Beranda

Tampilkan postingan dengan label brata siwaratri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label brata siwaratri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2026

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi

Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara hari suci lainnya, Siwaratri memang unik dan sangat berbeda, sangat menantang bagi para bhakta yang mau melakukannya. Betapa tidak, ada beberapa jenis brata yang memang tidah mudah untuk dilakukan, namun juga tidak sulit jika dilakukan dengan penuh kesadaran, semangat spirit dalam melakukan berbagai sadhana (disiplin spiritual) yang ada. Hari-hari raya yang lain terkesan lebih menonjolkan ritual, namun Siwaratri menuntut para bhakta untuk menyelami lautan spiritual yang memerlukan kemampuan pikiran untuk berenang hingga mencapai pantai realisasi diri. Adalah PERLU DIPERTANYAKAN BILA HARI RAYA SIWARATRI TERNYATA PEMAKAIAN SESAJEN/BANTEN MASIH CUKUP BANYAK, karena dalam Siwaratri lebih MENGEDEPANKAN MENGGEMBLENG THE SELF (SANG DIRI) yang bersemayam dalam setiap diri kita sendiri. Disini penulis lebih ber-explore tentang bagaimana melalukan brata-brata Siwaratri, tentu yang berdasarkan pengalaman, tidak berdasarkan kata orang.

Pertama, UPAWASA, merupakan brata yang dilakukan dengan tidak/mengurangi makan dan minum. Bagi yang mampu bisa dilaksanakan dengan tidak makan dan minum sama sekali, namun bagi yang tidak mampu bisa dilaksanakan dengan mengurangi porsi makan, suatu contoh pada hari biasa makan sehari tiga piring maka saat Upawasa cukup makan sepiring saja, ini sebagai tahap awal atau tahap belajar. Ada yang mengatakan bahwa sadhana ini hendaknya dilakukan selama 24 jam, namun tidak menutup kemungkinan kurang dari itu dengan menyesuaikan kemampuan diri juga sebagai tahap pembelajaran. Apa konsekuensinya apabila perut kosong? Secara alami maka akan muncul rasa lapar dan haus. Perlu diketahui bahwa antara perut kosong karena belum makan alias lapar dengan perut kosong karena sedang melakukan Upawasa sangat berbeda. Perut kosong oleh karena belum/terlambat makan bisa menyebabkan penyakit, ini dikarenakan ada keinginan untuk makan dalam pikiran sehingga lambung terus mengeluarkan enzim pencernaan, dan pada kenyataannya pada saat itu belum ada yang dicerna karena belum makan, akibatnya lambung perih. Namun perut kosong oleh karena sedang Upawasa tidak akan menyebabkan penyakit, bila Upawasa tersebut memang dilakukan atas kesadaran dirinya sendiri, atas niat yang tulus sebagai sadhana spiritual. Ketika Upawasa dilakukan benar-benar atas dasar niat (bukan karena ikut-ikutan atau gagah-gagahan), ini berarti sama sekali tidak ada pemikiran untuk makan dan minum yang muncul dalam pikiran, karena tidak adanya pemikiran makan dan minum maka secara otomatis lambung tidak mengeluarkan enzim pencernaan dan berhenti melakukan gerakan meremas-remas, sehingga tidak akan ada luka lambung yang menyebabkan perih, lalu rasa lapar pun tidak ada. RASA LAPAR ADA KARENA ADA PEMIKIRAN MAKAN DALAM PIKIRAN.

Jadi ketika sedang melakukan Upawasa pun agar tidak merasakan lapar dan tetap bertenaga adalah sangat mungkin. Ingatlah bahwa Pikiran adalah Rajendriya (rajanya indriya). Dengan pikiran, kita bisa memerintahkan indriya kita lainnya untuk off. Kita bisa mensugestikan pada diri sendiri pada saat Upawasa, misal dengan sugesti “Hai indriya pencernaan, hari ini aku sedang melaksanakan upawasa, maka berhentilah bekerja sampai aku selesai upawasa”. Rasa apapun yang muncul jangan sampai dianalisa atau dibawa ke pikiran, biarlah itu sekedar rasa yang tidak dirasakan (alias tidak dipikirkan). Agar badan tetap bertenaga maka bisa diatasi dengan melakukan pranayama, dalam kitab Yoga Sutra Patanjali dijelaskan bahwa dalam setiap tarikan nafas kita tidak hanya oksigen yang kita hirup, tetapi juga prana. Bahkan di dalam Atharva Veda prana dianggap sebagai Sang Hidup itu sendiri. Prana adalah energi vital yang terkandung dalam udara, karena prana yang kita hirup-lah badan kita bisa bekerja, kita bisa melihat, bisa mendengar, bisa berjalan, dan aktivitas apapun lainnya selalu membutuhkan tenaga (prana). Dalam pernafasan normal, prana yang kita hirup tidak terlalu banyak, namun dengan teknik pernafasan tertentu dalam pranayama maka kuantitas prana yang kita hirup bisa berlimpah, sehingga badan akan sangat bertenaga. Para pelaku sadhana spiritual banyak yang mengatakan bahwa pranayama akan lebih mudah dilakukan dan akan mencapai hasil yang lebih optimal bila dilakukan dalam keadaan perut tidak penuh atau kosong. Artinya, dalam melaksanakan Upawasa (tidak makan dan minum) dianjurkan untuk lebih banyak melakukan pranayama agar tubuh tetap kuat, sehat, dan bugar agar pikiran dan jiwa tetap dalam keadaan keseimbangan. Mengingat peningkatan rohani akan tercapai bila didukung oleh tubuh yang dalam keadaan kuat pula.

