Beranda

Selasa, 31 Agustus 2021

Pagerwesi: Hanya Pengetahuan Yang Bisa Membentengi Diri

 

Oleh: Aguswi 

Kata “pagerwesi” artinya pagar dari besi. “Pagar” dibuat untuk membentengi atau melindungi sesuatu dari ancaman yang membuat kerugian atau bahkan merusak, “wesi” adalah material yang kita kenal mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi.

Hari raya Pagerwesi selalu kita rayakan setelah hari raya Saraswati, mengapa? Perlu kita ketahui bahwa satu-satunya hal yang dapat kita jadikan benteng atau pertahanan dalam diri kita hanyalah pengetahuan. Tanpa pengetahuan maka manusia akan mengalami kebodohan (avidya), dari kebodohan maka manusia akan sangat beresiko terjerumus dalam berbagai penderitaan dalam setiap kehidupannya. Dan hari Saraswati adalah hari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus mendapatkan jalannya terlebih dahulu untuk mengalir ke dalam diri seseorang, barulah jika pengetahuan itu sudah ada di dalam diri baru bisa difungsikan salah satunya sebagai benteng dalam diri. Itulah alasan mengapa Saraswati merupakan hari raya yang lebih dahulu dilaksanakan beberapa waktu sebelum Pagerwesi.

Namun perlu dipahami bahwa sebagaimana air hanya akan bisa mengalir ke tempat yang lebih rendah, begitu juga air pengetahuan hanya akan bisa mengalir kepada mereka yang memiliki kerendahan hati. Orang-orang yang angkuh, sombong, congkak, penuh kedengkian, pemarah, mudah emosional, mudah membuli, gampang memprovokasi maka pengetahuan yang benar tidak akan bisa mengalir kepada orang-orang seperti itu. Dibutuhkan orang yang “pangerten” (ungkapan Jawa) yang artinya mau memahami, mau menyadari, mau mencari kebenarannya, mau bertoleransi. Barulah setelah pengetahuan itu bersenyawa dalam diri seseorang dan membentuk sebuah komposisi kesadaran maka dia bisa memfungsikannya sebagai “way of life” salah satunya sebagai benteng dalam diri; benteng yang memagari diri untuk tidak terpapar dalam berbagai pemikiran yang buruk, benteng yang memagari diri dari paparan tindakan yang asusila, benteng yang memagari diri agar setiap ucapan tidak keluar dari konteks kebenaran.

Seringkali kita membaca postingan di medsos begitu mudahnya seseorang mencaci, memaki, membuli, memprovokasi, merendahkan, dsb; itu mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak memiliki benteng dalam dirinya sehingga dia dengan mudahnya terpapar dalam perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan dan kesantunan. Sifat-sifat buruk seperti itu akan menjadi sebuah penghalang atau blokir terhadap aliran pengetahuan ke dalam dirinya.

Pengetahuan memiliki kekuatan yang luar biasa, sebagaimana api yang mampu membakar benda hingga menjadi abu, begitu pula api pengetahuan akan sanggup membakar berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang dialami seseorang. Bhagavadgita memberikan penjelasan bahwa dengan pengetahuan orang yang paling berdosa sekalipun akan sanggup menyeberangi lautan penderitaan.

Pagerwesi menurut lontar Sundarigama disebutkan :

“budha kliwon shinta ngaran pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pamujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (Sembilan Dewata) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

 

“Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Mahabhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”

Artinya:

Sang Pandhita hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara. Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada persembahan untuk Sang Panca Mahabhuta yang warnanya menurut uripnya dan ditempatkan di tempat pemujaan.

 

“Ngawerdhiaken” artinya mengembangkan, tumitah artinya yang terlahirkan, tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Dalam ungkapan Jawa ini sama dengan “Memayu Hayuning Bhuwana” yang artinya mengembangkan, melestarikan, menjaga segala bentuk kehidupan. Segala bentuk kehidupan ini harus dikembangkan, dilestarikan dan dijaga; karena apabila itu tidak dilakukan maka manusia akan dilanda penderitaan lahir maupun batin entah sebagai dampak dari yang terjadi secara global atau pun karena dirinya sendiri. Misal saja tumbuh-tumbuhan (pertanian ) tidak dikembangkan dan dilestarikan maka akibatnya adalah kemiskinan dan kelaparan. 

