Beranda

Sabtu, 28 September 2024

Tapa Brata Yoga sebagai upaya mematangkan diri dalam mensenyawakan diri dengan alam

 Tapa

 Yaduram yaduraradhyam

Yacca dure vyavasthitam

Tat-sarvam tapasa sadhyam

Tapo hi duratikramam

(Canakya Niti Darpana 17.3)

 

Terjemahan:

Yang sangat jauh, yang melalui pemujaan pun sangat sulit dicapai, yang berada di ketinggian maha tinggi, semua itu dapat dicapai melalui pertapaan. Karena tapa itu mempunyai kekuatan yang sangat hebat.

 

Brata

Dalam Yajurveda XIX.30 dinyatakan:

 vratena dīkāmāpnoti dīkayāpnoti dakiām,

dakiā śraddhāmāpnoti śraddhayā satyamāpyate

 

Terjemahan:

Dengan melakukan pantangan (vratenamaka akan mendapatkan penyucian (Diksa), dengan penyucian akan mendapatkan kehormatan (Daksina), dengan kehormatan akan mendapatkan keteguhan (Sraddha), dan dengan keteguhan akan mendapatkan kebenaran (satya) yang sejati.

 Kata vratena berasal dari kata vrata yang artinya pengekangan, ketaatan. Berarti pula vrata sama artinya dengan brata.

 

Yoga

Yoga berasal dari bahasa Sanskerta “yuj”, yaitu menghubungkan atau hubungan yang harmoni. Yoga adalah upaya menghubungkan, menyatukan, atau mensenyawakan diri dengan alam semesta.   

 Kita sering mendapatkan kata tapa yang biasanya disusul oleh kata brata, dan yoga. Kata-kata tersebut memang saling terkait dan tidak terpisahkan. Kata “tapa” berasal dari bahasa Sansekerta “tap” yang artinya membakar, memanaskan, membuat disiplin. Tapa berarti memanaskan diri melalui praktik-praktik disiplin ke dalam diri demi pematangan fisik, mental, dan spiritual. Jadi didalam “tapa” sudah pasti ada unsur “brata” yaitu pengekangan atau ketaatan sebagai bentuk disiplin diri.

Sesuai yang dijelaskan dalam Canakya Niti Darpana “tapo hi duratikramam” bahwa “tapa” mempunyai kekuatan yang hebat baik secara fisik, mental, dan spiritual; artinya kekuatan tapa ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Bermanfaat dalam menyehatkan diri secara fisik, mengembangkan mental maupun spiritual kita.

“Sarvam tapasa sadhyam”, segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Urusan-urusan yang sepertinya sudag tidak mungkin dapat diselesaikan melalui tapa.

Bentuk-bentuk disipilin tapa brata yang dapat kita lakukan sebenarnya sudah terkonsepkan dalam rangkaian-rangkaian berbagai hari suci Hindu. Ada Catur Brata Penyepian saat Hari Raya Nyepi. Ada berbagai rangkaian sadhana saat menyambut Hari Raya Galungan mulai dari sugihan jawa hingga penampahan. Ada jagra, monabrata dan japa saat Hari Raya Siwaratri.

Mari kita menelisik lebih dalam tentang tapa brata di Hari Raya Siwaratri. “Jagra” yaitu menjaga kesadaran diri yang dilatih dengan cara tidak tidur dalam jangka waktu tertentu. Saat melakukan sadhana ini tidak sekedar menjaga kesadaran agar tidak tidur dengan melakukan aktivitas duniawi semata apalagi yang mengarah kepada kesenangan belaka. Namun saat menjaga kesadaran dengan tidak tidur inilah kita harus berlatih untuk menyadari segala sesuatu yang terjadi dalam diri kita, menyadari segala rasa yang muncul dalam diri sendiri, menyadari segala sensasi yang terjadi dalam diri baik fisik maupun mental. Dan diharapkan dari seringnya melakukan latihan menjaga kesadaran tidak tidur inilah kita menjadi terlatih dalam menjaga kesadaran diri dalam dimensi yang lebih tinggi, dalam ruang kesadaran yang lebih dalam. Kita akan terlatih dalam hal “sadar”; sadar dengan perilaku kita, sadar bahwa itu baik perlu dilakukan atau tidak baik jadi tidak perlu dilakukan, sadar bahwa itu akan menyenangkan atau membahagiakan orang lain atau justru akan menyakiti orang lain, sadar bahwa kita mungkin telah melakukan kesalahan dan saatnya memperbaiki diri, sadar kita perlu bicara itu atau tidak, sadar bahwa kita harus bersikap bagaimana, maupun sadar dengan berbagai hal lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Survei membuktikan kebanyakan orang tidak pernah melakukan latihan menjaga kesadaran dengan tidak tidur ini, atau justru meremehkan sadhana ini. Dan bila memang tidak pernah mempraktekkan maka tidak akan menemukan kebenarannya dari latihan ini. Karena kebenaran dari tapa brata hanya akan didapatkan dari “laku” yaitu mempraktekkannya dengan disiplin diri yang tinggi.  

