Oleh: Aguswi
Ini
adalah pertanyaan yang sangat sering diajukan umat. Mereka akan selalu mengenang
orang-orang terdekat dan tersayangnya yang telah meninggal dan merasa bertanya-tanya
mungkinkah permasalahan hidup mereka yang sering mereka derita adalah berakar
pada leluhur mereka, sungguh tak terbayangkan bahwa orang-orang yang telah
meninggal tersebut akan dengan sengaja menyebabkan permasalahan dalam kehidupan
mereka.
Ada
beberapa penyebab utama mengapa para leluhur mengganggu keturunan mereka:
1. Keinginan/hasrat para
leluhur yang tidak terpenuhi
2. Ketidakmampuan untuk
bergerak maju dalam perjalanan jiwa mereka ke alam yang seharusnya (alam para
pitara) dan mencapai wilayah alam yang lebih tinggi.
Ketidaknyamanan (distress) yang disebabkan oleh
hasrat/ keinginan yang tidak terpenuhi
Para
leluhur mengganggu keturunannya karena mereka memiliki keinginan yang tidak
terpenuhi. Hasrat/keinginan tersebut dapat mencakup:
1. Kemarahan yang ditujukan
kepada keturunan yang tidak berprilaku baik. Misalnya antara keturunannya yang
cecok masalah warisan, keyakinan yang tidak lebih baik dan bertentangan dengan
ajaran leluhurnya, dll.
2. Leluhur yang memiliki kemelekatan
kepada keluarganya dan masih menginginkan perihal urusan keluarga dilakukan
dengan cara leluhur tersebut. Misalnya tradisi leluhur yang tidak dilanjutkan
oleh keturunannya untuk dipraktekkan dalam lingkungan keluarga.
3. Leluhur-leluhur yang
menderita kecanduan terhadap beberapa hasrat keinginan fisik seperti rokok,
obat-obatan, seks, makanan, dll. Leluhur-leluhur tersebut mengambil manfaat
dari perhitungan memberi-dan-menerima (akun karma) antara leluhur tersebut dan keturunannya untuk merasuki
keturunan tersebut dan dengan demikian dapat memenuhi hasrat keinginan mereka. Dalam
hal ini leluhur-leluhur yang telah meninggal lebih memilih mengganggu keturunan
mereka dan bukan orang lain yang juga mungkin memiliki perhitungan
memberi-dan-menerima dengan mereka. Hal ini disebabkan ikatan hubungan darah
merupakan hal yang terkuat antara leluhur dengan keturunannya. Poin ke 3 ini
adalah para jiwa-jiwa leluhur yang selama hidup memiliki tingkat
kesadaran/spiritualitas yang cukup rendah sehingga saat sudah tidak berbadan
fisik-pun masih melekat dengan kebiasaannya saat masih berbadan fisik dan tidak
mampu melepaskannya. Karena tingkat kesadarannya yang rendah itu ia masih
terikat dengan hukum-hukum bumi; masih merasakan lapar karena itulah muncul
hasrat ingin makan, merasa ketagihan dengan aroma rokok, juga kenikmatan akan
seks.
Mereka yang meninggal dan hanya memiliki
kekuatan spiritual yang sangat sedikit maka perjalanan jiwa mereka akan banyak
hambatan, jiwa-jiwa seperti itu akan sering terjebak diantara alam manusia
(fisik) dan alam halus dan mereka butuh bantuan dari para keturunannya yang
masih hidup untuk bisa bergerak maju ke alam yang lebih tinggi. Jiwa-jiwa mereka
mengalami rasa sakit akibat ulah keturunannya, kemelekatannya ataupun akibat karma
buruk jiwa itu sendiri dan tidak tahu bagaimana untuk membantu diri mereka
sendiri. Oleh karena tingkat kesadaran jiwa mereka yang rendah maka mereka
menjadi lemah (dalam sastra disebut preta
yaitu jiwa-jiwa leluhur yang lemah) sehingga ada kemungkinan juga jiwa-jiwa
yang lemah itu dalam kendali entitas negatif lainnya untuk tindakan-tindakan yang
buruk atau jahat. Dalam kondisi kelemahan atau kesaradan yang rendah itu
jiwa-jiwa itu pun tidak menyadari bahwa dirinya dalam kendali entitas lainnya
dan juga tidak menyadari apakah tindakannya baik atau buruk. Di sisi lain,
jiwa-jiwa leluhur yang lemah itu dalam konteks bertahan hidup dan tidak dapat
berpikir di luar diri mereka sendiri. Oleh sebab itu, alih-alih membantu
keturunannya, justru mereka sendiri yang sebenarnya membutuhkan bantuan.
Para leluhur yang telah meninggal mengalami
kebahagiaan ataupun ketidakbahagiaan penuh sesuai dengan buah karma mereka.
Leluhur yang tingkat spiritualnya rendah oleh karena banyak mendapatkan hasil
karma yang buruk dan sebagai akibatnya mengalami rasa sakit yang besar. Karena
mereka sudah terlepas dengan aktivitas duniawi sebagaimana ketika mereka masih
hidup di Bumi, maka mereka menjadi luar biasa terfokus dalam mengurangi rasa
sakit tersebut atau untuk mengalami beberapa hasrat keinginan duniawi. Mereka
pun menggapai keturunan mereka di Bumi untuk melakukan sesuatu bagi mereka.
