Dua Buddha
Buddha Sakya Simha dan Buddha
Avatara Visnu
(edisi terjemahan)
Dapat ditelusuri di dalam berbagai sastra Purana
bahwa Mayavadisme mengacu kepada Buddhisme. Oleh karena itu, dalam konteks ini
perlu dibahas Buddhisme secara singkat. filsafat atau pandangan Sri Buddha
adalah Buddhisme. Oleh karena itu, sangat penting bagi para pembaca untuk
mengetahui fakta-fakta kitab suci tentang Sang Buddha, yang dinyatakan oleh
kitab suci sebagai salah satu dari sepuluh inkarnasi (avatära) Visnu. Hal ini
dijelaskan dalam uraian Gita Govinda oleh Srila Jayadeva Gosvami:
vedan uddharate jaganti vahate bhugolam udbibhrate
daityam darayate balim chalayate ksatra ksayam kurvate
paulastyam jayate halam kalayate karunyam atanvate
mlecchan murccayate dasaktikrte krsnaya tubhyam namah
Terjemahan:
Oh Kṛṣṇa, Dia yang merupakan
sepuluh inkarnasi! Aku bersujud kepada-Mu karena telah menyelamatkan kitab suci
Veda saat inkarnasi sebagai Matsya; Engkau yang menyelamatkan alam semesta saat
inkarnasi sebagai Kurma dan mengangkat dunia saat inkarnasi sebagai Varaha, wujud
Babi Hutan; sebagai Narasimha Engkau menaklukkan Hiranyakasipu; sebagai Vamana Engkau
memperdaya Maharaja Bali; sebagai Parasurama Engkau memusnahkan para kesatriya
jahat; sebagai Rama Engkau membunuh Ravana; sebagai Balarama Engkau mengangkat bajak;
sebagai Buddha Engkau menganugerahkan cinta kasih, dan sebagai Kalki Engkau membunuh
para Mleccha.
Dalam
Dasa Avatara Strotram, Srila Jayadeva menulis syair yang ke sembilan:
nindasi yajna vidherahaha srutijatam
sadaya hrdaya darsita pasughatam
kesava dhrta buddha sarira
jaya jagadisa hare jaya jagadisa hare
Oh Kesava! Engkau mengambil
wujud Sang Buddha yang penuh dengan cinta kasih dan menghentikan pembantaian
hewan yang dilarang keras dalam Veda.
Jika Sang Buddha ini adalah inkarnasi dari Dewa
Visnu, maka uraian Sri Sankaracarya tentang Sang Buddha memerlukan elaborasi
dan analisis lebih lanjut. Menjadi penting untuk meneliti hal ini jika ajaran filsafat
Sri Sankaracarya disebut sebagai penyajian lain dari ajaran Buddha. Penilaian
Sri Sankaracarya terhadap Buddha tampak tidak jelas, karena ia ingin kita
percaya bahwa Buddha Sakya Simha dan Sang Buddha yang dipuja oleh para Vaisnava
adalah satu dan kepribadian yang sama. Akan tetapi, ini jauh dari kebenaran.
Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura mengungkapkan bahwa Buddha Sakya Simha
hanyalah seorang manusia yang sangat cerdas, orang yang sangat terpelajar yang
telah mencapai beberapa realisasi batin. Jadi dengan menyatakan Buddha Sakya Simha
sebagai Sang Buddha atau dengan menyamakannya dengan inkarnasi Dewa Visnu, Sri
Sankaracarya memberikan bukti tentang rasa hormat dan dedikasi yang diam-diam
ia pupuk dalam dirinya untuk Buddha Sakya Simha.
