Beranda

Selasa, 31 Agustus 2021

Pagerwesi: Hanya Pengetahuan Yang Bisa Membentengi Diri

 

Oleh: Aguswi 

Kata “pagerwesi” artinya pagar dari besi. “Pagar” dibuat untuk membentengi atau melindungi sesuatu dari ancaman yang membuat kerugian atau bahkan merusak, “wesi” adalah material yang kita kenal mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi.

Hari raya Pagerwesi selalu kita rayakan setelah hari raya Saraswati, mengapa? Perlu kita ketahui bahwa satu-satunya hal yang dapat kita jadikan benteng atau pertahanan dalam diri kita hanyalah pengetahuan. Tanpa pengetahuan maka manusia akan mengalami kebodohan (avidya), dari kebodohan maka manusia akan sangat beresiko terjerumus dalam berbagai penderitaan dalam setiap kehidupannya. Dan hari Saraswati adalah hari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus mendapatkan jalannya terlebih dahulu untuk mengalir ke dalam diri seseorang, barulah jika pengetahuan itu sudah ada di dalam diri baru bisa difungsikan salah satunya sebagai benteng dalam diri. Itulah alasan mengapa Saraswati merupakan hari raya yang lebih dahulu dilaksanakan beberapa waktu sebelum Pagerwesi.

Namun perlu dipahami bahwa sebagaimana air hanya akan bisa mengalir ke tempat yang lebih rendah, begitu juga air pengetahuan hanya akan bisa mengalir kepada mereka yang memiliki kerendahan hati. Orang-orang yang angkuh, sombong, congkak, penuh kedengkian, pemarah, mudah emosional, mudah membuli, gampang memprovokasi maka pengetahuan yang benar tidak akan bisa mengalir kepada orang-orang seperti itu. Dibutuhkan orang yang “pangerten” (ungkapan Jawa) yang artinya mau memahami, mau menyadari, mau mencari kebenarannya, mau bertoleransi. Barulah setelah pengetahuan itu bersenyawa dalam diri seseorang dan membentuk sebuah komposisi kesadaran maka dia bisa memfungsikannya sebagai “way of life” salah satunya sebagai benteng dalam diri; benteng yang memagari diri untuk tidak terpapar dalam berbagai pemikiran yang buruk, benteng yang memagari diri dari paparan tindakan yang asusila, benteng yang memagari diri agar setiap ucapan tidak keluar dari konteks kebenaran.

Seringkali kita membaca postingan di medsos begitu mudahnya seseorang mencaci, memaki, membuli, memprovokasi, merendahkan, dsb; itu mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak memiliki benteng dalam dirinya sehingga dia dengan mudahnya terpapar dalam perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan dan kesantunan. Sifat-sifat buruk seperti itu akan menjadi sebuah penghalang atau blokir terhadap aliran pengetahuan ke dalam dirinya.

Pengetahuan memiliki kekuatan yang luar biasa, sebagaimana api yang mampu membakar benda hingga menjadi abu, begitu pula api pengetahuan akan sanggup membakar berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang dialami seseorang. Bhagavadgita memberikan penjelasan bahwa dengan pengetahuan orang yang paling berdosa sekalipun akan sanggup menyeberangi lautan penderitaan.

Pagerwesi menurut lontar Sundarigama disebutkan :

“budha kliwon shinta ngaran pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pamujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (Sembilan Dewata) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

 

“Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Mahabhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”

Artinya:

Sang Pandhita hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara. Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada persembahan untuk Sang Panca Mahabhuta yang warnanya menurut uripnya dan ditempatkan di tempat pemujaan.

 

“Ngawerdhiaken” artinya mengembangkan, tumitah artinya yang terlahirkan, tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Dalam ungkapan Jawa ini sama dengan “Memayu Hayuning Bhuwana” yang artinya mengembangkan, melestarikan, menjaga segala bentuk kehidupan. Segala bentuk kehidupan ini harus dikembangkan, dilestarikan dan dijaga; karena apabila itu tidak dilakukan maka manusia akan dilanda penderitaan lahir maupun batin entah sebagai dampak dari yang terjadi secara global atau pun karena dirinya sendiri. Misal saja tumbuh-tumbuhan (pertanian ) tidak dikembangkan dan dilestarikan maka akibatnya adalah kemiskinan dan kelaparan. 

Dalam konteks sekarang, kata “sang purohita” ini ditujukan kepada kita semua yaitu orang-orang yang memiliki keluhuran budhi sebagaimana para purohita (pandhita) yang memiliki sifat-sifat mulia. Dan hendaknya mereka yang memiliki keluhuran budhi, yang memiliki kesadaran diri melakukan yoga samadhi. Jadi inilah hakikat dari Pagerwesi bahwa dengan segenap pengetahuannya seseorang hendaknya melakukan yoga samadhi. Menurut Yoga Sutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali bahwa “Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran” Mengapa pikiran perlu dikendalikan? Agar supaya pikiran tidak larut dalam berbagai gelombang pemikiran terutama pemikiran yang buruk yang memungkinkannya untuk kehilangan sifat sejatinya. Semakin gelombang-gelombang pemikiran itu dibiarkan, maka semakin mengganggu kinerja dari pikiran, bahkan bisa membuat pikiran menjadi galauw, stress hingga gila. Sehingga dengan kondisi pikiran yang seperti itu maka tingkat kesadaran seseorang menjadi menurun dan akibatnya mudah berprilaku yang tidak pantas hingga kejam. Yoga samadhi tidak bisa diartikan sempit sebagaimana asumsi kebanyakan orang yaitu “duduk diam hening tidak bergerak sama sekali”, tetapi lebih luas dari itu yaitu tertuang dalam konsep Astangga Yoga dimana pada bagian awal berkaitan dengan pengendalian perilaku kita sehari-hari yaitu Yama dan Nyama. Bahwa sebelum menjalankan laku sadhana inti atau puncak dari Yoga yaitu Samadhi maka syaratnya adalah perilaku sudah mencerminkan sebuah keluhuran budhi. Tanpa keluhuran budhi (sifat-sifat yang mulai) maka laku sadhana yoga tahap lanjutan adalah sia-sia belaka. Karena pengetahuan yang terkandung dalam inti atau puncak laku sadhana yoga tidak akan bisa mengalir dalam diri, oleh karena terblokir oleh sifat-sifat buruk dalam diri.

Buatkan jalan berupa kemuliaan diri bagi pengetahuan untuk bisa mengalir dan bersenyawa dalam sang diri dan membentuk sebuah komposisi kesadaran yang tinggi. Jadi hanya pengetahuanlah yang bisa dijadikan benteng yang kuat dalam diri agar segala kecenderungan atau sifat-sifat yang buruk tidak mampu menyentuh sang diri sehingga tujuan hidup bisa tercapai.  

 

Bocah Jowo

 

 

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...