Karena tidak memiliki tubuh fisik, maka mereka tidak perlu tidur dan dapat
bekerja dalam menggapai keturunan mereka dengan kumulatif pikiran yang terfokus
yang menakjubkan. Fokus pada satu pikiran tersebut yang pada gilirannya akan
meningkatkan kemampuan mereka untuk mempengaruhi keturunannya.
Penderitaan atau ketidaknyamanan (distress) yang dialami oleh para leluhur
di wilayah alam semesta yang lebih rendah tingkatannya memancar dari diri
mereka sebagai frekuensi/getaran tidak nyaman yang kemudian terpancar melintasi
berbagai wilayah halus serta wilayah bumi. Karena anggota keluarga atau
keturunan mereka memiliki frekuensi yang paling cocok/sesuai, maka merekalah
yang dapat menerima frekuensi tersebut paling baik.
Hanya para keturunan yang ada di alam Bumi yang memiliki
kemampuan untuk melakukan sesuatu bagi leluhurnya yang telah meninggal. Namun
kenyataannya banyak bahwa pada saat ini kebanyakan keturunan tidak cukup
berkembang secara spiritual untuk dapat melihat secara halus frekuensi tidak
nyaman tersebut, karena itulah para leluhur dengan kemampuannya menggunakan kekuatan
energinya untuk menciptakan stress atau permasalahan dalam kehidupan keturunan
mereka sehingga keturunan tersebut memperhatikan kebutuhan atau pun memahami maksud
para leluhur tersebut. Dalam hal demikian, penderitaan ataupun ketidaknyamanan yang
disebabkan oleh para leluhur pada dasarnya merupakan sarana untuk berkomunikasi
tentang rasa sakit atau pun ketidaknyamanan para leluhur itu sendiri. Para leluhur mencoba untuk berkomunikasi dengan keturunan mereka dan
melakukannya dalam bentuk menciptakan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan
keturunan mereka. Luasnya permasalahan yang dapat mereka sebabkan secara
proporsional jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuan mereka untuk
membantu.
Ketika keturunan mereka mendapatkan bahwa
permasalahannya tidak kunjung selesai meskipun setelah usaha terbaik mereka,
maka terkadang mereka mencari bimbingan spiritual. Jika bimbingan spiritual
yang tepat diperoleh dan dilaksanakan, maka hal tersebut tidak hanya memberikan
mereka perlindungan yang diperlukan dari leluhur mereka, tetapi juga memberikan
para leluhur dorongan yang diperlukan untuk perjalanan mereka selanjutnya di
alam spiritual.
Tingkat penderitaan atau ketidaknyamanan (distress) yang diciptakan oleh para
leluhur akan bervariasi tergantung pada sifat dan tingkat pencapaian spiritual
dari para leluhur. Seorang leluhur yang baik akan memberikan ketidaknyamanan
hanya sebatas untuk membuat keturunannya menjadi sadar. Di sisi lain, seorang
leluhur pendendam dapat menyebabkan penderitaan yang luas pada keturunannya. Seorang
leluhur yang ingin memenuhi hasrat keinginannya akan mengganggu keturunannya
dengan hasrat keinginan yang serupa.
Dalam beberapa kasus, perjalanan jiwa para
leluhur terganggu oleh karena ada keturunannya yang masih sangat terikat dan
larut dalam kesedihan oleh kematian para leluhurnya. Keturunan tidak bisa
mengikhlaskan kematian para leluhurnya sehingga setiap saat selalu dihantui dengan
kenangan saat mereka masih hidup, dan seolah menginginkan kehadiran para
leluhurnya secara fisik. Kondisi ini bagaikan sebuat tali yang mengikat kuat
yang dililitkan keturunan kepada jiwa leluhurnya sehingga menjadi hambatan jiwa
leluhurnya untuk terus berjalan ke alam yang lebih tinggi.
Seorang leluhur yang berkeinginan pergi bergerak
ke wilayah halus yang lebih tinggi akan membidik keturunan mereka agar
melakukan sadhana ritual ataupun spiritual yang bisa membantu para leluhur
untuk melanjutkan perjalanan jiwanya ke alam yang lebih tinggi. Doa-doa yang
diucapkan oleh para keturunannya untuk para leluhurnya sangat membantu para
leluhur tersebut. Ada beberapa tradisi misalnya di Jawa ada Pangentas Panjurung
Suksma yang tujuan utamanya adalah membantu (mengentaskan) jiwa para leluhur
agar tidak terjebak dalam penderitaan atau ikatan yang menghambat perjalanan
jiwa mereka menuju ke alam yang lebih tinggi. Ada sebutan “anak suputra” juga
terkait dengan hal ini yaitu anak yang berbhakti dan mampu membebaskan orang
tuanya termasuk para leluhurnya dari penderitaan. Ketika jiwa-jiwa para leluhur sudah sempurna
dan memiliki kekuatannya sendiri, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dan
mampu memberikan hubungan yang positif kepada para keturunannya maka jiwa-jiwa
itu baru bisa disebut “pitara”.
Rahayu Sagung Dumadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar