Beranda

Senin, 17 Juli 2023

Apanya yang di Entas-Kan? Apanya yang disempurnakan? Apanya yang dilinggihkan? Dan manakah yang disebut Jiwa?

Dalam sistem Yoga, badan manusia terdiri dari 5 lapisan yang disebut Panca Mayakosha. Lapisan-lapisan tersebut antara lain:

1.       Ana Mayakosha

Ini adalah lapisan badan yang kita kenal sebagai badan fisik. Ibarat sebuah komputer lapisan badan ini adalah hardwarenya. Lapisan badan ini tersusun dari sari-sari makanan yang kita makan setiap hari. Seluruh bagian badan fisik dari kaki hingga kepala semuanya tersusun dari sari-sari makanan yang masuk dan terserap ke dalam sistem tubuh kita. Lebih detil lapisan badan Ana Mayakosha ini terdiri dari 5 unsur yang kita kenal sebagai Panca Mahabhuta yaitu unsur padat (pertiwi), unsur cair (apah), unsur udara (bayu), unsur panas/cahaya (teja), dan unsur ruang (akasa).

Bagian tubuh yang termasuk unsur padat misalnya: gigi, tulang, rambut, daging, otot, kuku, dll. Yang termasuk unsur cair misalnya: darah, lendir, enzim, air kencing, air liur, dll. Yang termasuk unsur udara misalnya: nafas, gas-gas dalam tubuh, bau badan, dll. Yang termasuk unsur panas/cahaya misalnya: suhu badan, warna kulit, dll. Yang termasuk unsur ruang misalnya: rongga mulut, rongga hidung, rongga perut, rongga tenggorokan, dll.

Pada orang yang meninggal maka lapisan badan ini cepat atau lambat akan membusuk atau terurai kembali kepada sumbernya yaitu Panca Mahabhuta. Bila orang yang meninggal jenazahnya dikubur maka proses penguraian akan terjadi secara alami di dalam tanah. Jika jenazah tersebut dikremasi (dibakar) maka proses penguraian akan lebih cepat; unsur cair, unsur udara, unsur panas/cahaya, dan unsur akasa akan terurai sepenuhnya ketika proses pembakaran selesai, dan yang tertinggal adalah abu pembakaran yaitu unsur padat yang lambat laun akan menjadi tanah. Ada pula jenazah yang tidak dikubur atau dibakar melainkan ditaruh begitu saja di tempat tertentu seperti misalnya di bawah pohon, di dalam gua, dll. Di Tibet ada tradisi jenazah ditaruh begitu saja di tempat dimana banyak burung pemakan bangkai, begitu ditaruh dalam waktu yang tidak lama jenazah habis dimakan burung. Ada lagi yang dihanyutkan begitu saja di sungai seperti di tempat-tempat tertentu di India. Dan semua cara itu hanyalah metode pengembalian unsur Panca Mahabhuta.

 

2.       Mano Mayakosha

Kita mengenal juga lapisan badan ini sebagai badan mental. Juga ada yang menyebutnya sebagai pikiran, meski sebenarnya jika dibedah lebih dalam maka lapisan badan ini lebih dari yang dipahami sebagai pikiran oleh kebanyakan orang. Lapisan badan ini bertindak sebagai software dari lapisan badan Ana Mayakosha sebagai hardwarenya. Lapisan badan ini tersusun dari kombinasi antara memori dan kecerdasan/intelek. Memori yang dimaksud disini lebih dari sekedar memori dalam pikiran yang kebanyakan dipahami. Berbagai memori misalnya memori genetik, memori evolusi, memori elemental, memori atom, memori karma, memori pengetahuan, dll.

Memori genetik misalnya bentuk hidung kita, bentuk mata kita, warna kulit kita dengan leluhur-leluhur kita pasti sama. Orang Indonesia tidak akan mungkin memiliki bentuk hidung dan mata seperti orang India, Cina atau Eropa.

