Beranda

Tampilkan postingan dengan label energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label energi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2024

MENGAPA PARA RESI DI JAWA (MUNGKIN JUGA SUNDA) LEBIH SERING MEMILIH DUDUK DI BAWAH DI ATAS TANAH BERALASKAN TANAH ATAU BAHKAN TIDAK BERALASKAN SAMA SEKALI SAAT MELAKUKAN PEMUJAAN?

 Bumi tempat kita hidup ini yang dalam berbagai sastra disebut Pertiwi adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di dalamnya. Pertiwi atau dalam keseharian lebih kita sebut sebagai tanah adalah sumber kemakmuran bagi semua makhluk hidup. Tanah menjadi media bagi tumbuhan untuk bisa hidup, tumbuhan tersebut menghasilkan makanan sehingga semua makhluk hidup bisa menjaga keberlangsungan hidupnya di bumi ini. Tanpa tanah maka tidak ada kehidupan, ada kehidupan berarti ada energi di sana. Tentu energi alam semesta yang maha dahsyat terbukti adanya bentuk kehidupan. Benih yang ditaburkan di tanah lalu tumbuh berkembang dan menjadi tumbuhan yang menghasilkan makanan bagi kita adalah bukti adanya energi kehidupan di dalam tanah, benda-benda yang dipendam di dalam tanah menjadi terurai juga contoh adanya energi alam yang menyebabkan terjadinya penguraian materi. Dalam sistem kelistrikan kita mengenal adanya “grounding” yang berfungsi untuk menstabilkan aliran listrik sehingga mengurangi berbagai resiko kerusakan akibat aliran listrik yang kemungkinan naik turun. Contoh logika di atas sebagai bukti yang tidak terbantahkan bahwa tanah (Pertiwi) adalah sumber energi alam semesta yang menjadi penopang utama kehidupan semua makhluk hidup di bumi.

Para leluhur kita selain memanfaatkan tanah untuk bercocok tanam juga memanfaatkannya dalam berbagai hal lainnya. Misalnya membuat genthong (wadah air untuk kebutuhan sehari-hari) dari tanah, genthong yang dibuat dari tanah memiliki energi yang dapat memurnikan air, menetralisir berbagai bakteri dalam air, pun juga mengembalikan komposisi kristal-kristal air sehingga air menjadi layak konsumsi. Perlu diperhatikan jika kristal-kristal air tidak beraturan akibat perlakukan air yang kurang tepat maka manfaat air tidak akan maksimal saat kita konsumsi.

Para petani di kebun atau sawah karena sering bersentuhan dengan tanah maka rata-rata badannya lebih sehat dan umurnya pun lebih panjang. Seberapa sering mereka bersentuhan dengan tanah maka semakin badan mereka mendapatkan aliran energi dari tanah sehingga badan mereka ter-energized, dan terciptalah harmoni energi dalam badan, karena energi dalam badan menjadi harmoni lebih dahulu maka pemikirannya pun menjadi harmoni alias tidak banyak berpikir yang neko-neko.

Dalam laku batin para leluhur jaman dahulu memanfaatkan tanah untuk kumkum selama waktu tertentu, atau mandi lumpur. Tradisi kumkum jaman dahulu bukanlah untuk mendapatkan semacam kesaktian diri belaka, melainkan suatu upaya untuk mengharmonikan energi dalam tubuh sekaligus mendapatkan aliran energi yang berlimpah karena tanah adalah sumber energi yang luar biasa. Tradisi kumkum ini biasa dilakukan di tanah berlumpur misalnya sawah atau lainnya yang memungkinkan. Seperti penuturan seorang Romo Resi yang telah beberapa kali menjalani laku kumkum di lumpur ketika mau menjalankan ritual tertentu yang beliau bilang ritual itu tidak ringan dan butuh persiapan energi yang besar untuk menjalankannya.

Di era modern sekarang banyak Spa yang membuka layanan mandi lumpur, atau luluran lumpur. Hal ini dimaksudkan untuk membuat badan menjadi segar kembali dan penuh vitalitas. Jadi tradisi kumkum jaman dahulu sekarang sudah tergantikan dengan cara yang lebih simpel yaitu mandi lumpur dengan fasilitas yang modern.

