Beranda

Selasa, 04 Maret 2025

MENGAPA DRESTARASTRA TERLAHIR BUTA? Jawaban atas pertanyaan itu sangat berguna bagi kita semua

Drestarastra pada kelahirannya yang sebelumnya adalah seorang pangeran kerajaan juga. Dan kegemaran seorang pangeran adalah berburu binatang di hutan. Pangeran ini pada suatu kali pergi berburu ke hutan dengan didampingi para abdinya. Di hutan mereka melihat seekor induk burung dengan anaknya yang jumlahnya ratusan ada disekelilingnya. Pangeran lalu mengambil busur panahnya dan mulai membidik induk burung. Saat itulah seorang abdinya menasehati dengan berkata "Pangeran mohon jangan dipanah induk burung itu, jika induk burung itu mati maka ratusan anaknya akan terlantar, sebaiknya kita mencari binatang buruan lainnya". Namun pangeran ini tidak mengindahkan nasehat abdinya ini meskipun pengeran itu sendiri dengan matanya melihat kebenaran bahwa induk burung itu anaknya memang ratusan, dan jika induknya mati maka anak-anaknya akan terlantar, tercerai berai, dan menderita. Namun kebenaran yang dia lihat itu tidak dipertimbangkannya. Lalu dilepaskanlah panahnya dan melesat menembus tubuh induk burung itu, dan......matilah induk burung itu. Lalu apa yang terjadi dengan ratusan anak burung itu? Tercerai berai tak tentu arah dengan bersuara seolah teriak-teriak memilukan.

Pada kelahiran yang selanjutnya jiwa sang pangeran ini kembali terlahir sebagai DRESTARASTRA yg hidup di dalam istana Hastinapura sebagai pangeran lagi dengan kondisi fisik BUTA, yg memiliki ANAK SERATUS dan dia menjadi TERLANTAR MENDERITA karena SERATUS ANAKNYA MATI DI MEDANG PERANG Kuruksetra. Itulah buah karmanya dari kelahiran sebelumnya yaitu KEBUTAAN. Di kelahiran yang lalu dia MENGINGKARI KEBENARAN yang dia lihat dgn MATANYA bahwa ratusan anak burung akan terlantar tercerai berai jika induknya dia panah, namun keangkuhannya sebagai pangeran tetap saja dia memanah induk burung itu.

LALU PENGETAHUAN APA YG DAPAT KITA PELAJARI DARI KISAH ITU?
HUKUM KARMA? Benar sekali.
Seseorang yang menyangkal atau melanggar kebenaran dengan matanya, maka bisa mengalami kebutaan sebagai buah karmanya seperti yang dialami Drestarastra. Entah itu dialami pada kehidupan itu juga atau kelahiran yang selanjutnya.
Bila melanggar kebenaran dengan pikirannya, maka bisa jadi mengalami penderitaan pikiran atau kesakitan pada bagian otaknya misal dengan menderita kanker otak.
Bila melanggar kebenaran dengan kakinya, maka bisa jadi akan mengalami penderitaan pada bagian kakinya atau terlahir kembali dalam kondisi cacat kakinya.
Begitu pula jika seseorang melanggar kebenaran dengan tangannya, telinganya, atau bagian tubuh lainnya. Maka bisa jadi pada bagian tubuh itulah nantinya dia akan menderita.

PARA KORUPTOR, MALING UANG RAKYAT adalah mereka yang MELANGGAR KEBENARAN DENGAN PIKIRANNYA ATAU OTAKNYA, pada kehidupan ini juga atau kelahiran yang selanjutnya maka mereka bisa jadi MENDERITA PIKIRANNYA ATAU OTAKNYA secara fisik karena TIDAK MENGGUNAKAN PIKIRAN ATAU OTAKNYA untuk KEBENARAN, melainkan untuk KEJAHATAN.
Jadi kita sebagai Insan Manusia sdh seharusnya menggunakan semua bagian tubuh kita untuk kebenaran, untuk kebermanfaatan dgn sesama, dengan begitu hidup ini akan indah, damai, bahagia, sejahtera. JAUH DARI DERITA FISIK DAN MENTAL.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...