. Lapisan badan
ini tersusun dari kombinasi antara memori dan kecerdasan/intelek. Memori yang
dimaksud disini lebih dari sekedar memori dalam pikiran yang kebanyakan
dipahami. Berbagai memori misalnya memori genetik, memori evolusi, memori
elemental, memori atom, memori karma, memori pengetahuan, dll.
Memori genetik misalnya bentuk hidung
kita, bentuk mata kita, warna kulit kita dengan leluhur-leluhur kita pasti
sama. Orang Indonesia tidak akan mungkin memiliki bentuk hidung dan mata
seperti orang India, Cina atau Eropa.
Memori atom misalnya meski hari ini kita
makan daging ayam, maka badan kita beserta sistemnya tidak akan berubah menjadi
badan atau sistem badan ayam karena memori atom dalam sistem badan kita akan
selalu mengarah bahwa daging ayam yang dicerna ini harus diubah menjadi atom-atom
bagian badan atau sistem badan manusia.
Memori karma adalah yang sering kita
sebut sebagai buah dari tindakan, kita berbuat baik maka hasilnya kita akan
mendapat kebaikan namun sebaliknya jika kita berbuat buruk maka kita pun akan
mendapatkan keburukan atau penderitaan.
Memori pengetahuan adalah kita membawa
data-data pengetahuan dari kehidupan yang sebelumnya ke kehidupan sekarang
sehingga pengetahuan itu dikehidupan sekarang begitu mudahnya kita kuasai dan
kita kembangkan. Sedangkan orang lain mungkin saja sulit untuk menguasai karena
data-data pengetahuan itu belum ada dalam dirinya dari kehidupan sebelumnya sehingga
baru sekarang dia mencoba untuk mempelajarinya. Sedangkan kita karena data-data
itu sudah ada yang terbawa dari kehidupan sebelumnya maka dikehidupan sekarang
tinggal mengembangkan saja dengan lebih baik. Kita tidak akan pernah bisa
memikirkan suatu pengetahuan dengan mudah jika memang data-data yang berkaitan
dengan pengetahuan itu tidak atau belum pernah ada dalam Mano Mayakhosa diri
kita. Dan bahkan mungkin kita tidak akan bisa berpikir tentang itu. Seorang
Einstein memiliki kemampuan berpikir seperti itu dan menjadi ilmuwan hebat yang
bahkan dijaman sekarang belum tentu ada yang bisa seperti Einstein, itu oleh
karena Einstein memiliki data-data pengetahuan itu sejak dari kehidupan yang
sebelumnya dan mungkin dikehidupan yang sebelumnya pengetahuannya sudah sangat
berkembang sehingga dikehidupan sekarang menjadi lebih sangat berkembang lagi
sehingga menjadi ilmuwan hebat.
Pada orang yang meninggal lapisan badan
Mano Mayakosha ini tidak akan hancur atau terurai, dia akan menjadi entitas
tersendiri setelah badan Ana Mayakosha mati.
Analoginya pada sebuah komputer lapisan
Mano Mayakosha ini adalah data-data yang ada dalam komputer itu yang bisa
dipindahkan ke komputer lain jika komputer lama rusak atau sudah tidak upgrade
lagi. Sangat mungkin sekali lapisan Mano Mayakosha yang isinya data-data atau
memori kehidupan seseorang inilah yang dikatakan mengalami reinkarnasi kembali,
juga sangat mungkin lapisan inilah yang sering dimaksudkan sebagai Jiwa.
3. Prana Mayakosha
Prana artinya energi, dan prana dalam
tubuh adalah energi yang sangat vital agar sistem dalam badab bisa bekerja.
Jadi prana inilah yang membuat badan beserta sistemnya ini bisa beroperasi dan
berfungsi. Analoginya sebuah laptop adalah harwarenya, windows beserta
program-program lainnya adalah sofwarenya, dan tenaga listrik yang digunakan
agar laptop itu menyala dan bisa beroperasi adalah energinya. Begitu pula
dengan lapisan badan Prana Mayakosha dia sebagai energi dari lapisan badan Ana Mayakosha
dan Mano Mayakosha.
