Beranda

Tampilkan postingan dengan label upacara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label upacara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2024

Upacara Potong Gigi .....Mungkinkah Dapat Menghilangkan Sifat dan Karma Buruk Diri Sendiri?

 

Upacara Potong Gigi......menurut banyak orang upacara ini bertujuan untuk menghilangkan Sad Ripu yang ada pada diri pesertanya. Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia yaitu hawa nafsu, kerakusan, kemarahan, kemabukan, kebingungan, dan iri hati). Jadi ini adalah SIFAT-SIFAT buruk, bukan KARMA buruk.

Bagi umat Hindu etnis Bali yang tinggal di Bali, upacara ini dianggap wajib dilakukan, namun banyak juga yang tinggal diluar Bali beranggapan bahwa upacara ini tidak mutlak untuk dilakukan. Bagi umat Hindu etnis Jawa, Karo, Dayak dan Madura pasti punya tradisi sendiri…..jadi jangan meniru yaaaa? Pakai saja tradisi daerah sendiri, itu lebih MULIA. Yang etnis Jawa lestarikan tradisi Jawa-nya, begitu juga yang lain, karena Hindu bukan identik dengan BALI.   

Bagaimana hubungannya antara upacara Potong Gigi dengan buah karma yang buruk? Mungkinkah ritual tersebut bisa MENETRALISIR, atau MENGHILANGKAN BUAH KARMA YANG BURUK? Atau mungkinkah bisa mencegah terbentuknya buah karma yang buruk ke depannya?

Manusia dilahirkan di dunia ini dengan membawa buah karma masing-masing dan menciptakan buah karma barunya sendiri. Apa yang telah dilakukan di kehidupan masa lalu buah karmanya yang belum habis pasti terbawa ke kehidupan sekarang, dan HARUS DIALAMI; buah karma ini TIDAK BISA DIGANTI, DITAWAR, DISOGOK atau DIHILANGKAN begitu saja. Bahkan para Dewa sekalipun tidak bisa menghindari buah karmanya sendiri…..apalagi manusia red. Agar efek dari buah karma yang buruk tidak begitu dirasa menyakitkan, maka harus diimbangi dengan buah karma yang baik dengan cara berbuat yang baik sesering mungkin. Dapat kita gambarkan seperti ini; segelas air yang diberi garam satu sendok maka jika diminum akan terasa sangat asin, jika ditambah dengan satu sendok gula maka rasa asinya berkurang, jika ditambah gula lagi maka rasa asinnya semakin berkurang, dan seterusnya; namun kadar garam dalam segelas air tadi tidak akan berkurang, hanya saja rasa asin garam dikalahkan oleh rasa manis gula.

Begitu juga buah karma yang buruk, besar kecilnya tidak dapat dikurangi dengan jalan apapun atau dengan ritual/upacara apapun….termasuk potong gigi red….namun efeknya agar tidak begitu terasa maka harus ditimbun dengan banyak buah karma yang baik.

Kalau memang benar hanya dengan upacara potong gigi sifat-sifat buruk yang merupakan musuh dalam diri itu bisa dihilangkan,……wah kayaknya nggak mutlak deh red….maka mestinya sudah tidak ada lagi umat Hindu yang telah pernah potong gigi marah-marah, rakus, tamak, iri hati dan sebagainya. Namun nyatanya masih ada, apalagi yang sering marah-marah…..buuuuaanyak red.

Jadi menurut penulis upacara potong gigi hanya bersifat MENSUGESTI, MENJEMBATANI, MEMBERI RANGSANGAN SEMANGAT dan MEMBUKAKAN PINTU KESADARAN bagi para pesertanya untuk memudahkan dalam memerangi musuh-musuh dalam diri tersebut hingga masa-masa yang akan datang. Apabila sifat-sifat buruk itu sedikit demi sedikit bisa dikurangi maka otomatis perilaku-perilaku yang tidak baik pun sedikit demi sedikit juga bisa dihindari sehingga dapat mencegah terbentuknya buah karma buruk yang banyak. Jadi utamanya adalah kembali kepada pesertanya APAKAH TERBUKA KESADARANNYA ATAU TIDAK?