Dalam konteks sekarang, kata “sang purohita” ini ditujukan kepada kita semua yaitu orang-orang yang memiliki keluhuran budhi sebagaimana para purohita (pandhita) yang memiliki sifat-sifat mulia. Dan hendaknya mereka yang memiliki keluhuran budhi, yang memiliki kesadaran diri melakukan yoga samadhi. Jadi inilah hakikat dari Pagerwesi bahwa dengan segenap pengetahuannya seseorang hendaknya melakukan yoga samadhi. Menurut Yoga Sutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali bahwa “Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran” Mengapa pikiran perlu dikendalikan? Agar supaya pikiran tidak larut dalam berbagai gelombang pemikiran terutama pemikiran yang buruk yang memungkinkannya untuk kehilangan sifat sejatinya. Semakin gelombang-gelombang pemikiran itu dibiarkan, maka semakin mengganggu kinerja dari pikiran, bahkan bisa membuat pikiran menjadi galauw, stress hingga gila. Sehingga dengan kondisi pikiran yang seperti itu maka tingkat kesadaran seseorang menjadi menurun dan akibatnya mudah berprilaku yang tidak pantas hingga kejam. Yoga samadhi tidak bisa diartikan sempit sebagaimana asumsi kebanyakan orang yaitu “duduk diam hening tidak bergerak sama sekali”, tetapi lebih luas dari itu yaitu tertuang dalam konsep Astangga Yoga dimana pada bagian awal berkaitan dengan pengendalian perilaku kita sehari-hari yaitu Yama dan Nyama. Bahwa sebelum menjalankan laku sadhana inti atau puncak dari Yoga yaitu Samadhi maka syaratnya adalah perilaku sudah mencerminkan sebuah keluhuran budhi. Tanpa keluhuran budhi (sifat-sifat yang mulai) maka laku sadhana yoga tahap lanjutan adalah sia-sia belaka. Karena pengetahuan yang terkandung dalam inti atau puncak laku sadhana yoga tidak akan bisa mengalir dalam diri, oleh karena terblokir oleh sifat-sifat buruk dalam diri.

Buatkan jalan berupa kemuliaan diri bagi pengetahuan untuk bisa mengalir dan bersenyawa dalam sang diri dan membentuk sebuah komposisi kesadaran yang tinggi. Jadi hanya pengetahuanlah yang bisa dijadikan benteng yang kuat dalam diri agar segala kecenderungan atau sifat-sifat yang buruk tidak mampu menyentuh sang diri sehingga tujuan hidup bisa tercapai.  

 

Bocah Jowo

 

 

Rabu, 23 Juni 2021

Badan Kita Sebagai Radio Receiver Penerima Gelombang Frekuensi Semesta

 

Oleh: Aguswi

 Coba kita lihat pasti semua tidak asing dengan perangkat elektronika yang disebut Radio. Kita bisa menikmati berbagai program yang dipancarkan oleh berbagai stasiun pemancar Radio melalui perangkat Radio receiver yang kita miliki. Stasiun pemancar Radio memancarkan siarannya dalam satuan gelombang frekuensi Khz maupun Mhz tertentu dimana antar stasiun pemancar memiliki gelombang frekuensi yang berbeda-beda. Gelombang frekuensi itu dipancarkan ke segala penjuru arah hingga mencapai jangkauan batasannya, gelombang frekuensi itu tidak terpancar ke arah tertentu saja sehingga hanya area tertentu saja yang bisa menikmati program acara stasiun radio itu. Dan kita, untuk bisa menikmati program acara yang disiarkan hanya bisa ketika (1) perangkat radio receiver kita kondisinya normal, (2) kita bisa memutar radio itu pada frekuensi yang tepat yang dipancarkan stasiun radio yang program acaranya ingin kita nikmati.  