Seseorang
bisa saja bertanya pada hal ini, dalam konteks apa Sri Sankaracarya berpandangan
bahwa Buddha Sakya Simha (juga dikenal sebagai Buddha Gautama atau Buddha
Sidharta Gautama) dan Avatara Buddha adalah pribadi yang sama? Sebagai
tanggapan, mohon dengan hormat kepada para pembaca yang terpelajar untuk
meneliti komentar-komentar Sri Sankaracarya. Dalam komentarnya terhadap
Brahma-Sutra, kata ‘sugatena’ merujuk
kepada Buddha Gautama, putra Suddhodana dan Mayadevi, dan bukan kepada Buddha
inkarnasi Visnu yang asli. Ketika membahas filsafat Buddha, Sri Sankaracarya
menyebutkan namanya dalam komentarnya: ‘sarvatha
api anadarniya ayam sugata-samayah sreyaskamaih iti abhiprayah’ - Dalam pernyataan
ini kata ‘sugata’ kembali merujuk
kepada Buddha Gautama, putra Mayadevi. Kata ‘samayah’
menunjukkan kesimpulan filosofis (siddhanta) yaitu siddhanta dari Buddha
Gautama. Akan tetapi, memang benar bahwa nama lain dari Buddha Avatara Visnu adalah
Sugata, sehingga Sankaracarya secara keliru menyisipkan Buddha Sakya Simha
seolah-olah ia adalah Buddha Avatara Visnu. Penggunaan nama Sugata-Buddha untuk
Buddha Avatara Visnu sudah ada dalam kitab suci Buddha. Hal ini dibuktikan
dalam buku ‘Amarakosa’, sebuah risalah yang sangat kuno yang ditulis oleh
seorang penganut paham nihilisme dan ateis terkenal yaitu Amara Simha.
Dipercaya bahwa Amara Simha lahir sekitar 150 tahun sebelum kelahiran
Sankaracarya. Amara Simha adalah putra seorang brahmana Sabara Svami, yang
menjadi ayah dari sejumlah anak dari ibu yang berbeda dari kasta yang berbeda. Syair
kuno tentang Amara Simha ini terkenal dikalangan terpelajar dahulu kala:
brahmanyam abhavad varaha mihiro jyotirvidam agranih
raja bhartrharis ca vikramanrpah ksatratratmajayam abhut
vaisyayam haricandra vaidya tilako jatas ca sankuh krti
sudrayam amarah sadeva sabara svami dvija sya atmajah
Varaha
Mihira, yang terkemuka diantara astrolog terhebat, lahir dari rahim seorang
wanita brahmana. Raja Vikrama dan Raja Bhartrhari lahir dari ibu ksatriya. Dari
seorang ibu vaisya lahirlah Haricandra, seorang vaidya tilaka – seorang ahli Ayurveda
dan Sanku yang sangat baik; dan dari ibu pelayan (sudra) lahirlah Amara Simha.
Enam orang ini ayahnya adalah brahmana Sabara Svami.
Kitab Amarakosa
Berkisah Tentang Dua Buddha
Amara
Simha adalah penulis banyak buku tentang Buddhisme. Secara kebetulan, semua
buku ini dimiliki oleh Sri Sankaracarya, yang kemudian hanya menyimpan Kitab
Amarakosa dan membakar semua buku lainnya. Syair-syair berikut tentang Buddha
ditemukan dalam Kitab Amarakosa.
sarvajnah sugato buddho dharmarajas tathagatah
samanta bhadro bhagavan marajil lokajij jinah
sadabhijno dasabalo dvayavadi vinayakah
munindra srighanah sasta munih
Ketahuilah, Buddha yang
transendental, raja kebenaran, Dia yang telah datang, dermawan, Tuhan yang
meliputi segalanya, penakluk dewa Cinta Mara, penakluk dunia, Dia yang
mengendalikan indriyanya, pelindung dari enam musuh, pemilik sepuluh kekuatan,
pembicara paham monisme, pemimpin utama, penguasa para petapa, perwujudan
kemegahan dan guru para petapa.
Syair
di atas berisi belasan nama Buddha Awatara Visnu termasuk nama Sugato, dan
syair dibawah ini berisi nama Buddha Sakya Simha tanpa menyebutkan Sugato.
sakyamunis tu yah sa sakyasimhah sarvarthasiddha
sauddhodanis ca sah
gautamas carkabandhus ca mayadevi sutas ca sah
Terjemahan:
Guru para Sakya, singa
para Sakya, penyempurna semua tujuan, putra Suddhodana, dari garis keturunan
Gautama, sahabat dia yang terperangkap, putra Mayadevi.