#Aguswi

#VrilSociety
#PotongGigi


Selasa, 03 Januari 2023

Air - Mengapa bisa disebut Tirtha?

 Air adalah unsur paling dominan yang membentuk tubuh manusia. Menurut penelitian Sains, 70 persen tubuh manusia disusun oleh cairan. Karena itulah air memegang peranan paling utama dalam sistem tubuh manusia. Makanan yang kita makan tidak akan bisa dicerna dengan sempurna bila tidak didukung cairan yang ada didalamnya seperti enzim dan kandungan air dalam sistem pencernaan kita, akibatnya sistem penyerapan sari-sari makanan juga terganggu. Darah dalam tubuh juga berupa cairan yang memegang peranan sangat vital dalam sistem tubuh manusia. Bayangkan jika aliran darah berhenti, maka berakhir sudah kehidupan seseorang. Jangankan berhenti, aliran darah yang tersumbat pun sangat beresiko fatal dalam sistem tubuh. Karena air sangat dominan dalam tubuh manusia, maka air juga sangat dominan dalam memberi solusi dalam sistem mekanik tubuh manusia. Misalnya orang yang pingsan kebanyakan pertolongan pertama yang diberikan adalah berupa minum air, begitu juga orang yang kecelakaan pertolongan paling pertama adalah diberikan air agar bisa diminum.

Molekul-molekul air dapat dipengaruhi atau dibentuk oleh/dengan kesadaran manusia. Pun juga dapat dipengaruhi oleh vibrasi lingkungan sekitar. Molekul-molekul air yang menyusun dalam suatu bentuk itulah yang disebut kristal air yang bila air dalam keadaan membeku akan terlihat. Bicara tentang air tidak hanya berbicara tentang senyawa Hidrogen dan Oksigen saja.  Pikiran, kata-kata, emosi, doa, dan musik memilik efek langsung pada pembentukan kristal air. Dan karena tubuh dan planet kita sebagian besar adalah air, pikiran dan kata-kata juga mempengaruhi dunia. Bagaimana menjelaskan secara logika tentang fenomena ini? Mari kita beranalogi.

Molekul-molekul air itu ibarat para prajurit di medan perang. Para prajurit di medan perang bisa dalam posisi yang tak beraturan atau bahkan kocar-kacir, bisa juga dalam posisi siaga dalam bentuk suatu formasi. Itu semua tergantung dari komando pimpinannya. Ketika dalam kondisi perang maka prajurit yang posisinya tak tentu arah atau bahkan kocar-kacir maka mereka tidak memiliki kekuatan tempur. Namun apabila mereka membentuk formasi tempur sesuai komandonya maka mereka memiliki kekuatan tempur yang lebih kuat. Seperti misalnya formasi Garudhabyuha, Vajrabyuha, Chakrabyuha, dll. Kisah Abhimanyu yang gugur di medan perang oleh karena dia terperangkap dalam formasi Chakrabyuha musuh. Andai musuh tidak dalam bentuk formasi Chakrabyuha mungkin dia akan dengan mudah selamat. Dari cerita itu membuktikan bahwa para prajurit yang membentuk formasi tempur di medan perang maka memiliki kekuatan yang berlipat-ganda.

