Beranda

Selasa, 30 September 2025

Buddha Gautama (Siddharta) BUKANLAH AWATARA WISNU yang dimaksud dalam sastra Purana

 

Dua Buddha

Buddha Sakya Simha dan Buddha Avatara Visnu

(edisi terjemahan)

Dapat ditelusuri di dalam berbagai sastra Purana bahwa Mayavadisme mengacu kepada Buddhisme. Oleh karena itu, dalam konteks ini perlu dibahas Buddhisme secara singkat. filsafat atau pandangan Sri Buddha adalah Buddhisme. Oleh karena itu, sangat penting bagi para pembaca untuk mengetahui fakta-fakta kitab suci tentang Sang Buddha, yang dinyatakan oleh kitab suci sebagai salah satu dari sepuluh inkarnasi (avatära) Visnu. Hal ini dijelaskan dalam uraian Gita Govinda oleh Srila Jayadeva Gosvami:

      vedan uddharate jaganti vahate bhugolam udbibhrate

daityam darayate balim chalayate ksatra ksayam kurvate

paulastyam jayate halam kalayate karunyam atanvate

mlecchan murccayate dasaktikrte krsnaya tubhyam namah

Terjemahan:

    Oh Kṛṣṇa, Dia yang merupakan sepuluh inkarnasi! Aku bersujud kepada-Mu karena telah menyelamatkan kitab suci Veda saat inkarnasi sebagai Matsya; Engkau yang menyelamatkan alam semesta saat inkarnasi sebagai Kurma dan mengangkat dunia saat inkarnasi sebagai Varaha, wujud Babi Hutan; sebagai Narasimha Engkau menaklukkan Hiranyakasipu; sebagai Vamana Engkau memperdaya Maharaja Bali; sebagai Parasurama Engkau memusnahkan para kesatriya jahat; sebagai Rama Engkau membunuh Ravana; sebagai Balarama Engkau mengangkat bajak; sebagai Buddha Engkau menganugerahkan cinta kasih, dan sebagai Kalki Engkau membunuh para Mleccha.

Dalam Dasa Avatara Strotram, Srila Jayadeva menulis syair yang ke sembilan:

nindasi yajna vidherahaha srutijatam

sadaya hrdaya darsita pasughatam

kesava dhrta buddha sarira

jaya jagadisa hare jaya jagadisa hare

 

Oh Kesava! Engkau mengambil wujud Sang Buddha yang penuh dengan cinta kasih dan menghentikan pembantaian hewan yang dilarang keras dalam Veda.

Jika Sang Buddha ini adalah inkarnasi dari Dewa Visnu, maka uraian Sri Sankaracarya tentang Sang Buddha memerlukan elaborasi dan analisis lebih lanjut. Menjadi penting untuk meneliti hal ini jika ajaran filsafat Sri Sankaracarya disebut sebagai penyajian lain dari ajaran Buddha. Penilaian Sri Sankaracarya terhadap Buddha tampak tidak jelas, karena ia ingin kita percaya bahwa Buddha Sakya Simha dan Sang Buddha yang dipuja oleh para Vaisnava adalah satu dan kepribadian yang sama. Akan tetapi, ini jauh dari kebenaran. Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura mengungkapkan bahwa Buddha Sakya Simha hanyalah seorang manusia yang sangat cerdas, orang yang sangat terpelajar yang telah mencapai beberapa realisasi batin. Jadi dengan menyatakan Buddha Sakya Simha sebagai Sang Buddha atau dengan menyamakannya dengan inkarnasi Dewa Visnu, Sri Sankaracarya memberikan bukti tentang rasa hormat dan dedikasi yang diam-diam ia pupuk dalam dirinya untuk Buddha Sakya Simha.

