Beranda

Tampilkan postingan dengan label hari raya hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari raya hindu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2026

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi

Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara hari suci lainnya, Siwaratri memang unik dan sangat berbeda, sangat menantang bagi para bhakta yang mau melakukannya. Betapa tidak, ada beberapa jenis brata yang memang tidah mudah untuk dilakukan, namun juga tidak sulit jika dilakukan dengan penuh kesadaran, semangat spirit dalam melakukan berbagai sadhana (disiplin spiritual) yang ada. Hari-hari raya yang lain terkesan lebih menonjolkan ritual, namun Siwaratri menuntut para bhakta untuk menyelami lautan spiritual yang memerlukan kemampuan pikiran untuk berenang hingga mencapai pantai realisasi diri. Adalah PERLU DIPERTANYAKAN BILA HARI RAYA SIWARATRI TERNYATA PEMAKAIAN SESAJEN/BANTEN MASIH CUKUP BANYAK, karena dalam Siwaratri lebih MENGEDEPANKAN MENGGEMBLENG THE SELF (SANG DIRI) yang bersemayam dalam setiap diri kita sendiri. Disini penulis lebih ber-explore tentang bagaimana melalukan brata-brata Siwaratri, tentu yang berdasarkan pengalaman, tidak berdasarkan kata orang.

Pertama, UPAWASA, merupakan brata yang dilakukan dengan tidak/mengurangi makan dan minum. Bagi yang mampu bisa dilaksanakan dengan tidak makan dan minum sama sekali, namun bagi yang tidak mampu bisa dilaksanakan dengan mengurangi porsi makan, suatu contoh pada hari biasa makan sehari tiga piring maka saat Upawasa cukup makan sepiring saja, ini sebagai tahap awal atau tahap belajar. Ada yang mengatakan bahwa sadhana ini hendaknya dilakukan selama 24 jam, namun tidak menutup kemungkinan kurang dari itu dengan menyesuaikan kemampuan diri juga sebagai tahap pembelajaran. Apa konsekuensinya apabila perut kosong? Secara alami maka akan muncul rasa lapar dan haus. Perlu diketahui bahwa antara perut kosong karena belum makan alias lapar dengan perut kosong karena sedang melakukan Upawasa sangat berbeda. Perut kosong oleh karena belum/terlambat makan bisa menyebabkan penyakit, ini dikarenakan ada keinginan untuk makan dalam pikiran sehingga lambung terus mengeluarkan enzim pencernaan, dan pada kenyataannya pada saat itu belum ada yang dicerna karena belum makan, akibatnya lambung perih. Namun perut kosong oleh karena sedang Upawasa tidak akan menyebabkan penyakit, bila Upawasa tersebut memang dilakukan atas kesadaran dirinya sendiri, atas niat yang tulus sebagai sadhana spiritual. Ketika Upawasa dilakukan benar-benar atas dasar niat (bukan karena ikut-ikutan atau gagah-gagahan), ini berarti sama sekali tidak ada pemikiran untuk makan dan minum yang muncul dalam pikiran, karena tidak adanya pemikiran makan dan minum maka secara otomatis lambung tidak mengeluarkan enzim pencernaan dan berhenti melakukan gerakan meremas-remas, sehingga tidak akan ada luka lambung yang menyebabkan perih, lalu rasa lapar pun tidak ada. RASA LAPAR ADA KARENA ADA PEMIKIRAN MAKAN DALAM PIKIRAN.

Jadi ketika sedang melakukan Upawasa pun agar tidak merasakan lapar dan tetap bertenaga adalah sangat mungkin. Ingatlah bahwa Pikiran adalah Rajendriya (rajanya indriya). Dengan pikiran, kita bisa memerintahkan indriya kita lainnya untuk off. Kita bisa mensugestikan pada diri sendiri pada saat Upawasa, misal dengan sugesti “Hai indriya pencernaan, hari ini aku sedang melaksanakan upawasa, maka berhentilah bekerja sampai aku selesai upawasa”. Rasa apapun yang muncul jangan sampai dianalisa atau dibawa ke pikiran, biarlah itu sekedar rasa yang tidak dirasakan (alias tidak dipikirkan). Agar badan tetap bertenaga maka bisa diatasi dengan melakukan pranayama, dalam kitab Yoga Sutra Patanjali dijelaskan bahwa dalam setiap tarikan nafas kita tidak hanya oksigen yang kita hirup, tetapi juga prana. Bahkan di dalam Atharva Veda prana dianggap sebagai Sang Hidup itu sendiri. Prana adalah energi vital yang terkandung dalam udara, karena prana yang kita hirup-lah badan kita bisa bekerja, kita bisa melihat, bisa mendengar, bisa berjalan, dan aktivitas apapun lainnya selalu membutuhkan tenaga (prana). Dalam pernafasan normal, prana yang kita hirup tidak terlalu banyak, namun dengan teknik pernafasan tertentu dalam pranayama maka kuantitas prana yang kita hirup bisa berlimpah, sehingga badan akan sangat bertenaga. Para pelaku sadhana spiritual banyak yang mengatakan bahwa pranayama akan lebih mudah dilakukan dan akan mencapai hasil yang lebih optimal bila dilakukan dalam keadaan perut tidak penuh atau kosong. Artinya, dalam melaksanakan Upawasa (tidak makan dan minum) dianjurkan untuk lebih banyak melakukan pranayama agar tubuh tetap kuat, sehat, dan bugar agar pikiran dan jiwa tetap dalam keadaan keseimbangan. Mengingat peningkatan rohani akan tercapai bila didukung oleh tubuh yang dalam keadaan kuat pula.

MANFAAT PUASA (puasa) baca di sini: PESAN HARMONI: Hasil penelusuran untuk Manfaat puasa

Kedua, MONABRATA adalah suatu cara untuk mengendalikan perkataan (wacika) yang bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian, sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Monabrata dilakukan dengan cara tidak berbicara sama sekali, baik verbal maupun non-verbal. Menggunakan isyarat dengan tangan atau bagian tubuh lainnya sudah termasuk dikatakan berbicara. Ada yang mengatakan sadhana ini hendaknya dilakukan selama 12 jam tanpa putus, namun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan secara bertahap, misal 3 jam melakukan, lalu 2 jam berhenti, dan dilanjutkan 3 jam berikutnya hingga selesai. Lantas, bagaimana Monabrata yang sesungguhnya? Adalah DENGAN TIDAK BERBICARA MESKI DALAM PIKIRAN. Pernah di sebuah pura pada suatu Siwaratri seorang pemudi sedang melakukan Monabrata, menunjukkan secarik kertas berisi pesan tertulis yang berbunyi “mas, nitip tas ya saya mau ke kamar kecil”, saya hanya melihat tidak menanggapi apapun. MELIHAT TETAPI MERASA TIDAK MELIHAT. Meski itu adalah sebuah pesan yang ditulis, namun ini sudah termasuk berbicara, siapa yang berbicara?, pikiranlah yang berbicara, bila pikiran masih berbicara berarti belum pada tahap Monabrata. Namun, sebagai langkah awal atau tahap pembelajaran dalam menjalankan Monabrata maka bisa dilakukan dengan mengurangi bicara, atau berkata-kata seperlunya dengan orang lain. Ini bisa dilakukan ketika tidak bisa menjalankan Siwaratri secara full oleh karena terikat dengan kerja/aktivitas sehari-hari di tempat kerja. Tantangan dalam melaksanakan Monabrata memang cukup berat, sebelumnya kita tidak boleh memberitahu orang lain bahwa kita akan melakukan Monabrata dengan maksud agar orang lain tidak berbicara dengan kita. Ketika ada orang lain yang berbicara pada kita maka kita harus bijak apakah harus menjawab atau tidak, jika harus menjawab maka harus bicara seperlunya saja, ketika tidak menjawab bisa saja menimbulkan keheranan pada orang yang berbicara tersebut, atau bahkan mungkin saja dia negatif thinking dengan kita yang sedang Monabrata karena tidak menjawab pembicaraanya. Nah, disinilah contohnya berbagai tantangan itu. MENDENGAR TETAPI TIDAK MERASA MENDENGAR. Telinga kita sudah pasti mendengar suara-suara, namun yang penting adalah tidak membawa pendengaran itu ke dalam pikiran sehingga tidak ada analisa tentang pendengaran itu dalam pikiran yang bisa memunculkan pemikiran AKU SEDANG MENDENGAR. Apakah kita sanggup?  Sadhana ini sebaiknya dilakukan siang hari dan selesai pada malam hari karena pada malam hari harus dilanjutkan dengan Japa Seribu Nama Siwa. Monabrata menuntut keheningan dari seluruh indriya kita termasuk pikiran (rajendriya) yang merupakan rajanya indriya, hasilnya adalah keheningan jiwa, dengan pencapaian ini maka kita akan sampai pada realisasi diri. MONA BRATA YANG SERING DILAKUKAN AKAN MENJADIKAN UCAPAN KITA SEHARI-HARI MENJADI SIDDHI.