Berikut tentang Prana:
Prana
vayu
Prana Vayu berhubungan dengan aktivitas
pernafasan. Jika Prana Vayu terkuras maka aksi pernafasan bisa terhenti. Pernafasan
dan kerja paru-paru sangat berhubungan langsung. Begitu pernfasan berhenti, maka terjadilah yang
disebut kematian. Dan Prana Vayu telah hilang sama sekali. Jadi selama proses
pernafasan bisa bertahan maka asupan Prana Vayu ke dalam badan bisa
dipertahankan sehingga tubuh tetap hidup.
Samana
vayu
Samana vayu bertanggungjawab
menghasilkan panas di dalam sistem tubuh. Suhu tubuh kita yang hangat atau
panas adalah bukti keberadaan Samana Vayu. Mengapa badan harus ada panas?
Secara logika panas itu menghasilkan energi, dan panas badan adalah suatu
bentuk energi untuk mendukung sistem dalam badan bekerja. Api digunakan untuk
memasak di dapur agar makanan bisa dimakan. Begitu pula panas badan juga salah
satunya dibutuhkan untuk mendukung sistem pencernaan agar mampu mencerna
makanan sehingga sari-sari makan bisa diserap oleh jaringan badan. Pada orang
yang meninggal setelah samana vayu hilang maka badan mulai mendingin dan
menjadi kaku.
Apana
vayu
Apana Vayu berhubungan dengan semua
sensorik dalam badan. Kemampuan gerak pada badan, kemampuan penglihatan,
pendengaran, pengecapan, jaringan syarat, dll; adalah contoh sensorik dalam
badan. Kita bisa menggerakkan tangan, kaki, maupun anggota badan lainnya itu
berkat dukungan utama dari Apana Vayu. Pada fenomena orang yang meninggal namun
ada bagian-bagian tubuhnya masih beberapa kali bergerak meski sedikit berarti
Apana Vayu belum hilang sama sekali dan badan itu masih bisa merasakan sensasi
sehingga bereaksi dengan gerakan. Dalam banyak kasus orang-orang ketakutan
karena jenazah bisa bergerak sedikit, terjadi berulang-ulang. Jadi ada
sentakan-sentakan halus yang terjadi di tubuh karena aktivitas sensoriknya
masih berfungsi.
Udana
vayu
Udana Vayu berhubungan dengan daya apung
badan. Ketika udana vayu hilang maka daya apung juga hilang. Tentang daya apung,
kita mungkin berbobot tujuh puluh kg atau delapan puluh kg atau berapa pun. Kita
tidak merasakan berbobot tujuh puluh atau delapan puluh kg tersebut, bukan?
Bobot itu ada saat kita ada diatas timbangan, namun ketika kita berjalan itu
tidak terasa oleh karena udana vayu menciptakan daya apung sehingga kita bisa
berdiri seimbang. Udana vayu membuat tubuh kurang terasa terhadap gravitasi
bumi. Jadi saat udana vayu mulai surut maka tubuh menjadi terasa lebih berat.
Padahal bobotnya masih sama, tidak bertambah. Para pekerja rumah sakit pasti
merasakan ada perbedaan membawa orang hidup dengan orang mati, membawa orang
mati terasa lebih berat karena tidak ada lagi daya apung. Kita pun bisa membuktikan
dengan merasakan mengangkat beras sekarung bobot 50 kg akan terasa lebih berat
dari pada mengangkat badan orang lain yang bobotnya sama 50 kg juga. Coba saja
menggendong orang yang bobotnya 50 kg pasti akan terasa lebih ringan jika
dibanding menggendong beras sekarung dengan bobot yang sama.
Vyana
vayu
Vyana vayu berfungsi sebagai pengawet
alami. Bila suatu bagian badan Vyana Vayu-nya surut meski kita masih hidup maka
bagian badan itu pun akan membusuk. Bagian badan luka lalu pada bagian itu
terjadi pembengkakan atau bahkan pembusukan maka berarti bagian tersebut
kekurangan Vyana Vayu. Beberapa jenis bisa ular bisa melakukannya, jika ular
itu menggigit maka dengan cepat akan terjadi pembusukan di bagian yang digigit
tersebut, meski kita masih hidup. Beberapa virus juga sanggup melakukannya,
misal penyakit lepra. Meski masih hidup, namun karena Vyana Vayu surut maka bagian
badan itu akan mulai terurai, dan proses pembusukan mulai terjadi. Pada orang
yang meninggal jika Vyana Vayu sudah hilang maka proses pembusukan atau
penguraian akan terjadi.