Seseorang bisa saja bertanya pada hal ini, dalam konteks apa Sri Sankaracarya berpandangan bahwa Buddha Sakya Simha (juga dikenal sebagai Buddha Gautama atau Buddha Sidharta Gautama) dan Avatara Buddha adalah pribadi yang sama? Sebagai tanggapan, mohon dengan hormat kepada para pembaca yang terpelajar untuk meneliti komentar-komentar Sri Sankaracarya. Dalam komentarnya terhadap Brahma-Sutra, kata ‘sugatena’ merujuk kepada Buddha Gautama, putra Suddhodana dan Mayadevi, dan bukan kepada Buddha inkarnasi Visnu yang asli. Ketika membahas filsafat Buddha, Sri Sankaracarya menyebutkan namanya dalam komentarnya: ‘sarvatha api anadarniya ayam sugata-samayah sreyaskamaih iti abhiprayah’ - Dalam pernyataan ini kata ‘sugata’ kembali merujuk kepada Buddha Gautama, putra Mayadevi. Kata ‘samayah’ menunjukkan kesimpulan filosofis (siddhanta) yaitu siddhanta dari Buddha Gautama. Akan tetapi, memang benar bahwa nama lain dari Buddha Avatara Visnu adalah Sugata, sehingga Sankaracarya secara keliru menyisipkan Buddha Sakya Simha seolah-olah ia adalah Buddha Avatara Visnu. Penggunaan nama Sugata-Buddha untuk Buddha Avatara Visnu sudah ada dalam kitab suci Buddha. Hal ini dibuktikan dalam buku ‘Amarakosa’, sebuah risalah yang sangat kuno yang ditulis oleh seorang penganut paham nihilisme dan ateis terkenal yaitu Amara Simha. Dipercaya bahwa Amara Simha lahir sekitar 150 tahun sebelum kelahiran Sankaracarya. Amara Simha adalah putra seorang brahmana Sabara Svami, yang menjadi ayah dari sejumlah anak dari ibu yang berbeda dari kasta yang berbeda. Syair kuno tentang Amara Simha ini terkenal dikalangan terpelajar dahulu kala:

      brahmanyam abhavad varaha mihiro jyotirvidam agranih

raja bhartrharis ca vikramanrpah ksatratratmajayam abhut

vaisyayam haricandra vaidya tilako jatas ca sankuh krti

sudrayam amarah sadeva sabara svami dvija sya atmajah

Varaha Mihira, yang terkemuka diantara astrolog terhebat, lahir dari rahim seorang wanita brahmana. Raja Vikrama dan Raja Bhartrhari lahir dari ibu ksatriya. Dari seorang ibu vaisya lahirlah Haricandra, seorang vaidya tilaka – seorang ahli Ayurveda dan Sanku yang sangat baik; dan dari ibu pelayan (sudra) lahirlah Amara Simha. Enam orang ini ayahnya adalah brahmana Sabara Svami.

 

Kitab Amarakosa Berkisah Tentang Dua Buddha

Amara Simha adalah penulis banyak buku tentang Buddhisme. Secara kebetulan, semua buku ini dimiliki oleh Sri Sankaracarya, yang kemudian hanya menyimpan Kitab Amarakosa dan membakar semua buku lainnya. Syair-syair berikut tentang Buddha ditemukan dalam Kitab Amarakosa.

sarvajnah sugato buddho dharmarajas tathagatah

samanta bhadro bhagavan marajil lokajij jinah

sadabhijno dasabalo dvayavadi vinayakah

munindra srighanah sasta munih

Ketahuilah, Buddha yang transendental, raja kebenaran, Dia yang telah datang, dermawan, Tuhan yang meliputi segalanya, penakluk dewa Cinta Mara, penakluk dunia, Dia yang mengendalikan indriyanya, pelindung dari enam musuh, pemilik sepuluh kekuatan, pembicara paham monisme, pemimpin utama, penguasa para petapa, perwujudan kemegahan dan guru para petapa.

Syair di atas berisi belasan nama Buddha Awatara Visnu termasuk nama Sugato, dan syair dibawah ini berisi nama Buddha Sakya Simha tanpa menyebutkan Sugato.

 

sakyamunis tu yah sa sakyasimhah sarvarthasiddha sauddhodanis ca sah

gautamas carkabandhus ca mayadevi sutas ca sah

 

Terjemahan:

Guru para Sakya, singa para Sakya, penyempurna semua tujuan, putra Suddhodana, dari garis keturunan Gautama, sahabat dia yang terperangkap, putra Mayadevi.

