Oleh: Aguswi
Kata “pagerwesi” artinya pagar dari besi.
“Pagar” dibuat untuk membentengi atau melindungi sesuatu dari ancaman yang
membuat kerugian atau bahkan merusak, “wesi” adalah material yang kita kenal mempunyai
tingkat kekerasan yang tinggi.
Hari raya Pagerwesi selalu kita rayakan
setelah hari raya Saraswati, mengapa? Perlu kita ketahui bahwa satu-satunya hal
yang dapat kita jadikan benteng atau pertahanan dalam diri kita hanyalah
pengetahuan. Tanpa pengetahuan maka manusia akan mengalami kebodohan (avidya),
dari kebodohan maka manusia akan sangat beresiko terjerumus dalam berbagai
penderitaan dalam setiap kehidupannya. Dan hari Saraswati adalah hari ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus mendapatkan jalannya terlebih dahulu untuk
mengalir ke dalam diri seseorang, barulah jika pengetahuan itu sudah ada di
dalam diri baru bisa difungsikan salah satunya sebagai benteng dalam diri.
Itulah alasan mengapa Saraswati merupakan hari raya yang lebih dahulu dilaksanakan
beberapa waktu sebelum Pagerwesi.
Namun perlu dipahami bahwa sebagaimana air
hanya akan bisa mengalir ke tempat yang lebih rendah, begitu juga air
pengetahuan hanya akan bisa mengalir kepada mereka yang memiliki kerendahan
hati. Orang-orang yang angkuh, sombong, congkak, penuh kedengkian, pemarah,
mudah emosional, mudah membuli, gampang memprovokasi maka pengetahuan yang
benar tidak akan bisa mengalir kepada orang-orang seperti itu. Dibutuhkan orang
yang “pangerten” (ungkapan Jawa) yang
artinya mau memahami, mau menyadari, mau mencari kebenarannya, mau bertoleransi.
Barulah setelah pengetahuan itu bersenyawa dalam diri seseorang dan membentuk
sebuah komposisi kesadaran maka dia bisa memfungsikannya sebagai “way of life” salah satunya sebagai benteng
dalam diri; benteng yang memagari diri untuk tidak terpapar dalam berbagai
pemikiran yang buruk, benteng yang memagari diri dari paparan tindakan yang
asusila, benteng yang memagari diri agar setiap ucapan tidak keluar dari
konteks kebenaran.
Seringkali kita membaca postingan di
medsos begitu mudahnya seseorang mencaci, memaki, membuli, memprovokasi,
merendahkan, dsb; itu mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak memiliki
benteng dalam dirinya sehingga dia dengan mudahnya terpapar dalam perilaku yang
sama sekali tidak mencerminkan kesopanan dan kesantunan. Sifat-sifat buruk
seperti itu akan menjadi sebuah penghalang atau blokir terhadap aliran
pengetahuan ke dalam dirinya.
Pengetahuan memiliki kekuatan yang luar
biasa, sebagaimana api yang mampu membakar benda hingga menjadi abu, begitu
pula api pengetahuan akan sanggup membakar berbagai penderitaan dan
kesengsaraan yang dialami seseorang. Bhagavadgita memberikan penjelasan bahwa
dengan pengetahuan orang yang paling berdosa sekalipun akan sanggup menyeberangi
lautan penderitaan.
Pagerwesi menurut lontar Sundarigama
disebutkan :
“budha kliwon shinta ngaran pagerwesi payogan Sang
Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa
tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”
Artinya:
Rabu Kliwon Shinta
disebut Pagerwesi sebagai pamujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh
Dewata Nawa Sanga (Sembilan Dewata) untuk mengembangkan segala yang lahir dan
segala yang tumbuh di seluruh dunia.
“Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning
ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang
Panca Mahabhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”
Artinya:
Sang Pandhita
hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang
Prameswara. Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada persembahan untuk Sang
Panca Mahabhuta yang warnanya menurut uripnya dan ditempatkan di tempat
pemujaan.
“Ngawerdhiaken” artinya
mengembangkan, tumitah artinya yang
terlahirkan, tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan.
Dalam ungkapan Jawa ini sama dengan “Memayu Hayuning Bhuwana” yang artinya
mengembangkan, melestarikan, menjaga segala bentuk kehidupan. Segala bentuk
kehidupan ini harus dikembangkan, dilestarikan dan dijaga; karena apabila itu
tidak dilakukan maka manusia akan dilanda penderitaan lahir maupun batin entah
sebagai dampak dari yang terjadi secara global atau pun karena dirinya sendiri.
Misal saja tumbuh-tumbuhan (pertanian ) tidak dikembangkan dan dilestarikan
maka akibatnya adalah kemiskinan dan kelaparan.
Dalam
konteks sekarang, kata “sang purohita” ini ditujukan kepada kita semua yaitu
orang-orang yang memiliki keluhuran budhi sebagaimana para purohita (pandhita)
yang memiliki sifat-sifat mulia. Dan hendaknya mereka yang memiliki keluhuran
budhi, yang memiliki kesadaran diri melakukan yoga samadhi. Jadi inilah hakikat
dari Pagerwesi bahwa dengan segenap pengetahuannya seseorang hendaknya
melakukan yoga samadhi. Menurut Yoga Sutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali
bahwa “Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran” Mengapa
pikiran perlu dikendalikan? Agar supaya pikiran tidak larut dalam berbagai
gelombang pemikiran terutama pemikiran yang buruk yang memungkinkannya untuk
kehilangan sifat sejatinya. Semakin gelombang-gelombang pemikiran itu
dibiarkan, maka semakin mengganggu kinerja dari pikiran, bahkan bisa membuat
pikiran menjadi galauw, stress hingga gila. Sehingga dengan kondisi pikiran
yang seperti itu maka tingkat kesadaran seseorang menjadi menurun dan akibatnya
mudah berprilaku yang tidak pantas hingga kejam. Yoga samadhi tidak bisa
diartikan sempit sebagaimana asumsi kebanyakan orang yaitu “duduk diam hening
tidak bergerak sama sekali”, tetapi lebih luas dari itu yaitu tertuang dalam
konsep Astangga Yoga dimana pada bagian awal berkaitan dengan pengendalian perilaku
kita sehari-hari yaitu Yama dan Nyama. Bahwa sebelum menjalankan laku sadhana
inti atau puncak dari Yoga yaitu Samadhi maka syaratnya adalah perilaku sudah
mencerminkan sebuah keluhuran budhi. Tanpa keluhuran budhi (sifat-sifat yang
mulai) maka laku sadhana yoga tahap lanjutan adalah sia-sia belaka. Karena
pengetahuan yang terkandung dalam inti atau puncak laku sadhana yoga tidak akan
bisa mengalir dalam diri, oleh karena terblokir oleh sifat-sifat buruk dalam
diri.
Buatkan
jalan berupa kemuliaan diri bagi pengetahuan untuk bisa mengalir dan bersenyawa
dalam sang diri dan membentuk sebuah komposisi kesadaran yang tinggi. Jadi
hanya pengetahuanlah yang bisa dijadikan benteng yang kuat dalam diri agar
segala kecenderungan atau sifat-sifat yang buruk tidak mampu menyentuh sang
diri sehingga tujuan hidup bisa tercapai.
Bocah Jowo