Ada berbagai program siaran yang dipancarkan stasiun pemancar radio seperti misalnya siaran lagu-lagu, berita, ilmu pengetahuan, isu-isu terkini, resep makanan, biografi tokoh, dan lain-lain. Bila perangkat radio receiver kita dalam kondisi tidak normal alias ada komponen-komponen yang sudah aus atau rusak maka radio kita tidak akan bisa menangkap gelombang frekuensi yang dipancarkan stasiun pemancar dengan sempurna, akibatnya suaranya bisa tidak jelas alias kemresek atau bahkan tidak bisa menerima gelombang frekuensi sama sekali dan yang ada hanya suara kemresek. Bila perangkat radio receiver kita kondisinya bagus maka untuk menikmati berbagai program siaran stasiun pemancar radio kita tinggal memutarnya pada frekuensi yang kita inginkan pada posisi yang tepat dan terdengarlah siaran yang dipancarkan misal program acara lagu-lagu, dan kita bisa menikmati siaran itu. Bila kita tidak tepat memutar pada frekuensinya maka suaranya pun bisa tidak jelas alias kemresek.

Begitu juga dengan diri kita, badan kita dengan berbagai lapisan dan atributnya ini adalah sebuah radio receiver untuk menangkap kekuatan-kekuatan atau gelombang-gelombang frekuensi alam yang kita butuhkan, dan badan kita ini sangat canggih sekali. Alam semesta ini diciptakan sudah dilengkapi dengan semua perangkat-perangkat pendukungnya. Semua unsur-unsur atau kekuatan-kekuatan pendukung seperti kebahagiaan, kesejahteraan atau kekayaan, kemakmuran, kecerdasan, dan lain-lain; semua sudah tersedia di alam ini sejak awal alam ini tercipta. Tidak ada unsur atau kekuatan pendukung yang tertinggal yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, perangkat-perangkat alam semesta sudah tersedia dengan sempurna oleh-Nya. Segala kebutuhan dari makhluk hidup sudah tersedia bak makanan prasmanan yang sangat beragam dimana kita tinggal mengambilnya dan tidak perlu lagi order kepada penyedia makanan karena makanan sudah tersedia lengkap di meja.

Manusia yang hidup di bumi ini memiliki berbagai kebutuhan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Dengan berbagai cara manusia berusaha untuk mendapatkan berbagai kebutuhan-kebutuhan itu. Aktivitasnya ini harus didukung dengan kondisi badannya yang normal, alias sehat dan kuat; tanpa kekuatan dari badannya maka usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan gagal. Dengan badan yang tidak normal alias sakit fisik atau pun batin maka itu sebuah halangan baginya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai tujuan hidupnya. Hidupnya pasti menderita. Dalam hal ini maka usaha-usaha nyata untuk sehat diperlukan misal dengan melakukan olah Yoga Asana, atau dengan mempraktekkan atau menerapkan cara-cara untuk sehat baik yang tradisional maupun yang modern alias BERTEKNOLOGI (ada alat-alat berteknologi yang sudah ada dipasaran yang dapat menunjang kesehatan). Hanya dengan berdoa saja tanpa usaha maka ini sia-sia belaka untuk mendapatkan kesehatan. Alam sudah menyediakan berbagai kekuatan dan kita tinggal mengambilnya, hanya saja untuk mengambilnya kita harus tahu caranya (analoginya adalah jika kita ingin menikmati program siaran stasiun pemancar radio maka harus tahu besaran gelombang frekuensinya misal apakah dibawah 100 Mhz atau diatas 100 Mhz dan diputar pada posisi yang tepat). Dan salah satu cara untuk mendapatkan kekuatan berupa kesehatan adalah dengan melakukan Yoga Asana (disamping cara lainnya misal dengan mempraktekkan atau menerapkan cara-cara untuk sehat baik yang tradisional maupun yang modern alias BERTEKNOLOGI). Hanya dengan berdoa saja maka kekuatan kesehatan itu kemungkinan tidak akan bisa diperoleh (analoginya kita ingin menikmati program siaran stasiun pemancar radio tertentu akan tetapi frekuensi radio yang kita putar tidak tepat pada frekuensi yang dipancarkan stasiun pemancar radionya). Karena hukum alamnya adalah siapapun yang melakukan sadhana Yoga Asana maka akan mendapatkan kekuatan kesehatan, jadi antara perihal “yoga asana” (atau praktek nyata lainnya untuk sehat) dengan perihal “kekuatan kesehatan” adalah dua hal yang saling berpasangan, memiliki hubungan sebagai “sebab” (yoga asana) dan “akibat” (kekuatan kesehatan).  Badan ini melalui sadhana Yoga Asana akan bisa menangkap energi atau kekuatan kesehatan yang tersedia di alam (analoginya radio receiver (badan ini) dengan diputar pada gelombang frekuensi siaran yang tepat sesuai yang dipancarkan stasiun pemancar radionya (yoga asana) maka program siaran radio pemancar (kekuatan kesehatan) yang diinginkan bisa ditangkap dan dinikmati). Antara perihal “doa dan kesehatan” bukan dua hal yang memiliki keterkaitan lebih erat jika dibanding dengan perihal antara “yoga asana dan kesehatan”. Dengan melakukan “yoga asana” maka alam (sebagai stasiun pemancar radio) akan memberikan dukungan dan memfasilitasi badan (yang menjadi radio receiver) untuk mendapatkan dan menikmati kekuatan kesehatan yang dipancarkan oleh alam melalui Hukum-Nya yaitu Hukum Rta.   