Dalam syair-syair ini, dimulai dengan sarvajnah dan diakhiri dengan munih terdapat delapan belas nama yang ditujukan kepada Sang Buddha inkarnasi Visnu yang sebenarnya. Tujuh nama berikutnya yang dimulai dengan Sakyamunis tu hingga Mayadevi Sutas ca merujuk kepada Sakya Simha Buddha. Sang Buddha yang dirujuk dalam delapan belas nama pertama dan Sang Buddha yang dirujuk dalam tujuh nama berikutnya jelas bukan orang yang sama. Dalam komentar tentang Amarakosa oleh Sri Raghunatha Cakravarti yang terpelajar, ia juga membagi syair-syair tersebut menjadi dua bagian. Pada kedelapan belas nama Buddha Awatara Visnu ia menuliskan kata-kata “astadas buddha”, yang jelas hanya merujuk pada awatara Visnu. Selanjutnya, pada komentarnya untuk tujuh alias Sakya Simha, ia menulis: “ete sapta sakya bangsabatirneh buddha muni bishete”, yang berarti “tujuh nama berikutnya yang dimulai dari Sakya-munistu adalah alias dari Buddha-muni yang lahir dalam dinasti Sakya.’

Jadi dari syair-syair di atas dan komentarnya, memang jelas bahwa Sugata Buddha dengan Buddha Gautama yang bijak dan ateis bukanlah orang yang sama. Jika merujuk ke kitab Amarakosa yang diterbitkan oleh H.T. Colebrooke pada tahun 1807. Pada halaman 2 & 3 dalam buku ini, nama “Buddha” telah dijelaskan. ‘Catatan’ pada halaman 2 untuk delapan belas nama pertama, menyatakan bahwa nama-nama tersebut adalah nama Ajina atau Buddha dan ‘Catatan’ untuk tujuh nama berikutnya menyatakan bahwa nama-nama tersebut adalah nama lain dari Buddha Sakya Simha. Catatan kaki yang lebih lanjut ditambahkan untuk memperjelas Buddha yang kedua, dari tujuh nama terakhir – Catatan kaki (b) ‘pendiri agama yang diberi nama menurut namanya’.

Colebrooke mencantumkan nama-nama dari banyak komentar yang ia gunakan sebagai referensi dalam kata pengantarnya. Selain komentar Raghunatha Cakravarti, ia mengambil referensi dari dua puluh lima komentar lainnya. Dapat dikatakan dengan pasti bahwa penyebar Bahyatmavada, Jnanatmavada, dan Sunyamavada yang merupakan tiga pilar ateisme, adalah Buddha Gautama atau ‘Buddha Sakya Simha’. Tidak ada bukti apa pun bahwa Sugata Buddha merupakan inkarnasi Dewa Visnu, dengan cara apa pun terkait dengan ateisme dalam bentuk apa pun. Sakya Simha atau Buddha Siddharta, menerima nama Gautama dari guru spiritualnya yaitu Gautama Muni, yang berasal dari garis perguruan Kapila. Hal ini ditegaskan dalam risalah Buddha kuno ‘Sundarananda Carita’: ‘guru gotrad atah kautsaste bhavanti sma gautamah’- yang artinya “Wahai Kautsa, karena gurunya adalah Gautama, mereka dikenal dari garis perguruannya”

 

Literatur Buddha lainnya yang mencatat dua Buddha

Selain Amarakosa, yang sangat disukai oleh Sankaracarya, ada teks-teks Buddha terkenal lainnya seperti Prajna-Paramita Sutra, Astasahastrika Prajna-Paramita Sutra, Sata-sahastrika Prajna-Paramita Sutra, Lalita Vistara, dll. Penelusuran yang tepat terhadap teks-teks ini mengungkapkan keberadaan tiga kategori Buddha yaitu:

·         Buddha Manusia: seperti Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha setelah mengalami pencerahan.