Penulis setiap pagi setelah bangun tidur sekitar jam 4-5 pagi begitu kaki menyentuh lantai lalu berdoa “Aum Pertiwi Ya Namah Swaha” setelah itu langsung keluar rumah tanpa alas kaki dan menatap ke angkasa menikmati apa yang ada di angkasa sambil merasakan sejuknya tanah yang dipijak dan aliran energi tanah yang mengalir melalui chakra-chakra di kaki. Dan ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan badan.

Itulah alasannya mengapa beberapa Resi di Jawa lebih memilih duduk di tanah beralaskan tikar (bahkan adakalanya tidak beralaskan sama sekali) saat melakukan pemujaan agar badannya sedekat mungkin dengan tanah atau bersentuhan langsung dengan tanah sehingga badan mendapatkan aliran energi yang berlimpah yang mendukung keberlangsungan pemujaan. Dengan badan yang harmoni, dengan energi badan yang berlimpah maka proses ritual maupun spiritual tidak akan mengalami banyak hambatan yang berarti. Selain itu badan Sang Resi yang semakin dekat dengan tanah akan menjadi penghantar yang semakin sempurna penyatuan antara energi Akasa dengan Pertiwi. Penyatuan energi Pertiwi dengan Akasa inilah bagaikan penyatuan antara Siwa dengan Shakti yang melahirkan penciptaan alam semesta. Dalam tradisi karesian Jawa (kemungkinan juga Sunda) tidak ada sesana (aturan wajib) bahwa seorang resi harus duduk di panggung saat melakukan pemujaan, duduk di panggung itu hanyalah bentuk penghormatan umat kepada para waskita tersebut. Salah besar jika ada yang beranggapan bahwa seorang resi yang setiap saat atau saat pemujaan duduk di tanah itu mengotori kesucian dirinya, justru itu membuat badan sang resi menjadi kokoh dan berlimpah energi. Tidak ada kesucian yang luntur hanya gara-gara duduk di bawah dekat dengan tanah atau tanpa alas sama sekali.

 

Rahayu Sagung Dumadi

VrilSociety

Aguswi

               

 

Selasa, 03 Januari 2023

Mantra – Suaranya lebih utama daripada maknanya

Mantra adalah suara, mantra adalah energi, mantra adalah frekuensi/getaran,

Mantra berarti suara, ucapan tertentu berenergi yang bervibrasi dengan frekuensi tertentu. Ilmu pengetahuan modern saat ini melihat seluruh keberadaan jagad raya ini sebagai gaung energi dengan berbagai tingkat getaran atau frekuensi yang berbeda. Secara logika, di mana ada suara maka ada getaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa seluruh keberadaan ini adalah berbagai jenis suara atau penggabungan suara yang kompleks – jadi bisa dikatakan pula bahwa seluruh keberadaan ini adalah penggabungan berbagai mantra. Dari berbagai suara/getaran/mantra tersebut, beberapa telah diidentifikasi, yang mungkin fungsinya seperti kunci. Jika kita menggunakannya dengan cara tertentu, maka suara itu menjadi kunci untuk membuka dimensi suatu kehidupan dan pengalaman yang berbeda di dalam diri kita.

Jadi mantra bukanlah sesuatu yang sekedar kita ucapkan. Itu adalah sesuatu yang kita perjuangkan, karena tanpa kita menjadi kuncinya maka keberadaan tidak akan terbuka untuk kita. Menjadi mantra berarti kita menjadi kuncinya. Hanya jika kita adalah kuncinya maka kita dapat membuka apa terkunci bagi diri kita. Jika tidak, maka orang lain harus membukanya untuk kita dan kita harus melanjutkannya.

