Beranda

Tampilkan postingan dengan label hindu etnis jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hindu etnis jawa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juli 2018

Perpaduan Ruwatan dan Melukat

Hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2015, bertempat di Pura Taman Mini Indonesia Indah, Paguyuban umat Hindu Jawa – Paguyuban Majapahid – melaksanakan acara ruwatan/melukat. Pada awalnya pihak panitia menargetkan peserta yang tidak lebih dari 50 orang, namun ternyata yang memberikan konfirmasi ikut acara tersebut lebih dari 100 orang. Dan itu tidak menjadikan masalah apapun karena sarana upakara yang dipakai bisa untuk ngruwat/melukat orang berapapun.

Acara pertama diawali oleh pemangku yang melakukan puja pembersihan dan penyucian diri, dilanjutkan dengan puja nuwur tirtha lukat/ruwat dan penguripan sarana sesaji untuk pembersihan dan penyucian (byakala, durmanggala, prayascitta) dan penguripan sesaji lainnya.

Kemudian tirtha lukat/ruwat sebagai bibit, dicampur dengan toya anyar yang sudah dilengkapi dengan berbagai sarana antara lain:
1.      Berbagai jenis daun (daun kayu sisih, daun kayu tulak, daun kayu suji, daun beringin, daun andong, daun mengkudu, daun alang-alang, daun bambu, daun dadap serep, daun temen, daun nagasari, dsb)
2.      Bunga (melati, jepun, kenanga, kantil putih, kantil kuning, mawar, kaca piring, soka, teratai, bunga kelapa, dsb)
3.      Buah (delima putih, jeruk purut, jeruk nipis)
4.      Kayu (cendana, gaharu, stigi, ulin, tulasi)
5.      Batu permata/akik (putih, merah, hitam, kuning)
6.      Cengkir kelapa (kelapa bulan, kelapa udang, kelapa gading, kelapa hijau)
7.      Ruas tebu wulung
8.      Dhatu (emas, perak, tembaga dan permata mirah)
9.      Sejenis minyak yang sangat langka (minyak buluh perindu)
Pencampuran ini diurip dengan mencelupkan sejumlah dupa yang menyala ke dalam campuran tirtha. Perpaduan antara ruwatan dan melukat ini tidak menggunakan wayang, tetapi mengkombinasikan antara daya spiritual dan ritual pelaksana dengan berbagai sarana alami yang mengandung mineral dan daya energi masing.

Sabtu, 14 Juli 2018

PRAKTEK KEAGAMAAN SEORANG HINDU ETNIS JAWA


Berbicara tentang Hindu di Indonesia, maka khalayak ramai selalu berasumsi bahwa mereka pasti orang Bali. Dan dalam kenyataannya memang seperti itu. Ketika penulis baru awal-awal bekerja di sebuah instansi, banyak yang menganggap bahwa penulis adalah seorang Hindu etnis Bali, bertemu dengan komunitas yang berbeda agama juga sering ditanya, Bali-nya dimana? Padahal Hindu di Indonesia dianut oleh berbagai etnis selain etnis Bali, yaitu Jawa, Madura, Batak Karo, Dayak dan lain-lain. Dan sudah tentu karena latar belakang etnis yang berbeda itu pula maka praktek keagamaan pun juga sudah pasti berbeda. Hal ini dikarenakan Hindu berkembang disuatu tempat maka ia akan berkembang sesuai dengan adat dan budaya tempat tersebut.
Hal ini selaras dengan apa yang dinyatakan dalam Nitisastra, yaitu Dharma Sidhiyartha (Panca Tarka) antara lain: Iksa, Sakti, Desa, Kala dan Tattva. Iksa memberi pesan bahwa suatu praktek keagamaan haruslah benar-benar menuju pada tujuannya, alias tidak salah arah. Sakti, yaitu bahwa kegiatan-kegiatan tersebut harus mempertimbangkan kemampuan, baik kemampuan finansial maupun non finansial, tidak dianjurkan untuk memaksakan kehendak. Desa, yaitu sesuai dengan kondisi tempat tersebut, adat dan budayanya, tidak menerapkan adat dan budaya yang lain. Kala yaitu menyesuaikan dengan jaman yang sedang berlangsung. Tattva yaitu tidak keluar atau bertentangan dengan kebenaran, atau ajaran Veda, Veda selalu menjadi ukuran yang tertinggi.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...