Dalam
syair-syair ini, dimulai dengan sarvajnah
dan diakhiri dengan munih terdapat delapan
belas nama yang ditujukan kepada Sang Buddha inkarnasi Visnu yang sebenarnya.
Tujuh nama berikutnya yang dimulai dengan Sakyamunis
tu hingga Mayadevi Sutas ca
merujuk kepada Sakya Simha Buddha. Sang Buddha yang dirujuk dalam delapan belas
nama pertama dan Sang Buddha yang dirujuk dalam tujuh nama berikutnya jelas
bukan orang yang sama. Dalam komentar tentang Amarakosa oleh Sri Raghunatha
Cakravarti yang terpelajar, ia juga membagi syair-syair tersebut menjadi dua
bagian. Pada kedelapan belas nama Buddha Awatara Visnu ia menuliskan kata-kata
“astadas buddha”, yang jelas hanya
merujuk pada awatara Visnu. Selanjutnya, pada komentarnya untuk tujuh alias
Sakya Simha, ia menulis: “ete sapta sakya
bangsabatirneh buddha muni bishete”, yang berarti “tujuh nama berikutnya yang dimulai dari Sakya-munistu adalah alias dari
Buddha-muni yang lahir dalam dinasti Sakya.’
Jadi
dari syair-syair di atas dan komentarnya, memang jelas bahwa Sugata Buddha dengan
Buddha Gautama yang bijak dan ateis bukanlah orang yang sama. Jika merujuk ke kitab
Amarakosa yang diterbitkan oleh H.T. Colebrooke pada tahun 1807. Pada halaman 2
& 3 dalam buku ini, nama “Buddha” telah dijelaskan. ‘Catatan’ pada halaman
2 untuk delapan belas nama pertama, menyatakan bahwa nama-nama tersebut adalah
nama Ajina atau Buddha dan ‘Catatan’ untuk tujuh nama berikutnya menyatakan
bahwa nama-nama tersebut adalah nama lain dari Buddha Sakya Simha. Catatan kaki
yang lebih lanjut ditambahkan untuk memperjelas Buddha yang kedua, dari tujuh
nama terakhir – Catatan kaki (b) ‘pendiri agama yang diberi nama menurut
namanya’.
Colebrooke
mencantumkan nama-nama dari banyak komentar yang ia gunakan sebagai referensi
dalam kata pengantarnya. Selain komentar Raghunatha Cakravarti, ia mengambil
referensi dari dua puluh lima komentar lainnya. Dapat dikatakan dengan pasti
bahwa penyebar Bahyatmavada, Jnanatmavada, dan Sunyamavada yang merupakan tiga
pilar ateisme, adalah Buddha Gautama atau ‘Buddha Sakya Simha’. Tidak ada bukti
apa pun bahwa Sugata Buddha merupakan inkarnasi Dewa Visnu, dengan cara apa pun
terkait dengan ateisme dalam bentuk apa pun. Sakya Simha atau Buddha Siddharta,
menerima nama Gautama dari guru spiritualnya yaitu Gautama Muni, yang berasal
dari garis perguruan Kapila. Hal ini ditegaskan dalam risalah Buddha kuno
‘Sundarananda Carita’: ‘guru gotrad atah
kautsaste bhavanti sma gautamah’- yang artinya “Wahai Kautsa, karena
gurunya adalah Gautama, mereka dikenal dari garis perguruannya”
Literatur Buddha lainnya
yang mencatat dua Buddha
Selain
Amarakosa, yang sangat disukai oleh Sankaracarya, ada teks-teks Buddha terkenal
lainnya seperti Prajna-Paramita Sutra,
Astasahastrika Prajna-Paramita Sutra, Sata-sahastrika
Prajna-Paramita Sutra, Lalita Vistara, dll. Penelusuran yang tepat terhadap
teks-teks ini mengungkapkan keberadaan tiga kategori Buddha yaitu:
·
Buddha
Manusia: seperti Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha setelah mengalami
pencerahan.