Ada berbagai jenis mantra (frekuensi/getaran). Setiap mantra mengaktifkan jenis energi tertentu di bagian tubuh yang berbeda. Tanpa kesadaran yang diperlukan, dan hanya mengulang-ulang suara saja dengan alur pemikiran yang entah kemana maka hanya akan membawa ketumpulan pada pikiran. Tetapi ketika dilakukan dengan kesadaran yang benar, dengan pemahaman yang tepat tentang apa dan bagaimana itu, maka mantra bisa menjadi sarana yang sangat kuat.

Mantra berasal dari berbagai bahasa, dan aspek dasar bahasa tersebut sangat peka terhadap suara. Apakah itu berasal dari bahasa Sanskerta, Jawa Kuno, maupun bahasa-bahasa lain. Setiap bentuk memiliki getaran, berarti pula memiliki frekuensinya, berarti pula memiliki suara yang melekat padanya. Setiap bentuk dalam keberadaan jagad raya ini bergema dengan cara tertentu dan menciptakan getaran atau frekuensi atau suara tertentu. Dalam ilmu pengetahuan modern bahwa antara bentuk, getaran/frekuensi, dan suara adalah sesuatu yang selalu melekat satu dengan lainnya.

Saat kita bersuara, sebuah bentuk sedang dibuat. Ilmu pengetahuan menggunakan suara dengan cara tertentu sehingga menciptakan bentuk yang tepat. Kita dapat membuat bentuk yang kuat dengan mengucapkan suara dalam pengaturan tertentu. Ternyata inipun ada dalam tradisi Yoga yang dikenal sebagai Nada Yoga yaitu yoga dengan cara menciptakan suara-suara tertentu untuk membentuk suatu pengaruh yang akan mempengaruhi tubuh sehingga menciptakan kondisi sistem tubuh yang sehat.

Jika kita menguasai suara maka juga menguasai bentuk yang melekat padanya. Sansekerta dan beberapa bahasa lain termasuk Jawa Kuno adalah contoh bahasa dimana bentuk dan suara terhubung. Contoh saja dalam bahasa Inggris misalnya jika kita mengucapkan “sun” atau “son”, dalam pengucapannya sama, hanya dalam ejaannya saja yang berbeda. Artinya antara suara dan bentuk tidak saling melekat karena sebuah ucapan bisa merujuk kepada beberapa bentuk, bukan satu atau sebuah bentuk saja. Contoh lain misalnya antara ucapan “when” dan “went”, ucapannya sama namun ejaannya berbeda. Apa yang kita tulis bukanlah kriterianya. Namun suaralah kriterianya. Ketika kita menyadari suara apa yang melekat pada bentuk tertentu, kita memberikan suara ini nama untuk bentuk itu. Sekarang suara dan bentuknya terhubung, maka jika kita mengucapkan suara itu, kita berhubungan dengan bentuknya – tidak hanya secara psikologis, tetapi secara eksistensial kita terhubung dengan bentuk. Apa yang berbentuk, kita ubah menjadi suara atau getaran/frekuensi.

Itulah alasan mengapa beberapa bahasa (misal Sansekerta, atau Jawa Kuno) diajarkan harus dipelajari dengan hafalan. Diajarkan dengan cara melantunkannya tanpa henti. Tidak masalah apakah tahu artinya atau tidak karena suaralah yang paling penting, bukan artinya. Arti hanya dibuat dalam pikiran kita yang tidak bisa menembus dimensi kehidupan lainnya, namun suara mampu membawa pada dimensi yang berbeda. Ilmu pengetahuan modern mengidentifikasi bahwa penciptaan jagad raya inipun diawali dengan suara (ledakan) yang disebut Big Bang. Salah satu kitab Upanisad pun juga menuliskan bahwa dalam kekosongan jagad raya ini yang ada hanya suara AUM.

Mantra, dengan melantunkannya secara konsisten dengan fokus pada suaranya, setelah beberapa waktu itu akan menjadi bagian dari sistem kita dan itu akan mengatur suasana tertentu untuk kita. Mantra bukanlah kesadaran tetapi mantra mengatur suasana yang tepat. Suara akan mengatur jenis suasana yang tepat dalam kerangka fisiologis, psikologis dan juga di atmosfer.