Ketiga, JAGRA adalah menjaga kesadaran diri kita. Kebanyakan orang melaksanakan dengan cara tidak tidur sama sekali bahkan hingga selama 36 jam. Inti dari Jagra adalah menjaga kesadaran diri terhadap Ilahi yang muaranya adalah pencapaian realisasi diri. Sebagai manusia kita harus menyadari berbagai hal dalam hidup ini, berbagai hal yang terjadi setiap hari terutama yang terjadi disekeliling diri kita. Bila setiap orang mempunyai kesadaran diri yang tinggi, maka hidup ini akan tertib, harmonis, dan damai; tidak akan ada permasalahan yang muncul dalam hidup bermasyarakat oleh karena setiap anggota masyarakat punya kesadaran. Contoh; sadar bahwa perkataan yang akan kita katakan kemungkinan bisa melukai orang lain sehingga kita mengurungkan untuk mengatakan itu, sadar bahwa memutar lagu-lagu dengan volume yang keras adalah mengganggu tetangga, sadar bahwa perilaku kita kemungkinan bisa membuat orang lain tidak senang dan tidak nyaman, sadar bahwa kita harus beryajna, sadar bahwa kita harus berpunia, dan sebagainya. Pada prinsipnya adalah dengan Jagra ini pada tingkatan awal kita didorong untuk memiliki kesadaran sosial yang tinggi, karena itu adalah modal yang penting dalam hidup bermasyarakat. Jagra dalam brata Siwaratri mengajarkan dan memerintahkan agar manusia ‘bangun’ dari tidurnya. Jagra, eling akan sang diri sejati, merupakan ajaran puncak dalam setiap ajaran kerohanian. Tentu yang dimaksudkan adalah jagra dalam arti kebangkitan dan kebangunan diri dari nyenyaknya tidur dalam selimut maya. Maya sebagai ciptaan triguna merupakan kekuatan sihir yang mahadasyat yang mengungkung kesadaran manusia dalam keterukuran nama dan rupa. Apabila manusia bisa keluar dari sihir maya maka ia akan memasuki kesadaran akan sang diri sejati. Dalam JAGRA saat malam hari maka yang harus dilakukan adalah JAPA SERIBU NAMA SIWA.

Keempat, JAPA SERIBU NAMA SIWA, sadhana ini sebaiknya dilakukan menjelang tengah malam sampai selesai. Pertanyaannya adalah apakah banyak yang melakukan sadhana ini? Survei yang dilakukan oleh penulis membuktikan amat sangat sedikit yang melakukan sadhana Seribu Nama Siwa ini. Setiap Maha Siwaratri penulis hampir selalu melakukan sadhana ini. Memang, untuk melantunkan Seribu Nama Siwa memerlukan waktu yang cukup panjang durasinya, yaitu antara 2,5 sampai 3 jam. Coba bayangkan Japa Seribu Nama Siwa tanpa henti bukanlah sadhana yang ringan, namun juga bukan sadhana yang berat kalau itu disertai dengan niat sebagai sadhana spiritual. Akan banyak sensasi yang kita rasakan selama kita mengucapkan itu, mulai dari sensasi bosan, sangat lelah, sangat letih, haus, badan pegal hingga sensasi penuh power, sensasi badan astral dan sensai melayang, dan sensasi yang penuh kedamaian. Orang bilang “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.” Sudah tentu sensasi awal adalah berbagai sensasi yang sama sekali tidak mengenakkan, dan disinilah kita diuji apakah kita bisa bertahan atau tidak dengan berbagai sensasi yang tidak mengenakkan tersebut untuk tetap melanjutkan Japa Seribu Nama Siwa. Rasa lelah, letih, lesu, haus dan sebagainya adalah sangat alami sekali, ini oleh karena setiap lantunan nama Siwa pasti memerlukan tenaga untuk mengucapkannya, serta pada saat itu brata Upawasa mungkin masih berlangsung, dan disinilah kita harus mahir dalam teknik pengucapannya juga disertai dengan pranayama agar kita tidak kehabisan tenaga yang bisa berujung pada keputusan untuk berhenti melakukannya. Sayang sekali kalau berhenti karena menurut sastra purana Janji Siwa sudah menunggu, yaitu untuk menganugerahkan kedamaian, kebahagiaan, melebur dosa-dosa, hidup sejahtera lahir batin, hidup berkelimpahan, dsb. Semua prinsip dalam Astangga Yoga harus dilakukan pada saat Japa Seribu Nama Siwa ini seperti, Asana (sikap duduk yang rilek), Pranayama (cara bernafas), Pratyahara (berusaha mempertahankan obyek dan tidak terganggu dengan apapun), Dharana (tingkat konsentrasi/teguh pada obyek), Dhyana (tingkat meditasi-bersatunya antara konsentrasi dan ideasi), terakhir adalah pencapaian yang sebenarnya yaitu samadhi,  suatu tingkat yang bukan sembarang orang yang mampu mencapainya, tentunya adalah mereka-mereka yang sudah mencapai kemurnian diri. MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI.  

 

Kamis, 25 Juli 2024

TUMPEK LANDEP berpesan “TAJAMKAN PIKIRANMU agar mampu membedah segala permasalahan hidup, dan tercapailah kebahagiaan"

Pikiran manusia adalah sebuah sistem yang paling komplek dan paling canggih dibandingkan dengan sistem yang sama yang dimiliki makhluk hidup lainnya. Namun jika sistem dalam pikiran kita bermasalah atau EROR maka kita pun akan mengalami masalah juga; entah galau, bingung, resah, gelisah, depresi, dll. Setidaknya untuk memahami pikiran mari kita analogikan dengan KOMPUTER.

Semua orang pasti sudah tahu apa itu komputer. Sebuah alat yang terbilang canggih yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari rumah tangga, sekolah, perkantoran, bisnis, perusahaan hingga pemerintahan dan masih banyak lagi instansi-instansi yang lain yang menggunakan komputer sebagai salah satu alat operasionalnya. Alat yang satu ini bisa dibuat menjadi multi-fungsi. Dan anda akan sangat kagum apabila anda mengikuti berita perkembangan teknologi negara-negara maju dimana komputer merupakan alat kendali yang utama. Begitu juga dengan pikiran merupakan alat kendali yang utama pada tubuh manusia. Pikiran adalah gudang segala keinginan, dan pemenuhan keinginan itu hanya pikiran itu sendirilah yang bisa melakukannya. Pikiran memenuhi keinginan pikiran itu sendiri.