·
Buddha
Bodhisattva: Tokoh-tokoh seperti Samanta Bhadraka yang lahir dalam keadaan
tercerahkan.
·
Adi
(asli) Buddha: Avatara Visnu yang mahakuasa sebagai Sang Buddha.
Amarakosa
menyatakan bahwa Sang Buddha sebagai inkarnasi Sri Visnu juga dikenal sebagai
Samanta Bhadra, sedangkan Buddha Gautama adalah manusia. Selain delapan belas
nama Buddha Visnu Avatara yang disebutkan dalam Amarakosa, banyak nama Sang Buddha
yang tercatat dalam teks-teks Buddha yang disebutkan di atas. Dalam Lalita
Vistara, Bab 21 halaman 178, dijelaskan bagaimana Buddha Gautama bermeditasi di
tempat yang sama sebagaimana Buddha yang sebelumnya.
ca dharanimunde
purvabuddhasanasthah
samartha dhanur grhitva
sunya nairatmavanaih
klesaripum nihatva
drstijalan ca bhitva
siva virajamasokam
prapsyate bodhim agryam
Terjemahan:
Orang yang duduk di
bumi suci tempat kelahiran Buddha yang sebelumnya berada adalah di jalan
kehampaan dan pelepasan keduniawian. Dengan senjatanya, busur yang kuat, ia
menaklukkan musuh-musuh kesusahan dan ilusi. Dengan demikian, dengan
kebijaksanaan ia akan mencapai keadaan yang menguntungkan dari tanpa kesedihan
dan pelepasan duniawi.
Dari
sloka ini jelas terlihat bahwa Buddha Gautama, yang menyadari potensi spiritual
tempat kelahiran Buddha yang sebelumnya, memilih untuk melakukan meditasi dan
pertapaan di sekitar tempat tersebut, di bawah pohon pipal. Nama kuno dan asli
tempat ini adalah Kikata, tetapi setelah Gautama mencapai pencerahan di sini,
tempat ini kemudian dikenal sebagai 'Buddha Gaya' (Bodhi Gaya). Bahkan hingga
saat ini, ritual pemujaan kepada Buddha sebagai dewa di Bodhi Gaya dilakukan
oleh seorang sannyasi (biksu yang telah meninggalkan keduniawian) dari 'garis Giri'
yang termasuk dalam sekte Sri Sankaracarya. Di antara para Buddha ini, yang biasa
dikenal sebagai Buddha-Gaya (yang merupakan Buddha Visnu Avatara) adalah
pendahulu Buddha Gautama. Yang dikemudian hari Buddha Gautama datang ke tempat
kelahiran Buddha-Gaya untuk berlatih meditasi. Buddha Sakya Simha Buddha
memilih tempat ini untuk mencapai pembebasan, karena ia tahu bahwa tempat ini
dipenuhi dengan kekuatan spiritual yang luar biasa.
Lankavatara
Sutra adalah kitab suci Buddha yang terkenal dan sakral. Dari uraian tentang
Buddha yang ditemukan dalam buku ini, dapat disimpulkan dengan tegas bahwa dia
bukanlah Sakya Simha atau Buddha Gautama. Di awal buku ini, kita menemukan
Rahwana, Raja Lanka, berdoa terlebih dahulu kepada Buddha inkarnasi Visnu yang
asli dan kemudian kepada Buddha yang hidup di masa yang berikutnya. Sebagian
dari doa ini direproduksi di bawah ini:
lankavatara sutram vai
purva buddha anuvarnitam
smarami purvakaih
buddhair jina-putra puraskrtaih
sutram etan nigadyante
bhagavan api bhasatam
bhavisyatyanagate kale
buddha buddha-sutas ca ye
Terjemahan:
Ravana, raja Lanka, pertama
membacakan syair ‘Totaka’, lalu menyanyikan yang berikut ini – “Saya mengingat
dalam ingatan saya kata-kata mutiara yang dikenal sebagai ‘Lankavatara-sutra’,
yang disusun dan disebarkan oleh Buddha yang sebelumnya (inkarnasi Visnu).
