Beranda

Tampilkan postingan dengan label galungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label galungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2024

1 Agustus 2023…..Penampahan Galungan bertepatan dengan Purnama

 

    Penampahan sejatinya adalah sebuah upaya diri untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam diri (mohon maaf penulis tidak setuju sifat-sifat buruk itu diasumsikan sebagai sifat binatang karena binatang pun banyak yang memiliki sifat-sifat yang baik yang justru harus ditiru manusia). Jadi dengan dasar pengertian diatas maka upaya itu hanya akan berhasil dengan laku spiritual, bukan ritual. Bagaimana mungkin sifat-sifat buruk bisa dihilangkan dengan ritual? Kalau memang bisa, harusnya semua umat sudah menjadi pribadi yang sangat baik semua, namun ternyata tidak. Konsep berpikir kita seharusnya bijaksana juga disertai logika. Bagaimana mungkin momen tradisi yang dipahami sebagai upaya memotong sifat-sifat buruk dalam diri justru dilaksanakan dengan memotong atau menyembelih binatang sungguhan?

    Yoga adalah sebuah solusi, karena yoga didasarkan pada upaya-upaya yang mengarah kepada pengendalian diri seperti yang dikonsepkan dalam Astangga Yoga. Bila setiap pribadi memiliki kemampuan pengendalian diri yang kuat, maka dia pun akan mampu mengendalikan setiap sifat-sifat buruk agar tidak menguasai dirinya. Harusnya kita semua menyadari tentang hal ini. Sebuah konsep pengetahuan yang telah berlangsung ratusan tahun bukan tidak mungkin untuk saat ini tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya atau dapat dikatakan sudah melenceng karena kwalitas manusia setiap jaman yang berbeda-beda. Dan sekarang saatnya kita menelaah dalam-dalam dan mengembalikan prinsip kebenarannya jika memang ada yang melenceng. Karena jika memang dilakukan secara melenceng dari prinsip kebenarannya maka akan menimbulkan kekacauan dalam pikiran yang disebut Byaparaning Idep.

Dan sastra memperkuat konsep berpikir diatas, seperti yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama:

"Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep"

Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani dengan samadhi supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

“Samadhi” yang disebutkan lontar Sundarigama tersebut adalah salah satu tahapan dari Astangga Yoga.

    Dan momen Penampahan rangkaian dari Galungan yang akan datang akan bersamaan dengan momen Purnama. Purnama adalah disaat bulan terlihat paling bulat dalam sebulan oleh karena itu terlihat juga paling terang. Apa yang terjadi dengan Bumi saat bulan purnama? Salah satu fenomena yang terjadi adalah naiknya permukaan air laut. Ini menjadi bukti bahwa saat Purnama ada energi yang besar, dan salah satunya energi magnetik atau daya tarik bulan terhadap benda-benda di Bumi. Penulis yakin saat Purnama ada energi-energi lain yang terbentuk yang bisa berdampak pada kehidupan di Bumi. Kalau kita lihat, banyak tradisi-tradisi manusia di Bumi yang dilakukan saat Purnama tiba. Mengapa? Agar tujuan mereka bisa tercapai. Ini berarti secara tersirat sebenarnya sejak dahulu masyarakat sudah mengetahui bahwa saat bulan Purnama ada energi yang besar yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Dan upaya manusia pada hari itu untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya melalui berbagai bentuk sadhana spiritual akan diperkuat oleh energi yang terbentuk di Bumi dari Purnama yang sedang berlangsung. Sangat mungkin kemampuan manusia disaat itu berlipat ganda dalam mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya.

    Jadi Penampahan yang bersamaan dengan Purnama dari sisi spiritual sungguh suatu kesempatan. Jika ada yang justru bingung karena hal itu maka ada yang kurang bijak dalam konsep berpikirnya.

 Aguswi

VrilSociety

Archangel     

Selasa, 03 Januari 2023

Byaparaning Idep – Kekacauan Pikiran

 

Kebanyakan umat terbiasa dengan pemahaman bahwa merayakan Galungan adalah merayakan kemenangan dharma terhadap adharma. Ketika mereka ikut serta dalam ritual-ritual tahapan Galungan lalu mereka mengatakan sedang merayakan Galungan, yang artinya mereka merayakan kemenangan dharma terhadap adharma. Tanpa mengetahui esensi mendalam dari Galungan itu seperti apa. Ritualistik......sebatas itulah kebanyakan umat memahaminya. Melakukan persembahyangan di tempat-tempat suci dengan berbagai jenis sesaji/banten sebagai bentuk bahwa mereka merayakan Galungan. Sungguh sangat dangkal sekali. Dharma adalah bagian dari Sang Hidup Yang Sejati, bagian dari Sang Urip dalam diri ini. Benarkah itu bisa disentuh dengan ritual semata? Pikirkan hal itu!

