Beranda

Sabtu, 28 September 2024

Tapa Brata Yoga sebagai upaya mematangkan diri dalam mensenyawakan diri dengan alam

 Tapa

 Yaduram yaduraradhyam

Yacca dure vyavasthitam

Tat-sarvam tapasa sadhyam

Tapo hi duratikramam

(Canakya Niti Darpana 17.3)

 

Terjemahan:

Yang sangat jauh, yang melalui pemujaan pun sangat sulit dicapai, yang berada di ketinggian maha tinggi, semua itu dapat dicapai melalui pertapaan. Karena tapa itu mempunyai kekuatan yang sangat hebat.

 

Brata

Dalam Yajurveda XIX.30 dinyatakan:

 vratena dīkāmāpnoti dīkayāpnoti dakiām,

dakiā śraddhāmāpnoti śraddhayā satyamāpyate

 

Terjemahan:

Dengan melakukan pantangan (vratenamaka akan mendapatkan penyucian (Diksa), dengan penyucian akan mendapatkan kehormatan (Daksina), dengan kehormatan akan mendapatkan keteguhan (Sraddha), dan dengan keteguhan akan mendapatkan kebenaran (satya) yang sejati.

 Kata vratena berasal dari kata vrata yang artinya pengekangan, ketaatan. Berarti pula vrata sama artinya dengan brata.

 

Yoga

Yoga berasal dari bahasa Sanskerta “yuj”, yaitu menghubungkan atau hubungan yang harmoni. Yoga adalah upaya menghubungkan, menyatukan, atau mensenyawakan diri dengan alam semesta.   

 Kita sering mendapatkan kata tapa yang biasanya disusul oleh kata brata, dan yoga. Kata-kata tersebut memang saling terkait dan tidak terpisahkan. Kata “tapa” berasal dari bahasa Sansekerta “tap” yang artinya membakar, memanaskan, membuat disiplin. Tapa berarti memanaskan diri melalui praktik-praktik disiplin ke dalam diri demi pematangan fisik, mental, dan spiritual. Jadi didalam “tapa” sudah pasti ada unsur “brata” yaitu pengekangan atau ketaatan sebagai bentuk disiplin diri.

Sesuai yang dijelaskan dalam Canakya Niti Darpana “tapo hi duratikramam” bahwa “tapa” mempunyai kekuatan yang hebat baik secara fisik, mental, dan spiritual; artinya kekuatan tapa ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Bermanfaat dalam menyehatkan diri secara fisik, mengembangkan mental maupun spiritual kita.

“Sarvam tapasa sadhyam”, segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Urusan-urusan yang sepertinya sudag tidak mungkin dapat diselesaikan melalui tapa.

Bentuk-bentuk disipilin tapa brata yang dapat kita lakukan sebenarnya sudah terkonsepkan dalam rangkaian-rangkaian berbagai hari suci Hindu. Ada Catur Brata Penyepian saat Hari Raya Nyepi. Ada berbagai rangkaian sadhana saat menyambut Hari Raya Galungan mulai dari sugihan jawa hingga penampahan. Ada jagra, monabrata dan japa saat Hari Raya Siwaratri.

Mari kita menelisik lebih dalam tentang tapa brata di Hari Raya Siwaratri. “Jagra” yaitu menjaga kesadaran diri yang dilatih dengan cara tidak tidur dalam jangka waktu tertentu. Saat melakukan sadhana ini tidak sekedar menjaga kesadaran agar tidak tidur dengan melakukan aktivitas duniawi semata apalagi yang mengarah kepada kesenangan belaka. Namun saat menjaga kesadaran dengan tidak tidur inilah kita harus berlatih untuk menyadari segala sesuatu yang terjadi dalam diri kita, menyadari segala rasa yang muncul dalam diri sendiri, menyadari segala sensasi yang terjadi dalam diri baik fisik maupun mental. Dan diharapkan dari seringnya melakukan latihan menjaga kesadaran tidak tidur inilah kita menjadi terlatih dalam menjaga kesadaran diri dalam dimensi yang lebih tinggi, dalam ruang kesadaran yang lebih dalam. Kita akan terlatih dalam hal “sadar”; sadar dengan perilaku kita, sadar bahwa itu baik perlu dilakukan atau tidak baik jadi tidak perlu dilakukan, sadar bahwa itu akan menyenangkan atau membahagiakan orang lain atau justru akan menyakiti orang lain, sadar bahwa kita mungkin telah melakukan kesalahan dan saatnya memperbaiki diri, sadar kita perlu bicara itu atau tidak, sadar bahwa kita harus bersikap bagaimana, maupun sadar dengan berbagai hal lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Survei membuktikan kebanyakan orang tidak pernah melakukan latihan menjaga kesadaran dengan tidak tidur ini, atau justru meremehkan sadhana ini. Dan bila memang tidak pernah mempraktekkan maka tidak akan menemukan kebenarannya dari latihan ini. Karena kebenaran dari tapa brata hanya akan didapatkan dari “laku” yaitu mempraktekkannya dengan disiplin diri yang tinggi.  