Logika lainnya adalah perihal “kecerdasan”. Untuk memiliki kecerdasan ini maka harus dicapai dengan melakukan usaha yaitu “belajar yang keras”.  Kecerdasan tidak akan bisa dimiliki dengan melakukan misalnya “ritual”. Antara “belajar yang keras” dengan “kecerdasan” adalah dua hal yang saling berpasangan, memiliki hubungan sebagai “sebab” (perihal belajar yang keras) dan “akibat” (perihal kecerdasan). Jadi jika diri kita (sebagai radio receiver) ingin mendapatkan kekuatan kecerdasan yang dipancarkan oleh alam (gelombang frekuensi yang dipancarkan stasiun pemancar radio) maka harus melakukan usaha belajar yang keras (memilih gelombang frekuensi yang tepat).

Begitu juga dengan perihal lainnya, misal jika kita menginginkan kemakmuran atau kekayaan yang lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup maka usaha yang paling tepat adalah dengan melakukan kerja yang keras pada bidang usaha yang tepat dan menjanjikan. Tanpa kerja yang keras pada bidang usaha yang tepat dan menjanjikan maka kemakmuran atau kekayaan yang lebih tidak akan bisa dimiliki.    

Jadi alam ini layaknya sebuah stasiun pemancar radio yang memancarkan berbagai besaran gelombang frekuensi atau energi atau kekuatan yang bisa kita tangkap dan bermanifestasi sebagai semua kebutuhan hidup makhluk hidup; seperti kekuatan kesehatan, kesejahteraan atau kekayaan, kecerdasan, kebahagiaan, dan lain-lain. Jika ada orang yang merasa kekurangan dalam kebutuhan hidupnya lalu menyalahkan dan menuduh alam ini tidak berpihak kepadanya maka itu sebuah kebodohan. Itu adalah permasalahannya sendiri yang tidak harmoni dan tidak mau berusaha lebih tepat atau tidak mampu mendapatkan semua kebutuhan hidupnya yang sebenarnya sudah semuanya disediakan oleh alam sejak alam ini ada. Alam dalam memenuhi kebutuhan makhluk hidup tidaklah bekerja seperti kita ke jasa penyedia barang lalu kita pesan barang dan barang dicarikan dulu setelah itu diberikan, jika barang belum ada maka menunggu untuk diorderkan ke pihak produksi. Namun, alam sejak awal ada sudah menyediakan semua kebutuhan hidup penghuninya dan memberikan cara-cara kepada penghuninya melalui pengetahuan agar semuanya dapat mengakses semua yang disediakan oleh alam untuk penghuninya.    


Rahayu Sagung Dumadi

Pakuan - Tatar Sunda

 

Minggu, 06 Juni 2021

PADASEVANAM (SUNGKEMAN)

Oleh: Aguswi

Ritual padasevanam (membasuh kaki kedua orang tua dan sujud) merupakan bentuk bhakti yang tertuang dalam Bhagavata Purana VII.5.23 tentang sembilan jenis bhakti dalam sloka yang berbunyi berikut:

“sravanam kirtanam visnoh, smaranam padasevanam, archanam vandanam dasyam, sakhyam atmanivedanam”

Padasevanam atau sungkeman anak kepada orang tua juga ada pada teks Grehasta Winaya yang merupakan ajaran tentang etika rumah tangga, kewajiban orang tua, kewajiban suami istri maupun anak:

“apan sira sampun ngamolihaken pangaskara widhi wenang ta sira mangarpanaken padya arga camaniya” yang artinya “karena engkau telah mendapatkan upacara samskara Widhi adalah kewajiban bagimu untuk membasuh kaki dan bersujud”

Padasevanam adalah tradisi yang dalam masyarakat Hindu etnis Jawa disebut sungkeman. Pada artinya kaki dan sevanam artinya pelayanan atau pemujaan, jadi padasevanam artinya melayani dikaki Tuhan. Dalam Taitiriya Upanisad dikatakan “matru devo bhava, pitru devo bhava” yang artinya ibu dan bapak adalah wujud Tuhan di dunia bagi anaknya.

Atas dasar sastra-sastra itulah tradisi padasevanam (sungkeman) seorang anak kepada orang tuanya dilakukan. Bagi seorang anak, kedua orang tuanya adalah wujud Tuhan yang terlihat yang melahirkannya. Padasevanam merupakan wujud sikap sujud bhakti yang dilakukan seorang anak kepada orang tuanya, sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang yang mulia dari seorang anak.

Tradisi sujud bhakti seorang anak kepada orang tuanya ini dalam sastra Purana dicontohkan oleh sujud bhakti Dewa Ganesha kepada kedua orang tuanya yaitu Dewa Siwa dan Parwati. Saat itu Dewa Resi Narada mengatakan bahwa siapa yang dapat mengelilingi dunia tujuh kali dengan cepat maka dialah yang paling cerdas. Kartikeya dan lainnya segera melesat mengelilingi dunia, namun Ganesha tidak ikut melesat dan hanya mengelilingi Siwa dan Parwati yang sedang duduk sebanyak tujuh kali. Saat Narada bertanya mengapa Ganesha hanya mengelilingi orang tuanya lalu Ganesha menjawab bahwa kedua orang tua itu adalah dunia bagi anaknya sendiri, sujud bhakti kepada orang tua berarti sujud bhakti kepada seluruh dunia berarti pula sujud bhakti kepada Tuhan itu sendiri. 

 

Padasevanam bisa memberikan manfaat yang luar biasa, dengan membiasakan diri dengan padasevanam akan membuat kita mendapatkan karunia dari Tuhan, leluhur, orang tua dan guru. Adapun karunianya mulai dari Ayu Werdhi (umur panjang), Werdi Pradnyan (memohon ilmu pengetahuan), Sukha Sriyam (rasa bahagia dan kemakmuran), Dharma Sentana (keturunan yang baik), Santute (rasa damai yang luar biasa) juga karunia lainnya.

Begitu besar manfaat dari padasevanam (sungkeman). Jangan sampai hanya dilakukan ketika masulub saja (saat orang tua sudah meninggal), karena saat itu orang tua sudah tidak bisa memberi karunianya lagi.

Padasevanam kepada orang tua

Kedua orang tua diupayakan duduk dikursi. Ibu disebelah kiri dan bapak disebelah kanan.

Anak duduk dihadapan orang tua dan mengucapkan mantra :

Om Guru Brahma Guru Visnuh,

Guru Devo Mahesvaram,

Guru shaksat Parambrahma,

Tasmei Shri Gurave Namaha.

Dilanjutkan anak membasuh kaki kedua orang tuanya. Dimulai dari membasuh kaki ibunya lalu mencium kaki ibunya sambil si anak dalam hati mengucapkan doa atau permohonan maaf kepada ibunya atas semua kesalahannya selama ini, tangan ibu memegang pundak anak sambil mengucapkan harapan kepada anaknya.

Doa atau mantra yang bisa diucapkan anak saat mencium kaki ibunya adalah :

“Om Namane Smaranam, Om Padame Sharanam”

Artinya “Om Hyang Widhi semoga hamba selalu ingat kepada orang tua hamba dan semoga hamba selalu bisa bersujud di kaki kedua orang tua hamba”. Doa juga bisa dengan bahasa anak sendiri.

Harapan yang diucapkan orang tua kepada anak bisa dengan mantra:

“Om sarvesam swasti bhawantu,

Om sarvesam santih bhawantu,

Om sarvesam sukham bhawantu,

Om sarvesam suputram bhawantu,

Om sarvesam sadhunam bhawantu,

Om sarvesam gunawan bhawantu,

Om sarvesam purnam bhawantu”

Artinya:

Om Hyang Widhi limpahkanlah keselamatan, kedamaian, kebahagiaan, semoga menjadi anak yang suputra, putra yang baik hati, putra yang bermanfaat, anugerahkanlah kesempurnaan kepada anak-anak hamba.  