Memori atom misalnya meski hari ini kita makan daging ayam, maka badan kita beserta sistemnya tidak akan berubah menjadi badan atau sistem badan ayam karena memori atom dalam sistem badan kita akan selalu mengarah bahwa daging ayam yang dicerna ini harus diubah menjadi atom-atom bagian badan atau sistem badan manusia.

Memori karma adalah yang sering kita sebut sebagai buah dari tindakan, kita berbuat baik maka hasilnya kita akan mendapat kebaikan namun sebaliknya jika kita berbuat buruk maka kita pun akan mendapatkan keburukan atau penderitaan.

Memori pengetahuan adalah kita membawa data-data pengetahuan dari kehidupan yang sebelumnya ke kehidupan sekarang sehingga pengetahuan itu dikehidupan sekarang begitu mudahnya kita kuasai dan kita kembangkan. Sedangkan orang lain mungkin saja sulit untuk menguasai karena data-data pengetahuan itu belum ada dalam dirinya dari kehidupan sebelumnya sehingga baru sekarang dia mencoba untuk mempelajarinya. Sedangkan kita karena data-data itu sudah ada yang terbawa dari kehidupan sebelumnya maka dikehidupan sekarang tinggal mengembangkan saja dengan lebih baik. Kita tidak akan pernah bisa memikirkan suatu pengetahuan dengan mudah jika memang data-data yang berkaitan dengan pengetahuan itu tidak atau belum pernah ada dalam Mano Mayakhosa diri kita. Dan bahkan mungkin kita tidak akan bisa berpikir tentang itu. Seorang Einstein memiliki kemampuan berpikir seperti itu dan menjadi ilmuwan hebat yang bahkan dijaman sekarang belum tentu ada yang bisa seperti Einstein, itu oleh karena Einstein memiliki data-data pengetahuan itu sejak dari kehidupan yang sebelumnya dan mungkin dikehidupan yang sebelumnya pengetahuannya sudah sangat berkembang sehingga dikehidupan sekarang menjadi lebih sangat berkembang lagi sehingga menjadi ilmuwan hebat.

Pada orang yang meninggal lapisan badan Mano Mayakosha ini tidak akan hancur atau terurai, dia akan menjadi entitas tersendiri setelah badan Ana Mayakosha mati.  

Analoginya pada sebuah komputer lapisan Mano Mayakosha ini adalah data-data yang ada dalam komputer itu yang bisa dipindahkan ke komputer lain jika komputer lama rusak atau sudah tidak upgrade lagi. Sangat mungkin sekali lapisan Mano Mayakosha yang isinya data-data atau memori kehidupan seseorang inilah yang dikatakan mengalami reinkarnasi kembali, juga sangat mungkin lapisan inilah yang sering dimaksudkan sebagai Jiwa.  

 

3.       Prana Mayakosha

Prana artinya energi, dan prana dalam tubuh adalah energi yang sangat vital agar sistem dalam badab bisa bekerja. Jadi prana inilah yang membuat badan beserta sistemnya ini bisa beroperasi dan berfungsi. Analoginya sebuah laptop adalah harwarenya, windows beserta program-program lainnya adalah sofwarenya, dan tenaga listrik yang digunakan agar laptop itu menyala dan bisa beroperasi adalah energinya. Begitu pula dengan lapisan badan Prana Mayakosha dia sebagai energi dari lapisan badan Ana Mayakosha dan Mano Mayakosha.

Berikut tentang Prana:

 

Prana vayu

Prana Vayu berhubungan dengan aktivitas pernafasan. Jika Prana Vayu terkuras maka aksi pernafasan bisa terhenti. Pernafasan dan kerja paru-paru sangat berhubungan langsung. Begitu  pernfasan berhenti, maka terjadilah yang disebut kematian. Dan Prana Vayu telah hilang sama sekali. Jadi selama proses pernafasan bisa bertahan maka asupan Prana Vayu ke dalam badan bisa dipertahankan sehingga tubuh tetap hidup.