“Monabrata” artinya adalah berpantang terhadap kata-kata, atau tidak berkata-kata samasekali untuk jangka waktu tertentu. Memang sangat sulit untuk mempraktekkannya, namun bisa dilatih dari level yang mudah yaitu mengurangi untuk berkata-kata, atau hanya berkata seperlunya saja. Ini akan melatih diri untuk memiliki pengendalian diri dalam berkata-kata. Kekuatan dalam berkata yang kita kendalikan melalui latihan disiplin “monabrata” maka hasilnya adalah diri kita memiliki kekuatan berkata yang lebih baik atau bahkan luar biasa. Kata-kata yang kita katakan menjadi penuh power dirasakan oleh orang lain. Sehingga sangat mungkin disegani atau dituruti atau dipatuhi atau ditaati oleh orang lain.

Dalam konsep Tantra bila kita sering melatih pertapaan indriya kita maka lambat laun indriya kita akan memiliki kekuatan yang sangat berkembang, dan monabrata adalah bentuk pertapaan indriya kita dalam hal mengembangkan pengendalian, kemampuan dan kekuatan ucapan. Bahkan pada level tertentu kata-kata kita menjadi “siddhi”. Kita akan terlatih mengendalikan ucapan, menjadi tahu apakah kita perlu bicara atau tidak, ucapan kita pantas atau tidak, menjadi sangat berhati-hati dalam berucap, dan lain-lain.

Japa adalah bentuk sadhana dengan cara melantunkan mantra secara berulang-ulang. Bisa menggunakan hitungan atau pun tidak menggunakan hitungan sesuai kepuasan diri. Dalam hal ini kita berupaya bisa bersenyawa dengan mantra itu sendiri. Kita niatkan sepenuh hati bahwa kita adalah mantra itu sendiri. Pengalaman penulis cara untuk bisa bersenyawa dengan mantra itu sendiri adalah mulut bertugas mengucapkan mantra, telinga bertugas mendengarkan lantunan mantra yang diucapkan oleh mulut, dan pikiran bertugas mengamati sekaligus merasakan sensasi apapun yang timbul dari proses melantunkan mantra. Jadi pikiran tidak perlu membayangkan figur atau bentuk apapun saat melantunkan mantra. Saat pikiran membayangkan figur atau bentuk tertentu maka proses konsentrasi menjadi mengarah keluar diri, dan ini sangat tidak stabil. Namun jika pikiran dialihkan hanya bertugas merasakan segala bentuk sensasi dalam diri maka proses konsentrasi menjadi mengarah ke dalam diri, dan ada sebuah kestabilan proses. Saat kita terlatih mampu bersenyawa dengan mantra yang kita lantunkan maka kita pun akan terlatih mampu bersenyawa dengan setiap ucapan kita. Kita menjadi memiliki suatu tingkat pengendalian dalam ucapan, tingkat kekuatan dalam ucapan, tingkat kesadaran dalam ucapan. Menjadi tahu kata-kata yang perlu atau pun yang tidak perlu diucapkan kepada orang lain. Sehingga kita terhindar dari ucapan diri yang menghina, merendahkan, meremehkan, menyudutkan, dan lain-lain. Ucapan kita yang memiliki suatu kekuatan bisa kita manfaatkan untuk membuat orang lain bahagia. Atau bahkan menetralisir rasa kebencian orang lain terhadap diri kita dengan teknik tertentu hanya dengan ucapan dalam kondisi meditatif. Dan hal ini sudah pernah penulis buktikan. Beberapa sahabat penulis juga sudah pernah membuktikannya dengan panduan penulis.          