“Monabrata” artinya adalah berpantang terhadap kata-kata, atau tidak berkata-kata samasekali untuk jangka waktu tertentu. Memang sangat sulit untuk mempraktekkannya, namun bisa dilatih dari level yang mudah yaitu mengurangi untuk berkata-kata, atau hanya berkata seperlunya saja. Ini akan melatih diri untuk memiliki pengendalian diri dalam berkata-kata. Kekuatan dalam berkata yang kita kendalikan melalui latihan disiplin “monabrata” maka hasilnya adalah diri kita memiliki kekuatan berkata yang lebih baik atau bahkan luar biasa. Kata-kata yang kita katakan menjadi penuh power dirasakan oleh orang lain. Sehingga sangat mungkin disegani atau dituruti atau dipatuhi atau ditaati oleh orang lain.

Dalam konsep Tantra bila kita sering melatih pertapaan indriya kita maka lambat laun indriya kita akan memiliki kekuatan yang sangat berkembang, dan monabrata adalah bentuk pertapaan indriya kita dalam hal mengembangkan pengendalian, kemampuan dan kekuatan ucapan. Bahkan pada level tertentu kata-kata kita menjadi “siddhi”. Kita akan terlatih mengendalikan ucapan, menjadi tahu apakah kita perlu bicara atau tidak, ucapan kita pantas atau tidak, menjadi sangat berhati-hati dalam berucap, dan lain-lain.

Japa adalah bentuk sadhana dengan cara melantunkan mantra secara berulang-ulang. Bisa menggunakan hitungan atau pun tidak menggunakan hitungan sesuai kepuasan diri. Dalam hal ini kita berupaya bisa bersenyawa dengan mantra itu sendiri. Kita niatkan sepenuh hati bahwa kita adalah mantra itu sendiri. Pengalaman penulis cara untuk bisa bersenyawa dengan mantra itu sendiri adalah mulut bertugas mengucapkan mantra, telinga bertugas mendengarkan lantunan mantra yang diucapkan oleh mulut, dan pikiran bertugas mengamati sekaligus merasakan sensasi apapun yang timbul dari proses melantunkan mantra. Jadi pikiran tidak perlu membayangkan figur atau bentuk apapun saat melantunkan mantra. Saat pikiran membayangkan figur atau bentuk tertentu maka proses konsentrasi menjadi mengarah keluar diri, dan ini sangat tidak stabil. Namun jika pikiran dialihkan hanya bertugas merasakan segala bentuk sensasi dalam diri maka proses konsentrasi menjadi mengarah ke dalam diri, dan ada sebuah kestabilan proses. Saat kita terlatih mampu bersenyawa dengan mantra yang kita lantunkan maka kita pun akan terlatih mampu bersenyawa dengan setiap ucapan kita. Kita menjadi memiliki suatu tingkat pengendalian dalam ucapan, tingkat kekuatan dalam ucapan, tingkat kesadaran dalam ucapan. Menjadi tahu kata-kata yang perlu atau pun yang tidak perlu diucapkan kepada orang lain. Sehingga kita terhindar dari ucapan diri yang menghina, merendahkan, meremehkan, menyudutkan, dan lain-lain. Ucapan kita yang memiliki suatu kekuatan bisa kita manfaatkan untuk membuat orang lain bahagia. Atau bahkan menetralisir rasa kebencian orang lain terhadap diri kita dengan teknik tertentu hanya dengan ucapan dalam kondisi meditatif. Dan hal ini sudah pernah penulis buktikan. Beberapa sahabat penulis juga sudah pernah membuktikannya dengan panduan penulis.          

Jagra, monabrata dan japa sangat bagus jika disertai dengan pelaksanaan upawasa yaitu berpantang terhadap makan dan minum. Upawasa ini sangat bagus juga sebagai tahapan awal untuk melatih kemampuan pengendalian diri . Secara logika, jika terhadap nafsu makan dan minum saja tidak mampu mengendalikan maka terhadap berbagai rasa lainnya akan sangat sulit untuk mengendalikan, misalnya marah, benci, emosi, dan lain-lain. Pun juga upawasa akan berdampak pada fisik yang lebih sehat karena saat upawasa berlangsung maka saat itu ada proses pembersihan berbagai residu dalam semua bagian tubuh fisik. Dalam hal berpantang terhadap makan dan minum bisa dilakukan dari tingkat yang paling mudah dengan mengurangi porsi makanan hingga tidak makan dan minum samasekali dalam suatu periode waktu tertentu. Saat melakukan upawasa maka pikiran harus terhindar dari pemikiran tentang makan sehingga tidak akan ada rasa lapar dalam perut.     