 

Samana vayu

Samana vayu bertanggungjawab menghasilkan panas di dalam sistem tubuh. Suhu tubuh kita yang hangat atau panas adalah bukti keberadaan Samana Vayu. Mengapa badan harus ada panas? Secara logika panas itu menghasilkan energi, dan panas badan adalah suatu bentuk energi untuk mendukung sistem dalam badan bekerja. Api digunakan untuk memasak di dapur agar makanan bisa dimakan. Begitu pula panas badan juga salah satunya dibutuhkan untuk mendukung sistem pencernaan agar mampu mencerna makanan sehingga sari-sari makan bisa diserap oleh jaringan badan. Pada orang yang meninggal setelah samana vayu hilang maka badan mulai mendingin dan menjadi kaku.

 

Apana vayu

Apana Vayu berhubungan dengan semua sensorik dalam badan. Kemampuan gerak pada badan, kemampuan penglihatan, pendengaran, pengecapan, jaringan syarat, dll; adalah contoh sensorik dalam badan. Kita bisa menggerakkan tangan, kaki, maupun anggota badan lainnya itu berkat dukungan utama dari Apana Vayu. Pada fenomena orang yang meninggal namun ada bagian-bagian tubuhnya masih beberapa kali bergerak meski sedikit berarti Apana Vayu belum hilang sama sekali dan badan itu masih bisa merasakan sensasi sehingga bereaksi dengan gerakan. Dalam banyak kasus orang-orang ketakutan karena jenazah bisa bergerak sedikit, terjadi berulang-ulang. Jadi ada sentakan-sentakan halus yang terjadi di tubuh karena aktivitas sensoriknya masih berfungsi.

 

Udana vayu

Udana Vayu berhubungan dengan daya apung badan. Ketika udana vayu hilang maka daya apung juga hilang. Tentang daya apung, kita mungkin berbobot tujuh puluh kg atau delapan puluh kg atau berapa pun. Kita tidak merasakan berbobot tujuh puluh atau delapan puluh kg tersebut, bukan? Bobot itu ada saat kita ada diatas timbangan, namun ketika kita berjalan itu tidak terasa oleh karena udana vayu menciptakan daya apung sehingga kita bisa berdiri seimbang. Udana vayu membuat tubuh kurang terasa terhadap gravitasi bumi. Jadi saat udana vayu mulai surut maka tubuh menjadi terasa lebih berat. Padahal bobotnya masih sama, tidak bertambah. Para pekerja rumah sakit pasti merasakan ada perbedaan membawa orang hidup dengan orang mati, membawa orang mati terasa lebih berat karena tidak ada lagi daya apung. Kita pun bisa membuktikan dengan merasakan mengangkat beras sekarung bobot 50 kg akan terasa lebih berat dari pada mengangkat badan orang lain yang bobotnya sama 50 kg juga. Coba saja menggendong orang yang bobotnya 50 kg pasti akan terasa lebih ringan jika dibanding menggendong beras sekarung dengan bobot yang sama.  

 

Vyana vayu

Vyana vayu berfungsi sebagai pengawet alami. Bila suatu bagian badan Vyana Vayu-nya surut meski kita masih hidup maka bagian badan itu pun akan membusuk. Bagian badan luka lalu pada bagian itu terjadi pembengkakan atau bahkan pembusukan maka berarti bagian tersebut kekurangan Vyana Vayu. Beberapa jenis bisa ular bisa melakukannya, jika ular itu menggigit maka dengan cepat akan terjadi pembusukan di bagian yang digigit tersebut, meski kita masih hidup. Beberapa virus juga sanggup melakukannya, misal penyakit lepra. Meski masih hidup, namun karena Vyana Vayu surut maka bagian badan itu akan mulai terurai, dan proses pembusukan mulai terjadi. Pada orang yang meninggal jika Vyana Vayu sudah hilang maka proses pembusukan atau penguraian akan terjadi.