MANFAAT PUASA (puasa) baca di sini: PESAN HARMONI: Hasil penelusuran untuk Manfaat puasa

Kedua, MONABRATA adalah suatu cara untuk mengendalikan perkataan (wacika) yang bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian, sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Monabrata dilakukan dengan cara tidak berbicara sama sekali, baik verbal maupun non-verbal. Menggunakan isyarat dengan tangan atau bagian tubuh lainnya sudah termasuk dikatakan berbicara. Ada yang mengatakan sadhana ini hendaknya dilakukan selama 12 jam tanpa putus, namun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan secara bertahap, misal 3 jam melakukan, lalu 2 jam berhenti, dan dilanjutkan 3 jam berikutnya hingga selesai. Lantas, bagaimana Monabrata yang sesungguhnya? Adalah DENGAN TIDAK BERBICARA MESKI DALAM PIKIRAN. Pernah di sebuah pura pada suatu Siwaratri seorang pemudi sedang melakukan Monabrata, menunjukkan secarik kertas berisi pesan tertulis yang berbunyi “mas, nitip tas ya saya mau ke kamar kecil”, saya hanya melihat tidak menanggapi apapun. MELIHAT TETAPI MERASA TIDAK MELIHAT. Meski itu adalah sebuah pesan yang ditulis, namun ini sudah termasuk berbicara, siapa yang berbicara?, pikiranlah yang berbicara, bila pikiran masih berbicara berarti belum pada tahap Monabrata. Namun, sebagai langkah awal atau tahap pembelajaran dalam menjalankan Monabrata maka bisa dilakukan dengan mengurangi bicara, atau berkata-kata seperlunya dengan orang lain. Ini bisa dilakukan ketika tidak bisa menjalankan Siwaratri secara full oleh karena terikat dengan kerja/aktivitas sehari-hari di tempat kerja. Tantangan dalam melaksanakan Monabrata memang cukup berat, sebelumnya kita tidak boleh memberitahu orang lain bahwa kita akan melakukan Monabrata dengan maksud agar orang lain tidak berbicara dengan kita. Ketika ada orang lain yang berbicara pada kita maka kita harus bijak apakah harus menjawab atau tidak, jika harus menjawab maka harus bicara seperlunya saja, ketika tidak menjawab bisa saja menimbulkan keheranan pada orang yang berbicara tersebut, atau bahkan mungkin saja dia negatif thinking dengan kita yang sedang Monabrata karena tidak menjawab pembicaraanya. Nah, disinilah contohnya berbagai tantangan itu. MENDENGAR TETAPI TIDAK MERASA MENDENGAR. Telinga kita sudah pasti mendengar suara-suara, namun yang penting adalah tidak membawa pendengaran itu ke dalam pikiran sehingga tidak ada analisa tentang pendengaran itu dalam pikiran yang bisa memunculkan pemikiran AKU SEDANG MENDENGAR. Apakah kita sanggup?  Sadhana ini sebaiknya dilakukan siang hari dan selesai pada malam hari karena pada malam hari harus dilanjutkan dengan Japa Seribu Nama Siwa. Monabrata menuntut keheningan dari seluruh indriya kita termasuk pikiran (rajendriya) yang merupakan rajanya indriya, hasilnya adalah keheningan jiwa, dengan pencapaian ini maka kita akan sampai pada realisasi diri. MONA BRATA YANG SERING DILAKUKAN AKAN MENJADIKAN UCAPAN KITA SEHARI-HARI MENJADI SIDDHI.