Begitu juga dengan air, molekul-molekul air ibarat para prajurit yang bisa membentuk formasi yang disebut kristal air. Molekul-molekul air akan membentuk kristal sesuai dengan vibrasi atau gelombang energi/frekuensi yang menyentuhnya yang bisa berasal dari pikiran atau bunyi (kata-kata, musik, dll) atau emosi atau  lainnya. Jadi vibrasi atau gelombang energi/frekuensi tersebut berposisi layaknya sebagai komando terhadap molekul-molekul air agar para molekul air itu membentuk suatu formasi yang disebut kristal. Dan sebuah kristal air secara alamiah memiliki suatu kekuatan sesuai yang vibrasi atau gelombang energi komandonya. Air yang mendapatkan sentuhan kata-kata untuk menyembuhkan suatu penyakit maka molekul-molekul air akan membentuk kristal (formasi) yang memiliki kekuatan menghancurkan sesuai yang dimaksudkan dan bila diminum maka kekuatan itu akan beraksi dalam tubuh yang meminumnya. Begitu juga dengan air yang mendapatkan sentuhan kata-kata baik yang mendamaikan atau membahagiakan maka molekul-molekul air akan membentuk kristal (formasi) yang memiliki kekuatan yang mendamaikan atau membahagiakan dan bila diminum akan bereaksi sesuai kekuatan yang dimilikinya.

Lingkungan juga sangat mempengaruhi bagaimana bentuk kristal-kristal air itu. Kondisi air yang selalu beriak, kondisi lingkungan yang berisik dengan berbagai bunyi tidak menentu, lingkungan yang tercemar polusi, dan lain-lain adalah contoh faktor yang menyebabkan kondisi air menjadi buruk karena berbagai kondisi itu bervibrasi kepada air didekatnya. Itulah mengapa para leluhur kita dahulu memiliki Genthong Air dari tanah liat yang ditaruh di sudut dapur yang tenang. Genthong Air ini berfungsi sebagai tempat memulihkan kondisi molekul-molekul air yang ditimba dari sumur atau diambil dari sumber yang kemungkinan kondisi molekul-molekul airnya tidak menentu karena airnya yang beriak. Saat air didiamkan di dalam Genthong selama beberapa waktu tertentu maka terjadi proses pemulihan molekul-molekul air, proses pemulihan ini terjadi secara otomatis karena air dalam kondisi tenang tidak beriak. Setelah air didiamkan selama beberapa waktu tertentu maka air siap digunakan untuk memasak. Air yang disalurkan oleh perusahaan air juga perlu mendapatkan pemulihan sebelum digunakan. Mengapa? Karena air yang dialirkan tersebut mendapatkan tekanan tertentu sehingga menyebabkan perubahan susunan molekul-molekul air yang tidak menguntungkan apabila langsung digunakan. Belum lagi kandungan kimiawi yang ada dalam air tersebut.

Air yang molekul-molekulnya dalam susunan yang tidak menentu maka kurang memberikan manfaat saat dikonsumsi bahkan bisa jadi meracuni tubuh pada tingkatan tertentu. Oleh karena sifatnya, air pun bisa disalahgunakan oleh orang-orang tertentu untuk tindakan kejahatan. Mereka memberikan sentuhan vibrasi yang merusak atau menghancurkan kepada air sehingga ketika air itu diminum maka akan beraksi merusak tubuh yang meminumnya.   

Seseorang yang melaksanakan ritual dengan salah satu sarananya air sesungguhnya sama konsepnya dengan penjelasan diatas. Kata-kata atau doa-doa yang dia lantunkan juga kesadadrannya layaknya komando terhadap molekul-molekul air agar membentuk formasi dan mempengaruhi molekul-molekul air dalam bentuk vibrasi atau gelombang energi dan membentuk kristal-kristal (formasi) air sesuai dengan alamiah kata-kata atau doa-doa tersebut pun juga kesadarannya. Sehingga air tersebut memiliki kekuatan tertentu dari dalam formasinya sendiri, pun juga bisa menyerap kekuatan atau energi dari luar dirinya oleh karena daya alamiah dari kristal-kristal air yang terbentuk. Dan dalam tradisi air seperti itu disebut TIRTHA.

Rahayu Sagung Dumadi

Aguswi

 

 

Rabu, 04 Juli 2018

AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)


Pendahuluan

Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya. Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan Hindu di masa depan.
Agnihotra yang juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.  Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ke tempat lain.

Dasar Sastra Upacara Agnihotra

1.      Agnimile Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam

Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)

Mantra di atas mengandung makna bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada manifestasi/Tuhan itu sendiri.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...