Komputer akan bisa dioperasikan dengan lancar apabila komputer itu bebas dari virus-virus atau malware yang mengganggu sistem dan file. Apabila di dalam komputer itu ada virusnya maka tidak dapat dioperasikan dengan maksimal karena ada gangguan di dalamnya, dan bahkan komputer itu bisa mati total karenanya. Ada virus yang merusak file dari pengguna komputer itu tanpa merusak sistem tetapi ada juga virus yang merusak sistem komputer sehingga semua file secara otomatis juga rusak. Dan virus yang merusak sistem inilah yang paling berat dan berbahaya karena komputer bisa rusak total. Untuk menghindari terjadinya hal seperti ini adalah dengan menginstal antivirus pada komputer tersebut, sehingga ketika ada virus masuk antivirus akan segera melenyapkan virus itu dengan segera, dan bebaslah komputer itu dari virus. Antivirus pun harus di update setiap saat agar kuat menghadapi virus yang kemungkinan besar bisa masuk.

Sebenarnya cara kerja komputer adalah sebagian kecil dari cara kerja pikiran. Hanya pikiran yang bersih saja yang bisa mendatangkan kebahagiaan hidup, pikiran yang bersih adalah pikiran yang bebas dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Pemikiran yang buruk inilah yang diibaratkan sebagai virus di dalam komputer. Apabila pikiran memelihara pemikiran-pemikiran yang buruk maka ia lambat laun akan mengalami gangguan di dalamnya seperti stres, depresi, rasa marah, rasa sesal, gila, emosional yang tinggi dan lain-lain. Pikiran menjadi tidak bisa berpikir dengan jernih karena terjangkit oleh pemikiran-pemikiran yang buruk itu. Ketika ada masalah pikiran itu menjadi bingung mencari jalan pemecahannya karena semua jalan pemikiran tersumbat oleh pemikiran yang buruk yang berperan sebagai virus. Dan seperti layaknya komputer yang mati total karena terjangkit virus, pikiran pun sangat mungkin bisa berhenti berfungsi secara normal alias GILA. Ibarat jenis-jenis virus pada komputer, besar kecilnya gangguan yang terjadi pada pikiran tergantung kepada jenis pemikiran-pemikiran buruk yang ada pada pikiran itu sendiri. Ada yang hanya menimbulkan stres ringan, ada yang mengakibatkan penyakit dalam tubuh, bahkan ada pemikiran buruk yang sampai menimbulkan kematian. Suatu contoh apabila orang banyak marah maka pelan tapi pasti secara fisik akan mempengaruhi kesehatan jantungnya, dan apabila hal ini sering terjadi maka orang itu akan mempunyai penyakit jantung. Dalam keadaan berpenyakit jantung apabila ia masih sering berperilaku marah-marah maka bukan tidak mungkin ia akan mengalami kematian karena penyakit itu yang sebenarnya bersumber dari rasa marah yang tak terkendalikan. Coba lihat orang gila, sebenarnya hanya pikirannyalah yang terganggu. Orang gila adalah orang yang sakit pikirannya. Jalan pikirannya yang normal tersumbat oleh pemikiran-pemikiran yang buruk sehingga orang itu lupa dengan identitas dirinya yang sebenarnya; alias GILA.

Seperti halnya antivirus yang harus diinstal pada komputer untuk mencegah adanya virus yang masuk, pikiran pun harus mempunyai senjata yang ampuh untuk melibas pemikiran-pemikiran yang buruk dan mencegah adanya pemikiran-pemikiran buruk yang lain untuk masuk ke dalamnya. Salah satu cara yang bisa digunakan sebagai senjata yang ampuh itu adalah dengan melakukan meditasi. Seperti halnya antivirus yang harus di update secara rutin, meditasi pun harus dilaksanakan sebagai rutinitas sehari-hari agar pikiran memiliki pemikiran yang kuat, bersih, dan bebas dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Secara tidak kita sadari banyak sekali pemikiran-pemikiran buruk yang ada pada pikiran yang dialami seseorang dari masa kecil hingga dewasa. Ketika masih kanak-kanak apabila pernah disakiti oleh orang lain maka akan menimbulkan rasa trauma, ingatan itu akan terbawa hingga dewasa; itulah salah satu contoh pemikiran yang buruk. Rasa trauma akan menjadikan orang hilang kepercayaan terhadap diri sendiri.

Untuk menghilangkan virus yang ada pada komputer maka antivirus harus melakukan scanning pada semua sistem dan file yang ada. Begitu pula dengan melakukan sadhana misalnya meditasi berarti seseorang dengan sendirinya melakukan scanning pada semua pemikiran yang ada pada pikirannya, meliputi pemikiran yang baik dan yang buruk. Ketika melakukan meditasi seseorang akan terbayang kejadian-kejadian masa kecilnya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Sedikit demi sedikit pemikiran yang buruk itu akan tersingkir dari pikiran, ingatan-ingatan yang merugikan pikiran akan musnah oleh kekuatan dari meditasi itu. Seberapa jauh seseorang melakukan meditasi sebagai rutinitas sehari-hari, maka sejauh itu pula ia membebaskan pikirannya sendiri dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Orang yang melakukan meditasi secara rutin maka pikirannya akan terbebas dari rasa stres, depresi, marah, egoisme dan penyakit baik fisik maupun pikiran. Ia akan memiliki pemikiran yang kuat dan memiliki kharismatik. Ia akan terhindar dari hal-hal yang buruk dalam kehidupannya. Bukan berarti ia terbebas dari karma buruk masa lampau, karma masa lampau tetap akan terjadi. Tetapi ke masa depan ia akan menciptakan karma yang baik. Dalam hal berbuat ia akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Kesadaran spiritual yang tinggi akan tumbuh dalam pikiran seseorang yang sering melakukan meditasi. Pikiran akan selalu diliputi oleh kebahagiaan dan kedamaian. Pikiran yang bersih dan memiliki power yang besar akan mampu memenuhi keinginan pikiran itu sendiri. Dengan pikiran kita menjadi “Mastermind” dari kehidupan kita sendiri di masa depan. Kita adalah “The Master” dari tujuan hidup kita sendiri.

Apabila menginginkan agar komputer bisa beroperasional dengan cepat maka harus menggunakan sistem operasi yang terupdate, jangan sampai menggunakan Pentium 1 karena komputer akan bekerja lambat. Sadhana spiritual seperti meditasi yang dilakukan secara rutin akan dapat meningkatkan kemampuan maupun kekuatan pikiran. Pikiran akan memiliki kinerja yang lebih cepat. Melakukan sadhana misalnya meditasi berarti melakukan pengasahan untuk mempertajam “Pisau” dalam diri yaitu Pikiran.

Jadi esensi TUMPEK LANDEP adalah tentang menajamkan Pikiran, bukan melakukan ritual untuk benda-benda yang kita gunakan sehari-hari misalnya mobil, alat dapur, alat pertaian, alat kerja, dll. Jika ini terjadi maka sudah SALAH KAPRAH, dan tidak bisa dijadikan sebagai sebuah kebenaran. Secara logika untuk menjadikan semua alat-alat kerja menjadi berfungsi maksimal maka harus menggunakan kecerdasan pikiran, bukan dengan ritual. Apa buktinya bahwa ini SALAH KAPRAH? Lontar Sundarigama dengan jelas menuturkan “tumpek landep pinaka landeping idep” yang artinya Tumpek Landep pada hakikatnya bertujuan untuk mengasah ketajaman pikiran (landeping idep). Dan cara menajamkan pikiran salah satu konsepnya diajarkan dalam Yogasutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali yaitu dengan melaksanakan tahapan sadhana Astangga Yoga.

Mari, tajamkan pikiran masing-masing dengan sadhana spiritual sehingga nantinya kita mampu membedah segala permasalahan hidup dengan ketajaman (kecerdasan) pikiran kita dan bisa meraih kesuksesan, kejayaan, kekuatan dan kebahagiaan. Tat Asthu Swaha.