Pernah mendengar sebuah cerita bahwa ada
seorang sepuh yang sudah tua sekali bermeditasi di kamarnya namun setelah
sekian waktu hilang begitu saja tanpa bekas, berarti ada sistem-sistem di dalam
yoga bagaimana agar badan ini terurai dengan cepat dalam hitungan jam. Dalam
kematian yang normal maka ini tergantung pada usia seeorang juga seberapa
energiknya badan itu sendiri. Sangat mungkin membutuhkan waktu yang lama bahkan
hingga berhari-hari agar semua prana itu meninggalkan badan. Inilah alasannya
ada tradisi atau budaya ritual untuk orang yang meninggal yang dilaksanakan hingga
berhari-hari karena kerabat yang masih hidup merasa vyana vayu mungkin masih
ada. Ketika kita mengubur jenazah seseorang, vyana vayu mungkin masih
melayang-layang di sana hingga berhari-hari. Karena itulah tradisi kremasi
(pembakaran jenazah) sangat bagus untuk mempercepat penguraian jenazah dalam
waktu hitungan jam. Dan saat ini ada berbagai masalah yang terjadi, menunda
kremasi atau penguburan hingga beberapa hari karena menunggu anggota kerabatnya
yang jauh datang. Padahal untuk orang yang mati kita harus pahami bahwa dia
tidak lagi berbadan. Dia telah kehilangan badannya. Sepanjang hidupnya jika dia
berpikir bahwa dirinya adalah badannya, tidak pernah menyadari bahwa badannya
adalah akumulasi dari planet ini; maka ketika secara mendadak dia menyelip
keluar dari badan maka dia akan cenderung untuk melayang-layang di sekitar badannya
yang telah mati. Karena perspektifnya selama hidup yang kurang tepat itu maka
dia kehilangan kecerdasan diskriminatifnya (kemampuan membedakan), dia tidak
bisa membedakan badan yang hidup dan yang mati. Jadi dalam tradisi kita bahwa
ketika seseorang sudah pasti meninggal maka harus segera melakukan kremasi atau
penguburan. Dan ini baik bagi yang mati sehingga mereka tahu bahwa permainan hidup
sudah selesai. Ini juga baik bagi yang hidup, kita akan melihat jika seseorang
yang sangat kita sayangi mati dan tubuh mereka masih ada kita akan terus
berhayal “mungkin mereka hanya sedang tidur, mungkin mereka akan duduk, mungkin
beberapa keajaiban akan terjadi, mungkin sesuatu yang lain akan terjadi” dan
hal seperti ini sangat tidak perlu untuk berlanjut. Kita akan melihat
orang-orang menangis dan drama emosional yang besar pun terjadi. Namun saat kita
mengkremasi jenazahnya, kita akan melihat semua orang menjadi hening. Karena
semua orang tahu bahwa permainan sudah selesai bagi yang masih hidup dan bagi
yang mati. Jadi tentang kehidupan yang meninggalkan sistem, sangat mengakar
kuat, bukan sesuatu yang langsung keluar begitu saja. Secara bertahap kehidupan
itu pergi, begitu pula secara bertahap kehidupan itu masuk.
Jadi pada orang yang meninggal maka
lapisan badan Prana Mayakosha ini akan hilang sepenuhnya terurai kembali
menyatu dengan prana-prana alam semesta karena fungsinya menjaga suatu badan
fisik telah selesai.
