Beranda

Tampilkan postingan dengan label hari raya sivaratri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari raya sivaratri. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2018

BRATA SIWARATRI: MENDENGAR TETAPI TIDAK MERASA MENDENGAR, MERASA TETAPI TIDAK MERASA


Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara hari suci lainnya, Siwaratri memang unik dan sangat berbeda, sangat menantang bagi para bhakta yang mau melakukannya. Betapa tidak, ada beberapa jenis brata yang memang tidah mudah untuk dilakukan, namun juga tidak sulit jika dilakukan dengan penuh kesadaran, semangat spirit dalam melakukan berbagai sadhana (disiplin spiritual) yang ada. Hari-hari raya yang lain terkesan lebih menonjolkan ritual, namun Siwaratri menuntut para bhakta untuk menyelami lautan spiritual yang memerlukan kemampuan pikiran untuk berenang hingga mencapai pantai realisasi diri. Adalah perlu dipertanyakan bila hari raya Siwaratri ternyata pemakaian sesajen/bebantenan masih cukup banyak, karena dalam Siwaratri lebih mengedepankan menggembleng the Self (Sang Diri) yang bersemayam dalam setiap diri kita sendiri. Disini penulis lebih ber-explore tentang bagaimana melalukan brata-brata Siwaratri, tentu yang berdasarkan pengalaman, tidak berdasarkan kata orang.

Pertama, Upawasa, merupakan brata yang dilakukan dengan tidak/mengurangi makan dan minum. Bagi yang mampu bisa dilaksanakan dengan tidak makan dan minum sama sekali, namun bagi yang tidak mampu bisa dilaksanakan dengan mengurangi porsi makan, suatu contoh pada hari biasa makan sehari tiga piring maka saat Upawasa cukup makan sepiring saja, ini sebagai tahap awal atau tahap belajar. Ada yang mengatakan bahwa sadhana ini hendaknya dilakukan selama 24 jam, namun tidak menutup kemungkinan kurang dari itu dengan menyesuaikan kemampuan diri juga sebagai tahap pembelajaran. Apa konsekuensinya apabila perut kosong? Secara alami maka akan muncul rasa lapar dan haus. Perlu diketahui bahwa antara perut kosong karena belum makan alias lapar dengan perut kosong karena sedang melakukan Upawasa sangat berbeda. Perut kosong oleh karena belum/terlambat makan bisa menyebabkan penyakit, ini dikarenakan ada keinginan untuk makan dalam pikiran sehingga lambung terus mengeluarkan enzim pencernaan, dan pada kenyataannya pada saat itu belum ada yang dicerna karena belum makan, akibatnya lambung perih. Namun perut kosong oleh karena sedang Upawasa tidak akan menyebabkan penyakit, bila Upawasa tersebut memang dilakukan atas kesadaran dirinya sendiri, atas niat yang tulus sebagai sadhana spiritual. Ketika Upawasa dilakukan benar-benar atas dasar niat (bukan karena ikut-ikutan atau gagah-gagahan), ini berarti sama sekali tidak ada pemikiran untuk makan dan minum yang muncul dalam pikiran, karena tidak adanya pemikiran makan dan minum maka secara otomatis lambung tidak mengeluarkan enzim pencernaan dan berhenti melakukan gerakan meremas-remas, sehingga tidak akan ada luka lambung yang menyebabkan perih, lalu rasa lapar pun tidak ada. RASA LAPAR ADA KARENA ADA PEMIKIRAN MAKAN DALAM PIKIRAN.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...