Jagra, monabrata dan japa sangat bagus jika disertai dengan pelaksanaan upawasa yaitu berpantang terhadap makan dan minum. Upawasa ini sangat bagus juga sebagai tahapan awal untuk melatih kemampuan pengendalian diri . Secara logika, jika terhadap nafsu makan dan minum saja tidak mampu mengendalikan maka terhadap berbagai rasa lainnya akan sangat sulit untuk mengendalikan, misalnya marah, benci, emosi, dan lain-lain. Pun juga upawasa akan berdampak pada fisik yang lebih sehat karena saat upawasa berlangsung maka saat itu ada proses pembersihan berbagai residu dalam semua bagian tubuh fisik. Dalam hal berpantang terhadap makan dan minum bisa dilakukan dari tingkat yang paling mudah dengan mengurangi porsi makanan hingga tidak makan dan minum samasekali dalam suatu periode waktu tertentu. Saat melakukan upawasa maka pikiran harus terhindar dari pemikiran tentang makan sehingga tidak akan ada rasa lapar dalam perut.     

Penulis pernah membimbing sekelompok generasi muda dalam melakukan “jagra, monabrata dan japa” saat Hari Raya Siwaratri di sebuah pura. Saat “jagra dan monabrata” peserta boleh jalan ke berbagai sudut area atau pun diam saja di tempat. Saat mata melihat sesuatu maka diupayakan tidak banyak menganalisa apa yang dilihatnya, atau kalau mampu diupayakan tidak menganalisanya samasekali, cukup sekedar melihat dan tidak perlu menganalisa. Begitu pula dengan telinga saat mendengar sesuatu maka diupayakan cukup sekedar mendengar saja dan tidak perlu menganalisanya di dalam pikiran. Begitu pula dengan indriya-indriya lainnya. Pengalaman peserta sangat beragam, ada yang merasa biasa-biasa saja, ada yang merasa dalam kondisi aneh, ada yang merasa menjadi “plong” alias tanpa beban menjadi sangat ringan dan itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah itu baru melakukan japa. Selesai melakukan itu, mereka semua merasa dirinya lebih ringan, lebih segar, lebih berenergi.

Bila kita terlatih dalam praktek bentuk-bentuk tapa brata maka dalam hal spiritual kita akan terlatih dalam bersenyawa dengan sisi-sisi kehidupan. Inilah Yoga yaitu persatuan dengan isi alam semesta. Rasa cinta kasih, empati, kemanusiaan kita menjadi berkembang. Melihat penderitaan maupun kesedihan orang lain kita juga merasakan itu. Kekurangan dan kelemahan orang lain juga kita rasakan. Pun juga kebahagiaan orang lain juga kita rasakan. Bukan hanya dengan sesama manusia, dengan makhluk lain atau benda lain pun kita menjadi perasa. Kita merasakan sebuah persatuan dengan yang lainnya. 

Selasa, 24 September 2024

1 Agustus 2023…..Penampahan Galungan bertepatan dengan Purnama

 

    Penampahan sejatinya adalah sebuah upaya diri untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam diri (mohon maaf penulis tidak setuju sifat-sifat buruk itu diasumsikan sebagai sifat binatang karena binatang pun banyak yang memiliki sifat-sifat yang baik yang justru harus ditiru manusia). Jadi dengan dasar pengertian diatas maka upaya itu hanya akan berhasil dengan laku spiritual, bukan ritual. Bagaimana mungkin sifat-sifat buruk bisa dihilangkan dengan ritual? Kalau memang bisa, harusnya semua umat sudah menjadi pribadi yang sangat baik semua, namun ternyata tidak. Konsep berpikir kita seharusnya bijaksana juga disertai logika. Bagaimana mungkin momen tradisi yang dipahami sebagai upaya memotong sifat-sifat buruk dalam diri justru dilaksanakan dengan memotong atau menyembelih binatang sungguhan?

    Yoga adalah sebuah solusi, karena yoga didasarkan pada upaya-upaya yang mengarah kepada pengendalian diri seperti yang dikonsepkan dalam Astangga Yoga. Bila setiap pribadi memiliki kemampuan pengendalian diri yang kuat, maka dia pun akan mampu mengendalikan setiap sifat-sifat buruk agar tidak menguasai dirinya. Harusnya kita semua menyadari tentang hal ini. Sebuah konsep pengetahuan yang telah berlangsung ratusan tahun bukan tidak mungkin untuk saat ini tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya atau dapat dikatakan sudah melenceng karena kwalitas manusia setiap jaman yang berbeda-beda. Dan sekarang saatnya kita menelaah dalam-dalam dan mengembalikan prinsip kebenarannya jika memang ada yang melenceng. Karena jika memang dilakukan secara melenceng dari prinsip kebenarannya maka akan menimbulkan kekacauan dalam pikiran yang disebut Byaparaning Idep.

