Berbicara tentang
Hindu di Indonesia, maka khalayak ramai selalu berasumsi bahwa mereka pasti
orang Bali. Dan dalam kenyataannya memang seperti itu. Ketika penulis baru
awal-awal bekerja di sebuah instansi, banyak yang menganggap bahwa penulis
adalah seorang Hindu etnis Bali, bertemu dengan komunitas yang berbeda agama
juga sering ditanya, Bali-nya dimana? Padahal Hindu di Indonesia dianut oleh
berbagai etnis selain etnis Bali, yaitu Jawa, Madura, Batak Karo, Dayak dan
lain-lain. Dan sudah tentu karena latar belakang etnis yang berbeda itu pula
maka praktek keagamaan pun juga sudah pasti berbeda. Hal ini dikarenakan Hindu
berkembang disuatu tempat maka ia akan berkembang sesuai dengan adat dan budaya
tempat tersebut.
Hal ini selaras
dengan apa yang dinyatakan dalam Nitisastra, yaitu Dharma Sidhiyartha (Panca
Tarka) antara lain: Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Tattva. Iksa memberi pesan bahwa suatu praktek keagamaan haruslah
benar-benar menuju pada tujuannya, alias tidak salah arah. Sakti, yaitu bahwa
kegiatan-kegiatan tersebut harus mempertimbangkan kemampuan, baik kemampuan
finansial maupun non finansial, tidak dianjurkan untuk memaksakan kehendak.
Desa, yaitu sesuai dengan kondisi tempat tersebut, adat dan budayanya, tidak
menerapkan adat dan budaya yang lain. Kala yaitu menyesuaikan dengan jaman yang
sedang berlangsung. Tattva yaitu tidak keluar atau bertentangan dengan
kebenaran, atau ajaran Veda, Veda selalu menjadi ukuran yang tertinggi.