4. Vijnana Mayakosha
Ini adalah lapisan badan halus sebagai
penghubung antara lapisan Ananda Mayakosha dengan lapisan badan lainnya yang
bersifat fisik (Ana Mayakosha, Mano Mayakosha dan Prana Mayakosha). Ini adalah
lapisan badan yang memungkinkan kita memiliki pengetahuan atau kecerdasan yang
luar biasa. Meski begitu lapisan ini bukanlah data-data seperti lapisan Mano
Mayakosha. Lapisan ini adalah perangkat atau sistem atau teknologi yang
memungkinkan kita untuk bisa mengakses kemampuan/kekuatan atau pengetahuan atau kecerdasan
yang luar biasa dari alam semesta ini dari pada yang dapat diakses dengan
indriya pada umumnya. Bila lapisan Vijnana Mayakosha seseorang tidak berkembang
maka dia hanya seperti orang kebanyakan, namun ketika lapisan ini sangat
berkembang maka dia akan menjadi orang yang kemampuannya atau pengetahuannya
atau kecerdasannya jauh diatas orang kebanyakan. Sesuai dengan tingkat
berkembangnya lapisan Vijnana Mayakosha seseorang; maka dia memiliki
kewaskitaan, sifat telepatik. Mengetahui suatu kejadian sebelum itu terjadi
melalui mimpi, atau pemikiran, atau sebuah penglihatan ke masa depan. Dia juga
bisa terlihat oleh banyak orang di banyak tempat yang berbeda dalam waktu yang
sama. Dia memiliki kemampuan membaca pemikiran orang lain dan juga mengubahnya.
Dia memiliki kemampuan yang menyembuhkan; kata-katanya, sentuhannya atau
pandangannya dapat menyembuhkan penyakit yang mematikan. Pada tingkatan
tertentu dari berkembangnya lapisan Vijnana Mayakosha ini bahkan dia sanggup
masuk ke badan orang lain. Para orang suci yang sanggup merasakan
getaran-getaran frekuensi alam, atau mendengarkan suara-suara alam lalu
menuliskannya dalam bentuk kata-kata adalah contoh pribadi-pribadi yang lapisan
Vijnana Mayakosha nya sangat berkembang. Para ilmuwan dengan penemuannya yang
hebat-hebat seperti Einstein dan lainnya adalah juga contoh pribadi yang
lapisan Vijnana Mayakosha nya sangat berkembang. Dia seorang Einstein yang
jaman itu mampu menangkap frekuensi alam lalu menuliskannya dalam sebuah rumus
yang orang lain tidak mampu memikirkannya. Juga seperti Maharesi Bharadvaja
yang mampu menangkap frekuensi-frekuensi alam lalu menuliskannya dalam buku
yang hingga saat ini kita warisi sebagai Vimana Shastra yaitu sebuah
pengetahuan tentang wahana terbang antar tempat, antar planet, antar galaxi dan
antar dimensi.
Pada orang yang meninggal lapisan
Vijnana Mayakosha ini akan terurai begitu saja menyatu dengan alam semesta. Karena
Vijnana Mayakosha ini hanya akan bisa berada di badan jika badan (Ana, Mano,
dan Prana) masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup, jika tidak
bisa lagi berfungsi untuk hidup maka secara otomatis akan lepas begitu saja dan
menyatu dengan alam bebas. Misalnya orang yang mengalami kecelakaan dan
kepalanya hancur maka tidak mungkin lagi badan Ana Mayakosha bisa hidup tanpa
kepala, dan saat itu juga Vijnana Mayakosha akan lepas begitu saja dan
bersenyawa terurai kembali dengan alam.
5. Ananda Mayokosha
Dalam literatur Sanskerta kata
“ananda" artinya kebahagiaan. Ini adalah lapisan yang sebenarnya bukan
hanya halus, namun lebih dari itu yaitu tidak bisa dipikirkan apa itu, hanya
bisa dikatakan sebagai lapisan yang murni, lapisan kebahagiaan. Mungkin inilah
yang disebut badan kausal, atau mungkin pula inilah yang disebut Atma oleh
beberapa sastra. Lapisan ini juga hanya akan bisa berada di badan jika lapisan
Ana, Mano dan Prana berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup. Sama seperti Vijnana
Mayakosha, lapisan Ananda Mayakosha ini juga hanya akan bisa berada di badan
jika badan (Ana, Mano, dan Prana) masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya
untuk hidup, jika tidak bisa lagi berfungsi untuk hidup maka secara otomatis
akan lepas begitu saja dan menyatu dengan alam semesta. Analoginya seperti
balon udara yang meletus maka udara dalam balon akan otomatis menyatu begitu
saja dengan udara bebas. Begitulah lapisan Vijnana Mayakosha dan Ananda
Mayakosha pada orang yang meninggal maka akan menyatu begitu saja dengan alam
bebas.