Aguswi

Tantra

Rabu, 11 Januari 2023

KUNINGAN - Sebuah Kematangan Diri

Lihatlah hamparan sawah yang penuh dengan tanaman padi, mula-mula berupa bibit yang kehijauan kemudian semakin tumbuh lalu muncul bulir-bulir (bakalan) padi yang kehijauan dan masih kosong tanpa isi. Kemudian Sang Petani melakukan perlakuan tertentu misal menyemprotnya dengan obat jika ada hama pada tanaman, juga melakukan pemupukan jika ternyata tanaman padi kurang subur. Sehingga dari perlakuan itu tanaman padi menjadi tumbuh sehat dan subur, dan bulir-bulir padi akan semakin terisi dan semakin matang seiring berjalannya waktu hingga padi menjadi menguning padat berisi dan siap dipanen, untuk kemudian dikonsumsi masyarakat sehingga bisa memuaskan rasa lapar setiap orang, bisa memberikan asupan-asupan yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam mendukung aktivitasnya sehari-hari.

Begitulah kita hendaknya, saat kita baru dilahirkan kita adalah bibit yang akan terus tumbuh. Mula-mula kita kekanak-kanakan dimana semua serba tergantung dari orang tua maupun orang lain, orang tua kita ibarat sang petani terus memupuk ataupun mengairi kekanak-kanakan atau keremajaan kita dengan kebutuhan jasmani dan pendidikan yang sebaik mungkin; memberikan asupan-asupan yang bergizi berharap agar putra mereka tumbuh sehat dan kuat, memberikan pendidikan yang terbaik berharap agar sang putra menjadi cerdas dan nantinya berguna bagi bangsa dan negara juga mengharumkan nama keluarga, memberikan obat berupa petuah-petuah bijak atau nasihat agar sang putra mampu menghadapi berbagai tantangan maupun halangan rintangan dalam hidupnya sehingga bisa terus tumbuh dari bulir-bulir keremajaannya menuju pribadi yang dewasa, yang sudah terisi dengan berbagai pengetahuan dan sudah matang untuk mandiri tidak tergantung lagi kepada orang lain, bahkan dengan pengetahuannya dia akan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, dengan pengetahuannya dia bisa memberikan makanan dan air bagi masyarakat yang lapar dan haus akan pengetahuan, dia bisa memberikan asupan-asupan pengetahuan yang bergizi kepada masyarakat, dan pada akhirnya masyarakat menjadi terpuaskan dengan keberadaannya.

Sebagai pribadi yang sudah matang dan berpengetahuan ibarat padi yang sudah menguning padat berisi lalu merunduk, seperti itulah pribadi yang matang dia akan terus rendah hati, tidak akan mencerminkan diri yang sombong, congkah dan angkuh; karena dia menyadari bahwa kematangannya dalam hal pengetahuan bukan untuk disombongkan akan tetapi untuk kebermanfaatan bagi masyarakat.

Kematangannya dalam pengetahuan menjadikan dirinya menjadi memahami hakekat hidup ini, bagaimana harus bersikap dan berperilaku yang pantas di dalam masyarakat. Dia memiliki ketajaman dalam merasa, dalam istilah Jawa “ngrumangsani”, merasa bahwa sesuatu itu pantas atau tidak untuk dipikirkan dikatakan atau bahkan dilakukan. Merasakan bahwa dirinya bermanfaat atau justru menimbulkan masalah oleh karena sikap dan perilakunya. Merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, merasakan bahwa dirinya adalah satu dengan semua orang dalam kemanusiaan, itu “tat tvam asi”.

Dan sebagai puncaknya adalah dia matang dalam kerohanian, dalam hubungannya dengan Sang Maha Tinggi.

Sudahkah kita menjadi pribadi yang matang? Jadilah diri yang “ngrumangsani” alias merasa apakah sudah matang atau belum.

Rahayu Sagung Dumadi

AGUSWI          

Suwung – Nyepi

 

Oleh: Aguswi

         Kata “suwung” adalah literatur Jawa yang berarti kosong, sepi, tiada apapun juga. Dunia ini berawal dari Suwung (kekosongan). Itulah yang dinyatakan oleh Chandogya Upanisad: “idam va agranaiva kincit asit, sadva saumnya idam agra acit, ekam eva advitya”, artinya “sebelum diciptakan, alam semesta ini tidak ada apa-apa, sebelum alam semesta diciptakan hanya Hyang Kuasa yang ada, maha esa tiada duanya”

Manava Dharma Sastra I.5 juga menjelaskan: “asid idam tamobhutam aprajnatam alaksanam, apratarkyam avijneyam prasuptamiva sarvatah”, artinya “ketahuilah bahwa asal mulanya alam semesta ini terselimuti kegelapan, tak terlihat, tanpa sifat, melampaui daya penalaran atau akal, seakan-akan terselimuti dalam tidur lelap universal”.

Jika memang alam ini berawal dari Suwung (kekosongan), lalu benarkah Tuhan itu ada? Secara logika, kekosongan adalah tanpa ada apapun juga, tiada obyek apapun yang dapat ditemukan. Jawaban atas pertanyaan apakah Tuhan itu ada maka tergantung pada kesadaran kita mengenai definisi “ada”. Jika kita mendefinisikan kata “ada” sebagai sebuah kenyataan yang harus memiliki bentuk atau ciri-ciri fisik, maka sudah jelas Tuhan itu tidak ada. Instrumen apapun yang digunakan akan gagal untuk membuktikan bahwa Tuhan itu terlihat atau sosok-Nya yang sejati dapat disaksikan.

Dengan memperluas definisi “ada” hingga pada tingkat kasunyatan metafisik, pernyataan Tuhan itu “ada” atau “tidak” tergantung pada kesadaran pengertian mengenai Tuhan itu sendiri. Mereka yang berkesadaran bahwa Tuhan adalah Pribadi dengan keberadaan metafisik (mereka yang dikategorikan sebagai para penganut kepercayaan Tuhan Personal), maka ada teks-teks kuno yang menyatakan bahwa Tuhan itu “ada”. Seperti yang tertulis dalam Bhagavad-Gita adhyaya 11 yang menyatakan bahwa Arjuna menyaksikan Sri Krishna dalam wujud Mahavisvarupa-Nya yang sesungguhnya adalah wujudNya sebagai Saguna Brahman (Tuhan Berkepribadian, Yang Terpikirkan).

Begitu juga dengan Manava Dharma Sastra adhyaya 1 yang menjelaskan alam semesta secara runtut dari keadaan Suwung (kosong) hingga kemudian meng “ada” dengan sendirinya dengan kekuatan-Nya yang Maha Ada.

Terkait pernyataan bahwa Tuhan itu ada, para saintis atau siapa pun juga yang berpegang pada pembuktian empiris tentu saja bisa menyangkal pernyataan itu. Seperti pernyataan Stephen Hawking dan para atheis lainnya yang menyatakan bahwa tidak ada sosok Tuhan yang terlibat dalam pembentukan alam semesta. Namun, menyangkal sebuah realitas metafisik (niskala) dengan pendekatan empiris yang melibatkan perangkat indriawi manusia adalah kebodohan belaka. Meski dibantu dengan perangkat paling canggih sekalipun, tidak akan pernah bisa mengungkapkan keberadaan-Nya secara utuh. Wilayah non-materi dari alam semesta ini hanya akan bisa ditangkap dengan perangkat non-indriawi pada diri manusia.

Suwung merupakan realitas kekosongan yang menjadi inti sekaligus meliputi segala yang ada. Tuhan, sejatinya bukanlah sosok atau pribadi, melainkan kekosongan yang meliputi seluruh jagad raya. Tuhan dalam keadaan esensialnya adalah kekosongan yang tanpa batas. Segala sosok agung apapun juga yang digambarkan oleh berbagai sastra suci, atau pun sebagaimana yang disaksikan oleh beberapa Sang Waskita (pelaku spiritual), sejatinya tak lebih dari manifestasi atau pengejawantahan Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung mengejawantah menjadi Wisnu, atau Brahma atau Mahadewa adalah tergantung kepada tujuan-Nya dalam pengejawantahan-Nya tersebut. Atau pun mengejawantah dalam Realitas Cahaya Tertinggi yang meliputi segalanya. Sang Suwung mengejawantah (memanifestasi) dalam wujud keberadaan Yang Berpribadi tiada lain hanyalah cara Sang Suwung untuk membuat manusia lebih mudah mengenal keberadaan-Nya sebagai realitas Yang Maha Agung.

