Oleh: Agus Widodo
“Diceritakan.....Lubdaka sebagai pemburu
yang sedang dalam hutan oleh karena sudah malam maka memutuskan menghentikan perburuan,
dan akhirnya harus mencari tempat yang aman dari binatang buas untuk beristirahat,
tempat itu adalah diatas pohon; agar dia tidak jatuh maka dia harus menjaga
kesadarannya. Andai dia meneruskan untuk terus berburu tanpa mempertimbangkan
bahwa hari sudah malam mungkin dia dalam bahaya besar karena situasinya di
tengah hutan belantara.”
Tidak ada manusia yang
tidak berkeinginan, setiap manusia adalah pemburu (para Lubdaka) bagi
objek-objek keinginannya sendiri, berbagai keinginan memenuhi pikiran setiap
orang meliputi keinginan yang baik atau pun yang dalam kategori kurang baik atau
bahkan yang sangat tidak baik. Para orang suci pun berkeinginan, namun
keinginan mereka adalah untuk kepentingan alam semesta; berbeda dengan
keinginan orang kebanyakan yang cenderung untuk kepentingan pribadi dan sangat
duniawi. Dari berbagai keinginan itulah maka bermanifestasi menjadi ucapan dan
tindakan dengan harapan agar keinginan itu terwujud. Keinginan yang baik akan
membuahkan sesuatu yang baik, begitu juga sebaliknya keinginan yang kurang baik
akan membuahkan hasil yang tidak baik. Untuk itulah (dalam Catur Purusartha)
Dharma menjadi bagian yang pertama yang harus dijadikan sebagai pijakan/landasan
agar setiap keinginan (Kama) kita adalah keinginan yang baik, yang
menunjang untuk membentuk jati diri yang lebih baik.
Jaman sekarang
keinginan orang banyak yang berlebihan, dan tidak jarang berbalut yang agamis.
Misalnya saja berdana punia yang cukup besar, namun dibalik itu ada keinginan
untuk mendapatkan penghormatan atau prestise; akibatnya dana punianya itu
menjadi ternoda, menjadi tidak bermanfaat baginya dan justru sebaliknya
menciptakan karma buruk baginya. Bagi mereka yang memiliki materi lebih namun
bermental pemburu nama besar dan prestise, seringkali mencari momen-momen yang
tepat agar dapat menggunakan materinya untuk membeli nama besar dan prestise.
Dalam momen
Mahasiwaratri ini, setiap pribadi dari kita hendaknya memanfaatkan saat yang
agung ini sebagai saat melatih diri untuk mengendalikan setiap keinginan kita (layaknya
Lubdaka yang memutuskan untuk menghentikan perburuan karena waktu sudah malam).
Keinginan yang tidak terkendali laksana Raksasa yang siap untuk menelan kita untuk
masuk dalam perutnya, dan tergilas oleh pencernaannya lalu hancurlah kita. Jadi
setiap orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya sehingga menjadi liar
maka berbagai keinginan itu cepat atau lambat akan menghancurkan dirinya
sendiri. Setiap orang harus terus menyadari dirinya sendiri agar tidak
terbelenggu oleh keinginannya sendiri (diceritakan Lubdaka yang terus sadar
agar tidak jatuh dari pohon, krn jika dia tertidur maka sudah pasti jatuh dan
beresiko diterkam binatang buas).
Mahasiwaratri.....momen
melatih diri untuk mengendalikan kata-kata (mona brata); tidak
seharusnya banyak bicara, dan berkata-kata yang perlu saja. Kata-kata muncul
sebagai manifestasi dari pemikiran, tidak ada kata-kata bila tidak ada
pemikiran; oleh karena itu pikiranlah yang sesungguhnya paling awal untuk
dikendalikan sehingga bisa menjalankan mona brata. Semakin banyak
kata-kata yang terucap dari kita maka semakin banyak pula prana (energi
vital) yang dibutuhkan. Mereka yang aliran prana-nya tidak seimbang
antara prana yang masuk ke dalam tubuh dengan prana yang keluar dari
tubuh oleh karena setiap aktivitas maka akan mendapatkan masalah fisik maupun
non fisik dalam hidupnya. Orang yang kekurangan prana akan rentan dengan
berbagai penyakit fisik dan mental. Mona brata berarti juga berhemat prana,
berhemat prana berarti juga bisa memperpanjang usia. Mona brata pada
tingkatan yang tinggi yaitu menghentikan berbagai pemikiran dan hanya fokus
pada pemikiran tertentu.
Jagra....memiliki
kesadaran penuh terhadap berbagai sisi kehidupan merupakan hal yang mutlak bagi
setiap insan, tanpa kesadaran dalam diri maka perjalanan hidupnya akan
menemukan banyak kesulitan. Lubdaka sadar bahwa hari sudah malam dan dia harus
menghentikan perburuan karena berburu saat malam akan bisa membahayakan dirinya
sendiri. Begitulah...... manusia harus memiliki kesadaran dalam setiap
aktivitasnya sehari-hari. Sadar bahwa kata-kata yang akan kita ucapkan harus
pantas atau membuat senang atau damai kepada orang lain; sadar bahwa setiap
tindakan yang akan kita lakukan harus membawa manfaat bagi orang lain, bukan
sebaliknya yang justru merugikan orang lain; sadar bahwa setiap postingan yang
akan kita unggah dimedsos harus mengandung kesan dan pesan yang baik, bukan
sebaliknya yang justru provokatif. Dan berbagai praktek kesadaran lainnya. Pikiran
sifatnya sangat dualis, yaitu baik dan buruk. Karena itu tidak seharusnya kita
menyandarkan kata-kata dan tindakan hanya kepada pikiran semata yang sifatnya
dualis, kita harus melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan
itu agar setiap kata-kata dan tindakan mengandung kebijaksanaan. Sekarang
banyak sekali orang yang pintar, gelarnya pun tinggi; dan ternyata banyak
diantaranya yang kata-kata ataupun prilakunya tidak berbanding lurus dengan
gelarnya; justru menjadi orang yang sombong, angkuh, merasa benar sendiri, dan selalu
meminta penghormatan dari orang lain. Orang seperti ini hanya menggunakan
pikirannya, tidak menggunakan akal buddhinya. Dalam tradisi Jawa sering kali
para sesepuh memberi nasehat “dadio wong sing njawani” artinya “jadilah
orang yang sadar atau ngerti atau penuh perasaan”. Dalam nasehat itu secara
tersirat memberi pesan bahwa kita hendaknya selalu melibatkan akal buddhi dalam
setiap kata-kata dan tindakan kita, karena akal buddhi tidak memiliki sifat
dualis seperti yang dimiliki pikiran.
Japa seribu nama Siwa....merupakan
sadhana dengan mengucapkan nama-nama Siwa yang jumlahnya 1008. Dengan
mengucapkan seribu nama Siwa maka pikiran kita secara perlahan akan
terkondisikan atau terfokuskan secara kuat pada nama-nama yang kita ucapkan.
Oleh karena yang diucapkan itu adalah nama-nama suci Siwa maka saat pikiran
sudah terkondisikan atau terfokuskan maka pikiran akan mendapatkan aliran
kekuatan suci dari nama-nama suci Siwa itu dan menjadi berkesadaran tinggi.
Hasilnya adalah pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif yang sekian waktu
bercokol dalam pikiran sedikit banyak akan tereliminasi sehingga pikiran akan
mendapatkan kemurniannya kembali karena bebas dari pemikiran-pemikiran buruk
atau negatif. Seperti halnya Lubdaka.....agar dia terus terjaga maka dia
memutuskan untuk terus memetik daun-daun pohon satu demi satu (layaknya
berjapa) yang kemudian dia jatuhkan, bila dia sampai tertidur maka beresiko
jatuh dari pohon dimana dia berada. Jadi japa seribu nama Siwa
ini juga memiliki fungsi sebagai terapi untuk pikiran, lebih-lebih pikiran yang
terlalu banyak menyimpan berbagai kesan-kesan pemikiran yang buruk atau
negatif. Pemikiran-pemikiran buruk atau negatif yang tersimpan dalam pikiran
sangat perlu dieliminasi karena membebani atau menghambat kinerja dan bahkan
sangat merugikan pikiran itu sendiri. Seperti halnya sebuah komputer yang terjangkit
virus, maka kinerjanya akan terhambat bahkan beresiko rusaknya file-file yang
ada dalam komputer tersebut. Begitu pula pemikiran-pemikiran yang buruk atau
negatif akan membebani pikiran, menghambat kinerja pikiran dan bahkan merusak
pikiran itu sendiri. Dan bayangkan saja bila pikiran seseorang menjadi rusak,
maka tiada kebaikan dalam kata-kata dan tindakannya.
Pesan dalam momen
Mahasiwaratri ini adalah jadilah manusia yang berakal buddhi dan berkesadaran
tinggi sehingga menjadi manusia yang unggul, teladan dan terdepan.
Satriya Jawa di Tanah Pasundan