Mengapa ibu harus dibasuh lebih dahulu dari pada bapak? Karena sang ibu menanggung kewajiban yang sangat berat. Begini disebutkan dalam Sarasamuscaya:

"Apan lwih temen bwating ibu, sangkeng bwating lemah, kativangana, tar bari-barin kalinganya aruhur temen sang bapa sangke langit"

Artinya:

(Sebab jauh lebih berat kewajiban ibu daripada beratnya bumi, karenanya patut dihormati beliau dengan sungguh-sungguh, tanpa ragu-ragu demikian pula lebih tinggi penghormatan kepada bapa daripada tingginya langit). Tiada lain lagi hanya dengan setia bhakti hormat terhadap ibu, membuat ibu senang dan puas hatinya (ikang bhakti makawwitan, paritusta sang rawitnya).

Kemudian dilanjutkan dengan membasuh kaki bapaknya dengan proses yang sama saat membasuh kaki ibunya.

Senin, 10 Mei 2021

ALAM versus MESIN CNC

Oleh: Aguswi

Sebuah mesin produksi yang berbasis CNC (Computer Numerical Control) beroperasi berdasarkan sistem pemrogramannya. Sang Programmer menciptakan sistem operasinya sejak awal mesin tersebut ada, dan ketika sistem pemrograman itu diaplikasikan maka mesin beroperasi secara otomatis. Operator mesin tinggal mengawasi saja tidak lagi banyak campur tangan langsung. Material atau bahan produksi yang diolah oleh mesin berbasis CNC itu berjalan dengan mengikuti alurnya yang telah disetting secara otomatis. Saat material atau bahan produksi itu posisinya presisi pada tempatnya maka hasil akhirnya sebagai produk akan sempurna, tidak ada cacat produk. Namun ketika karena sesuatu hal sehingga posisi material atau bahan produksi posisinya tidak presisi maka kemungkinan besar akan terjadi cacat produk. Dari cacat produk dilakukan penelusuran apakah penyebabnya dari faktor mesin atau sistem pemrogramannya atau faktor materialnya. Sangat jarang sekali bahwa penyebabnya adalah faktor sistemnya, kebanyakan faktor materialnya.
Begitu juga dengan alam ini, sejak awal alam ini diciptakan maka pada saat itu pula Hyang Kuasa sebagai Pencipta sekaligus sebagai Sang Programmer menciptakan sistem operasi alam ini yang disebut Hukum Rtam (Hukum Alam). Alam ini bak sebuah mesin yang beroperasi pada sistem Hukum Alam dan bekerja secara otomatis. Dalam sistemnya (Hukum Alam) dirumuskan bahwa segala sebab akan menghasilkan akibat. Semua tindakan/prilaku penghuni alam entah dalam bentuk pemikiran, perkataan, perbuatan; semuanya akan berposisi sebagai SEBAB yang pada akhirnya akan menghasilkan AKIBAT. Hyang Kuasa sebagai Sang Programmer tinggal menjadi saksi saja atas beroperasinya mesin alam ini. Kita sebagai penghuni alam tidak akan bisa luput atau menghindar dari sistem operasi Hukum Alam ini. Bila kita bisa berposisi tepat dan benar alias presisi atau harmoni dengan Alam ini maka pasti endingnya yang kita dapatkan adalah yang baik pula. Namun jika kita berposisi tidak tepat atau bahkan bertentangan dengan Alam alias kita tidak presisi dengan Alam ini maka endingnya yang kita dapatkan pun juga hal yang tidak baik atau bahkan menyakitkan dan membuat menderita. Saat mendapatkan ketidakbaikkan atau keburukan atau penderitaan maka hal yang bodoh bila kita menyalahkan alam ini beserta sistem operasinya (Hukum Alam) karena Pencipta sekaligus Sang Programmer alam ini adalah Maha Benar. Tidak ada bagian alam yang salah diciptakan atau ada sistem operasinya (hukum alam) yang salah program. Seperti misalnya berlangsung penebangan pepohonan secara besar-besaran lalu saat hujan turun terjadi banjir yang dahsyat, lantas banyak yang mengeluh kepada alam mengapa hal itu terjadi atau bahkan protes kepada Hyang Kuasa mengapa menimpakan bencana ini. Ini adalah hal yang bodoh. Banjir terjadi karena banyaknya penebangan pohon, bukan karena alamnya atau Hyang Kuasa ingin menimpakan banjir. Jadi bila kita tidak harmoni alias posisi kita tidak presisi dengan alam maka bersiaplah untuk mendapatkan hal yang disharmoni pula menimpa diri kita.