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa
pada orang yang meninggal maka yang tersisa adalah lapisan badan Mano
Mayakosha, lapisan badan lainnya semuanya lebur terurai bersenyawa kembali
dengan alam bebas. Tentang Mano Mayakosha sebagai data-data memori dalam badan,
analoginya adalah data-data dalam komputer yang terkontaminasi atau cacat oleh
karena virus maka data seperti itu harus dibersihkan atau dipulihkan kondisinya
agar menjadi data yang normal kembali. Jika dibiarkan maka akan mempengaruhi kinerja
dan fungsi dari komputer itu sendiri yang mengarah kepada kerusakan fisik atau
sistem dari komputer tersebut. Jika data-data yang terkontaminasi virus itu
tidak dipulihkan maka saat dia dipindahkan ke komputer lain pun maka komputer
itu juga sangat mungkin akan terganggu kinerja dan fungsinya. Begitu juga
dengan Mano Mayakosha sebagai jiwa yang jika kondisinya tidak sebagaimana
mestinya maka layaknya data-data dalam komputer yang terkontaminasi virus yang akan
menganggu kinerja dan fungsi dari lapisan badan lainnya. Jiwa yang sering resah,
pemarah, emosional, iri, dengki, tamak bisa menyebabkan lapisan badan Ana
Mayakosha menjadi terganggu atau sakit; begitu juga dengan lapisan Prana
Mayakosha akan terganggu sistem energinya.
Jiwa yang telah meninggalkan badan fisik jika
kondisinya mengalami ketidaksempurnaan maka perlu dipulihkan dari semua yang
menyebabkan ketidaksempurnaan itu agar jiwa itu memiliki kemampuan sebagaimana
mestinya dan jika jiwa itu reinkarnasi kembali maka kondisinya akan lebih baik
sehingga dampaknya ke kehidupannya sendiri pun juga lebih baik. Jadi yang
reinkarnasi itu adalah data-data memori seseorang yang menjelma dalam badan
yang baru, layaknya data-data komputer yang dipindahkan ke komputer lainnya. Lalu
siapa atau apa yang menggerakkan jiwa itu reinkarnasi kembali padahal lapisan
Prana sebagai energi penggerak saat dia masih berbadan fisik pun sudah terurai
bersenyawa kembali dengan alam bebas? Tidak lain adalah Shakti atau kekuatan
alam semesta itu sendiri yang menggerakkan jiwa-jiwa itu dan jiwa-jiwa itu akan
cenderung tergerak sesuai dengan catatan karma atau memori kehidupannya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam tradisi
Pangentas Panjurung Suksma atau lebih dikenal sebagai Entas-Entas obyeknya
adalah lapisan badan Mano Mayakosha dari orang yang telah lama meninggal yang
tujuannya adalah memulihkan kondisi lapisan badan tersebut agar bebas dari
ketidaknormalan atau ketidaksempurnaan sehingga menjadi lapisan badan yang
lebih Powered (alias Jiwa yang
berkemampuan).
Dari uraian diatas pula, dalam tradisi Ngelinggihan, sangat mungkin juga
obyeknya adalah lapisan Mano Mayakosha dari orang yang sudah meninggal. Sangat
tidak logis jika yang dimaksud dilinggihkan adalah atma dari orang yang sudah
meninggal. Perlu kita ketahui bahwa sifat Atma itu sama dengan sifat Paramatma
(Brahman) dan Atma adalah juga Paramatma itu sendiri. Jangankan untuk dicekal
atau dikuasai atau diposisikan atau dikondisikan, dipikirkan pun tidak bisa
makanya disebut bersifat Acintya. Atma tetap seperti Paramatma itu sendiri pada
berbagai sifatnya.
Aguswi
Bocah Ndeso