Seorang pemimpin yang baik harus bisa memahami, mengenal dengan sebenarnya tentang masyarakat yang dipimpinnya dan wajib hukumnya untuk selalu mengutamakan kepentingan masyarakatnya sehingga terwujud rasa senang dan bahagia pada masyarakatnya, maka masyarakatpun akan menaruh hati pada pemimpinnya. Pemimpin dituntut untuk mampu bertutur kata yang tepat dan mampu menempatkan diri dimanapun dia berada di tengah-tengah masyarakat. Adakalanya dia harus bertindak lembut dan penuh kasih sayang ataupun kapan saatnya dia harus bertindak tegas tanpa kompromi demi kepentingan masyarakat. Seperti yang dinyatakan Kekawin Nitisastra I.4 berikut:
Ring janmādhika
méta citta rĕsĕping sarwa prajāngénaka,
Ring strī
madhya manohara priya wuwustāngdé manah kūng lulut,
Yan ring
madhyani sang pinaṇḍita mucap tatwopadéṡa prihĕn,
Yan ring
madhyanikāng musuh mucapakĕn wākṡūra singhākrĕti.
Terjemahan:
Bagi orang-orang
terkemuka (pemimpin) harus bisa mengambil hati dan menyenangkan hati banyak
orang. Ketika bersama perempuan yang dicintainya, maka laki-laki harus bisa
berkata-kata manis yang menimbulkan rasa sayang. Jika berkumpul dengan
pinandita/brahmana, harus dapat membicarakan ajaran-ajaran agama yang baik.
Jika berhadapan dengan musuh, ucapkanlah kata-kata yang menunjukkan keberanian
seperti layaknya seekor singa.
Ada juga Tembang Pangkur yang isinya berikut:
Ajining
wong ing wicara | resep sedep wijile rum aririh | wosing sedya laras runtut |
grapyak gampang tinampa | culing tutur tinampa datan ngelantur | solah bawa
mung samadya | karyenak tyasing sasami ||
Nilai manusia itu ditentukan oleh gaya bicaranya, enak
didengar, sedap, dan tidak keras, maksudnya jelas, akrab dan mudah diterima
maksudnya, kata-katanya baik dan tidak berkepanjangan, sikap dan gayanya cukup
seperlunya saja untuk membuat senang siapapun.
Agus Widodo
Satriya Jawa
Bogor - Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar