Penampahan sejatinya adalah sebuah upaya diri untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam diri (mohon maaf penulis tidak setuju sifat-sifat buruk itu diasumsikan sebagai sifat binatang karena binatang pun banyak yang memiliki sifat-sifat yang baik yang justru harus ditiru manusia). Jadi dengan dasar pengertian diatas maka upaya itu hanya akan berhasil dengan laku spiritual, bukan ritual. Bagaimana mungkin sifat-sifat buruk bisa dihilangkan dengan ritual? Kalau memang bisa, harusnya semua umat sudah menjadi pribadi yang sangat baik semua, namun ternyata tidak. Konsep berpikir kita seharusnya bijaksana juga disertai logika. Bagaimana mungkin momen tradisi yang dipahami sebagai upaya memotong sifat-sifat buruk dalam diri justru dilaksanakan dengan memotong atau menyembelih binatang sungguhan?
Yoga
adalah sebuah solusi, karena yoga didasarkan pada upaya-upaya yang mengarah
kepada pengendalian diri seperti yang dikonsepkan dalam Astangga Yoga. Bila setiap
pribadi memiliki kemampuan pengendalian diri yang kuat, maka dia pun akan mampu
mengendalikan setiap sifat-sifat buruk agar tidak menguasai dirinya. Harusnya
kita semua menyadari tentang hal ini. Sebuah konsep pengetahuan yang telah
berlangsung ratusan tahun bukan tidak mungkin untuk saat ini tidak lagi
berjalan sebagaimana mestinya atau dapat dikatakan sudah melenceng karena
kwalitas manusia setiap jaman yang berbeda-beda. Dan sekarang saatnya kita
menelaah dalam-dalam dan mengembalikan prinsip kebenarannya jika memang ada
yang melenceng. Karena jika memang dilakukan secara melenceng dari prinsip
kebenarannya maka akan menimbulkan kekacauan dalam pikiran yang disebut
Byaparaning Idep.
Dan
sastra memperkuat konsep berpikir diatas, seperti yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama:
"Budha Kliwon
Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang
maryakena sarwa byaparaning idep"
Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani dengan samadhi supaya mendapatkan pandangan
yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
“Samadhi” yang disebutkan lontar Sundarigama tersebut adalah salah satu tahapan dari Astangga Yoga.
Dan momen Penampahan rangkaian dari Galungan yang akan datang akan bersamaan dengan momen Purnama. Purnama adalah disaat bulan terlihat paling bulat dalam sebulan oleh karena itu terlihat juga paling terang. Apa yang terjadi dengan Bumi saat bulan purnama? Salah satu fenomena yang terjadi adalah naiknya permukaan air laut. Ini menjadi bukti bahwa saat Purnama ada energi yang besar, dan salah satunya energi magnetik atau daya tarik bulan terhadap benda-benda di Bumi. Penulis yakin saat Purnama ada energi-energi lain yang terbentuk yang bisa berdampak pada kehidupan di Bumi. Kalau kita lihat, banyak tradisi-tradisi manusia di Bumi yang dilakukan saat Purnama tiba. Mengapa? Agar tujuan mereka bisa tercapai. Ini berarti secara tersirat sebenarnya sejak dahulu masyarakat sudah mengetahui bahwa saat bulan Purnama ada energi yang besar yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Dan upaya manusia pada hari itu untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya melalui berbagai bentuk sadhana spiritual akan diperkuat oleh energi yang terbentuk di Bumi dari Purnama yang sedang berlangsung. Sangat mungkin kemampuan manusia disaat itu berlipat ganda dalam mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya.
Jadi
Penampahan yang bersamaan dengan Purnama dari sisi spiritual sungguh suatu
kesempatan. Jika ada yang justru bingung karena hal itu maka ada yang kurang
bijak dalam konsep berpikirnya.
VrilSociety
Archangel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar