Beranda

Sabtu, 18 Agustus 2018

OJO WATON NGOMONG, NANGING NGOMONGO NGANGGO WEWATON

Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan sifat kepanditaan (yang mulia) adalah sabar, tanpa pamrih, tenang dan halus budinya. Dan jika ada seorang pandita/pendeta/ulama tidak menunjukkan sifat-sifat itu maka ia tidak akan dihormati selayaknya seorang yang sangat terhormat dan dia hanya akan dianggap sebagai manusia awam saja. 

Hal ini dinyatakan dalam Kekawin Nitisastra Sargah I.6:

Jroning wwé parimāna nāla gaganging tuñjung dawut kawruhi
Yan ring jātikula pracāra winaya mwang śīla karménggita
Yan ring paṇḍita ring kṣamā mudita śāntopékṣa ris mardawa
Sang śāstrajña wuwus nirāmrĕtā padanyāngdé sutusténg prajā

Jumat, 17 Agustus 2018

PEMIMPIN HARUS MEMAHAMI MASYARAKATNYA

Seorang pemimpin yang baik harus bisa memahami, mengenal dengan sebenarnya tentang masyarakat yang dipimpinnya dan wajib hukumnya untuk selalu mengutamakan kepentingan masyarakatnya sehingga terwujud rasa senang dan bahagia pada masyarakatnya, maka masyarakatpun akan menaruh hati pada pemimpinnya. Pemimpin dituntut untuk mampu bertutur kata yang tepat dan mampu menempatkan diri dimanapun dia berada di tengah-tengah masyarakat. Adakalanya dia harus bertindak lembut dan penuh kasih sayang ataupun kapan saatnya dia harus bertindak tegas tanpa kompromi demi kepentingan masyarakat. Seperti yang dinyatakan Kekawin Nitisastra I.4 berikut:

Ring janmādhika méta citta rĕsĕping sarwa prajāngénaka,
Ring strī madhya manohara priya wuwustāngdé manah kūng lulut,
Yan ring madhyani sang pinaṇḍita mucap tatwopadéṡa prihĕn,  
Yan ring madhyanikāng musuh mucapakĕn wākṡūra singhākrĕti.
 

Kamis, 16 Agustus 2018

NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU

NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU

(ilmu pengetahuan hanya akan bermanfaat jika dipraktekkan)

 Petikan dari sebuah sastra kuno mengatakan sebagai berikut:

 “Ring widyā wiṣa tulya dénikang anabhyāsālasang sampĕnĕh, ……”

 Terjemahan:

Ilmu pengetahuan hanya akan menjadi racun bagi mereka yang tidak terbiasa dan malas untuk mempraktekkannya, ……. (Kekawin Nitisastra, I.3)

 

Canakya Nitisastra IV.15 juga mengatakan hal yang sama:

anabhyāse viṣaṁ ṡāstram ajīrṇe bhojanaṁ viṣam,

daridrasya viṣaṁ goṣṭhī vṛddhasya taruṇī viṣam.

 Terjemahan:

Ilmu pengetahuan yang tidak dipraktekkan akan menjadi racun. Makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga merupakan racun. Bagi orang bodoh, pergaulan dengan banyak orang adalah racun. Perempuan muda bagi mereka yang sudah tua renta adalah racun.

 

Dan sebagaimana disebutkan dalam Serat Wedhatama III.1 (tembang pucung):

ngelmu iku kalakone kanti laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budaya pangekese dur angkara.

Ilmu itu harus dijalankan dengan perbuatan/praktek. Dengan kemauan dan niat yang tulus sebagai kekuatan budi dan kebenaran sebagai penghancur keangkaramurkaan. 

 

Mereka yang kurang berpengetahuan dalam berbahasa biasanya akan sulit dalam bergaul dengan orang lain. Kemampuan dalam mengolah bahasa diibaratkan seperti meracik makanan dengan enam rasa atau sadrasa yaitu manis, asam asin, pedas, pahit dan sepat. Kapan harus mengolahnya dengan rasa manis, atau kapan dengan rasa lainnya, maka dibutuhkan suatu kemampuan.

