Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan sifat kepanditaan (yang mulia) adalah sabar, tanpa pamrih, tenang dan halus budinya. Dan jika ada seorang pandita/pendeta/ulama tidak menunjukkan sifat-sifat itu maka ia tidak akan dihormati selayaknya seorang yang sangat terhormat dan dia hanya akan dianggap sebagai manusia awam saja.
Hal ini dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra Sargah
I.6:
Jroning
wwé parimāna nāla gaganging tuñjung dawut kawruhi
Yan
ring jātikula pracāra winaya mwang śīla karménggita
Yan
ring paṇḍita ring kṣamā mudita śāntopékṣa ris mardawa
Sang śāstrajña
wuwus nirāmrĕtā padanyāngdé sutusténg prajā