Penulis pernah membimbing sekelompok generasi muda dalam melakukan “jagra, monabrata dan japa” saat Hari Raya Siwaratri di sebuah pura. Saat “jagra dan monabrata” peserta boleh jalan ke berbagai sudut area atau pun diam saja di tempat. Saat mata melihat sesuatu maka diupayakan tidak banyak menganalisa apa yang dilihatnya, atau kalau mampu diupayakan tidak menganalisanya samasekali, cukup sekedar melihat dan tidak perlu menganalisa. Begitu pula dengan telinga saat mendengar sesuatu maka diupayakan cukup sekedar mendengar saja dan tidak perlu menganalisanya di dalam pikiran. Begitu pula dengan indriya-indriya lainnya. Pengalaman peserta sangat beragam, ada yang merasa biasa-biasa saja, ada yang merasa dalam kondisi aneh, ada yang merasa menjadi “plong” alias tanpa beban menjadi sangat ringan dan itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah itu baru melakukan japa. Selesai melakukan itu, mereka semua merasa dirinya lebih ringan, lebih segar, lebih berenergi.

Bila kita terlatih dalam praktek bentuk-bentuk tapa brata maka dalam hal spiritual kita akan terlatih dalam bersenyawa dengan sisi-sisi kehidupan. Inilah Yoga yaitu persatuan dengan isi alam semesta. Rasa cinta kasih, empati, kemanusiaan kita menjadi berkembang. Melihat penderitaan maupun kesedihan orang lain kita juga merasakan itu. Kekurangan dan kelemahan orang lain juga kita rasakan. Pun juga kebahagiaan orang lain juga kita rasakan. Bukan hanya dengan sesama manusia, dengan makhluk lain atau benda lain pun kita menjadi perasa. Kita merasakan sebuah persatuan dengan yang lainnya. 

Selasa, 24 September 2024

1 Agustus 2023…..Penampahan Galungan bertepatan dengan Purnama

 

    Penampahan sejatinya adalah sebuah upaya diri untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam diri (mohon maaf penulis tidak setuju sifat-sifat buruk itu diasumsikan sebagai sifat binatang karena binatang pun banyak yang memiliki sifat-sifat yang baik yang justru harus ditiru manusia). Jadi dengan dasar pengertian diatas maka upaya itu hanya akan berhasil dengan laku spiritual, bukan ritual. Bagaimana mungkin sifat-sifat buruk bisa dihilangkan dengan ritual? Kalau memang bisa, harusnya semua umat sudah menjadi pribadi yang sangat baik semua, namun ternyata tidak. Konsep berpikir kita seharusnya bijaksana juga disertai logika. Bagaimana mungkin momen tradisi yang dipahami sebagai upaya memotong sifat-sifat buruk dalam diri justru dilaksanakan dengan memotong atau menyembelih binatang sungguhan?

    Yoga adalah sebuah solusi, karena yoga didasarkan pada upaya-upaya yang mengarah kepada pengendalian diri seperti yang dikonsepkan dalam Astangga Yoga. Bila setiap pribadi memiliki kemampuan pengendalian diri yang kuat, maka dia pun akan mampu mengendalikan setiap sifat-sifat buruk agar tidak menguasai dirinya. Harusnya kita semua menyadari tentang hal ini. Sebuah konsep pengetahuan yang telah berlangsung ratusan tahun bukan tidak mungkin untuk saat ini tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya atau dapat dikatakan sudah melenceng karena kwalitas manusia setiap jaman yang berbeda-beda. Dan sekarang saatnya kita menelaah dalam-dalam dan mengembalikan prinsip kebenarannya jika memang ada yang melenceng. Karena jika memang dilakukan secara melenceng dari prinsip kebenarannya maka akan menimbulkan kekacauan dalam pikiran yang disebut Byaparaning Idep.

Dan sastra memperkuat konsep berpikir diatas, seperti yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama:

"Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep"

Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani dengan samadhi supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

“Samadhi” yang disebutkan lontar Sundarigama tersebut adalah salah satu tahapan dari Astangga Yoga.

    Dan momen Penampahan rangkaian dari Galungan yang akan datang akan bersamaan dengan momen Purnama. Purnama adalah disaat bulan terlihat paling bulat dalam sebulan oleh karena itu terlihat juga paling terang. Apa yang terjadi dengan Bumi saat bulan purnama? Salah satu fenomena yang terjadi adalah naiknya permukaan air laut. Ini menjadi bukti bahwa saat Purnama ada energi yang besar, dan salah satunya energi magnetik atau daya tarik bulan terhadap benda-benda di Bumi. Penulis yakin saat Purnama ada energi-energi lain yang terbentuk yang bisa berdampak pada kehidupan di Bumi. Kalau kita lihat, banyak tradisi-tradisi manusia di Bumi yang dilakukan saat Purnama tiba. Mengapa? Agar tujuan mereka bisa tercapai. Ini berarti secara tersirat sebenarnya sejak dahulu masyarakat sudah mengetahui bahwa saat bulan Purnama ada energi yang besar yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Dan upaya manusia pada hari itu untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya melalui berbagai bentuk sadhana spiritual akan diperkuat oleh energi yang terbentuk di Bumi dari Purnama yang sedang berlangsung. Sangat mungkin kemampuan manusia disaat itu berlipat ganda dalam mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya.

    Jadi Penampahan yang bersamaan dengan Purnama dari sisi spiritual sungguh suatu kesempatan. Jika ada yang justru bingung karena hal itu maka ada yang kurang bijak dalam konsep berpikirnya.

 Aguswi

VrilSociety

Archangel     

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...