Jadi inilah yang dilakukan penulis, saat melantunkan mantra fokus pada suaranya dan menikmati sensasi apapun dari suara itu, tidak penting untuk membayangkan apapun karena itu justru bisa merusak prosesnya. Juga saat melantunkan tidak perlu merenungkan atau menganalisa artinya, karena arti hanya sebatas dalam dimensi pikiran sendiri, tidak bisa mengakses dalam dimensi yang lebih luas. Suara atau getaran/frekuensi-lah yang bisa mengakses pada dimensi yang lebih luas. 

Rahayu Sagung Dumadi

Aguswi

SAINS DALAM BUNGA

 

(Frekuensi Bunga Bermutasi Dengan Frekuensi Badan)

Telah lama diketahui bahwa bunga membawa frekuensi yang dapat memberikan manfaat yang sifatnya terapi bagi manusia dan hewan. Sama seperti homeopati, homeopati adalah terapi alternative yang menggunakan bahan-bahan dari alam yang secara prinsip bukan untuk mengatasi penyakitnya melainkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jika daya tahan tubuh meningkat maka tubuh dengan sendirinya secara alami akan melawan penyakit.

Energi dalam bunga bersifat infusi yang bermanfaat menangani aspek emosional dan mental pada makhluk hidup. Pola getaran frekuensi khas yang dihasilkan oleh setiap bunga berinteraksi dengan medan frekuensi diri kita sendiri. Secara efektif, medan bio-listrik bunga (yang dapat diukur) bisa bersenyawa dengan air. Ini membawa potensi yang memiliki efek positif pada sel-sel kita sendiri setelah kita meminumnya. Ketika kita berada dalam keadaan emosional maka sel-sel kita bergetar pada frekuensi yang lebih rendah. Oleh karena itu bisa segera minum air rendaman bunga yang bisa membantu frekuensi sel-sel tubuh kita kembali seimbang.

Apa yang menyebabkan frekuensi tubuh kita menurun?

Ini bisa jadi disebabkan banyak faktor.

Pencemaran lingkungan seperti radiasi elektromagnetik, bahan kimia beracun atau logam berat semuanya dapat menyebabkan tubuh menjadi tidak seimbang. Bisa juga karena trauma emosional ringan atau berat yang kita alami sepanjang hidup kita. Ini memiliki kecenderungan untuk tetap terkunci di sistem tubuh kita.

Bisa juga karena memori sel-sel tubuh yang membawa garis genetik kita dan yang kita simpan dalam DNA kita sendiri. Jika nenek moyang kita mengalami trauma, ini memungkinkan telah menjadi memori yang tersimpan di dalam sel-sel mereka. Ini diturunkan dari generasi ke generasi, yang terkadang bisa menjadi alasan ketakutan yang tidak dapat dijelaskan.

Emosi yang berulang masuk ke organ-organ tubuh dan menciptakan sistem kepercayaan yang menyebabkan penyumbatan di tubuh fisik kita.

Namun, berbagai jenis bunga dan banyak teknik pengobatan berbasis vibrasi frekuensi lainnya – seperti homeopati – semuanya memiliki efek penyembuhan yang sama. Metode dapat membuka emosi yang tertahan dari sistem kita sehingga dapat melepaskannya untuk selamanya.

Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana bunga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan secara emosional, dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi kesehatan kita. Semua tanaman memiliki energi frekuensi – “kekuatan hidup” dan kecerdasan genetik mereka sendiri. Sebagai manusia, kita juga memiliki getaran frekuensi. Frekuensi ini sering diukur dalam megahertz. Kebanyakan orang umumnya membutuhkan energi frekuensi sekitar 70 MHz untuk menjaga organ berfungsi dengan baik. Penyakit umumnya dimulai pada frekuensi 35 MHz, sedangkan makanan kaleng berfrekuensi pada 0 MHz (alasan yang baik untuk makan makanan segar).

Kesadaran elemental

Perihal yang diterima secara luas bahkan dalam komunitas sains adalah bahwa segala sesuatu memiliki kesadaran. Dan semua jenis kesadaran yang berbeda ini dapat memengaruhi kita hingga pada tingkat tertentu. Perasaan dan pemikiran kita semuanya membawa frekuensi yang dapat mempengaruhi keadaan pikiran dan kesehatan kita.