Leluhur Nusantara yang menjelaskan keberadaan Tuhan sebagai Kang Akarya Jagad, Kang Murbeng Dumadi; tidak sedang menyebut sosok Tuhan. Tetapi yang sedang diungkap adalah keberadaan Sang Suwung yang mengejawantah menjadi jagad raya beserta segala isinya. Hal ini senada dengan petikan dari Chandogya Upanisad 3.14.1 “sarvam khalvidam brahma” yang artinya “segalanya adalah pengejawantahan dari Hyang Kuasa”. Tuhan sebagai Sang Suwung adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta, dan Sang Suwung adalah akar dari keberadaan alam semesta.

Di dalam segala yang ada, di sana ada Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung adalah Kesadaran yang bekerja menjadikan (meng ”ada” kan), memelihara, dan meluruhkan segala keberadaan melalui serangkaian hukum yang kita sebut hukum alam (rta).

Berarti manusia juga merupakan pengejawantahan dari Sang Suwung, maka manusia disebut mikrokosmos, jagad alit. Sebagaimana Sang Suwung dan jagad raya tiada pernah terpisah, demikian pula Sang Suwung dengan manusia adalah kesatuan juga. Sebuah kesatuan antara Sang Suwung dengan Sang Diri inilah dalam filosofi Jawa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti. Bahwa sudah sejak pada awalnya antara Sang Suwung dengan Sang Diri ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak pernah maupun tidak akan terpisahkan. Sang Suwung adalah Kekosongan yang menjadi esensi sekaligus memenuhi dan meliputi diri manusia. Sang Suwung yang mengejawantah menjadi Pribadi Agung atau Personal maka terkesan terpisah dengan manusia.

Setiap manusia (sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung) memiliki kebebasan penuh untuk memilih tindakan sesuai yang diinginkan. Yang menjadi batasannya adalah kapasitas dirinya sendiri dan hukum-hukum semesta. Manusia memiliki murba atau kuasa sejauh kapasitasnya, dan memiliki wasesa atau wewenang memilih tindakan dimana setiap pilihannya mendatangkan resiko tertentu yang dalam susastra Jawa disebut wohing pakarti – buah perbuatan. Manusia bisa melakukan sesuatu oleh karena ada daya atau kuasa yang diberikan oleh Sang Suwung, namun setiap apa yang dilakukan akan selalu terikat dengan hukum-hukum semesta yang sama sekali tidak bisa dihindari. Tindakan destruktif manusia akan dipatulkan oleh hukum-hukum semesta sebagai wohing pakarti yang juga merugikan dan membawa dukacita. Tanpa upaya untuk menata, memperbaruhi hidup, harmonis dengan alam semesta sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung, maka dukacita pasti akan dialami. Dalam hal ini harus kita sadari bahwa sejatinya tidak ada dosa yang berakar pada ketidaksenangan dan kemarahan Hyang Kuasa terhadap tindakan manusia. Apapun yang diperbuat oleh manusia, Sang Suwung tetaplah Suwung; tiada marah dan benci, pun juga tiada senang dan duka. Tetapi manusia sudah pasti ngunduh wohing pakarti (mendapatkan segala akibat perbuatan yang dilakukannya).  

Nyepi....dalam pemahaman umat Hindu etnis Jawa sesungguhnya adalah sebuah laku dalam rangka Nyuwung (mengosongkan diri). Apa yang dikosongkan? Sebagaimana yang dijelaskan dalam upanisad-upanisad bahwa dunia ini pada awalnya hanyalah kekosongan saja tiada materi, tiada rupa, tiada obyek apapun juga dan yang ada hanya dengungan suara AUM; maka seperti itu pula bahwa Nyepi adalah laku mengosongkan hasrat-hasrat duniawi semata melalui pengendalian indriya-indriya dalam diri terutama rajendriya (rajanya indriya yaitu pikiran), dan hanya merenungkan esensi-esensi Ketuhanan. Jiwa manusia juga berasal dari-Nya, Sang Suwung yang mengejawantah; oleh karena itu Nyepi juga sebagai laku untuk suatu tujuan tertinggi perjalanan jiwa manusia, yaitu menuju sangkan paraning dumadining manungsa (asal dan tujuan manusia itu diciptakan). Nyuwung juga merupakan upaya bagi Sang Jiwa untuk kembali murni. Menjadi Diri Sejati atau Realitas Cahaya yang paling murni. Inilah yang disebut kamoksan sejati atau Moksa. Sang Diri Sejati akan menuntun untuk mencapai tataran Suwung. Inilah keadaan yang disebut sampurnaning hurip. Menjadi murni dan kembali kepada Suwung membuat manusia tiada tapi ada, dan ada tapi tiada. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Catur Brata yang selama ini kita kenal sebagai bagian dari sadhana atau laku di hari raya Nyepi adalah cara-cara brata untuk melatih Sang Diri ini dalam nyuwungke (mengosongkan) diri ini dari berbagai hasrat duniawi dengan cara (1) mengosongkan kerja (amati karya), (2) mengosongkan ego maupun ahangkara (amati geni), (3) mengosongkan kesenangan (amati lelanguan), dan (4) mengosongkan berbagai keinginan duniawi yang membuat pikiran menjadi mengembara kemana-mana (amati lelungan).

Saat sang Jiwa meneruskan perjalanan dengan menyelami realitas Sang Diri, maka pada puncaknya akan melampaui kerikatan dengan bumi dan serasa berada di angkasa raya. Kita akan secara nyata merasakan keagungan jagat raya yang tanpa batas, yang pada ujungnya kita akan berada pada sebuah kekosongan. Tubuh pun serasa lebur dan sirna, tetapi kesadaran kita tetap ada. Inilah yang disebut Suwung. Kita menjadi tiada, lebur dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari seluruh keberadaan ini.

Nyepi adalah upaya untuk jumbuh (menyatu, bersenyawa) dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari segala keberadaan di dunia ini. Oleh karena itu juga dapat diartikan jumbuh dengan segala bentuk kehidupan dari yang rendah hingga yang tertinggi. Dengan begitu kita pun menyadari bahwa kita dengan segala bentuk kehidupan adalah satu, kita dengan makhluk hidup lainnya adalah satu, bersaudara – Vasudheva Kutumbakan.

 

Satriya Jawa – Pasundan-Parahyangan

Selasa, 03 Januari 2023

Byaparaning Idep – Kekacauan Pikiran

 

Kebanyakan umat terbiasa dengan pemahaman bahwa merayakan Galungan adalah merayakan kemenangan dharma terhadap adharma. Ketika mereka ikut serta dalam ritual-ritual tahapan Galungan lalu mereka mengatakan sedang merayakan Galungan, yang artinya mereka merayakan kemenangan dharma terhadap adharma. Tanpa mengetahui esensi mendalam dari Galungan itu seperti apa. Ritualistik......sebatas itulah kebanyakan umat memahaminya. Melakukan persembahyangan di tempat-tempat suci dengan berbagai jenis sesaji/banten sebagai bentuk bahwa mereka merayakan Galungan. Sungguh sangat dangkal sekali. Dharma adalah bagian dari Sang Hidup Yang Sejati, bagian dari Sang Urip dalam diri ini. Benarkah itu bisa disentuh dengan ritual semata? Pikirkan hal itu!

Lontar Sundarigama menyebutkan:

"Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep"

Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani (dengan samadhi) supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

 

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani dengan samadhi agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Sama sekali tidak tersirat hanya berbau ritual semata. Pencerahan rohani inilah dharma dan byaparaning idep (kekacauan pikiran) inilah wujud adharma. Laku ritual harus diimbangi dengan laku spiritual, ritual tidak bisa berjalan sendirian karena akan bisa menyesatkan pikiran, yang justru akan menimbulkan byaparaning idep (kekacauan pikiran). Dan rentetannya, pikiran yang kacau akan menimbulkan perkataan dan perbuatan yang melenceng dari dharma itu sendiri.