Dan sastra memperkuat konsep berpikir diatas, seperti yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama:

"Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep"

Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani dengan samadhi supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

“Samadhi” yang disebutkan lontar Sundarigama tersebut adalah salah satu tahapan dari Astangga Yoga.

    Dan momen Penampahan rangkaian dari Galungan yang akan datang akan bersamaan dengan momen Purnama. Purnama adalah disaat bulan terlihat paling bulat dalam sebulan oleh karena itu terlihat juga paling terang. Apa yang terjadi dengan Bumi saat bulan purnama? Salah satu fenomena yang terjadi adalah naiknya permukaan air laut. Ini menjadi bukti bahwa saat Purnama ada energi yang besar, dan salah satunya energi magnetik atau daya tarik bulan terhadap benda-benda di Bumi. Penulis yakin saat Purnama ada energi-energi lain yang terbentuk yang bisa berdampak pada kehidupan di Bumi. Kalau kita lihat, banyak tradisi-tradisi manusia di Bumi yang dilakukan saat Purnama tiba. Mengapa? Agar tujuan mereka bisa tercapai. Ini berarti secara tersirat sebenarnya sejak dahulu masyarakat sudah mengetahui bahwa saat bulan Purnama ada energi yang besar yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Dan upaya manusia pada hari itu untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya melalui berbagai bentuk sadhana spiritual akan diperkuat oleh energi yang terbentuk di Bumi dari Purnama yang sedang berlangsung. Sangat mungkin kemampuan manusia disaat itu berlipat ganda dalam mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya.

    Jadi Penampahan yang bersamaan dengan Purnama dari sisi spiritual sungguh suatu kesempatan. Jika ada yang justru bingung karena hal itu maka ada yang kurang bijak dalam konsep berpikirnya.

 Aguswi

VrilSociety

Archangel     

Kamis, 25 Juli 2024

TUMPEK LANDEP berpesan “TAJAMKAN PIKIRANMU agar mampu membedah segala permasalahan hidup, dan tercapailah kebahagiaan"

Pikiran manusia adalah sebuah sistem yang paling komplek dan paling canggih dibandingkan dengan sistem yang sama yang dimiliki makhluk hidup lainnya. Namun jika sistem dalam pikiran kita bermasalah atau EROR maka kita pun akan mengalami masalah juga; entah galau, bingung, resah, gelisah, depresi, dll. Setidaknya untuk memahami pikiran mari kita analogikan dengan KOMPUTER.

Semua orang pasti sudah tahu apa itu komputer. Sebuah alat yang terbilang canggih yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari rumah tangga, sekolah, perkantoran, bisnis, perusahaan hingga pemerintahan dan masih banyak lagi instansi-instansi yang lain yang menggunakan komputer sebagai salah satu alat operasionalnya. Alat yang satu ini bisa dibuat menjadi multi-fungsi. Dan anda akan sangat kagum apabila anda mengikuti berita perkembangan teknologi negara-negara maju dimana komputer merupakan alat kendali yang utama. Begitu juga dengan pikiran merupakan alat kendali yang utama pada tubuh manusia. Pikiran adalah gudang segala keinginan, dan pemenuhan keinginan itu hanya pikiran itu sendirilah yang bisa melakukannya. Pikiran memenuhi keinginan pikiran itu sendiri.

Komputer akan bisa dioperasikan dengan lancar apabila komputer itu bebas dari virus-virus atau malware yang mengganggu sistem dan file. Apabila di dalam komputer itu ada virusnya maka tidak dapat dioperasikan dengan maksimal karena ada gangguan di dalamnya, dan bahkan komputer itu bisa mati total karenanya. Ada virus yang merusak file dari pengguna komputer itu tanpa merusak sistem tetapi ada juga virus yang merusak sistem komputer sehingga semua file secara otomatis juga rusak. Dan virus yang merusak sistem inilah yang paling berat dan berbahaya karena komputer bisa rusak total. Untuk menghindari terjadinya hal seperti ini adalah dengan menginstal antivirus pada komputer tersebut, sehingga ketika ada virus masuk antivirus akan segera melenyapkan virus itu dengan segera, dan bebaslah komputer itu dari virus. Antivirus pun harus di update setiap saat agar kuat menghadapi virus yang kemungkinan besar bisa masuk.