·         Buddha Bodhisattva: Tokoh-tokoh seperti Samanta Bhadraka yang lahir dalam keadaan tercerahkan.

·         Adi (asli) Buddha: Avatara Visnu yang mahakuasa sebagai Sang Buddha.

Amarakosa menyatakan bahwa Sang Buddha sebagai inkarnasi Sri Visnu juga dikenal sebagai Samanta Bhadra, sedangkan Buddha Gautama adalah manusia. Selain delapan belas nama Buddha Visnu Avatara yang disebutkan dalam Amarakosa, banyak nama Sang Buddha yang tercatat dalam teks-teks Buddha yang disebutkan di atas. Dalam Lalita Vistara, Bab 21 halaman 178, dijelaskan bagaimana Buddha Gautama bermeditasi di tempat yang sama sebagaimana Buddha yang sebelumnya.

 

ca dharanimunde purvabuddhasanasthah

samartha dhanur grhitva sunya nairatmavanaih

klesaripum nihatva drstijalan ca bhitva

siva virajamasokam prapsyate bodhim agryam


Terjemahan:

Orang yang duduk di bumi suci tempat kelahiran Buddha yang sebelumnya berada adalah di      jalan kehampaan dan pelepasan keduniawian. Dengan senjatanya, busur yang kuat, ia menaklukkan musuh-musuh kesusahan dan ilusi. Dengan demikian, dengan kebijaksanaan ia akan mencapai keadaan yang menguntungkan dari tanpa kesedihan dan pelepasan duniawi.

Dari sloka ini jelas terlihat bahwa Buddha Gautama, yang menyadari potensi spiritual tempat kelahiran Buddha yang sebelumnya, memilih untuk melakukan meditasi dan pertapaan di sekitar tempat tersebut, di bawah pohon pipal. Nama kuno dan asli tempat ini adalah Kikata, tetapi setelah Gautama mencapai pencerahan di sini, tempat ini kemudian dikenal sebagai 'Buddha Gaya' (Bodhi Gaya). Bahkan hingga saat ini, ritual pemujaan kepada Buddha sebagai dewa di Bodhi Gaya dilakukan oleh seorang sannyasi (biksu yang telah meninggalkan keduniawian) dari 'garis Giri' yang termasuk dalam sekte Sri Sankaracarya. Di antara para Buddha ini, yang biasa dikenal sebagai Buddha-Gaya (yang merupakan Buddha Visnu Avatara) adalah pendahulu Buddha Gautama. Yang dikemudian hari Buddha Gautama datang ke tempat kelahiran Buddha-Gaya untuk berlatih meditasi. Buddha Sakya Simha Buddha memilih tempat ini untuk mencapai pembebasan, karena ia tahu bahwa tempat ini dipenuhi dengan kekuatan spiritual yang luar biasa.

Lankavatara Sutra adalah kitab suci Buddha yang terkenal dan sakral. Dari uraian tentang Buddha yang ditemukan dalam buku ini, dapat disimpulkan dengan tegas bahwa dia bukanlah Sakya Simha atau Buddha Gautama. Di awal buku ini, kita menemukan Rahwana, Raja Lanka, berdoa terlebih dahulu kepada Buddha inkarnasi Visnu yang asli dan kemudian kepada Buddha yang hidup di masa yang berikutnya. Sebagian dari doa ini direproduksi di bawah ini:

 

lankavatara sutram vai purva buddha anuvarnitam

smarami purvakaih buddhair jina-putra puraskrtaih

sutram etan nigadyante bhagavan api bhasatam

bhavisyatyanagate kale buddha buddha-sutas ca ye


Terjemahan:

Ravana, raja Lanka, pertama membacakan syair ‘Totaka’, lalu menyanyikan yang berikut ini – “Saya mengingat dalam ingatan saya kata-kata mutiara yang dikenal sebagai ‘Lankavatara-sutra’, yang disusun dan disebarkan oleh Buddha yang sebelumnya (inkarnasi Visnu). Putra Jina (Sang Buddha) mempersembahkan buku ini. Sang Buddha dan putra-putranya, yang akan muncul di masa depan sebagai Bhagavan, inkarnasi Visnu, akan terus mengajar semua orang dari buku ini.