Melalui momen Galungan inilah kita harus mengendalikan gelombang-gelombang pikiran yang sangat mungkin bisa menyebabkan byaparaning idep (kekacauan pikiran) dengan sadhana spiritual (latihan/laku spiritual) seperti (1) upawasa (berpantang terhadap makan dan minum), bukan dengan sebaliknya yang justru sibuk dengan memasak makanan khas dengan dalih untuk makan bersama; (2) tapa brata (laku pengendalian diri), segala prilaku selalu dalam kontrol dharma, semua indriya-indriya selalu dalam kendali, tidak mengumbar kata-kata, tidak membiarkan pandangan menjadi liar, menjaga pendengaran, dan sebagainya; (3) japa (menyebut nama suci Tuhan berulang-ulang), mengucapkan lalu meresapi dalam-dalam nama suci Ista Dewata pujaan kita sehingga nama suci itu selalu bergema dalam jiwa kita; (4) dhyana-samadhi (memusatkan pikiran kepada Sang Hidup dalam Diri dan merasakan Sang Hidup itu sendiri sebagai bagian dalam Diri). Dalam konsep Astangga Yoga, dhyana-samadhi ini adalah tahapan tertinggi dalam laku spiritual yang memang tidak mudah untuk dilakukan namun juga tidak sulit bagi yang sudah terlatih. Berawal dari konsep dhyana-samadhi inilah lalu dahulu kala para leluhur Jawa melahirkan pengajaran Manunggaling Kawula Gusti.

Dalam lontar juga disebutkan pangastawaning sang ngamong yoga samadhi artinya mereka yang paham tentang yoga dan samadhi, melakukan pemujaan. Kata yoga samadhi yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama ini juga menjadi sebuah kata kunci yang harus kita pertimbangkan bahwa Galungan bukan ritualistik belaka , namun lebih dari itu Galungan adalah momen menempa Diri yang bisa dilakukan dengan yoga samadhi agar hidup kita benar-benar bersenyawa dengan dharma itu sendiri dan melepaskan ikatan adharma dari senyawa hidup dalam Diri.   

Lebih jauh tentang Yoga, Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra menjelaskan "yogas citta vrtti nirodhah" artinya yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Mengapa harus dikendalikan? Karena gelombang-gelombang pikiran jika tidak dikendalikan akan menyebabkan byaparaning idep (kekacauan pikiran). Seperti halnya gelombang laut yang dahsyat yang berpotensi menghancurkan pantainya, begitu pula gelombang-gelombang pikiran itu akan menyebabkan abrasi (pengikisan) bahkan penghancuran terhadap benteng dharma dalam diri. Karena itulah harus dikendalikan agar tidak berpengaruh buruk dalam diri dan dharma tetap bisa dipertahankan.

Byaparaning idep...misalnya saja adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri. Memurnikan kembali pikiran dari sifat-sifat kebinatangan bisa dilakukan dengan berbagai laku/sadhana spiritual seperti disebutkan di atas. Tradisi Galungan yang diwarnai dengan menyembelih binatang secara nyata (misalnya celeng), lalu diyakini sebagai simbol atau upaya memotong sifat-sifat kebinatangan dalam diri adalah keyakinan yang justru menjerumuskan pikiran ke dalam kondisi byaparaning idep, disadari atau tidak disadari. Secara logika, tidak ada kaitannya antara Galungan dengan menyembelih binatang (misalnya celeng), lalu dikatakan itu sebagai sebuah upaya atau simbol memotong sifat hewani dalam diri. Justru inilah byaparaning idep (kekacauan pikiran) yang seharusnya dikendalikan dalam momen Galungan ini. Dan mereka yang tidak bisa mengendalikan gelombang-gelombang pikirannya yang menyebabkan byaparaning idep, maka jangan berani menyebut bahwa anda merayakan Galungan.

Jadi Galungan sebenarnya adalah momen menempa Diri ini secara rohani melalui laku-laku rohani, bukan momen yang justru ritualistik belaka.

Dharma itu hanya bisa didapatkan dengan kemurnian diri, bukan dengan nafsu atau keinginan indriawi semata. 

Dharma tidak bisa merasuk dalam diri bila pikiran kita masih dipenuhi dengan kekacauan (byaparaning idep)

Dharma tidak bisa didapatkan dengan ritual semata. 

Dharma tidak bisa disentuh dengan menyakiti/membunuh makhluk lain.

Dharma hanya bisa dirasakan dengan cinta kasih.

Jadikan Dharma sebagai senyawa dalam hidupmu.

 

By Aguswi

 

Selasa, 31 Agustus 2021

Pagerwesi: Hanya Pengetahuan Yang Bisa Membentengi Diri

 

Oleh: Aguswi 

Kata “pagerwesi” artinya pagar dari besi. “Pagar” dibuat untuk membentengi atau melindungi sesuatu dari ancaman yang membuat kerugian atau bahkan merusak, “wesi” adalah material yang kita kenal mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi.

Hari raya Pagerwesi selalu kita rayakan setelah hari raya Saraswati, mengapa? Perlu kita ketahui bahwa satu-satunya hal yang dapat kita jadikan benteng atau pertahanan dalam diri kita hanyalah pengetahuan. Tanpa pengetahuan maka manusia akan mengalami kebodohan (avidya), dari kebodohan maka manusia akan sangat beresiko terjerumus dalam berbagai penderitaan dalam setiap kehidupannya. Dan hari Saraswati adalah hari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus mendapatkan jalannya terlebih dahulu untuk mengalir ke dalam diri seseorang, barulah jika pengetahuan itu sudah ada di dalam diri baru bisa difungsikan salah satunya sebagai benteng dalam diri. Itulah alasan mengapa Saraswati merupakan hari raya yang lebih dahulu dilaksanakan beberapa waktu sebelum Pagerwesi.

Namun perlu dipahami bahwa sebagaimana air hanya akan bisa mengalir ke tempat yang lebih rendah, begitu juga air pengetahuan hanya akan bisa mengalir kepada mereka yang memiliki kerendahan hati. Orang-orang yang angkuh, sombong, congkak, penuh kedengkian, pemarah, mudah emosional, mudah membuli, gampang memprovokasi maka pengetahuan yang benar tidak akan bisa mengalir kepada orang-orang seperti itu. Dibutuhkan orang yang “pangerten” (ungkapan Jawa) yang artinya mau memahami, mau menyadari, mau mencari kebenarannya, mau bertoleransi. Barulah setelah pengetahuan itu bersenyawa dalam diri seseorang dan membentuk sebuah komposisi kesadaran maka dia bisa memfungsikannya sebagai “way of life” salah satunya sebagai benteng dalam diri; benteng yang memagari diri untuk tidak terpapar dalam berbagai pemikiran yang buruk, benteng yang memagari diri dari paparan tindakan yang asusila, benteng yang memagari diri agar setiap ucapan tidak keluar dari konteks kebenaran.

Seringkali kita membaca postingan di medsos begitu mudahnya seseorang mencaci, memaki, membuli, memprovokasi, merendahkan, dsb; itu mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak memiliki benteng dalam dirinya sehingga dia dengan mudahnya terpapar dalam perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan dan kesantunan. Sifat-sifat buruk seperti itu akan menjadi sebuah penghalang atau blokir terhadap aliran pengetahuan ke dalam dirinya.

Pengetahuan memiliki kekuatan yang luar biasa, sebagaimana api yang mampu membakar benda hingga menjadi abu, begitu pula api pengetahuan akan sanggup membakar berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang dialami seseorang. Bhagavadgita memberikan penjelasan bahwa dengan pengetahuan orang yang paling berdosa sekalipun akan sanggup menyeberangi lautan penderitaan.

