Beranda

Kamis, 25 Juni 2020

Kita Adalah Lubdaka, Sang Pemburu


Oleh: Agus Widodo

“Diceritakan.....Lubdaka sebagai pemburu yang sedang dalam hutan oleh karena sudah malam maka memutuskan menghentikan perburuan, dan akhirnya harus mencari tempat yang aman dari binatang buas untuk beristirahat, tempat itu adalah diatas pohon; agar dia tidak jatuh maka dia harus menjaga kesadarannya. Andai dia meneruskan untuk terus berburu tanpa mempertimbangkan bahwa hari sudah malam mungkin dia dalam bahaya besar karena situasinya di tengah hutan belantara.”

Tidak ada manusia yang tidak berkeinginan, setiap manusia adalah pemburu (para Lubdaka) bagi objek-objek keinginannya sendiri, berbagai keinginan memenuhi pikiran setiap orang meliputi keinginan yang baik atau pun yang dalam kategori kurang baik atau bahkan yang sangat tidak baik. Para orang suci pun berkeinginan, namun keinginan mereka adalah untuk kepentingan alam semesta; berbeda dengan keinginan orang kebanyakan yang cenderung untuk kepentingan pribadi dan sangat duniawi. Dari berbagai keinginan itulah maka bermanifestasi menjadi ucapan dan tindakan dengan harapan agar keinginan itu terwujud. Keinginan yang baik akan membuahkan sesuatu yang baik, begitu juga sebaliknya keinginan yang kurang baik akan membuahkan hasil yang tidak baik. Untuk itulah (dalam Catur Purusartha) Dharma menjadi bagian yang pertama yang harus dijadikan sebagai pijakan/landasan agar setiap keinginan (Kama) kita adalah keinginan yang baik, yang menunjang untuk membentuk jati diri yang lebih baik.
Jaman sekarang keinginan orang banyak yang berlebihan, dan tidak jarang berbalut yang agamis. Misalnya saja berdana punia yang cukup besar, namun dibalik itu ada keinginan untuk mendapatkan penghormatan atau prestise; akibatnya dana punianya itu menjadi ternoda, menjadi tidak bermanfaat baginya dan justru sebaliknya menciptakan karma buruk baginya. Bagi mereka yang memiliki materi lebih namun bermental pemburu nama besar dan prestise, seringkali mencari momen-momen yang tepat agar dapat menggunakan materinya untuk membeli nama besar dan prestise.
Dalam momen Mahasiwaratri ini, setiap pribadi dari kita hendaknya memanfaatkan saat yang agung ini sebagai saat melatih diri untuk mengendalikan setiap keinginan kita (layaknya Lubdaka yang memutuskan untuk menghentikan perburuan karena waktu sudah malam). Keinginan yang tidak terkendali laksana Raksasa yang siap untuk menelan kita untuk masuk dalam perutnya, dan tergilas oleh pencernaannya lalu hancurlah kita. Jadi setiap orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya sehingga menjadi liar maka berbagai keinginan itu cepat atau lambat akan menghancurkan dirinya sendiri. Setiap orang harus terus menyadari dirinya sendiri agar tidak terbelenggu oleh keinginannya sendiri (diceritakan Lubdaka yang terus sadar agar tidak jatuh dari pohon, krn jika dia tertidur maka sudah pasti jatuh dan beresiko diterkam binatang buas).
Mahasiwaratri.....momen melatih diri untuk mengendalikan kata-kata (mona brata); tidak seharusnya banyak bicara, dan berkata-kata yang perlu saja. Kata-kata muncul sebagai manifestasi dari pemikiran, tidak ada kata-kata bila tidak ada pemikiran; oleh karena itu pikiranlah yang sesungguhnya paling awal untuk dikendalikan sehingga bisa menjalankan mona brata. Semakin banyak kata-kata yang terucap dari kita maka semakin banyak pula prana (energi vital) yang dibutuhkan. Mereka yang aliran prana-nya tidak seimbang antara prana yang masuk ke dalam tubuh dengan prana yang keluar dari tubuh oleh karena setiap aktivitas maka akan mendapatkan masalah fisik maupun non fisik dalam hidupnya. Orang yang kekurangan prana akan rentan dengan berbagai penyakit fisik dan mental. Mona brata berarti juga berhemat prana, berhemat prana berarti juga bisa memperpanjang usia. Mona brata pada tingkatan yang tinggi yaitu menghentikan berbagai pemikiran dan hanya fokus pada pemikiran tertentu.