 

”Putra Anjana yang bernama Buddha berbeda dengan putra Suddhodana

Beberapa orang mungkin menganggap bahwa ini bukan pengikut Sankaracarya, melainkan para Vaisnava yang menunjukkan kepedulian dan penghormatan yang lebih besar kepada Buddha, oleh karena itu, merekalah yang seharusnya juga dikenal sebagai penganut Buddha. Dalam hal ini, menurut Linga Purana, Bhavisya Purana, dan kesembilan inkarnasi Visnu yang disebutkan dalam Varaha Purana, Buddha yang dijelaskan di dalamnya bukanlah pribadi yang sama dengan Buddha Gautama yang merupakan putra Suddhodana. Para penganut Vaisnava tidak pernah menyembah Buddha yang ateis (sunyavada) atau Buddha Gautama. Mereka hanya menyembah kesembilan inkarnasi Dewa Visnu, Pemujaan Dewa Buddha yang terdapat dalam Srimad-Bhagavatam 10/40/22:

           namo buddhaya suddhaya daitya-danava-mohine

 

Oh Sang Buddha yang agung! Aku mempersembahkan penghormatanku kepada-Mu, Yang tanpa kecacatan dan telah muncul untuk memperdaya golongan manusia yang jahat dan ateis.

Sebelumnya dalam Srimad-Bhagavatam 1/3/24, kedatangan Sang Buddha dijelaskan  sebagaimana berikut ini:


tatah kalau sampravrtte

sammohaya sura-dvisam

buddho namnanjana-sutah

kikatesu bhavisyati


Terjemahan:

Kemudian, pada awal Kaliyuga, Dewa akan muncul sebagai Buddha, putra Anjana, di provinsi Gaya, hanya untuk tujuan memperdaya mereka yang iri kepada para theis yang beriman.

Buddha yang disebutkan dalam sloka ini adalah Sang Buddha putra Anjana yang juga dikenal oleh sebagian orang sebagai 'putra Ajina'. Svami Sri Sridhara menulis dalam komentar resminya terhadap sloka ini:


buddha avartaramaha tata iti anjanasya sutah

ajina suta it pathe ajino’ pi sa eva kikatesu madhye gaya-pradese

Kata ‘tatah kalau’ dan lain-lain, menggambarkan Buddha inkarnasi Visnu sebagai putra Anjana. Ajina dalam kata ‘ajina sutah’ sebenarnya adalah ‘Anjana’. Kikata adalah nama distrik di Gaya.

Penganut paham monisme, entah karena kesalahan atau alasan lain, menganggap Svami Sri Sridhara sebagai anggota sekte dan keyakinan mereka. Meski begitu, komentarnya mengenai masalah ini dapat dengan mudah diterima oleh para penganut Mayavadi sebagai yang benar tanpa keragu-raguan. Kutipan berikut ini dari Narasimha Purana 36/29:


kalau prapte yatha buddho bhavannarayana – prabhuh

 

Pada zaman Kaliyuga, Dewa Narayana yang agung muncul sebagai Buddha.

Perkiraan tentang kemunculan Sang Buddha dapat ditelusuri dari soka ini; bahwa Dia hidup sekitar 3500 tahun yang lalu, atau dengan perhitungan astronomi dan astrologi yang akurat sekitar 4000 tahun yang lalu. Mengenai fakta astrologi pada saat kelahiranya, risalah ‘Nirnaya-sindhu’ menyatakan dalam bab kedua:


jyaistha sukla dvitiyayam buddha-janma bhavisyati

 

Buddha yang agung akan muncul pada hari kedua bulan purnama, di bulan Jyaistha.

Di bagian lain dalam buku ini dijelaskan tata cara pemujaan Sang Buddha:


pausa suklasya saptamyam kuryat buddhasya pujanam

 

Sang Buddha secara khusus disembah pada hari ketujuh bulan purnama di bulan Pausa.