Hewan dan tumbuhan memiliki frekuensi seperti halnya batu dan kristal tertentu. Jadi semua elemen yang berasal langsung dari Bumi membawa kesadaran atau frekuensi tertentu. Mereka yang selaras dengan Alam memiliki dampak positif pada bidang bio-energi kita sendiri.

Ketika kita menggunakan berbagai jenis bunga dalam kehidupan kita sehari-hari, atau tanaman ke lingkungan kita, maka kita menerima efek penyembuhan yang konstan pada sel-sel dan medan energi kita sendiri.

Ternyata bunga mawar memiliki frekuensi yang tinggi sekitar 320 Hz. Kelopak mawar dapat dimakan dan air mawar bisa ditambahkan ke minuman atau dioleskan ke kulit untuk kecantikan. Mawar memiliki getaran yang paling dekat dengan apa yang disebut frekuensi universal yaitu CINTA (528 Hz). Inilah yang didambakan oleh tubuh energi kita, dan menjelaskan alasan mengapa mawar sering dijadikan sebagai bunga hadiah yang disukai. Tidak heran kita merasa begitu baik di sekitar berbagai jenis bunga. Dan ketika frekuensi kita tinggi, maka penyakit tidak dapat bertahan.

 

Analisis

Menghiasi lingkungan sekitar diri kita dengan berbagai jenis bunga adalah salah satu hal paling positif yang dapat kita lakukan untuk kesehatan kita. Pemakaian berbagai jenis bunga bisa menjadi obat sederhana yang bisa kita gunakan setiap hari.

Dengan memilih berbagai warna dan jenis bunga yang kita inginkan di sekitar kita, maka kita melenturkan otot-otot intuisi kita. Kita juga belajar merasakan ke dalam tubuh kita tentang apa yang terasa baik dan apa yang tidak.

Tubuh energi kita sendiri dapat merasakan frekuensi tanaman itu jika intuisi kita sudah berkembang. Ini dapat mengembalikan kesehatan sel-sel tubuh kita ke fungsi yang optimal.

 

Aguswi

 

 

 

Frekuensi Alam Semesta – Fenomena Konfigurasi Segaris Planet-Planet dan Manfaatnya

Tanggal 28 hingga 30 Juni ini berbagai pusat penelitian antariksa merilis berita dari hasil pengamatan mereka bahwa terjadi konfigurasi segaris berbagai planet-planet yaitu Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus dan Uranus.

Lalu apa pengaruhnya dalam sistem tata surya kita terutama pada kehidupan manusia di Bumi?

Mari kita bermain analogi.

Bumi memiliki daya magnet yang besar hingga menciptakan gaya gravitasi atau gaya tarik sehingga meskipun Bumi berputar pada porosnya juga berputar mengelilingi Matahari namun berbagai makhluk tidak merasakan guncangan ataupun terlempar ke luar angkasa oleh karena selalu ditarik oleh gaya gravitasi yang merupakan daya magnet Bumi.

Lalu bagaimana dengan planet-planet lainnya?

Setiap planet lainnya memiliki daya magnetnya sendiri, buktinya adalah meskipun dipengaruhi oleh daya magnet Matahari namun tidak bergerak semakin mendekati Matahari dan tetap berada pada garis orbitnya. Dari daya magnet itulah menciptakan berbagai bentuk energi lainnya, misalnya daya magnet Bumi menciptakan gaya gravitasi Bumi. Begitu pula dengan planet-planet lainnya dari daya magnet yang dimilikinya membentuk satuan energi pula dalam ukuran frekuensi.  

Coba kita bereksperimen dengan butiran-butiran magnet. Kita tempatkan posisi magnet itu bertebaran seolah seperti planet-planet dalam orbitnya namun tidak segaris, jika memiliki alat pengukurnya (alat ukur satuan daya magnet) maka akan menunjukkan skala tertentu. Lalu posisikan butiran-butiran magnet itu pada konfigurasi yang segaris, dan ukur lagi besaran daya magnetnya, maka akan menunjukkan skala yang lebih tinggi. Artinya bahwa jika butiran-butiran magnet itu dalam posisi yang segaris pada jarak tertentu maka akan menciptakan daya magnet yang lebih besar sehingga dapat pula dikatakan membentuk energi yang lebih besar.