Sebenarnya cara kerja komputer adalah sebagian kecil dari cara kerja pikiran. Hanya pikiran yang bersih saja yang bisa mendatangkan kebahagiaan hidup, pikiran yang bersih adalah pikiran yang bebas dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Pemikiran yang buruk inilah yang diibaratkan sebagai virus di dalam komputer. Apabila pikiran memelihara pemikiran-pemikiran yang buruk maka ia lambat laun akan mengalami gangguan di dalamnya seperti stres, depresi, rasa marah, rasa sesal, gila, emosional yang tinggi dan lain-lain. Pikiran menjadi tidak bisa berpikir dengan jernih karena terjangkit oleh pemikiran-pemikiran yang buruk itu. Ketika ada masalah pikiran itu menjadi bingung mencari jalan pemecahannya karena semua jalan pemikiran tersumbat oleh pemikiran yang buruk yang berperan sebagai virus. Dan seperti layaknya komputer yang mati total karena terjangkit virus, pikiran pun sangat mungkin bisa berhenti berfungsi secara normal alias GILA. Ibarat jenis-jenis virus pada komputer, besar kecilnya gangguan yang terjadi pada pikiran tergantung kepada jenis pemikiran-pemikiran buruk yang ada pada pikiran itu sendiri. Ada yang hanya menimbulkan stres ringan, ada yang mengakibatkan penyakit dalam tubuh, bahkan ada pemikiran buruk yang sampai menimbulkan kematian. Suatu contoh apabila orang banyak marah maka pelan tapi pasti secara fisik akan mempengaruhi kesehatan jantungnya, dan apabila hal ini sering terjadi maka orang itu akan mempunyai penyakit jantung. Dalam keadaan berpenyakit jantung apabila ia masih sering berperilaku marah-marah maka bukan tidak mungkin ia akan mengalami kematian karena penyakit itu yang sebenarnya bersumber dari rasa marah yang tak terkendalikan. Coba lihat orang gila, sebenarnya hanya pikirannyalah yang terganggu. Orang gila adalah orang yang sakit pikirannya. Jalan pikirannya yang normal tersumbat oleh pemikiran-pemikiran yang buruk sehingga orang itu lupa dengan identitas dirinya yang sebenarnya; alias GILA.

Seperti halnya antivirus yang harus diinstal pada komputer untuk mencegah adanya virus yang masuk, pikiran pun harus mempunyai senjata yang ampuh untuk melibas pemikiran-pemikiran yang buruk dan mencegah adanya pemikiran-pemikiran buruk yang lain untuk masuk ke dalamnya. Salah satu cara yang bisa digunakan sebagai senjata yang ampuh itu adalah dengan melakukan meditasi. Seperti halnya antivirus yang harus di update secara rutin, meditasi pun harus dilaksanakan sebagai rutinitas sehari-hari agar pikiran memiliki pemikiran yang kuat, bersih, dan bebas dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Secara tidak kita sadari banyak sekali pemikiran-pemikiran buruk yang ada pada pikiran yang dialami seseorang dari masa kecil hingga dewasa. Ketika masih kanak-kanak apabila pernah disakiti oleh orang lain maka akan menimbulkan rasa trauma, ingatan itu akan terbawa hingga dewasa; itulah salah satu contoh pemikiran yang buruk. Rasa trauma akan menjadikan orang hilang kepercayaan terhadap diri sendiri.

Untuk menghilangkan virus yang ada pada komputer maka antivirus harus melakukan scanning pada semua sistem dan file yang ada. Begitu pula dengan melakukan sadhana misalnya meditasi berarti seseorang dengan sendirinya melakukan scanning pada semua pemikiran yang ada pada pikirannya, meliputi pemikiran yang baik dan yang buruk. Ketika melakukan meditasi seseorang akan terbayang kejadian-kejadian masa kecilnya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Sedikit demi sedikit pemikiran yang buruk itu akan tersingkir dari pikiran, ingatan-ingatan yang merugikan pikiran akan musnah oleh kekuatan dari meditasi itu. Seberapa jauh seseorang melakukan meditasi sebagai rutinitas sehari-hari, maka sejauh itu pula ia membebaskan pikirannya sendiri dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Orang yang melakukan meditasi secara rutin maka pikirannya akan terbebas dari rasa stres, depresi, marah, egoisme dan penyakit baik fisik maupun pikiran. Ia akan memiliki pemikiran yang kuat dan memiliki kharismatik. Ia akan terhindar dari hal-hal yang buruk dalam kehidupannya. Bukan berarti ia terbebas dari karma buruk masa lampau, karma masa lampau tetap akan terjadi. Tetapi ke masa depan ia akan menciptakan karma yang baik. Dalam hal berbuat ia akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Kesadaran spiritual yang tinggi akan tumbuh dalam pikiran seseorang yang sering melakukan meditasi. Pikiran akan selalu diliputi oleh kebahagiaan dan kedamaian. Pikiran yang bersih dan memiliki power yang besar akan mampu memenuhi keinginan pikiran itu sendiri. Dengan pikiran kita menjadi “Mastermind” dari kehidupan kita sendiri di masa depan. Kita adalah “The Master” dari tujuan hidup kita sendiri.