Sekarang ini banyak sekali orang yang menguasai keilmuan akan tetapi tidak berbanding lurus dengan perilakunya. Ilmu yang mereka kuasai hanya sebatas di mulut dan di kertas saja. Banyak bicara tetapi miskin penerapannya. Bila diminta bicara bisa sampai berjam-jam, dan tiada bukti di masyarakat. Banyak sekali mereka-mereka yang berpendidikan tinggi dengan gelar sederet namun tidak mampu menjaga “ajining diri”. Bicara semaunya, bicara seenaknya yang justru berakibat merendahkan dirinya sendiri.

Mereka yang banyak bicara saja dan tanpa aktualisasi dari apa yang sedang dia bicarakan maka dalam peribahasa Jawa berbunyi “kakehan gludug kurang udan” artinya “terlalu banyak petirnya tetapi hujannya kurang”. Dalam Bahasa Indonesia berbunyi “tong kosong nyaring bunyinya”, orang-orang yang seperti ini akan sangat mudah berkata-kata, mudah berjanji tetapi jarang ditepati, ibarat kata hanya pepesan kosong belaka. Mereka menyembunyikan kebodohannya dengan berlagak angkuh, sok tahu, dan banyak bicara namun tidak menarik untuk didengar.

 Petikan Kakawin Nitisastra, I.9

“………Ring janmālpaka śāstra garwita tĕrĕh śabdanya tanpāmrĕta.

“…….Orang yang sedikit pengetahuannya biasanya angkuh, bicaranya keras dan sama sekali tidak menarik hati

Orang dikatakan berilmu bila dia bisa “nglakoni”, artinya secara nyata mempraktekkannya dan dengan disertai “wiweka” (kebijaksanaan). Manusia berbeda dengan binatang, manusia dibekali dengan wiweka yang diharapkan bahwa manusia bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Dengan wiweka maka manusia bisa memikirkan apa yang baik dan harus dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan.

 Kalimat bijak:

“Pengetahuan itu bagaikan susu yang kaya dengan nutrisi kehidupan, namun jika hanya sebatas diseduh saja dalam gelas (hanya sebatas pengetahuan di dalam pikiran) dan tidak diminum (tidak diaktualisasikan atau dipraktekkan) maka nutrisi kehidupan itu akan sia-sia saja karena tidak merasuk dalam urat nadi kehidupan masyarakat”

Penguasaan ilmu pengetahuan yang tanpa disertai dengan kebijaksanaan maka bisa berakibat salah dalam penggunaan ilmu pengetahuan tersebut. Misal saja seperti tokoh teroris yang sudah mati yaitu Dr.Azhari; dia adalah seorang doktor dibidang fisika dan kimia yang tidak mempraktekkannya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat namun justru sebaliknya mempraktekkannya untuk membuat bom untuk aksi teror.  

Jika kita ahli berbisnis, makmur dan bahagia; ajarkan ilmu itu kepada orang lain agar orang lain pun sejahtera dan makmur seperti kita, jangan justru mengambil setiap peluang dan kesempatan hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran diri sendiri tanpa memberikan kesempatan itu kepada orang lain. Begitu juga dengan keahlian lainnya hendaknya semaksimal mungkin menjadi bermanfaat bagi orang lain.

Orang yang berilmu (juga berwiweka) akan mampu menjaga setiap pemikiran, kata-kata dan perilakunya; dengan begitu dia mampu menjaga “ajining diri” nya sendiri juga diri orang lain. Dia akan mampu menelaah apakah pemikiran, kata-kata dan perilakunya bermanfaat atau justru malah merugikan atau menyakiti orang lain. Orang yang berilmu akan selalu berusaha menjaga keberadaannya untuk selalu bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Dia akan selalu berusaha untuk mengaktualisasikan pengetahuannya untuk kebaikan bersama.

 

AGUSWI

Bumi Pasundan

 

Kamis, 02 Agustus 2018

AGAMA DALAM KONTEKS BUDAYA

Agama secara normatif  tidak pernah mengajarkan untuk melakukan penekanan terhadap pemeluk agama, baik dalam intern agama maupun antar agama karena selain mengutamakan religi, agama juga mengajarkan ajaran moralitas. Dalam hal ini agama merupakan sumber nilai moral yang sangat penting dalam praktek kehidupan masyarakat. Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2 yang berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”, umat beragama diberikan kebebasan dalam melaksanakan berbagai  praktik agama. Namun realita keagamaan sekarang ini lebih menunjukkan adanya persoalan-persoalan yang mengatasnamakan agama. Padahal agama lokal telah dijadikan pedoman tingkah laku dalam menciptakan kesadaran dalam kelompok masyarakat.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...