Begitu pula dengan planet-planet yang membentuk konfigurasi segaris maka daya magnet yang terbentuk di sistem tata surya kita menjadi lebih besar sehingga dapat pula dikatakan energi yang terbentuk lebih besar dari biasanya. Dan logikanya, semakin besar energi maka jika setiap kehidupan bisa memanfaatkan dengan tepat maka akan semakin bermanfaat.

Kita memiliki pengetahuan sejak berabad-abad lalu yang disebut dengan Navagraha yaitu pengetahuan tentang berbagai planet dan pengaruhnya pada kehidupan manusia.

Lalu bagaimana cara kerja planet-planet itu bisa mempengaruhi kehidupan manusia?

Bahwa setiap planet memiliki daya magnetnya sendiri dan membentuk besaran frekuensi sendiri pula dan frekuensi inilah yang dipancarkan ke seluruh penjuru tata surya. Dan melalui frekuensi yang terpancar itulah kehidupan di Bumi bisa terpengaruh. Frekuensi yang ditangkap oleh berbagai lapisan tubuh kita akan bermutasi lalu menciptakan suatu bentuk pengaruh.

Coba perhatikan, sistem penanggalan yang menjelaskan berbagai pengaruh hari dan wuku pada kelahiran kita itu bukti pengakuan bahwa sistem tata surya memiliki pengaruh pada setiap kehidupan. 

Navagraha adalah pengetahuan sejak era dahulu kala yang menjelaskan pengaruh planet-planet misalnya:

1.      Matahari atau Aditya frekuensinya mempengaruhi manusia dalam hal energi yang kuat, harga diri, otoritas, kepercayaan diri dan ego manusia.

2.      Bulan atau Candra frekuensinya mempengaruhi manusia dalam hal cinta, ketenangan pikiran, dan emosi.

3.      Mars atau Angaraka frekuensinya mempengaruhi manusia dalam hal keberanian, kegairahan, juga kepercayaan diri.

4.      Merkurius atau Budha frekuensinya mempengaruhi manusia dalam hal ucapan, kecerdasan, daya tangkap, kewaspadaan dan logika.

5.      Venus atau Sukra frekuensinya mempengaruhi manusia dalam hal cinta, hubungan atau relasi, romansa, dan kehidupan seks.

6.      Jupiter atau Bhrihaspati frekuensinya mempengaruhi manusia dalam hal pengetahuan, karir, dll.

7.      Saturnus atau Saniscara frekuensinya mempengaruhi manusia dalam hal salah satunya adalah sisi karma seseorang. Anda keluar dari jalur Dharma, menjadi sangat ambisius atau melakukan perbuatan yang salah; maka Saturnus akan bertindak sebagai Polisi. Cepat atau lambatnya buah karma anda secara umum bisa dilihat pada pengaruh Saturnus dalam diri.

Jadi planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus dan Uranus yang sedang dalam konfigurasi segaris itu menciptakan daya magnet yang berlipat sehingga dapat pula dikatakan menciptakan energi dan pengaruhnya yang berlipat pula seperti yang kita analogikan dengan butiran-butiran magnet yang kita posisikan dalam konfigurasi segaris diatas. Sehingga otomatis pengaruhnya yang terpancar ke Bumi juga berlipat.

Namun bagaimana agar pengaruh energi yang terpancar itu bisa masuk ke dalam berbagai lapisan tubuh kita dan bermutasi dengan energi tubuh?

