Beranda

Rabu, 23 Juni 2021

Badan Kita Sebagai Radio Receiver Penerima Gelombang Frekuensi Semesta

 

Oleh: Aguswi

 Coba kita lihat pasti semua tidak asing dengan perangkat elektronika yang disebut Radio. Kita bisa menikmati berbagai program yang dipancarkan oleh berbagai stasiun pemancar Radio melalui perangkat Radio receiver yang kita miliki. Stasiun pemancar Radio memancarkan siarannya dalam satuan gelombang frekuensi Khz maupun Mhz tertentu dimana antar stasiun pemancar memiliki gelombang frekuensi yang berbeda-beda. Gelombang frekuensi itu dipancarkan ke segala penjuru arah hingga mencapai jangkauan batasannya, gelombang frekuensi itu tidak terpancar ke arah tertentu saja sehingga hanya area tertentu saja yang bisa menikmati program acara stasiun radio itu. Dan kita, untuk bisa menikmati program acara yang disiarkan hanya bisa ketika (1) perangkat radio receiver kita kondisinya normal, (2) kita bisa memutar radio itu pada frekuensi yang tepat yang dipancarkan stasiun radio yang program acaranya ingin kita nikmati.  

Ada berbagai program siaran yang dipancarkan stasiun pemancar radio seperti misalnya siaran lagu-lagu, berita, ilmu pengetahuan, isu-isu terkini, resep makanan, biografi tokoh, dan lain-lain. Bila perangkat radio receiver kita dalam kondisi tidak normal alias ada komponen-komponen yang sudah aus atau rusak maka radio kita tidak akan bisa menangkap gelombang frekuensi yang dipancarkan stasiun pemancar dengan sempurna, akibatnya suaranya bisa tidak jelas alias kemresek atau bahkan tidak bisa menerima gelombang frekuensi sama sekali dan yang ada hanya suara kemresek. Bila perangkat radio receiver kita kondisinya bagus maka untuk menikmati berbagai program siaran stasiun pemancar radio kita tinggal memutarnya pada frekuensi yang kita inginkan pada posisi yang tepat dan terdengarlah siaran yang dipancarkan misal program acara lagu-lagu, dan kita bisa menikmati siaran itu. Bila kita tidak tepat memutar pada frekuensinya maka suaranya pun bisa tidak jelas alias kemresek.

Begitu juga dengan diri kita, badan kita dengan berbagai lapisan dan atributnya ini adalah sebuah radio receiver untuk menangkap kekuatan-kekuatan atau gelombang-gelombang frekuensi alam yang kita butuhkan, dan badan kita ini sangat canggih sekali. Alam semesta ini diciptakan sudah dilengkapi dengan semua perangkat-perangkat pendukungnya. Semua unsur-unsur atau kekuatan-kekuatan pendukung seperti kebahagiaan, kesejahteraan atau kekayaan, kemakmuran, kecerdasan, dan lain-lain; semua sudah tersedia di alam ini sejak awal alam ini tercipta. Tidak ada unsur atau kekuatan pendukung yang tertinggal yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, perangkat-perangkat alam semesta sudah tersedia dengan sempurna oleh-Nya. Segala kebutuhan dari makhluk hidup sudah tersedia bak makanan prasmanan yang sangat beragam dimana kita tinggal mengambilnya dan tidak perlu lagi order kepada penyedia makanan karena makanan sudah tersedia lengkap di meja.