Apabila menginginkan agar komputer bisa beroperasional dengan cepat maka harus menggunakan sistem operasi yang terupdate, jangan sampai menggunakan Pentium 1 karena komputer akan bekerja lambat. Sadhana spiritual seperti meditasi yang dilakukan secara rutin akan dapat meningkatkan kemampuan maupun kekuatan pikiran. Pikiran akan memiliki kinerja yang lebih cepat. Melakukan sadhana misalnya meditasi berarti melakukan pengasahan untuk mempertajam “Pisau” dalam diri yaitu Pikiran.

Jadi esensi TUMPEK LANDEP adalah tentang menajamkan Pikiran, bukan melakukan ritual untuk benda-benda yang kita gunakan sehari-hari misalnya mobil, alat dapur, alat pertaian, alat kerja, dll. Jika ini terjadi maka sudah SALAH KAPRAH, dan tidak bisa dijadikan sebagai sebuah kebenaran. Secara logika untuk menjadikan semua alat-alat kerja menjadi berfungsi maksimal maka harus menggunakan kecerdasan pikiran, bukan dengan ritual. Apa buktinya bahwa ini SALAH KAPRAH? Lontar Sundarigama dengan jelas menuturkan “tumpek landep pinaka landeping idep” yang artinya Tumpek Landep pada hakikatnya bertujuan untuk mengasah ketajaman pikiran (landeping idep). Dan cara menajamkan pikiran salah satu konsepnya diajarkan dalam Yogasutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali yaitu dengan melaksanakan tahapan sadhana Astangga Yoga.

Mari, tajamkan pikiran masing-masing dengan sadhana spiritual sehingga nantinya kita mampu membedah segala permasalahan hidup dengan ketajaman (kecerdasan) pikiran kita dan bisa meraih kesuksesan, kejayaan, kekuatan dan kebahagiaan. Tat Asthu Swaha.


Aguswi

Tantra

Selasa, 25 Juni 2024

Upacara Potong Gigi .....Mungkinkah Dapat Menghilangkan Sifat dan Karma Buruk Diri Sendiri?

 

Upacara Potong Gigi......menurut banyak orang upacara ini bertujuan untuk menghilangkan Sad Ripu yang ada pada diri pesertanya. Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia yaitu hawa nafsu, kerakusan, kemarahan, kemabukan, kebingungan, dan iri hati). Jadi ini adalah SIFAT-SIFAT buruk, bukan KARMA buruk.

Bagi umat Hindu etnis Bali yang tinggal di Bali, upacara ini dianggap wajib dilakukan, namun banyak juga yang tinggal diluar Bali beranggapan bahwa upacara ini tidak mutlak untuk dilakukan. Bagi umat Hindu etnis Jawa, Karo, Dayak dan Madura pasti punya tradisi sendiri…..jadi jangan meniru yaaaa? Pakai saja tradisi daerah sendiri, itu lebih MULIA. Yang etnis Jawa lestarikan tradisi Jawa-nya, begitu juga yang lain, karena Hindu bukan identik dengan BALI.   

Bagaimana hubungannya antara upacara Potong Gigi dengan buah karma yang buruk? Mungkinkah ritual tersebut bisa MENETRALISIR, atau MENGHILANGKAN BUAH KARMA YANG BURUK? Atau mungkinkah bisa mencegah terbentuknya buah karma yang buruk ke depannya?

