Beranda

Jumat, 17 Agustus 2018

PEMIMPIN HARUS MEMAHAMI MASYARAKATNYA

Seorang pemimpin yang baik harus bisa memahami, mengenal dengan sebenarnya tentang masyarakat yang dipimpinnya dan wajib hukumnya untuk selalu mengutamakan kepentingan masyarakatnya sehingga terwujud rasa senang dan bahagia pada masyarakatnya, maka masyarakatpun akan menaruh hati pada pemimpinnya. Pemimpin dituntut untuk mampu bertutur kata yang tepat dan mampu menempatkan diri dimanapun dia berada di tengah-tengah masyarakat. Adakalanya dia harus bertindak lembut dan penuh kasih sayang ataupun kapan saatnya dia harus bertindak tegas tanpa kompromi demi kepentingan masyarakat. Seperti yang dinyatakan Kekawin Nitisastra I.4 berikut:

Ring janmādhika méta citta rĕsĕping sarwa prajāngénaka,
Ring strī madhya manohara priya wuwustāngdé manah kūng lulut,
Yan ring madhyani sang pinaṇḍita mucap tatwopadéṡa prihĕn,  
Yan ring madhyanikāng musuh mucapakĕn wākṡūra singhākrĕti.
 

Terjemahan:
Bagi orang-orang terkemuka (pemimpin) harus bisa mengambil hati dan menyenangkan hati banyak orang. Ketika bersama perempuan yang dicintainya, maka laki-laki harus bisa berkata-kata manis yang menimbulkan rasa sayang. Jika berkumpul dengan pinandita/brahmana, harus dapat membicarakan ajaran-ajaran agama yang baik. Jika berhadapan dengan musuh, ucapkanlah kata-kata yang menunjukkan keberanian seperti layaknya seekor singa.

Ada juga Tembang Pangkur yang isinya berikut:
Ajining wong ing wicara | resep sedep wijile rum aririh | wosing sedya laras runtut | grapyak gampang tinampa | culing tutur tinampa datan ngelantur | solah bawa mung samadya | karyenak tyasing sasami ||

Nilai manusia itu ditentukan oleh gaya bicaranya, enak didengar, sedap, dan tidak keras, maksudnya jelas, akrab dan mudah diterima maksudnya, kata-katanya baik dan tidak berkepanjangan, sikap dan gayanya cukup seperlunya saja untuk membuat senang siapapun.

Agus Widodo
Satriya Jawa 
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...