Manusia yang hidup di bumi ini memiliki berbagai kebutuhan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Dengan berbagai cara manusia berusaha untuk mendapatkan berbagai kebutuhan-kebutuhan itu. Aktivitasnya ini harus didukung dengan kondisi badannya yang normal, alias sehat dan kuat; tanpa kekuatan dari badannya maka usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan gagal. Dengan badan yang tidak normal alias sakit fisik atau pun batin maka itu sebuah halangan baginya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai tujuan hidupnya. Hidupnya pasti menderita. Dalam hal ini maka usaha-usaha nyata untuk sehat diperlukan misal dengan melakukan olah Yoga Asana, atau dengan mempraktekkan atau menerapkan cara-cara untuk sehat baik yang tradisional maupun yang modern alias BERTEKNOLOGI (ada alat-alat berteknologi yang sudah ada dipasaran yang dapat menunjang kesehatan). Hanya dengan berdoa saja tanpa usaha maka ini sia-sia belaka untuk mendapatkan kesehatan. Alam sudah menyediakan berbagai kekuatan dan kita tinggal mengambilnya, hanya saja untuk mengambilnya kita harus tahu caranya (analoginya adalah jika kita ingin menikmati program siaran stasiun pemancar radio maka harus tahu besaran gelombang frekuensinya misal apakah dibawah 100 Mhz atau diatas 100 Mhz dan diputar pada posisi yang tepat). Dan salah satu cara untuk mendapatkan kekuatan berupa kesehatan adalah dengan melakukan Yoga Asana (disamping cara lainnya misal dengan mempraktekkan atau menerapkan cara-cara untuk sehat baik yang tradisional maupun yang modern alias BERTEKNOLOGI). Hanya dengan berdoa saja maka kekuatan kesehatan itu kemungkinan tidak akan bisa diperoleh (analoginya kita ingin menikmati program siaran stasiun pemancar radio tertentu akan tetapi frekuensi radio yang kita putar tidak tepat pada frekuensi yang dipancarkan stasiun pemancar radionya). Karena hukum alamnya adalah siapapun yang melakukan sadhana Yoga Asana maka akan mendapatkan kekuatan kesehatan, jadi antara perihal “yoga asana” (atau praktek nyata lainnya untuk sehat) dengan perihal “kekuatan kesehatan” adalah dua hal yang saling berpasangan, memiliki hubungan sebagai “sebab” (yoga asana) dan “akibat” (kekuatan kesehatan).  Badan ini melalui sadhana Yoga Asana akan bisa menangkap energi atau kekuatan kesehatan yang tersedia di alam (analoginya radio receiver (badan ini) dengan diputar pada gelombang frekuensi siaran yang tepat sesuai yang dipancarkan stasiun pemancar radionya (yoga asana) maka program siaran radio pemancar (kekuatan kesehatan) yang diinginkan bisa ditangkap dan dinikmati). Antara perihal “doa dan kesehatan” bukan dua hal yang memiliki keterkaitan lebih erat jika dibanding dengan perihal antara “yoga asana dan kesehatan”. Dengan melakukan “yoga asana” maka alam (sebagai stasiun pemancar radio) akan memberikan dukungan dan memfasilitasi badan (yang menjadi radio receiver) untuk mendapatkan dan menikmati kekuatan kesehatan yang dipancarkan oleh alam melalui Hukum-Nya yaitu Hukum Rta.   

Logika lainnya adalah perihal “kecerdasan”. Untuk memiliki kecerdasan ini maka harus dicapai dengan melakukan usaha yaitu “belajar yang keras”.  Kecerdasan tidak akan bisa dimiliki dengan melakukan misalnya “ritual”. Antara “belajar yang keras” dengan “kecerdasan” adalah dua hal yang saling berpasangan, memiliki hubungan sebagai “sebab” (perihal belajar yang keras) dan “akibat” (perihal kecerdasan). Jadi jika diri kita (sebagai radio receiver) ingin mendapatkan kekuatan kecerdasan yang dipancarkan oleh alam (gelombang frekuensi yang dipancarkan stasiun pemancar radio) maka harus melakukan usaha belajar yang keras (memilih gelombang frekuensi yang tepat).

Begitu juga dengan perihal lainnya, misal jika kita menginginkan kemakmuran atau kekayaan yang lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup maka usaha yang paling tepat adalah dengan melakukan kerja yang keras pada bidang usaha yang tepat dan menjanjikan. Tanpa kerja yang keras pada bidang usaha yang tepat dan menjanjikan maka kemakmuran atau kekayaan yang lebih tidak akan bisa dimiliki.    