Manusia dilahirkan di dunia ini dengan membawa buah karma masing-masing dan menciptakan buah karma barunya sendiri. Apa yang telah dilakukan di kehidupan masa lalu buah karmanya yang belum habis pasti terbawa ke kehidupan sekarang, dan HARUS DIALAMI; buah karma ini TIDAK BISA DIGANTI, DITAWAR, DISOGOK atau DIHILANGKAN begitu saja. Bahkan para Dewa sekalipun tidak bisa menghindari buah karmanya sendiri…..apalagi manusia red. Agar efek dari buah karma yang buruk tidak begitu dirasa menyakitkan, maka harus diimbangi dengan buah karma yang baik dengan cara berbuat yang baik sesering mungkin. Dapat kita gambarkan seperti ini; segelas air yang diberi garam satu sendok maka jika diminum akan terasa sangat asin, jika ditambah dengan satu sendok gula maka rasa asinya berkurang, jika ditambah gula lagi maka rasa asinnya semakin berkurang, dan seterusnya; namun kadar garam dalam segelas air tadi tidak akan berkurang, hanya saja rasa asin garam dikalahkan oleh rasa manis gula.

Begitu juga buah karma yang buruk, besar kecilnya tidak dapat dikurangi dengan jalan apapun atau dengan ritual/upacara apapun….termasuk potong gigi red….namun efeknya agar tidak begitu terasa maka harus ditimbun dengan banyak buah karma yang baik.

Kalau memang benar hanya dengan upacara potong gigi sifat-sifat buruk yang merupakan musuh dalam diri itu bisa dihilangkan,……wah kayaknya nggak mutlak deh red….maka mestinya sudah tidak ada lagi umat Hindu yang telah pernah potong gigi marah-marah, rakus, tamak, iri hati dan sebagainya. Namun nyatanya masih ada, apalagi yang sering marah-marah…..buuuuaanyak red.

Jadi menurut penulis upacara potong gigi hanya bersifat MENSUGESTI, MENJEMBATANI, MEMBERI RANGSANGAN SEMANGAT dan MEMBUKAKAN PINTU KESADARAN bagi para pesertanya untuk memudahkan dalam memerangi musuh-musuh dalam diri tersebut hingga masa-masa yang akan datang. Apabila sifat-sifat buruk itu sedikit demi sedikit bisa dikurangi maka otomatis perilaku-perilaku yang tidak baik pun sedikit demi sedikit juga bisa dihindari sehingga dapat mencegah terbentuknya buah karma buruk yang banyak. Jadi utamanya adalah kembali kepada pesertanya APAKAH TERBUKA KESADARANNYA ATAU TIDAK?

#Aguswi

#VrilSociety
#PotongGigi


Selasa, 16 April 2024

MENGAPA PARA RESI DI JAWA (MUNGKIN JUGA SUNDA) LEBIH SERING MEMILIH DUDUK DI BAWAH DI ATAS TANAH BERALASKAN TANAH ATAU BAHKAN TIDAK BERALASKAN SAMA SEKALI SAAT MELAKUKAN PEMUJAAN?

 Bumi tempat kita hidup ini yang dalam berbagai sastra disebut Pertiwi adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di dalamnya. Pertiwi atau dalam keseharian lebih kita sebut sebagai tanah adalah sumber kemakmuran bagi semua makhluk hidup. Tanah menjadi media bagi tumbuhan untuk bisa hidup, tumbuhan tersebut menghasilkan makanan sehingga semua makhluk hidup bisa menjaga keberlangsungan hidupnya di bumi ini. Tanpa tanah maka tidak ada kehidupan, ada kehidupan berarti ada energi di sana. Tentu energi alam semesta yang maha dahsyat terbukti adanya bentuk kehidupan. Benih yang ditaburkan di tanah lalu tumbuh berkembang dan menjadi tumbuhan yang menghasilkan makanan bagi kita adalah bukti adanya energi kehidupan di dalam tanah, benda-benda yang dipendam di dalam tanah menjadi terurai juga contoh adanya energi alam yang menyebabkan terjadinya penguraian materi. Dalam sistem kelistrikan kita mengenal adanya “grounding” yang berfungsi untuk menstabilkan aliran listrik sehingga mengurangi berbagai resiko kerusakan akibat aliran listrik yang kemungkinan naik turun. Contoh logika di atas sebagai bukti yang tidak terbantahkan bahwa tanah (Pertiwi) adalah sumber energi alam semesta yang menjadi penopang utama kehidupan semua makhluk hidup di bumi.