Ritual, doa-doa, dan tata cara pemujaan yang disebutkan dalam kitab suci ini semuanya dengan jelas menunjukkan bahwa semuanya dimaksudkan untuk inkarnasi avatara Dewa Visnu yang kesembilan. Sang Buddha juga disebutkan berulang kali dalam banyak kitab suci Veda yang autentik seperti Visnu Purana, Agni Purana, Vayu Purana, dan Skanda Purana. Sang Buddha yang disebutkan dalam Devi Bhagavata, sebuah teks yang lebih baru, dan dalam Sakti Pramoda merujuk kepada Sakya Simha – bukan Buddha Visnu Avatara.

Kebenaran tetap ada bahwa ada banyak dewa dan dewi yang berbeda yang disembah oleh pemujanya masing-masing, dengan cara yang sama seperti Buddha Sakya Simha (yang adalah seorang ateis) disembah atau dimuliakan oleh para pengikutnya. Namun, ini semua sama sekali terpisah dan tidak terkait dengan jalan Sanatana-Dharma, yang merupakan agama abadi manusia yang dinyatakan dalam Srimad-Bhagavatam.

Menurut Max Mueller seorang sarjana Jerman, Buddha Sakya Simha lahir pada tahun 477 SM di taman Lumbini, di dalam kota Kapilavastu. Kota kuno ini, dan pada saat itu, berpenduduk padat di wilayah Terai, Nepal, yang sangat terkenal. Ayah Sakya Simha atau Buddha Gautama dikenal sebagai Suddhodana, sementara ibunya bernama Mayadevi, ini semua adalah fakta sejarah yang diterima. Meskipun putra Anjana dan putra Suddhodana sama-sama memiliki nama yang sama (Buddha), mereka tetap merupakan dua pribadi yang berbeda. Salah satu dari mereka lahir di Kikata – yang sekarang terkenal sebagai Bodhi-Gaya, sementara Buddha kedua lahir di Kapilavastu, Nepal. Dengan demikian, tempat kelahiran, orang tua, dan jaman Buddha Visnu Avatära; dan tempat kelahiran, orang tua, jaman Buddha Gautama sama sekali berbeda.

Oleh karena itu, sekarang kita dapat mengetahui bahwa pribadi terkenal yang sekarang umumnya disebut sebagai 'Buddha', bukanlah inkarnasi Visnu, bukan Sang Buddha yang asli dan karenanya, pandangan Sankaracarya tentang hal ini sama sekali tidak dapat diterima. Tidak jarang ditemukan perbedaan pendapat dalam hal tradisi dan sejarah, tetapi berkenaan dengan isu-isu penting dan signifikan, diskusi yang tidak bias dan objektif sangatlah penting. Tertarik dengan kepribadian dan ketenaran Buddha, menghormati dan menghargainya adalah satu hal, tetapi menjadi terkesan dengan filosofi dan ajarannya serta berserah diri kepadanya dengan penuh hormat adalah hal yang sama sekali berbeda. Apa pun masalahnya, kita bisa memahami poin penting bahwa Buddha bukanlah satu pribadi, tetapi setidaknya dua identitas yang terpisah, – Sakya Simha tidak sama dengan Sang Buddha, inkarnasi Visnu yang kesembilan. Tentu saja tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa kesamaan antara kedua Buddha ini, namun tidak dapat disangkal bahwa mereka adalah dua pribadi yang berbeda.

 

Senin, 22 September 2025

APAKAH MELUKAT BISA MELEBUR BUAH KARMA BURUK?

Melukat adalah sebuah proses ritual membasuh atau mandi dengan menggunakan tirtha (air suci) yang biasanya dilakukan ditempat-tempat suci dengan maksud untuk menetralisir atau melebur berbagai hal yang buruk dalam diri. Banyak juga yang meyakini bahwa dengan melukat maka buah-buah karma yang buruk bisa lebur. Benarkah keyakinan itu?

