Melukat adalah sebuah proses ritual membasuh atau mandi dengan menggunakan tirtha (air suci) yang biasanya dilakukan ditempat-tempat suci dengan maksud untuk menetralisir atau melebur berbagai hal yang buruk dalam diri. Banyak juga yang meyakini bahwa dengan melukat maka buah-buah karma yang buruk bisa lebur. Benarkah keyakinan itu?
Melukat adalah salah satu bentuk praktek Bhuta Suddhi. Bhuta artinya elemen atau unsur. Suddhi artinya pembersihan atau pemurnian. Jadi Bhuta Suddhi artinya pembersihan atau pemurnian unsur-unsur yang membentuk tubuh manusia. Bhuta mengacu kepada unsur-unsur yang membentuk alam semesta, termasuk unsur-unsur (Panca Mahabhuta) yang membentuk tubuh fisik manusia yang meliputi Prthivi (padat/tanah), Bayu (udara), Apah (air), Teja (api), dan Akasha (ruang).
Air yang digunakan untuk melukat oleh Sang Wiku telah diinstall dengan energi tertentu sesuai yang dibutuhkan dengan metode lantunan mantra, penggunaan yantra, dan laku tantra tertentu. Dan hasilnya adalah jenis air yang berenergi yang familiar kita sebut tirtha. Jadi Tirtha adalah air yang berenergi (kedewataan).
Lalu apa saja yang membentuk tubuh manusia? Keilmuan yoga menjelaskan bahwa tubuh manusia terdiri dari 5 lapisan yang disebut Panca Mayakosa.
Pertama, lapisan fisik yang disebut Ana Mayakosa yaitu lapisan tubuh yang terbuat dari sari-sari makanan yang membentuk daging, otot, tulang, darah, organ tubuh, dll. Inilah lapisan yang tersusun dari unsur-unsur Panca Mahabhuta yang meliputi Prthivi, Bayu, Apah, Teja, dan Akasha. Seluruh organ tubuh fisik manusia terbuat dari Panca Mahabhuta ini. Dan jika semua unsur dalam kondisi yang harmoni, juga didukung energi (prana) yang cukup, maka tubuh fisik pasti sehat. Misalnya, darah terjaga kemurniannya, tulang terjaga kekokohannya, oksigen yang masuk melalui nafas terjaga kemurniannya, berbagai organ dan jaringan tubuh berfungsi dengan sempurna; maka tubuh fisik pasti akan sehat.
Kedua, lapisan energi yang disebut Prana Mayakosa yaitu lapisan tubuh yang terbuat dari energi vital alam semesta yang disebut Prana. Energi vital ini didapat dari prana makanan sehari-hari, nafas normal, teknik pranayama, dan bisa juga teknik lainnya misalnya teknik tantra tertentu. Energi inilah yang dibutuhkan dan mendukung semua sistem dalam tubuh bisa bekerja sesuai fungsinya. Misalnya untuk menggerakan tangan, kaki, mulut, dll. Orang yang merasa tubuhnya lesu lemah letih lelah oleh karena kekurangan energi (prana) dalam badannya. Istilah aura yang familiar bagi kebanyakan orang sebenarnya mengacu kepada tubuh energi (prana).
Ketiga, lapisan pengetahuan (memori) yang disebut Mano Mayakosa. Kebanyakan orang menyebut lapisan ini sebagai pikiran. Ketika kita bicara pikiran bukan berarti hanya mengacu kepada hardwarenya yang disebut otak, otak memang adalah pusat data, namun data-data lainnya ada pada setiap sel tubuh manusia. Misalnya bentuk telinga, hidung, mata, warna kulit kita menyerupai orang tua atau leluhur kita lainnya, itu berarti sel-sel tubuh kita membawa memori dari orang tua dan leluhur kita lainnya. Apa yang diserap oleh tubuh saat ada makanan yang dicerna? Lapisan tubuh fisik akan menyerap sari-sarinya misalnya yang berupa vitamin, protein, dan unsur semacam lainnya. Lapisan tubuh energi akan menyerap prana yang terkandung dalam makanan tersebut. Dan lapisan tubuh pengetahuan (memori) akan menyerap data-data (misalnya sifat-sifat) dalam makanan tersebut. Karena itulah pentingnya sebelum makan berdoa dulu dengan maksud untuk menetralisir sifat-sifat buruk dalam makanan itu.