Ketiga, JAGRA adalah menjaga kesadaran diri kita. Kebanyakan orang melaksanakan dengan cara tidak tidur sama sekali bahkan hingga selama 36 jam. Inti dari Jagra adalah menjaga kesadaran diri terhadap Ilahi yang muaranya adalah pencapaian realisasi diri. Sebagai manusia kita harus menyadari berbagai hal dalam hidup ini, berbagai hal yang terjadi setiap hari terutama yang terjadi disekeliling diri kita. Bila setiap orang mempunyai kesadaran diri yang tinggi, maka hidup ini akan tertib, harmonis, dan damai; tidak akan ada permasalahan yang muncul dalam hidup bermasyarakat oleh karena setiap anggota masyarakat punya kesadaran. Contoh; sadar bahwa perkataan yang akan kita katakan kemungkinan bisa melukai orang lain sehingga kita mengurungkan untuk mengatakan itu, sadar bahwa memutar lagu-lagu dengan volume yang keras adalah mengganggu tetangga, sadar bahwa perilaku kita kemungkinan bisa membuat orang lain tidak senang dan tidak nyaman, sadar bahwa kita harus beryajna, sadar bahwa kita harus berpunia, dan sebagainya. Pada prinsipnya adalah dengan Jagra ini pada tingkatan awal kita didorong untuk memiliki kesadaran sosial yang tinggi, karena itu adalah modal yang penting dalam hidup bermasyarakat. Jagra dalam brata Siwaratri mengajarkan dan memerintahkan agar manusia ‘bangun’ dari tidurnya. Jagra, eling akan sang diri sejati, merupakan ajaran puncak dalam setiap ajaran kerohanian. Tentu yang dimaksudkan adalah jagra dalam arti kebangkitan dan kebangunan diri dari nyenyaknya tidur dalam selimut maya. Maya sebagai ciptaan triguna merupakan kekuatan sihir yang mahadasyat yang mengungkung kesadaran manusia dalam keterukuran nama dan rupa. Apabila manusia bisa keluar dari sihir maya maka ia akan memasuki kesadaran akan sang diri sejati. Dalam JAGRA saat malam hari maka yang harus dilakukan adalah JAPA SERIBU NAMA SIWA.

Keempat, JAPA SERIBU NAMA SIWA, sadhana ini sebaiknya dilakukan menjelang tengah malam sampai selesai. Pertanyaannya adalah apakah banyak yang melakukan sadhana ini? Survei yang dilakukan oleh penulis membuktikan amat sangat sedikit yang melakukan sadhana Seribu Nama Siwa ini. Setiap Maha Siwaratri penulis hampir selalu melakukan sadhana ini. Memang, untuk melantunkan Seribu Nama Siwa memerlukan waktu yang cukup panjang durasinya, yaitu antara 2,5 sampai 3 jam. Coba bayangkan Japa Seribu Nama Siwa tanpa henti bukanlah sadhana yang ringan, namun juga bukan sadhana yang berat kalau itu disertai dengan niat sebagai sadhana spiritual. Akan banyak sensasi yang kita rasakan selama kita mengucapkan itu, mulai dari sensasi bosan, sangat lelah, sangat letih, haus, badan pegal hingga sensasi penuh power, sensasi badan astral dan sensai melayang, dan sensasi yang penuh kedamaian. Orang bilang “Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.” Sudah tentu sensasi awal adalah berbagai sensasi yang sama sekali tidak mengenakkan, dan disinilah kita diuji apakah kita bisa bertahan atau tidak dengan berbagai sensasi yang tidak mengenakkan tersebut untuk tetap melanjutkan Japa Seribu Nama Siwa. Rasa lelah, letih, lesu, haus dan sebagainya adalah sangat alami sekali, ini oleh karena setiap lantunan nama Siwa pasti memerlukan tenaga untuk mengucapkannya, serta pada saat itu brata Upawasa mungkin masih berlangsung, dan disinilah kita harus mahir dalam teknik pengucapannya juga disertai dengan pranayama agar kita tidak kehabisan tenaga yang bisa berujung pada keputusan untuk berhenti melakukannya. Sayang sekali kalau berhenti karena menurut sastra purana Janji Siwa sudah menunggu, yaitu untuk menganugerahkan kedamaian, kebahagiaan, melebur dosa-dosa, hidup sejahtera lahir batin, hidup berkelimpahan, dsb. Semua prinsip dalam Astangga Yoga harus dilakukan pada saat Japa Seribu Nama Siwa ini seperti, Asana (sikap duduk yang rilek), Pranayama (cara bernafas), Pratyahara (berusaha mempertahankan obyek dan tidak terganggu dengan apapun), Dharana (tingkat konsentrasi/teguh pada obyek), Dhyana (tingkat meditasi-bersatunya antara konsentrasi dan ideasi), terakhir adalah pencapaian yang sebenarnya yaitu samadhi,  suatu tingkat yang bukan sembarang orang yang mampu mencapainya, tentunya adalah mereka-mereka yang sudah mencapai kemurnian diri. MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI.  

 

Kamis, 25 Juni 2020

Kita Adalah Lubdaka, Sang Pemburu


Oleh: Agus Widodo

“Diceritakan.....Lubdaka sebagai pemburu yang sedang dalam hutan oleh karena sudah malam maka memutuskan menghentikan perburuan, dan akhirnya harus mencari tempat yang aman dari binatang buas untuk beristirahat, tempat itu adalah diatas pohon; agar dia tidak jatuh maka dia harus menjaga kesadarannya. Andai dia meneruskan untuk terus berburu tanpa mempertimbangkan bahwa hari sudah malam mungkin dia dalam bahaya besar karena situasinya di tengah hutan belantara.”

Tidak ada manusia yang tidak berkeinginan, setiap manusia adalah pemburu (para Lubdaka) bagi objek-objek keinginannya sendiri, berbagai keinginan memenuhi pikiran setiap orang meliputi keinginan yang baik atau pun yang dalam kategori kurang baik atau bahkan yang sangat tidak baik. Para orang suci pun berkeinginan, namun keinginan mereka adalah untuk kepentingan alam semesta; berbeda dengan keinginan orang kebanyakan yang cenderung untuk kepentingan pribadi dan sangat duniawi. Dari berbagai keinginan itulah maka bermanifestasi menjadi ucapan dan tindakan dengan harapan agar keinginan itu terwujud. Keinginan yang baik akan membuahkan sesuatu yang baik, begitu juga sebaliknya keinginan yang kurang baik akan membuahkan hasil yang tidak baik. Untuk itulah (dalam Catur Purusartha) Dharma menjadi bagian yang pertama yang harus dijadikan sebagai pijakan/landasan agar setiap keinginan (Kama) kita adalah keinginan yang baik, yang menunjang untuk membentuk jati diri yang lebih baik.
Jaman sekarang keinginan orang banyak yang berlebihan, dan tidak jarang berbalut yang agamis. Misalnya saja berdana punia yang cukup besar, namun dibalik itu ada keinginan untuk mendapatkan penghormatan atau prestise; akibatnya dana punianya itu menjadi ternoda, menjadi tidak bermanfaat baginya dan justru sebaliknya menciptakan karma buruk baginya. Bagi mereka yang memiliki materi lebih namun bermental pemburu nama besar dan prestise, seringkali mencari momen-momen yang tepat agar dapat menggunakan materinya untuk membeli nama besar dan prestise.
Dalam momen Mahasiwaratri ini, setiap pribadi dari kita hendaknya memanfaatkan saat yang agung ini sebagai saat melatih diri untuk mengendalikan setiap keinginan kita (layaknya Lubdaka yang memutuskan untuk menghentikan perburuan karena waktu sudah malam). Keinginan yang tidak terkendali laksana Raksasa yang siap untuk menelan kita untuk masuk dalam perutnya, dan tergilas oleh pencernaannya lalu hancurlah kita. Jadi setiap orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya sehingga menjadi liar maka berbagai keinginan itu cepat atau lambat akan menghancurkan dirinya sendiri. Setiap orang harus terus menyadari dirinya sendiri agar tidak terbelenggu oleh keinginannya sendiri (diceritakan Lubdaka yang terus sadar agar tidak jatuh dari pohon, krn jika dia tertidur maka sudah pasti jatuh dan beresiko diterkam binatang buas).
Mahasiwaratri.....momen melatih diri untuk mengendalikan kata-kata (mona brata); tidak seharusnya banyak bicara, dan berkata-kata yang perlu saja. Kata-kata muncul sebagai manifestasi dari pemikiran, tidak ada kata-kata bila tidak ada pemikiran; oleh karena itu pikiranlah yang sesungguhnya paling awal untuk dikendalikan sehingga bisa menjalankan mona brata. Semakin banyak kata-kata yang terucap dari kita maka semakin banyak pula prana (energi vital) yang dibutuhkan. Mereka yang aliran prana-nya tidak seimbang antara prana yang masuk ke dalam tubuh dengan prana yang keluar dari tubuh oleh karena setiap aktivitas maka akan mendapatkan masalah fisik maupun non fisik dalam hidupnya. Orang yang kekurangan prana akan rentan dengan berbagai penyakit fisik dan mental. Mona brata berarti juga berhemat prana, berhemat prana berarti juga bisa memperpanjang usia. Mona brata pada tingkatan yang tinggi yaitu menghentikan berbagai pemikiran dan hanya fokus pada pemikiran tertentu.