Melukat adalah salah satu bentuk praktek Bhuta Suddhi. Bhuta artinya elemen atau unsur. Suddhi artinya pembersihan atau pemurnian. Jadi Bhuta Suddhi artinya pembersihan atau pemurnian unsur-unsur yang membentuk tubuh manusia. Bhuta mengacu kepada unsur-unsur yang membentuk alam semesta, termasuk unsur-unsur (Panca Mahabhuta) yang membentuk tubuh fisik manusia yang meliputi Prthivi (padat/tanah), Bayu (udara), Apah (air), Teja (api), dan Akasha (ruang).

Air yang digunakan untuk melukat oleh Sang Wiku telah diinstall dengan energi tertentu sesuai yang dibutuhkan dengan metode lantunan mantra, penggunaan yantra, dan laku tantra tertentu. Dan hasilnya adalah jenis air yang berenergi yang familiar kita sebut tirtha. Jadi Tirtha adalah air yang berenergi (kedewataan).

Lalu apa saja yang membentuk tubuh manusia? Keilmuan yoga menjelaskan bahwa tubuh manusia terdiri dari 5 lapisan yang disebut Panca Mayakosa.

Pertama, lapisan fisik yang disebut Ana Mayakosa yaitu lapisan tubuh yang terbuat dari sari-sari makanan yang membentuk daging, otot, tulang, darah, organ tubuh, dll. Inilah lapisan yang tersusun dari unsur-unsur Panca Mahabhuta yang meliputi Prthivi, Bayu, Apah, Teja, dan Akasha. Seluruh organ tubuh fisik manusia terbuat dari Panca Mahabhuta ini. Dan jika semua unsur dalam kondisi yang harmoni, juga didukung energi (prana) yang cukup, maka tubuh fisik pasti sehat. Misalnya, darah terjaga kemurniannya, tulang terjaga kekokohannya, oksigen yang masuk melalui nafas terjaga kemurniannya, berbagai organ dan jaringan tubuh berfungsi dengan sempurna; maka tubuh fisik pasti akan sehat.

Kedua, lapisan energi yang disebut Prana Mayakosa yaitu lapisan tubuh yang terbuat dari energi vital alam semesta yang disebut Prana. Energi vital ini didapat dari prana makanan sehari-hari, nafas normal, teknik pranayama, dan bisa juga teknik lainnya misalnya teknik tantra tertentu. Energi inilah yang dibutuhkan dan mendukung semua sistem dalam tubuh bisa bekerja sesuai fungsinya. Misalnya untuk menggerakan tangan, kaki, mulut, dll. Orang yang merasa tubuhnya lesu lemah letih lelah oleh karena kekurangan energi (prana) dalam badannya. Istilah aura yang familiar bagi kebanyakan orang sebenarnya mengacu kepada tubuh energi (prana).

Ketiga, lapisan pengetahuan (memori) yang disebut Mano Mayakosa. Kebanyakan orang menyebut lapisan ini sebagai pikiran. Ketika kita bicara pikiran bukan berarti hanya mengacu kepada hardwarenya yang disebut otak, otak memang adalah pusat data, namun data-data lainnya ada pada setiap sel tubuh manusia. Misalnya bentuk telinga, hidung, mata, warna kulit kita menyerupai orang tua atau leluhur kita lainnya, itu berarti sel-sel tubuh kita membawa memori dari orang tua dan leluhur kita lainnya. Apa yang diserap oleh tubuh saat ada makanan yang dicerna? Lapisan tubuh fisik akan menyerap sari-sarinya misalnya yang berupa vitamin, protein, dan unsur semacam lainnya. Lapisan tubuh energi akan menyerap prana yang terkandung dalam makanan tersebut. Dan lapisan tubuh pengetahuan (memori) akan menyerap data-data (misalnya sifat-sifat) dalam makanan tersebut. Karena itulah pentingnya sebelum makan berdoa dulu dengan maksud untuk menetralisir sifat-sifat buruk dalam makanan itu.