Pagerwesi menurut lontar Sundarigama disebutkan :

“budha kliwon shinta ngaran pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pamujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (Sembilan Dewata) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

 

“Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Mahabhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”

Artinya:

Sang Pandhita hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara. Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada persembahan untuk Sang Panca Mahabhuta yang warnanya menurut uripnya dan ditempatkan di tempat pemujaan.

 

“Ngawerdhiaken” artinya mengembangkan, tumitah artinya yang terlahirkan, tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Dalam ungkapan Jawa ini sama dengan “Memayu Hayuning Bhuwana” yang artinya mengembangkan, melestarikan, menjaga segala bentuk kehidupan. Segala bentuk kehidupan ini harus dikembangkan, dilestarikan dan dijaga; karena apabila itu tidak dilakukan maka manusia akan dilanda penderitaan lahir maupun batin entah sebagai dampak dari yang terjadi secara global atau pun karena dirinya sendiri. Misal saja tumbuh-tumbuhan (pertanian ) tidak dikembangkan dan dilestarikan maka akibatnya adalah kemiskinan dan kelaparan. 

Dalam konteks sekarang, kata “sang purohita” ini ditujukan kepada kita semua yaitu orang-orang yang memiliki keluhuran budhi sebagaimana para purohita (pandhita) yang memiliki sifat-sifat mulia. Dan hendaknya mereka yang memiliki keluhuran budhi, yang memiliki kesadaran diri melakukan yoga samadhi. Jadi inilah hakikat dari Pagerwesi bahwa dengan segenap pengetahuannya seseorang hendaknya melakukan yoga samadhi. Menurut Yoga Sutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali bahwa “Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran” Mengapa pikiran perlu dikendalikan? Agar supaya pikiran tidak larut dalam berbagai gelombang pemikiran terutama pemikiran yang buruk yang memungkinkannya untuk kehilangan sifat sejatinya. Semakin gelombang-gelombang pemikiran itu dibiarkan, maka semakin mengganggu kinerja dari pikiran, bahkan bisa membuat pikiran menjadi galauw, stress hingga gila. Sehingga dengan kondisi pikiran yang seperti itu maka tingkat kesadaran seseorang menjadi menurun dan akibatnya mudah berprilaku yang tidak pantas hingga kejam. Yoga samadhi tidak bisa diartikan sempit sebagaimana asumsi kebanyakan orang yaitu “duduk diam hening tidak bergerak sama sekali”, tetapi lebih luas dari itu yaitu tertuang dalam konsep Astangga Yoga dimana pada bagian awal berkaitan dengan pengendalian perilaku kita sehari-hari yaitu Yama dan Nyama. Bahwa sebelum menjalankan laku sadhana inti atau puncak dari Yoga yaitu Samadhi maka syaratnya adalah perilaku sudah mencerminkan sebuah keluhuran budhi. Tanpa keluhuran budhi (sifat-sifat yang mulai) maka laku sadhana yoga tahap lanjutan adalah sia-sia belaka. Karena pengetahuan yang terkandung dalam inti atau puncak laku sadhana yoga tidak akan bisa mengalir dalam diri, oleh karena terblokir oleh sifat-sifat buruk dalam diri.

Buatkan jalan berupa kemuliaan diri bagi pengetahuan untuk bisa mengalir dan bersenyawa dalam sang diri dan membentuk sebuah komposisi kesadaran yang tinggi. Jadi hanya pengetahuanlah yang bisa dijadikan benteng yang kuat dalam diri agar segala kecenderungan atau sifat-sifat yang buruk tidak mampu menyentuh sang diri sehingga tujuan hidup bisa tercapai.  

 

Bocah Jowo

 

 

Kamis, 25 Juni 2020

Kita Adalah Lubdaka, Sang Pemburu


Oleh: Agus Widodo

“Diceritakan.....Lubdaka sebagai pemburu yang sedang dalam hutan oleh karena sudah malam maka memutuskan menghentikan perburuan, dan akhirnya harus mencari tempat yang aman dari binatang buas untuk beristirahat, tempat itu adalah diatas pohon; agar dia tidak jatuh maka dia harus menjaga kesadarannya. Andai dia meneruskan untuk terus berburu tanpa mempertimbangkan bahwa hari sudah malam mungkin dia dalam bahaya besar karena situasinya di tengah hutan belantara.”