Maka sistem atau kondisi berbagai lapisan tubuh kita harus dalam kondisi yang baik. Tubuh fisik dalam kondisi atau perlakuan yang baik, misal memperlakukan tubuh agar sehat dengan yoga atau meditasi. menjaga pola makan dengan benar. Tubuh halus dalam kondisi baik misalnya saja sedang tidak ada kemarahan, tidak ada dengki atau iri dan lain-lain. Harus dalam kondisi misalnya saja penuh cinta, kasih sayang, dermawan, dan perilaku baik lainnya. Meditasi agar tidak ada pemikiran buruk yang bercokol dalam pikiran. Tidak ada perilaku buruk yang sedang dilakukan.  

Sifat dan perilaku yang buruk akan memposisikan diri sebagai blokir terhadap pengaruh baik dari berbagai planet-planet terhadap diri masing-masing. Ketika sifat dan perilaku kita terkontrol dalam jalur yang benar maka sistem dalam berbagai lapisan tubuh kita juga dalam kondisi harmoni dan tubuh akan maksimal dalam menangkap energi baik dari berbagai planet-planet, dan energi baik itu sudah tentu sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari, disadari atau tidak disadari.

Salam Kecerdasan

Aguswi

 

 

 

 

Kamis, 22 April 2021

Pemikiran Burukmu Adalah Musuhmu

 Dan itu akan menciptakan karma buruk bagimu

 Manusia adalah makhluk paling sempurna, oleh karena hanya manusialah yang bisa memperbaiki karmanya sendiri; begitulah penjelasan yang tertuang di dalam Sarasamuccaya. Dan meski menjadi makhluk yang paling berdosa, dengan pedang pengetahuan maka bisa mencapai kebahagiaan yang sejati; begitulah yang dijelaskan oleh Bhagavadgita. Manusia mempunyai pikiran (human mind) yang sebenarnya sungguh hebat dan luar biasa seperti layaknya pikiran semesta (mind cosmic), namun karena human mind tidak murni lagi maka ia menjadi seperti seolah-olah terbatas dan lemah.

Apa saja yang menjadikan pikiran manusia tidak murni lagi? Tentu berbagai pemikiran buruk, pemikiran negatif, pemikiran tentang dirinya yang lemah, tidak percaya diri, pemikiran tentang ego, marah, dan sebagainya. Antara human mind dengan mind cosmic terjadi suatu hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Seseorang yang pikirannya lemah apabila berada di suatu tempat yang sakral atau suci, dengan cara-cara tertentu pikirannya akan dikuatkan, dialiri dengan kemurnian atau kesakralan tempat tersebut. Namun sebaliknya bila tempat tersebut memancarkan power negatif yang sangat kuat maka juga akan membuat pikiran seseorang yang lemah akan menjadi lebih melemah hingga pada level-level tertentu. Bahkan bisa mengacaukan pikiran kuat seseorang sekalipun, seperti misalnya sulitnya berkonsentrasi di tempat tersebut, atau berbagai bayangan pengganggu yang terlintas dalam pikiran. Dan pada level-level tertentu human mind-lah yang mempengaruhi mind cosmic, misal seorang atau beberapa orang terlatih yang mempunya pikiran yang kuat, yang murni dan memiliki kemampuan konsentrasi yang tinggi, yang sendiri atau bersama-sama mengucapkan mantra suci di suatu tempat, maka tempat tersebut akan terpengaruh oleh kemurnian dari orang tersebut.

Pemikiran yang baik akan memancarkan gelombang energi (atau frekuensi) yang baik pula dan pemikiran yang buruk akan memancarkan gelombang yang buruk pula. Jadi berhati-hatilah dalam berpikir oleh karena dengan pikiran kita berarti kita mempengaruhi lingkungan yang ada di sekitar kita, kalau pikiran kita dipenuhi dengan pemikiran yang buruk maka sama halnya kita membuang sampah pemikiran/muatan-muatan buruk di atmosfir, dan sudah tentu muatan-muatan buruk itu akan mempengaruhi orang lain pula, dan itu berarti karma buruk bagi kita sendiri. Secara etheric, pemikiran buruk kita telah ikut andil dalam menciptakan kekacauan dunia, dan tentu tidak bisa disangkal bahwa ini menjadi karma buruk bagi kehidupan kita sendiri.