Pernah mendengar sebuah cerita bahwa ada seorang sepuh yang sudah tua sekali bermeditasi di kamarnya namun setelah sekian waktu hilang begitu saja tanpa bekas, berarti ada sistem-sistem di dalam yoga bagaimana agar badan ini terurai dengan cepat dalam hitungan jam. Dalam kematian yang normal maka ini tergantung pada usia seeorang juga seberapa energiknya badan itu sendiri. Sangat mungkin membutuhkan waktu yang lama bahkan hingga berhari-hari agar semua prana itu meninggalkan badan. Inilah alasannya ada tradisi atau budaya ritual untuk orang yang meninggal yang dilaksanakan hingga berhari-hari karena kerabat yang masih hidup merasa vyana vayu mungkin masih ada. Ketika kita mengubur jenazah seseorang, vyana vayu mungkin masih melayang-layang di sana hingga berhari-hari. Karena itulah tradisi kremasi (pembakaran jenazah) sangat bagus untuk mempercepat penguraian jenazah dalam waktu hitungan jam. Dan saat ini ada berbagai masalah yang terjadi, menunda kremasi atau penguburan hingga beberapa hari karena menunggu anggota kerabatnya yang jauh datang. Padahal untuk orang yang mati kita harus pahami bahwa dia tidak lagi berbadan. Dia telah kehilangan badannya. Sepanjang hidupnya jika dia berpikir bahwa dirinya adalah badannya, tidak pernah menyadari bahwa badannya adalah akumulasi dari planet ini; maka ketika secara mendadak dia menyelip keluar dari badan maka dia akan cenderung untuk melayang-layang di sekitar badannya yang telah mati. Karena perspektifnya selama hidup yang kurang tepat itu maka dia kehilangan kecerdasan diskriminatifnya (kemampuan membedakan), dia tidak bisa membedakan badan yang hidup dan yang mati. Jadi dalam tradisi kita bahwa ketika seseorang sudah pasti meninggal maka harus segera melakukan kremasi atau penguburan. Dan ini baik bagi yang mati sehingga mereka tahu bahwa permainan hidup sudah selesai. Ini juga baik bagi yang hidup, kita akan melihat jika seseorang yang sangat kita sayangi mati dan tubuh mereka masih ada kita akan terus berhayal “mungkin mereka hanya sedang tidur, mungkin mereka akan duduk, mungkin beberapa keajaiban akan terjadi, mungkin sesuatu yang lain akan terjadi” dan hal seperti ini sangat tidak perlu untuk berlanjut. Kita akan melihat orang-orang menangis dan drama emosional yang besar pun terjadi. Namun saat kita mengkremasi jenazahnya, kita akan melihat semua orang menjadi hening. Karena semua orang tahu bahwa permainan sudah selesai bagi yang masih hidup dan bagi yang mati. Jadi tentang kehidupan yang meninggalkan sistem, sangat mengakar kuat, bukan sesuatu yang langsung keluar begitu saja. Secara bertahap kehidupan itu pergi, begitu pula secara bertahap kehidupan itu masuk.   

Jadi pada orang yang meninggal maka lapisan badan Prana Mayakosha ini akan hilang sepenuhnya terurai kembali menyatu dengan prana-prana alam semesta karena fungsinya menjaga suatu badan fisik telah selesai.