Tidak ada manusia yang tidak berkeinginan, setiap manusia adalah pemburu (para Lubdaka) bagi objek-objek keinginannya sendiri, berbagai keinginan memenuhi pikiran setiap orang meliputi keinginan yang baik atau pun yang dalam kategori kurang baik atau bahkan yang sangat tidak baik. Para orang suci pun berkeinginan, namun keinginan mereka adalah untuk kepentingan alam semesta; berbeda dengan keinginan orang kebanyakan yang cenderung untuk kepentingan pribadi dan sangat duniawi. Dari berbagai keinginan itulah maka bermanifestasi menjadi ucapan dan tindakan dengan harapan agar keinginan itu terwujud. Keinginan yang baik akan membuahkan sesuatu yang baik, begitu juga sebaliknya keinginan yang kurang baik akan membuahkan hasil yang tidak baik. Untuk itulah (dalam Catur Purusartha) Dharma menjadi bagian yang pertama yang harus dijadikan sebagai pijakan/landasan agar setiap keinginan (Kama) kita adalah keinginan yang baik, yang menunjang untuk membentuk jati diri yang lebih baik.
Jaman sekarang keinginan orang banyak yang berlebihan, dan tidak jarang berbalut yang agamis. Misalnya saja berdana punia yang cukup besar, namun dibalik itu ada keinginan untuk mendapatkan penghormatan atau prestise; akibatnya dana punianya itu menjadi ternoda, menjadi tidak bermanfaat baginya dan justru sebaliknya menciptakan karma buruk baginya. Bagi mereka yang memiliki materi lebih namun bermental pemburu nama besar dan prestise, seringkali mencari momen-momen yang tepat agar dapat menggunakan materinya untuk membeli nama besar dan prestise.
Dalam momen Mahasiwaratri ini, setiap pribadi dari kita hendaknya memanfaatkan saat yang agung ini sebagai saat melatih diri untuk mengendalikan setiap keinginan kita (layaknya Lubdaka yang memutuskan untuk menghentikan perburuan karena waktu sudah malam). Keinginan yang tidak terkendali laksana Raksasa yang siap untuk menelan kita untuk masuk dalam perutnya, dan tergilas oleh pencernaannya lalu hancurlah kita. Jadi setiap orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya sehingga menjadi liar maka berbagai keinginan itu cepat atau lambat akan menghancurkan dirinya sendiri. Setiap orang harus terus menyadari dirinya sendiri agar tidak terbelenggu oleh keinginannya sendiri (diceritakan Lubdaka yang terus sadar agar tidak jatuh dari pohon, krn jika dia tertidur maka sudah pasti jatuh dan beresiko diterkam binatang buas).
Mahasiwaratri.....momen melatih diri untuk mengendalikan kata-kata (mona brata); tidak seharusnya banyak bicara, dan berkata-kata yang perlu saja. Kata-kata muncul sebagai manifestasi dari pemikiran, tidak ada kata-kata bila tidak ada pemikiran; oleh karena itu pikiranlah yang sesungguhnya paling awal untuk dikendalikan sehingga bisa menjalankan mona brata. Semakin banyak kata-kata yang terucap dari kita maka semakin banyak pula prana (energi vital) yang dibutuhkan. Mereka yang aliran prana-nya tidak seimbang antara prana yang masuk ke dalam tubuh dengan prana yang keluar dari tubuh oleh karena setiap aktivitas maka akan mendapatkan masalah fisik maupun non fisik dalam hidupnya. Orang yang kekurangan prana akan rentan dengan berbagai penyakit fisik dan mental. Mona brata berarti juga berhemat prana, berhemat prana berarti juga bisa memperpanjang usia. Mona brata pada tingkatan yang tinggi yaitu menghentikan berbagai pemikiran dan hanya fokus pada pemikiran tertentu.
Jagra....memiliki kesadaran penuh terhadap berbagai sisi kehidupan merupakan hal yang mutlak bagi setiap insan, tanpa kesadaran dalam diri maka perjalanan hidupnya akan menemukan banyak kesulitan. Lubdaka sadar bahwa hari sudah malam dan dia harus menghentikan perburuan karena berburu saat malam akan bisa membahayakan dirinya sendiri. Begitulah...... manusia harus memiliki kesadaran dalam setiap aktivitasnya sehari-hari. Sadar bahwa kata-kata yang akan kita ucapkan harus pantas atau membuat senang atau damai kepada orang lain; sadar bahwa setiap tindakan yang akan kita lakukan harus membawa manfaat bagi orang lain, bukan sebaliknya yang justru merugikan orang lain; sadar bahwa setiap postingan yang akan kita unggah dimedsos harus mengandung kesan dan pesan yang baik, bukan sebaliknya yang justru provokatif. Dan berbagai praktek kesadaran lainnya. Pikiran sifatnya sangat dualis, yaitu baik dan buruk. Karena itu tidak seharusnya kita menyandarkan kata-kata dan tindakan hanya kepada pikiran semata yang sifatnya dualis, kita harus melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan itu agar setiap kata-kata dan tindakan mengandung kebijaksanaan. Sekarang banyak sekali orang yang pintar, gelarnya pun tinggi; dan ternyata banyak diantaranya yang kata-kata ataupun prilakunya tidak berbanding lurus dengan gelarnya; justru menjadi orang yang sombong, angkuh, merasa benar sendiri, dan selalu meminta penghormatan dari orang lain. Orang seperti ini hanya menggunakan pikirannya, tidak menggunakan akal buddhinya. Dalam tradisi Jawa sering kali para sesepuh memberi nasehat “dadio wong sing njawani” artinya “jadilah orang yang sadar atau ngerti atau penuh perasaan”. Dalam nasehat itu secara tersirat memberi pesan bahwa kita hendaknya selalu melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan kita, karena akal buddhi tidak memiliki sifat dualis seperti yang dimiliki pikiran.
Japa seribu nama Siwa....merupakan sadhana dengan mengucapkan nama-nama Siwa yang jumlahnya 1008. Dengan mengucapkan seribu nama Siwa maka pikiran kita secara perlahan akan terkondisikan atau terfokuskan secara kuat pada nama-nama yang kita ucapkan. Oleh karena yang diucapkan itu adalah nama-nama suci Siwa maka saat pikiran sudah terkondisikan atau terfokuskan maka pikiran akan mendapatkan aliran kekuatan suci dari nama-nama suci Siwa itu dan menjadi berkesadaran tinggi. Hasilnya adalah pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif yang sekian waktu bercokol dalam pikiran sedikit banyak akan tereliminasi sehingga pikiran akan mendapatkan kemurniannya kembali karena bebas dari pemikiran-pemikiran buruk atau negatif. Seperti halnya Lubdaka.....agar dia terus terjaga maka dia memutuskan untuk terus memetik daun-daun pohon satu demi satu (layaknya berjapa) yang kemudian dia jatuhkan, bila dia sampai tertidur maka beresiko jatuh dari pohon dimana dia berada. Jadi japa seribu nama Siwa ini juga memiliki fungsi sebagai terapi untuk pikiran, lebih-lebih pikiran yang terlalu banyak menyimpan berbagai kesan-kesan pemikiran yang buruk atau negatif. Pemikiran-pemikiran buruk atau negatif yang tersimpan dalam pikiran sangat perlu dieliminasi karena membebani atau menghambat kinerja dan bahkan sangat merugikan pikiran itu sendiri. Seperti halnya sebuah komputer yang terjangkit virus, maka kinerjanya akan terhambat bahkan beresiko rusaknya file-file yang ada dalam komputer tersebut. Begitu pula pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif akan membebani pikiran, menghambat kinerja pikiran dan bahkan merusak pikiran itu sendiri. Dan bayangkan saja bila pikiran seseorang menjadi rusak, maka tiada kebaikan dalam kata-kata dan tindakannya.
Pesan dalam momen Mahasiwaratri ini adalah jadilah manusia yang berakal buddhi dan berkesadaran tinggi sehingga menjadi manusia yang unggul, teladan dan terdepan.

Satriya Jawa di Tanah Pasundan      

Senin, 23 Juli 2018

BRATA SIWARATRI: MENDENGAR TETAPI TIDAK MERASA MENDENGAR, MERASA TETAPI TIDAK MERASA


Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara hari suci lainnya, Siwaratri memang unik dan sangat berbeda, sangat menantang bagi para bhakta yang mau melakukannya. Betapa tidak, ada beberapa jenis brata yang memang tidah mudah untuk dilakukan, namun juga tidak sulit jika dilakukan dengan penuh kesadaran, semangat spirit dalam melakukan berbagai sadhana (disiplin spiritual) yang ada. Hari-hari raya yang lain terkesan lebih menonjolkan ritual, namun Siwaratri menuntut para bhakta untuk menyelami lautan spiritual yang memerlukan kemampuan pikiran untuk berenang hingga mencapai pantai realisasi diri. Adalah perlu dipertanyakan bila hari raya Siwaratri ternyata pemakaian sesajen/bebantenan masih cukup banyak, karena dalam Siwaratri lebih mengedepankan menggembleng the Self (Sang Diri) yang bersemayam dalam setiap diri kita sendiri. Disini penulis lebih ber-explore tentang bagaimana melalukan brata-brata Siwaratri, tentu yang berdasarkan pengalaman, tidak berdasarkan kata orang.

Pertama, Upawasa, merupakan brata yang dilakukan dengan tidak/mengurangi makan dan minum. Bagi yang mampu bisa dilaksanakan dengan tidak makan dan minum sama sekali, namun bagi yang tidak mampu bisa dilaksanakan dengan mengurangi porsi makan, suatu contoh pada hari biasa makan sehari tiga piring maka saat Upawasa cukup makan sepiring saja, ini sebagai tahap awal atau tahap belajar. Ada yang mengatakan bahwa sadhana ini hendaknya dilakukan selama 24 jam, namun tidak menutup kemungkinan kurang dari itu dengan menyesuaikan kemampuan diri juga sebagai tahap pembelajaran. Apa konsekuensinya apabila perut kosong? Secara alami maka akan muncul rasa lapar dan haus. Perlu diketahui bahwa antara perut kosong karena belum makan alias lapar dengan perut kosong karena sedang melakukan Upawasa sangat berbeda. Perut kosong oleh karena belum/terlambat makan bisa menyebabkan penyakit, ini dikarenakan ada keinginan untuk makan dalam pikiran sehingga lambung terus mengeluarkan enzim pencernaan, dan pada kenyataannya pada saat itu belum ada yang dicerna karena belum makan, akibatnya lambung perih. Namun perut kosong oleh karena sedang Upawasa tidak akan menyebabkan penyakit, bila Upawasa tersebut memang dilakukan atas kesadaran dirinya sendiri, atas niat yang tulus sebagai sadhana spiritual. Ketika Upawasa dilakukan benar-benar atas dasar niat (bukan karena ikut-ikutan atau gagah-gagahan), ini berarti sama sekali tidak ada pemikiran untuk makan dan minum yang muncul dalam pikiran, karena tidak adanya pemikiran makan dan minum maka secara otomatis lambung tidak mengeluarkan enzim pencernaan dan berhenti melakukan gerakan meremas-remas, sehingga tidak akan ada luka lambung yang menyebabkan perih, lalu rasa lapar pun tidak ada. RASA LAPAR ADA KARENA ADA PEMIKIRAN MAKAN DALAM PIKIRAN.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...