Suatu misal sebuah rumah dimana penghuninya sedang tidak harmonis satu sama lain, maka atmosfir dalam rumah tersebut akan terasa tidak menentu, sederhananya kita akan merasa tidak nyaman bila berada di dalamnya, kita seperti merasa ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, atau bahkan kepala kita bisa pusing oleh karena pengaruh kuat dari muatan-muatan buruk dalam atmosfir rumah tersebut.

Jadi milikilah selalu pemikiran yang baik, dengan pemikiran yang baik maka pikiran kita akan semakin tangguh tak tergoyahkan dimanapun kita berada. Justru dengan pemikiran baik yang tangguh itu kita bisa pengaruhi atau pancarkan kepada lingkungan kita untuk kebaikan bersama. Dengan pemikiran baik yang tangguh itu pula berarti kita turut serta menjadi Pencipta Harmoni dalam lingkungan kita, dan ini menjadi karma baik yang luar biasa. Dalam situasi yang sekarang ini disaat pandemi mewabah, banyak bencana alam misal banjir tanah longsor dan semuanya membawa korban yang sangat banyak; jangan bertanya dan protes kepada alam mengapa bencana ini terjadi apa kesalahan manusia, tetapi pikirkan apa yang bisa kita berikan kepada alam untuk semua bencana ini. Pikirkan bagaimana agar orang-orang yang stress dan terdampak oleh berbagai bencana tadi menjadi teringankan stresnya, minimal di lingkungan kita masing-masing. Ciptakan Harmoni dengan cara yang kita mampu dan pancarkan Harmoni itu kepada lingkungan kita.

Ingatlah selalu bahwa dunia ini akan selalu memantulkan apapun perilaku penghuninya, jika perilaku penghuninya buruk maka dunia juga akan memberikan keburukan kepada kita. Dan sebaliknya jika kita berperilaku yang baik maka dunia akan memancarkan keharmonian kepada kehidupan kita.

Dalam sastra-sastra kuno diberikan cara-cara bagaimana agar kita mampu menetralisir berbagai pemikiran buruk dalam human mind kita, seperti misalnya ajaran Rsi Patanjali dalam Kitab Yoga Sutra bahwa dengan Yoga manusia bisa memiliki kendali atas pikiranya sendiri, dan berarti pula memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Dalam konsep Sains, frekuensi pun bisa diolah menjadi penetralisir berbagai gelombang/getaran/muatan buruk dalam human mind atau pun mind cosmic sekalipun. Frekuensi bisa diolah dalam bentuk yang applicable untuk kebaikan manusia, misal dalam bentuk musik, atau benda-benda yang berfrekuensi.

Bukti nyata bahwa musik bisa menenangkan pikiran kita bisa kita coba ketika pikiran sedang suntuk lalu dengarkan musik instrumen yang slow dan halus maka pikiran kita akan terbawa oleh alunan musik itu sehingga pikiran kita menjadi rileks dan sedikit-banyak akan membantu pikiran kita menjadi lebih tenang. Saat pikiran kita sedang serius memikirkan dalam-dalam tentang sesuatu lalu diperdengarkan musik keras dengan nada yang tidak karuan maka pikiran akan semakin kacau dan gagal konsentrasi. Ini bukti nyata bahwa frekuensi dalam alunan musik itu mampu mempengaruhi pikiran manusia untuk menjadi lebih tenang atau pun menjadi kacau.

Dalam Sains banyak produk-produk yang diciptakan dan diiklankan di TV atau media sosial yang dibuat dengan desain tertentu dan tambahan bahan-bahan alami yang memancarkan gelombang energi atau frekuensi tertentu yang berpengaruh baik pada tubuh atau pun pikiran manusia. Contoh pusat-pusat Spa yang banyak menggunakan batuan alami yang memancarkan gelombang energi/frekuensi untuk terapi. Dan ini semua ini tidak bisa kita sangkal bahwa frekuensi yang terkandung ataupun dikemas dengan desain tertentu akan membantu kehidupan manusia untuk menuju hidup yang Harmoni, baik Mind, Body and Spirit.

 By Aguswi

Rahayu Sagung Dumadi

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...