Keempat, lapisan kecerdasan atau kesadaran yang disebut Wijnana Mayakosa. Mata bisa melihat oleh karena ada indriya yang disebut caksuindriya. Telinga bisa mendengar oleh karena ada indriya yang disebut srotendriya. Lidah bisa merasakan makanan yang manis, pahit, asam, asin, dan pedas oleh karena ada indriya yang disebut jihwendriya. Jantung terus berdenyut secara otomatis untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh, nafas bisa mengalir secara alami, adalah bukti adanya kecerdasan fungsi berbagai organ tubuh. Manusia bisa menunjukkan kemampuan supernya diatas rata-rata kebanyakan orang pada umumnya oleh karena kecerdasan atau kesadarannya berfungsi sangat optimal dengan latihan atau metode tertentu.
Kelima, lapisan kebahagiaan yang disebut Ananda Mayakosa. Lapisan inilah yang sebenarnya diluar jangkauan pikiran manusia, karena itulah dalam sistem Yoga hanya diberikan definisi sebagai lapisan kebahagiaan. Sangat mungkin lapisan inilah yang disebut Atman, lapisan kunci dari semua lapisan tubuh sehingga kita bisa hidup.
Lalu ketika seseorang melukat apa yang kemudian bereaksi pada lapisan tubuhnya? Bahwa tirtha adalah air yang berenergi (kedewataan), maka energi dalam tirtha itu bisa bersenyawa dan mempengaruhi langsung lapisan tubuh energi (Prana Mayakosa) orang yang melukat tersebut. Seberapa besar dampak energi tirtha itu? Maka itu tergantung kondisi lapisan tubuh energi orang tersebut. Analoginya, untuk menetralkan rasa asin garam satu sendok dalam segelas air, maka butuh gula lebih dari satu sendok. Jika hanya satu sendok atau bahkan kurang dari satu sendok maka rasa asin masih sangat terasa, semakin banyak gula maka semakin lebur rasa asin garam dalam gelas itu, dan rasa manisnya langsung mendominasi. Energi dari tirtha itu tidak akan bisa berdampak langsung pada lapisan tubuh pengetahuan, pun juga lapisan tubuh kecerdasan atau kesadaran, itu disebabkan karena bukan entitas yang sejenis. Energi hanya akan bereaksi langsung dengan energi.
Buah karma (karmaphala) dari seseorang itu bentuknya adalah data-data atau file-file dalam lapisan Mano Mayakosa. Ini layaknya data-data atau file-file dalam sebuah komputer. Data-data atau file-file dalam komputer tidak akan bisa berubah hanya karena kondisi energi listriknya, namun energi listrik mendukung dalam proses perubahan data-data itu karena tanpa energi listrik maka komputer tidak akan bisa hidup. Begitu juga data-data atau file-file dalam pikiran tidak akan bisa berubah begitu saja hanya karena kondisi energi tubuh tanpa adanya upaya proses perubahan dalam pikiran.
Energi yang konstruktif (baik) dalam lapisan tubuh energi (Prana Mayakosa) memiliki kecenderungan dampak yang konstruktif juga pada lapisan tubuh fisik (Ana Mayakosa). Dampaknya misalnya tubuh fisik yang sehat, organ-organ tubuh fisik yang berfungsi dengan baik.
Lalu apakah energi itu bisa berdampak meski secara tidak langsung terhadap lapisan tubuh pengetahuan (pikiran/Mano Mayakosa)? Sangat mungkin bisa, bahwa energi yang baik berkecenderungan merangsang pikiran untuk melakukan proses-proses pemikiran yang baik. Namun sebesar apa rangsangannya? Itu sangat tergantung pada tingkat kesadaran orang itu sendiri. Meski energi dari tirtha penglukatan itu besar namun jika tingkat kesadaran orang itu rendah maka dampak rangsangannya juga rendah. Namun jika tingkat kesadarannya tidak rendah maka dampak rangsangannya pasti berbeda. Orang tersebut memungkinkan akan terdorong untuk berperilaku yang lebih baik. Dan semakin banyak perilaku baiknya maka semakin banyak ia menciptakan buah karma yang baik, dan semakin banyak buah karma yang baik maka semakin lebur buah karma buruknya.
Aguswi
#Archangel
#VrilSociety
Tidak ada komentar:
Posting Komentar