Jagra....memiliki kesadaran penuh terhadap berbagai sisi kehidupan merupakan hal yang mutlak bagi setiap insan, tanpa kesadaran dalam diri maka perjalanan hidupnya akan menemukan banyak kesulitan. Lubdaka sadar bahwa hari sudah malam dan dia harus menghentikan perburuan karena berburu saat malam akan bisa membahayakan dirinya sendiri. Begitulah...... manusia harus memiliki kesadaran dalam setiap aktivitasnya sehari-hari. Sadar bahwa kata-kata yang akan kita ucapkan harus pantas atau membuat senang atau damai kepada orang lain; sadar bahwa setiap tindakan yang akan kita lakukan harus membawa manfaat bagi orang lain, bukan sebaliknya yang justru merugikan orang lain; sadar bahwa setiap postingan yang akan kita unggah dimedsos harus mengandung kesan dan pesan yang baik, bukan sebaliknya yang justru provokatif. Dan berbagai praktek kesadaran lainnya. Pikiran sifatnya sangat dualis, yaitu baik dan buruk. Karena itu tidak seharusnya kita menyandarkan kata-kata dan tindakan hanya kepada pikiran semata yang sifatnya dualis, kita harus melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan itu agar setiap kata-kata dan tindakan mengandung kebijaksanaan. Sekarang banyak sekali orang yang pintar, gelarnya pun tinggi; dan ternyata banyak diantaranya yang kata-kata ataupun prilakunya tidak berbanding lurus dengan gelarnya; justru menjadi orang yang sombong, angkuh, merasa benar sendiri, dan selalu meminta penghormatan dari orang lain. Orang seperti ini hanya menggunakan pikirannya, tidak menggunakan akal buddhinya. Dalam tradisi Jawa sering kali para sesepuh memberi nasehat “dadio wong sing njawani” artinya “jadilah orang yang sadar atau ngerti atau penuh perasaan”. Dalam nasehat itu secara tersirat memberi pesan bahwa kita hendaknya selalu melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan kita, karena akal buddhi tidak memiliki sifat dualis seperti yang dimiliki pikiran.
Japa seribu nama Siwa....merupakan sadhana dengan mengucapkan nama-nama Siwa yang jumlahnya 1008. Dengan mengucapkan seribu nama Siwa maka pikiran kita secara perlahan akan terkondisikan atau terfokuskan secara kuat pada nama-nama yang kita ucapkan. Oleh karena yang diucapkan itu adalah nama-nama suci Siwa maka saat pikiran sudah terkondisikan atau terfokuskan maka pikiran akan mendapatkan aliran kekuatan suci dari nama-nama suci Siwa itu dan menjadi berkesadaran tinggi. Hasilnya adalah pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif yang sekian waktu bercokol dalam pikiran sedikit banyak akan tereliminasi sehingga pikiran akan mendapatkan kemurniannya kembali karena bebas dari pemikiran-pemikiran buruk atau negatif. Seperti halnya Lubdaka.....agar dia terus terjaga maka dia memutuskan untuk terus memetik daun-daun pohon satu demi satu (layaknya berjapa) yang kemudian dia jatuhkan, bila dia sampai tertidur maka beresiko jatuh dari pohon dimana dia berada. Jadi japa seribu nama Siwa ini juga memiliki fungsi sebagai terapi untuk pikiran, lebih-lebih pikiran yang terlalu banyak menyimpan berbagai kesan-kesan pemikiran yang buruk atau negatif. Pemikiran-pemikiran buruk atau negatif yang tersimpan dalam pikiran sangat perlu dieliminasi karena membebani atau menghambat kinerja dan bahkan sangat merugikan pikiran itu sendiri. Seperti halnya sebuah komputer yang terjangkit virus, maka kinerjanya akan terhambat bahkan beresiko rusaknya file-file yang ada dalam komputer tersebut. Begitu pula pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif akan membebani pikiran, menghambat kinerja pikiran dan bahkan merusak pikiran itu sendiri. Dan bayangkan saja bila pikiran seseorang menjadi rusak, maka tiada kebaikan dalam kata-kata dan tindakannya.
Pesan dalam momen Mahasiwaratri ini adalah jadilah manusia yang berakal buddhi dan berkesadaran tinggi sehingga menjadi manusia yang unggul, teladan dan terdepan.

Satriya Jawa di Tanah Pasundan      

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...