Putra Jina (Sang Buddha) mempersembahkan buku ini. Sang Buddha dan
putra-putranya, yang akan muncul di masa depan sebagai Bhagavan, inkarnasi
Visnu, akan terus mengajar semua orang dari buku ini.
”Putra Anjana yang
bernama Buddha berbeda dengan putra Suddhodana
Beberapa
orang mungkin menganggap bahwa ini bukan pengikut Sankaracarya, melainkan para
Vaisnava yang menunjukkan kepedulian dan penghormatan yang lebih besar kepada
Buddha, oleh karena itu, merekalah yang seharusnya juga dikenal sebagai
penganut Buddha. Dalam hal ini, menurut Linga Purana, Bhavisya Purana, dan kesembilan
inkarnasi Visnu yang disebutkan dalam Varaha Purana, Buddha yang dijelaskan di
dalamnya bukanlah pribadi yang sama dengan Buddha Gautama yang merupakan putra
Suddhodana. Para penganut Vaisnava tidak pernah menyembah Buddha yang ateis
(sunyavada) atau Buddha Gautama. Mereka hanya menyembah kesembilan inkarnasi Dewa
Visnu, Pemujaan Dewa Buddha yang terdapat dalam Srimad-Bhagavatam 10/40/22:
namo buddhaya suddhaya
daitya-danava-mohine
Oh Sang Buddha yang
agung! Aku mempersembahkan penghormatanku kepada-Mu, Yang tanpa kecacatan dan
telah muncul untuk memperdaya golongan manusia yang jahat dan ateis.
Sebelumnya
dalam Srimad-Bhagavatam 1/3/24, kedatangan Sang Buddha dijelaskan sebagaimana berikut ini:
tatah kalau sampravrtte
sammohaya sura-dvisam
buddho namnanjana-sutah
kikatesu bhavisyati
Terjemahan:
Kemudian, pada awal
Kaliyuga, Dewa akan muncul sebagai Buddha, putra Anjana, di provinsi Gaya,
hanya untuk tujuan memperdaya mereka yang iri kepada para theis yang beriman.
Buddha
yang disebutkan dalam sloka ini adalah Sang Buddha putra Anjana yang juga
dikenal oleh sebagian orang sebagai 'putra Ajina'. Svami Sri Sridhara menulis
dalam komentar resminya terhadap sloka ini:
buddha avartaramaha
tata iti anjanasya sutah
ajina suta it pathe
ajino’ pi sa eva kikatesu madhye gaya-pradese
Kata
‘tatah kalau’ dan lain-lain, menggambarkan
Buddha inkarnasi Visnu sebagai putra Anjana. Ajina dalam kata ‘ajina sutah’ sebenarnya adalah ‘Anjana’. Kikata adalah nama distrik di Gaya.
Penganut
paham monisme, entah karena kesalahan atau alasan lain, menganggap Svami Sri
Sridhara sebagai anggota sekte dan keyakinan mereka. Meski begitu, komentarnya
mengenai masalah ini dapat dengan mudah diterima oleh para penganut Mayavadi
sebagai yang benar tanpa keragu-raguan. Kutipan berikut ini dari Narasimha
Purana 36/29:
kalau prapte yatha buddho bhavannarayana – prabhuh
Pada zaman Kaliyuga, Dewa
Narayana yang agung muncul sebagai Buddha.
Perkiraan
tentang kemunculan Sang Buddha dapat ditelusuri dari soka ini; bahwa Dia hidup
sekitar 3500 tahun yang lalu, atau dengan perhitungan astronomi dan astrologi
yang akurat sekitar 4000 tahun yang lalu. Mengenai fakta astrologi pada saat
kelahiranya, risalah ‘Nirnaya-sindhu’ menyatakan dalam bab kedua:
jyaistha sukla dvitiyayam buddha-janma bhavisyati
Buddha yang agung akan
muncul pada hari kedua bulan purnama, di bulan Jyaistha.