Jadi alam ini layaknya sebuah stasiun pemancar radio yang memancarkan berbagai besaran gelombang frekuensi atau energi atau kekuatan yang bisa kita tangkap dan bermanifestasi sebagai semua kebutuhan hidup makhluk hidup; seperti kekuatan kesehatan, kesejahteraan atau kekayaan, kecerdasan, kebahagiaan, dan lain-lain. Jika ada orang yang merasa kekurangan dalam kebutuhan hidupnya lalu menyalahkan dan menuduh alam ini tidak berpihak kepadanya maka itu sebuah kebodohan. Itu adalah permasalahannya sendiri yang tidak harmoni dan tidak mau berusaha lebih tepat atau tidak mampu mendapatkan semua kebutuhan hidupnya yang sebenarnya sudah semuanya disediakan oleh alam sejak alam ini ada. Alam dalam memenuhi kebutuhan makhluk hidup tidaklah bekerja seperti kita ke jasa penyedia barang lalu kita pesan barang dan barang dicarikan dulu setelah itu diberikan, jika barang belum ada maka menunggu untuk diorderkan ke pihak produksi. Namun, alam sejak awal ada sudah menyediakan semua kebutuhan hidup penghuninya dan memberikan cara-cara kepada penghuninya melalui pengetahuan agar semuanya dapat mengakses semua yang disediakan oleh alam untuk penghuninya.    


Rahayu Sagung Dumadi

Pakuan - Tatar Sunda

 

Minggu, 06 Juni 2021

PADASEVANAM (SUNGKEMAN)

Oleh: Aguswi

Ritual padasevanam (membasuh kaki kedua orang tua dan sujud) merupakan bentuk bhakti yang tertuang dalam Bhagavata Purana VII.5.23 tentang sembilan jenis bhakti dalam sloka yang berbunyi berikut:

“sravanam kirtanam visnoh, smaranam padasevanam, archanam vandanam dasyam, sakhyam atmanivedanam”

Padasevanam atau sungkeman anak kepada orang tua juga ada pada teks Grehasta Winaya yang merupakan ajaran tentang etika rumah tangga, kewajiban orang tua, kewajiban suami istri maupun anak:

“apan sira sampun ngamolihaken pangaskara widhi wenang ta sira mangarpanaken padya arga camaniya” yang artinya “karena engkau telah mendapatkan upacara samskara Widhi adalah kewajiban bagimu untuk membasuh kaki dan bersujud”

Padasevanam adalah tradisi yang dalam masyarakat Hindu etnis Jawa disebut sungkeman. Pada artinya kaki dan sevanam artinya pelayanan atau pemujaan, jadi padasevanam artinya melayani dikaki Tuhan. Dalam Taitiriya Upanisad dikatakan “matru devo bhava, pitru devo bhava” yang artinya ibu dan bapak adalah wujud Tuhan di dunia bagi anaknya.

Atas dasar sastra-sastra itulah tradisi padasevanam (sungkeman) seorang anak kepada orang tuanya dilakukan. Bagi seorang anak, kedua orang tuanya adalah wujud Tuhan yang terlihat yang melahirkannya. Padasevanam merupakan wujud sikap sujud bhakti yang dilakukan seorang anak kepada orang tuanya, sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang yang mulia dari seorang anak.

Tradisi sujud bhakti seorang anak kepada orang tuanya ini dalam sastra Purana dicontohkan oleh sujud bhakti Dewa Ganesha kepada kedua orang tuanya yaitu Dewa Siwa dan Parwati. Saat itu Dewa Resi Narada mengatakan bahwa siapa yang dapat mengelilingi dunia tujuh kali dengan cepat maka dialah yang paling cerdas. Kartikeya dan lainnya segera melesat mengelilingi dunia, namun Ganesha tidak ikut melesat dan hanya mengelilingi Siwa dan Parwati yang sedang duduk sebanyak tujuh kali. Saat Narada bertanya mengapa Ganesha hanya mengelilingi orang tuanya lalu Ganesha menjawab bahwa kedua orang tua itu adalah dunia bagi anaknya sendiri, sujud bhakti kepada orang tua berarti sujud bhakti kepada seluruh dunia berarti pula sujud bhakti kepada Tuhan itu sendiri. 