Lontar Sundarigama menyebutkan:

"Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep"

Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani (dengan samadhi) supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

 

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani dengan samadhi agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Sama sekali tidak tersirat hanya berbau ritual semata. Pencerahan rohani inilah dharma dan byaparaning idep (kekacauan pikiran) inilah wujud adharma. Laku ritual harus diimbangi dengan laku spiritual, ritual tidak bisa berjalan sendirian karena akan bisa menyesatkan pikiran, yang justru akan menimbulkan byaparaning idep (kekacauan pikiran). Dan rentetannya, pikiran yang kacau akan menimbulkan perkataan dan perbuatan yang melenceng dari dharma itu sendiri.

Melalui momen Galungan inilah kita harus mengendalikan gelombang-gelombang pikiran yang sangat mungkin bisa menyebabkan byaparaning idep (kekacauan pikiran) dengan sadhana spiritual (latihan/laku spiritual) seperti (1) upawasa (berpantang terhadap makan dan minum), bukan dengan sebaliknya yang justru sibuk dengan memasak makanan khas dengan dalih untuk makan bersama; (2) tapa brata (laku pengendalian diri), segala prilaku selalu dalam kontrol dharma, semua indriya-indriya selalu dalam kendali, tidak mengumbar kata-kata, tidak membiarkan pandangan menjadi liar, menjaga pendengaran, dan sebagainya; (3) japa (menyebut nama suci Tuhan berulang-ulang), mengucapkan lalu meresapi dalam-dalam nama suci Ista Dewata pujaan kita sehingga nama suci itu selalu bergema dalam jiwa kita; (4) dhyana-samadhi (memusatkan pikiran kepada Sang Hidup dalam Diri dan merasakan Sang Hidup itu sendiri sebagai bagian dalam Diri). Dalam konsep Astangga Yoga, dhyana-samadhi ini adalah tahapan tertinggi dalam laku spiritual yang memang tidak mudah untuk dilakukan namun juga tidak sulit bagi yang sudah terlatih. Berawal dari konsep dhyana-samadhi inilah lalu dahulu kala para leluhur Jawa melahirkan pengajaran Manunggaling Kawula Gusti.

Dalam lontar juga disebutkan pangastawaning sang ngamong yoga samadhi artinya mereka yang paham tentang yoga dan samadhi, melakukan pemujaan. Kata yoga samadhi yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama ini juga menjadi sebuah kata kunci yang harus kita pertimbangkan bahwa Galungan bukan ritualistik belaka , namun lebih dari itu Galungan adalah momen menempa Diri yang bisa dilakukan dengan yoga samadhi agar hidup kita benar-benar bersenyawa dengan dharma itu sendiri dan melepaskan ikatan adharma dari senyawa hidup dalam Diri.   

Lebih jauh tentang Yoga, Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra menjelaskan "yogas citta vrtti nirodhah" artinya yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Mengapa harus dikendalikan? Karena gelombang-gelombang pikiran jika tidak dikendalikan akan menyebabkan byaparaning idep (kekacauan pikiran). Seperti halnya gelombang laut yang dahsyat yang berpotensi menghancurkan pantainya, begitu pula gelombang-gelombang pikiran itu akan menyebabkan abrasi (pengikisan) bahkan penghancuran terhadap benteng dharma dalam diri. Karena itulah harus dikendalikan agar tidak berpengaruh buruk dalam diri dan dharma tetap bisa dipertahankan.

Byaparaning idep...misalnya saja adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri. Memurnikan kembali pikiran dari sifat-sifat kebinatangan bisa dilakukan dengan berbagai laku/sadhana spiritual seperti disebutkan di atas. Tradisi Galungan yang diwarnai dengan menyembelih binatang secara nyata (misalnya celeng), lalu diyakini sebagai simbol atau upaya memotong sifat-sifat kebinatangan dalam diri adalah keyakinan yang justru menjerumuskan pikiran ke dalam kondisi byaparaning idep, disadari atau tidak disadari. Secara logika, tidak ada kaitannya antara Galungan dengan menyembelih binatang (misalnya celeng), lalu dikatakan itu sebagai sebuah upaya atau simbol memotong sifat hewani dalam diri. Justru inilah byaparaning idep (kekacauan pikiran) yang seharusnya dikendalikan dalam momen Galungan ini. Dan mereka yang tidak bisa mengendalikan gelombang-gelombang pikirannya yang menyebabkan byaparaning idep, maka jangan berani menyebut bahwa anda merayakan Galungan.

Jadi Galungan sebenarnya adalah momen menempa Diri ini secara rohani melalui laku-laku rohani, bukan momen yang justru ritualistik belaka.

Dharma itu hanya bisa didapatkan dengan kemurnian diri, bukan dengan nafsu atau keinginan indriawi semata. 

Dharma tidak bisa merasuk dalam diri bila pikiran kita masih dipenuhi dengan kekacauan (byaparaning idep)

Dharma tidak bisa didapatkan dengan ritual semata. 

Dharma tidak bisa disentuh dengan menyakiti/membunuh makhluk lain.

Dharma hanya bisa dirasakan dengan cinta kasih.

Jadikan Dharma sebagai senyawa dalam hidupmu.

 

By Aguswi

 

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...