 

4.       Vijnana Mayakosha

Ini adalah lapisan badan halus sebagai penghubung antara lapisan Ananda Mayakosha dengan lapisan badan lainnya yang bersifat fisik (Ana Mayakosha, Mano Mayakosha dan Prana Mayakosha). Ini adalah lapisan badan yang memungkinkan kita memiliki pengetahuan atau kecerdasan yang luar biasa. Meski begitu lapisan ini bukanlah data-data seperti lapisan Mano Mayakosha. Lapisan ini adalah perangkat atau sistem atau teknologi yang memungkinkan kita untuk bisa mengakses  kemampuan/kekuatan atau pengetahuan atau kecerdasan yang luar biasa dari alam semesta ini dari pada yang dapat diakses dengan indriya pada umumnya. Bila lapisan Vijnana Mayakosha seseorang tidak berkembang maka dia hanya seperti orang kebanyakan, namun ketika lapisan ini sangat berkembang maka dia akan menjadi orang yang kemampuannya atau pengetahuannya atau kecerdasannya jauh diatas orang kebanyakan. Sesuai dengan tingkat berkembangnya lapisan Vijnana Mayakosha seseorang; maka dia memiliki kewaskitaan, sifat telepatik. Mengetahui suatu kejadian sebelum itu terjadi melalui mimpi, atau pemikiran, atau sebuah penglihatan ke masa depan. Dia juga bisa terlihat oleh banyak orang di banyak tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Dia memiliki kemampuan membaca pemikiran orang lain dan juga mengubahnya. Dia memiliki kemampuan yang menyembuhkan; kata-katanya, sentuhannya atau pandangannya dapat menyembuhkan penyakit yang mematikan. Pada tingkatan tertentu dari berkembangnya lapisan Vijnana Mayakosha ini bahkan dia sanggup masuk ke badan orang lain. Para orang suci yang sanggup merasakan getaran-getaran frekuensi alam, atau mendengarkan suara-suara alam lalu menuliskannya dalam bentuk kata-kata adalah contoh pribadi-pribadi yang lapisan Vijnana Mayakosha nya sangat berkembang. Para ilmuwan dengan penemuannya yang hebat-hebat seperti Einstein dan lainnya adalah juga contoh pribadi yang lapisan Vijnana Mayakosha nya sangat berkembang. Dia seorang Einstein yang jaman itu mampu menangkap frekuensi alam lalu menuliskannya dalam sebuah rumus yang orang lain tidak mampu memikirkannya. Juga seperti Maharesi Bharadvaja yang mampu menangkap frekuensi-frekuensi alam lalu menuliskannya dalam buku yang hingga saat ini kita warisi sebagai Vimana Shastra yaitu sebuah pengetahuan tentang wahana terbang antar tempat, antar planet, antar galaxi dan antar dimensi.

Pada orang yang meninggal lapisan Vijnana Mayakosha ini akan terurai begitu saja menyatu dengan alam semesta. Karena Vijnana Mayakosha ini hanya akan bisa berada di badan jika badan (Ana, Mano, dan Prana) masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup, jika tidak bisa lagi berfungsi untuk hidup maka secara otomatis akan lepas begitu saja dan menyatu dengan alam bebas. Misalnya orang yang mengalami kecelakaan dan kepalanya hancur maka tidak mungkin lagi badan Ana Mayakosha bisa hidup tanpa kepala, dan saat itu juga Vijnana Mayakosha akan lepas begitu saja dan bersenyawa terurai kembali dengan alam.

 

5.       Ananda Mayokosha

Dalam literatur Sanskerta kata “ananda" artinya kebahagiaan. Ini adalah lapisan yang sebenarnya bukan hanya halus, namun lebih dari itu yaitu tidak bisa dipikirkan apa itu, hanya bisa dikatakan sebagai lapisan yang murni, lapisan kebahagiaan. Mungkin inilah yang disebut badan kausal, atau mungkin pula inilah yang disebut Atma oleh beberapa sastra. Lapisan ini juga hanya akan bisa berada di badan jika lapisan Ana, Mano dan Prana berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup. Sama seperti Vijnana Mayakosha, lapisan Ananda Mayakosha ini juga hanya akan bisa berada di badan jika badan (Ana, Mano, dan Prana) masih bisa berfungsi sebagaimana mestinya untuk hidup, jika tidak bisa lagi berfungsi untuk hidup maka secara otomatis akan lepas begitu saja dan menyatu dengan alam semesta. Analoginya seperti balon udara yang meletus maka udara dalam balon akan otomatis menyatu begitu saja dengan udara bebas. Begitulah lapisan Vijnana Mayakosha dan Ananda Mayakosha pada orang yang meninggal maka akan menyatu begitu saja dengan alam bebas.