Keempat, lapisan kecerdasan atau kesadaran yang disebut Wijnana Mayakosa. Mata bisa melihat oleh karena ada indriya yang disebut caksuindriya. Telinga bisa mendengar oleh karena ada indriya yang disebut srotendriya. Lidah bisa merasakan makanan yang manis, pahit, asam, asin, dan pedas oleh karena ada indriya yang disebut jihwendriya. Jantung terus berdenyut secara otomatis untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh, nafas bisa mengalir secara alami, adalah bukti adanya kecerdasan fungsi berbagai organ tubuh. Manusia bisa menunjukkan kemampuan supernya diatas rata-rata kebanyakan orang pada umumnya oleh karena kecerdasan atau kesadarannya berfungsi sangat optimal dengan latihan atau metode tertentu.

Kelima, lapisan kebahagiaan yang disebut Ananda Mayakosa. Lapisan inilah yang sebenarnya diluar jangkauan pikiran manusia, karena itulah dalam sistem Yoga hanya diberikan definisi sebagai lapisan kebahagiaan. Sangat mungkin lapisan inilah yang disebut Atman, lapisan kunci dari semua lapisan tubuh sehingga kita bisa hidup.

Lalu ketika seseorang melukat apa yang kemudian bereaksi pada lapisan tubuhnya?  Bahwa tirtha adalah air yang berenergi (kedewataan), maka energi dalam tirtha itu bisa bersenyawa dan mempengaruhi langsung lapisan tubuh energi (Prana Mayakosa) orang yang melukat tersebut. Seberapa besar dampak energi tirtha itu? Maka itu tergantung kondisi lapisan tubuh energi orang tersebut. Analoginya, untuk menetralkan rasa asin garam satu sendok dalam segelas air, maka butuh gula lebih dari satu sendok. Jika hanya satu sendok atau bahkan kurang dari satu sendok maka rasa asin masih sangat terasa, semakin banyak gula maka semakin lebur rasa asin garam dalam gelas itu, dan rasa manisnya langsung mendominasi. Energi dari tirtha itu tidak akan bisa berdampak langsung pada lapisan tubuh pengetahuan, pun juga lapisan tubuh kecerdasan atau kesadaran, itu disebabkan karena bukan entitas yang sejenis. Energi hanya akan bereaksi langsung dengan energi.

Buah karma (karmaphala) dari seseorang itu bentuknya adalah data-data atau file-file dalam lapisan Mano Mayakosa. Ini layaknya data-data atau file-file dalam sebuah komputer. Data-data atau file-file dalam komputer tidak akan bisa berubah hanya karena kondisi energi listriknya, namun energi listrik mendukung dalam proses perubahan data-data itu karena tanpa energi listrik maka komputer tidak akan bisa hidup. Begitu juga data-data atau file-file dalam pikiran tidak akan bisa berubah begitu saja hanya karena kondisi energi tubuh tanpa adanya upaya proses perubahan dalam pikiran.

Energi yang konstruktif (baik) dalam lapisan tubuh energi (Prana Mayakosa) memiliki kecenderungan dampak yang konstruktif juga pada lapisan tubuh fisik (Ana Mayakosa). Dampaknya misalnya tubuh fisik yang sehat, organ-organ tubuh fisik yang berfungsi dengan baik.

Lalu apakah energi itu bisa berdampak meski secara tidak langsung terhadap lapisan tubuh pengetahuan (pikiran/Mano Mayakosa)? Sangat mungkin bisa, bahwa energi yang baik berkecenderungan merangsang pikiran untuk melakukan proses-proses pemikiran yang baik. Namun sebesar apa rangsangannya? Itu sangat tergantung pada tingkat kesadaran orang itu sendiri. Meski energi dari tirtha penglukatan itu besar namun jika tingkat kesadaran orang itu rendah maka dampak rangsangannya juga rendah. Namun jika tingkat kesadarannya tidak rendah maka dampak rangsangannya pasti berbeda. Orang tersebut memungkinkan akan terdorong untuk berperilaku yang lebih baik. Dan semakin banyak perilaku baiknya maka semakin banyak ia menciptakan buah karma yang baik, dan semakin banyak buah karma yang baik maka semakin lebur buah karma buruknya.   


Aguswi

#Archangel

#VrilSociety

 

 

 

              

 

 

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...