Di
bagian lain dalam buku ini dijelaskan tata cara pemujaan Sang Buddha:
pausa suklasya saptamyam kuryat buddhasya pujanam
Sang Buddha secara
khusus disembah pada hari ketujuh bulan purnama di bulan Pausa.
Ritual,
doa-doa, dan tata cara pemujaan yang disebutkan dalam kitab suci ini semuanya
dengan jelas menunjukkan bahwa semuanya dimaksudkan untuk inkarnasi avatara
Dewa Visnu yang kesembilan. Sang Buddha juga disebutkan berulang kali dalam
banyak kitab suci Veda yang autentik seperti Visnu Purana, Agni Purana, Vayu
Purana, dan Skanda Purana. Sang Buddha yang disebutkan dalam Devi Bhagavata,
sebuah teks yang lebih baru, dan dalam Sakti Pramoda merujuk kepada Sakya Simha
– bukan Buddha Visnu Avatara.
Kebenaran
tetap ada bahwa ada banyak dewa dan dewi yang berbeda yang disembah oleh
pemujanya masing-masing, dengan cara yang sama seperti Buddha Sakya Simha (yang
adalah seorang ateis) disembah atau dimuliakan oleh para pengikutnya. Namun,
ini semua sama sekali terpisah dan tidak terkait dengan jalan Sanatana-Dharma,
yang merupakan agama abadi manusia yang dinyatakan dalam Srimad-Bhagavatam.
Menurut
Max Mueller seorang sarjana Jerman, Buddha Sakya Simha lahir pada tahun 477 SM
di taman Lumbini, di dalam kota Kapilavastu. Kota kuno ini, dan pada saat itu,
berpenduduk padat di wilayah Terai, Nepal, yang sangat terkenal. Ayah Sakya
Simha atau Buddha Gautama dikenal sebagai Suddhodana, sementara ibunya bernama
Mayadevi, ini semua adalah fakta sejarah yang diterima. Meskipun putra Anjana
dan putra Suddhodana sama-sama memiliki nama yang sama (Buddha), mereka tetap
merupakan dua pribadi yang berbeda. Salah satu dari mereka lahir di Kikata –
yang sekarang terkenal sebagai Bodhi-Gaya, sementara Buddha kedua lahir di
Kapilavastu, Nepal. Dengan demikian, tempat kelahiran, orang tua, dan jaman Buddha
Visnu Avatära; dan tempat kelahiran, orang tua, jaman Buddha Gautama sama
sekali berbeda.
Oleh
karena itu, sekarang kita dapat mengetahui bahwa pribadi terkenal yang sekarang
umumnya disebut sebagai 'Buddha', bukanlah inkarnasi Visnu, bukan Sang Buddha
yang asli dan karenanya, pandangan Sankaracarya tentang hal ini sama sekali
tidak dapat diterima. Tidak jarang ditemukan perbedaan pendapat dalam hal
tradisi dan sejarah, tetapi berkenaan dengan isu-isu penting dan signifikan,
diskusi yang tidak bias dan objektif sangatlah penting. Tertarik dengan
kepribadian dan ketenaran Buddha, menghormati dan menghargainya adalah satu
hal, tetapi menjadi terkesan dengan filosofi dan ajarannya serta berserah diri
kepadanya dengan penuh hormat adalah hal yang sama sekali berbeda. Apa pun
masalahnya, kita bisa memahami poin penting bahwa Buddha bukanlah satu pribadi,
tetapi setidaknya dua identitas yang terpisah, – Sakya Simha tidak sama dengan
Sang Buddha, inkarnasi Visnu yang kesembilan. Tentu saja tidak dapat disangkal
bahwa ada beberapa kesamaan antara kedua Buddha ini, namun tidak dapat
disangkal bahwa mereka adalah dua pribadi yang berbeda.