 

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada orang yang meninggal maka yang tersisa adalah lapisan badan Mano Mayakosha, lapisan badan lainnya semuanya lebur terurai bersenyawa kembali dengan alam bebas. Tentang Mano Mayakosha sebagai data-data memori dalam badan, analoginya adalah data-data dalam komputer yang terkontaminasi atau cacat oleh karena virus maka data seperti itu harus dibersihkan atau dipulihkan kondisinya agar menjadi data yang normal kembali. Jika dibiarkan maka akan mempengaruhi kinerja dan fungsi dari komputer itu sendiri yang mengarah kepada kerusakan fisik atau sistem dari komputer tersebut. Jika data-data yang terkontaminasi virus itu tidak dipulihkan maka saat dia dipindahkan ke komputer lain pun maka komputer itu juga sangat mungkin akan terganggu kinerja dan fungsinya. Begitu juga dengan Mano Mayakosha sebagai jiwa yang jika kondisinya tidak sebagaimana mestinya maka layaknya data-data dalam komputer yang terkontaminasi virus yang akan menganggu kinerja dan fungsi dari lapisan badan lainnya. Jiwa yang sering resah, pemarah, emosional, iri, dengki, tamak bisa menyebabkan lapisan badan Ana Mayakosha menjadi terganggu atau sakit; begitu juga dengan lapisan Prana Mayakosha akan terganggu sistem energinya.  

Jiwa yang telah meninggalkan badan fisik jika kondisinya mengalami ketidaksempurnaan maka perlu dipulihkan dari semua yang menyebabkan ketidaksempurnaan itu agar jiwa itu memiliki kemampuan sebagaimana mestinya dan jika jiwa itu reinkarnasi kembali maka kondisinya akan lebih baik sehingga dampaknya ke kehidupannya sendiri pun juga lebih baik. Jadi yang reinkarnasi itu adalah data-data memori seseorang yang menjelma dalam badan yang baru, layaknya data-data komputer yang dipindahkan ke komputer lainnya. Lalu siapa atau apa yang menggerakkan jiwa itu reinkarnasi kembali padahal lapisan Prana sebagai energi penggerak saat dia masih berbadan fisik pun sudah terurai bersenyawa kembali dengan alam bebas? Tidak lain adalah Shakti atau kekuatan alam semesta itu sendiri yang menggerakkan jiwa-jiwa itu dan jiwa-jiwa itu akan cenderung tergerak sesuai dengan catatan karma atau memori kehidupannya.  

Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam tradisi Pangentas Panjurung Suksma atau lebih dikenal sebagai Entas-Entas obyeknya adalah lapisan badan Mano Mayakosha dari orang yang telah lama meninggal yang tujuannya adalah memulihkan kondisi lapisan badan tersebut agar bebas dari ketidaknormalan atau ketidaksempurnaan sehingga menjadi lapisan badan yang lebih Powered (alias Jiwa yang berkemampuan).

Dari uraian diatas pula, dalam tradisi Ngelinggihan, sangat mungkin juga obyeknya adalah lapisan Mano Mayakosha dari orang yang sudah meninggal. Sangat tidak logis jika yang dimaksud dilinggihkan adalah atma dari orang yang sudah meninggal. Perlu kita ketahui bahwa sifat Atma itu sama dengan sifat Paramatma (Brahman) dan Atma adalah juga Paramatma itu sendiri. Jangankan untuk dicekal atau dikuasai atau diposisikan atau dikondisikan, dipikirkan pun tidak bisa makanya disebut bersifat Acintya. Atma tetap seperti Paramatma itu sendiri pada berbagai sifatnya.

 

Aguswi

Bocah Ndeso

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...