Para leluhur kita selain memanfaatkan tanah untuk bercocok tanam juga memanfaatkannya dalam berbagai hal lainnya. Misalnya membuat genthong (wadah air untuk kebutuhan sehari-hari) dari tanah, genthong yang dibuat dari tanah memiliki energi yang dapat memurnikan air, menetralisir berbagai bakteri dalam air, pun juga mengembalikan komposisi kristal-kristal air sehingga air menjadi layak konsumsi. Perlu diperhatikan jika kristal-kristal air tidak beraturan akibat perlakukan air yang kurang tepat maka manfaat air tidak akan maksimal saat kita konsumsi.

Para petani di kebun atau sawah karena sering bersentuhan dengan tanah maka rata-rata badannya lebih sehat dan umurnya pun lebih panjang. Seberapa sering mereka bersentuhan dengan tanah maka semakin badan mereka mendapatkan aliran energi dari tanah sehingga badan mereka ter-energized, dan terciptalah harmoni energi dalam badan, karena energi dalam badan menjadi harmoni lebih dahulu maka pemikirannya pun menjadi harmoni alias tidak banyak berpikir yang neko-neko.

Dalam laku batin para leluhur jaman dahulu memanfaatkan tanah untuk kumkum selama waktu tertentu, atau mandi lumpur. Tradisi kumkum jaman dahulu bukanlah untuk mendapatkan semacam kesaktian diri belaka, melainkan suatu upaya untuk mengharmonikan energi dalam tubuh sekaligus mendapatkan aliran energi yang berlimpah karena tanah adalah sumber energi yang luar biasa. Tradisi kumkum ini biasa dilakukan di tanah berlumpur misalnya sawah atau lainnya yang memungkinkan. Seperti penuturan seorang Romo Resi yang telah beberapa kali menjalani laku kumkum di lumpur ketika mau menjalankan ritual tertentu yang beliau bilang ritual itu tidak ringan dan butuh persiapan energi yang besar untuk menjalankannya.

Di era modern sekarang banyak Spa yang membuka layanan mandi lumpur, atau luluran lumpur. Hal ini dimaksudkan untuk membuat badan menjadi segar kembali dan penuh vitalitas. Jadi tradisi kumkum jaman dahulu sekarang sudah tergantikan dengan cara yang lebih simpel yaitu mandi lumpur dengan fasilitas yang modern.

Penulis setiap pagi setelah bangun tidur sekitar jam 4-5 pagi begitu kaki menyentuh lantai lalu berdoa “Aum Pertiwi Ya Namah Swaha” setelah itu langsung keluar rumah tanpa alas kaki dan menatap ke angkasa menikmati apa yang ada di angkasa sambil merasakan sejuknya tanah yang dipijak dan aliran energi tanah yang mengalir melalui chakra-chakra di kaki. Dan ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan badan.

Itulah alasannya mengapa beberapa Resi di Jawa lebih memilih duduk di tanah beralaskan tikar (bahkan adakalanya tidak beralaskan sama sekali) saat melakukan pemujaan agar badannya sedekat mungkin dengan tanah atau bersentuhan langsung dengan tanah sehingga badan mendapatkan aliran energi yang berlimpah yang mendukung keberlangsungan pemujaan. Dengan badan yang harmoni, dengan energi badan yang berlimpah maka proses ritual maupun spiritual tidak akan mengalami banyak hambatan yang berarti. Selain itu badan Sang Resi yang semakin dekat dengan tanah akan menjadi penghantar yang semakin sempurna penyatuan antara energi Akasa dengan Pertiwi. Penyatuan energi Pertiwi dengan Akasa inilah bagaikan penyatuan antara Siwa dengan Shakti yang melahirkan penciptaan alam semesta. Dalam tradisi karesian Jawa (kemungkinan juga Sunda) tidak ada sesana (aturan wajib) bahwa seorang resi harus duduk di panggung saat melakukan pemujaan, duduk di panggung itu hanyalah bentuk penghormatan umat kepada para waskita tersebut. Salah besar jika ada yang beranggapan bahwa seorang resi yang setiap saat atau saat pemujaan duduk di tanah itu mengotori kesucian dirinya, justru itu membuat badan sang resi menjadi kokoh dan berlimpah energi. Tidak ada kesucian yang luntur hanya gara-gara duduk di bawah dekat dengan tanah atau tanpa alas sama sekali.

 

Rahayu Sagung Dumadi

VrilSociety

Aguswi

               

 

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...