 

Padasevanam bisa memberikan manfaat yang luar biasa, dengan membiasakan diri dengan padasevanam akan membuat kita mendapatkan karunia dari Tuhan, leluhur, orang tua dan guru. Adapun karunianya mulai dari Ayu Werdhi (umur panjang), Werdi Pradnyan (memohon ilmu pengetahuan), Sukha Sriyam (rasa bahagia dan kemakmuran), Dharma Sentana (keturunan yang baik), Santute (rasa damai yang luar biasa) juga karunia lainnya.

Begitu besar manfaat dari padasevanam (sungkeman). Jangan sampai hanya dilakukan ketika masulub saja (saat orang tua sudah meninggal), karena saat itu orang tua sudah tidak bisa memberi karunianya lagi.

Padasevanam kepada orang tua

Kedua orang tua diupayakan duduk dikursi. Ibu disebelah kiri dan bapak disebelah kanan.

Anak duduk dihadapan orang tua dan mengucapkan mantra :

Om Guru Brahma Guru Visnuh,

Guru Devo Mahesvaram,

Guru shaksat Parambrahma,

Tasmei Shri Gurave Namaha.

Dilanjutkan anak membasuh kaki kedua orang tuanya. Dimulai dari membasuh kaki ibunya lalu mencium kaki ibunya sambil si anak dalam hati mengucapkan doa atau permohonan maaf kepada ibunya atas semua kesalahannya selama ini, tangan ibu memegang pundak anak sambil mengucapkan harapan kepada anaknya.

Doa atau mantra yang bisa diucapkan anak saat mencium kaki ibunya adalah :

“Om Namane Smaranam, Om Padame Sharanam”

Artinya “Om Hyang Widhi semoga hamba selalu ingat kepada orang tua hamba dan semoga hamba selalu bisa bersujud di kaki kedua orang tua hamba”. Doa juga bisa dengan bahasa anak sendiri.

Harapan yang diucapkan orang tua kepada anak bisa dengan mantra:

“Om sarvesam swasti bhawantu,

Om sarvesam santih bhawantu,

Om sarvesam sukham bhawantu,

Om sarvesam suputram bhawantu,

Om sarvesam sadhunam bhawantu,

Om sarvesam gunawan bhawantu,

Om sarvesam purnam bhawantu”

Artinya:

Om Hyang Widhi limpahkanlah keselamatan, kedamaian, kebahagiaan, semoga menjadi anak yang suputra, putra yang baik hati, putra yang bermanfaat, anugerahkanlah kesempurnaan kepada anak-anak hamba.  

Mengapa ibu harus dibasuh lebih dahulu dari pada bapak? Karena sang ibu menanggung kewajiban yang sangat berat. Begini disebutkan dalam Sarasamuscaya:

"Apan lwih temen bwating ibu, sangkeng bwating lemah, kativangana, tar bari-barin kalinganya aruhur temen sang bapa sangke langit"

Artinya:

(Sebab jauh lebih berat kewajiban ibu daripada beratnya bumi, karenanya patut dihormati beliau dengan sungguh-sungguh, tanpa ragu-ragu demikian pula lebih tinggi penghormatan kepada bapa daripada tingginya langit). Tiada lain lagi hanya dengan setia bhakti hormat terhadap ibu, membuat ibu senang dan puas hatinya (ikang bhakti makawwitan, paritusta sang rawitnya).

Kemudian dilanjutkan dengan membasuh kaki bapaknya dengan proses yang sama saat membasuh kaki ibunya.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...