Jagra....memiliki kesadaran penuh terhadap berbagai sisi kehidupan merupakan hal yang mutlak bagi setiap insan, tanpa kesadaran dalam diri maka perjalanan hidupnya akan menemukan banyak kesulitan. Lubdaka sadar bahwa hari sudah malam dan dia harus menghentikan perburuan karena berburu saat malam akan bisa membahayakan dirinya sendiri. Begitulah...... manusia harus memiliki kesadaran dalam setiap aktivitasnya sehari-hari. Sadar bahwa kata-kata yang akan kita ucapkan harus pantas atau membuat senang atau damai kepada orang lain; sadar bahwa setiap tindakan yang akan kita lakukan harus membawa manfaat bagi orang lain, bukan sebaliknya yang justru merugikan orang lain; sadar bahwa setiap postingan yang akan kita unggah dimedsos harus mengandung kesan dan pesan yang baik, bukan sebaliknya yang justru provokatif. Dan berbagai praktek kesadaran lainnya. Pikiran sifatnya sangat dualis, yaitu baik dan buruk. Karena itu tidak seharusnya kita menyandarkan kata-kata dan tindakan hanya kepada pikiran semata yang sifatnya dualis, kita harus melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan itu agar setiap kata-kata dan tindakan mengandung kebijaksanaan. Sekarang banyak sekali orang yang pintar, gelarnya pun tinggi; dan ternyata banyak diantaranya yang kata-kata ataupun prilakunya tidak berbanding lurus dengan gelarnya; justru menjadi orang yang sombong, angkuh, merasa benar sendiri, dan selalu meminta penghormatan dari orang lain. Orang seperti ini hanya menggunakan pikirannya, tidak menggunakan akal buddhinya. Dalam tradisi Jawa sering kali para sesepuh memberi nasehat “dadio wong sing njawani” artinya “jadilah orang yang sadar atau ngerti atau penuh perasaan”. Dalam nasehat itu secara tersirat memberi pesan bahwa kita hendaknya selalu melibatkan akal buddhi dalam setiap kata-kata dan tindakan kita, karena akal buddhi tidak memiliki sifat dualis seperti yang dimiliki pikiran.
Japa seribu nama Siwa....merupakan sadhana dengan mengucapkan nama-nama Siwa yang jumlahnya 1008. Dengan mengucapkan seribu nama Siwa maka pikiran kita secara perlahan akan terkondisikan atau terfokuskan secara kuat pada nama-nama yang kita ucapkan. Oleh karena yang diucapkan itu adalah nama-nama suci Siwa maka saat pikiran sudah terkondisikan atau terfokuskan maka pikiran akan mendapatkan aliran kekuatan suci dari nama-nama suci Siwa itu dan menjadi berkesadaran tinggi. Hasilnya adalah pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif yang sekian waktu bercokol dalam pikiran sedikit banyak akan tereliminasi sehingga pikiran akan mendapatkan kemurniannya kembali karena bebas dari pemikiran-pemikiran buruk atau negatif. Seperti halnya Lubdaka.....agar dia terus terjaga maka dia memutuskan untuk terus memetik daun-daun pohon satu demi satu (layaknya berjapa) yang kemudian dia jatuhkan, bila dia sampai tertidur maka beresiko jatuh dari pohon dimana dia berada. Jadi japa seribu nama Siwa ini juga memiliki fungsi sebagai terapi untuk pikiran, lebih-lebih pikiran yang terlalu banyak menyimpan berbagai kesan-kesan pemikiran yang buruk atau negatif. Pemikiran-pemikiran buruk atau negatif yang tersimpan dalam pikiran sangat perlu dieliminasi karena membebani atau menghambat kinerja dan bahkan sangat merugikan pikiran itu sendiri. Seperti halnya sebuah komputer yang terjangkit virus, maka kinerjanya akan terhambat bahkan beresiko rusaknya file-file yang ada dalam komputer tersebut. Begitu pula pemikiran-pemikiran yang buruk atau negatif akan membebani pikiran, menghambat kinerja pikiran dan bahkan merusak pikiran itu sendiri. Dan bayangkan saja bila pikiran seseorang menjadi rusak, maka tiada kebaikan dalam kata-kata dan tindakannya.
Pesan dalam momen Mahasiwaratri ini adalah jadilah manusia yang berakal buddhi dan berkesadaran tinggi sehingga menjadi manusia yang unggul, teladan dan terdepan.

Satriya Jawa di Tanah Pasundan      

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...