Rahayu Sagung Dumadi

Kamis, 22 April 2021

Pemikiran Burukmu Adalah Musuhmu

 Dan itu akan menciptakan karma buruk bagimu

 Manusia adalah makhluk paling sempurna, oleh karena hanya manusialah yang bisa memperbaiki karmanya sendiri; begitulah penjelasan yang tertuang di dalam Sarasamuccaya. Dan meski menjadi makhluk yang paling berdosa, dengan pedang pengetahuan maka bisa mencapai kebahagiaan yang sejati; begitulah yang dijelaskan oleh Bhagavadgita. Manusia mempunyai pikiran (human mind) yang sebenarnya sungguh hebat dan luar biasa seperti layaknya pikiran semesta (mind cosmic), namun karena human mind tidak murni lagi maka ia menjadi seperti seolah-olah terbatas dan lemah.

Apa saja yang menjadikan pikiran manusia tidak murni lagi? Tentu berbagai pemikiran buruk, pemikiran negatif, pemikiran tentang dirinya yang lemah, tidak percaya diri, pemikiran tentang ego, marah, dan sebagainya. Antara human mind dengan mind cosmic terjadi suatu hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Seseorang yang pikirannya lemah apabila berada di suatu tempat yang sakral atau suci, dengan cara-cara tertentu pikirannya akan dikuatkan, dialiri dengan kemurnian atau kesakralan tempat tersebut. Namun sebaliknya bila tempat tersebut memancarkan power negatif yang sangat kuat maka juga akan membuat pikiran seseorang yang lemah akan menjadi lebih melemah hingga pada level-level tertentu. Bahkan bisa mengacaukan pikiran kuat seseorang sekalipun, seperti misalnya sulitnya berkonsentrasi di tempat tersebut, atau berbagai bayangan pengganggu yang terlintas dalam pikiran. Dan pada level-level tertentu human mind-lah yang mempengaruhi mind cosmic, misal seorang atau beberapa orang terlatih yang mempunya pikiran yang kuat, yang murni dan memiliki kemampuan konsentrasi yang tinggi, yang sendiri atau bersama-sama mengucapkan mantra suci di suatu tempat, maka tempat tersebut akan terpengaruh oleh kemurnian dari orang tersebut.

Pemikiran yang baik akan memancarkan gelombang energi (atau frekuensi) yang baik pula dan pemikiran yang buruk akan memancarkan gelombang yang buruk pula. Jadi berhati-hatilah dalam berpikir oleh karena dengan pikiran kita berarti kita mempengaruhi lingkungan yang ada di sekitar kita, kalau pikiran kita dipenuhi dengan pemikiran yang buruk maka sama halnya kita membuang sampah pemikiran/muatan-muatan buruk di atmosfir, dan sudah tentu muatan-muatan buruk itu akan mempengaruhi orang lain pula, dan itu berarti karma buruk bagi kita sendiri. Secara etheric, pemikiran buruk kita telah ikut andil dalam menciptakan kekacauan dunia, dan tentu tidak bisa disangkal bahwa ini menjadi karma buruk bagi kehidupan kita sendiri.

Suatu misal sebuah rumah dimana penghuninya sedang tidak harmonis satu sama lain, maka atmosfir dalam rumah tersebut akan terasa tidak menentu, sederhananya kita akan merasa tidak nyaman bila berada di dalamnya, kita seperti merasa ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu, atau bahkan kepala kita bisa pusing oleh karena pengaruh kuat dari muatan-muatan buruk dalam atmosfir rumah tersebut.

Jadi milikilah selalu pemikiran yang baik, dengan pemikiran yang baik maka pikiran kita akan semakin tangguh tak tergoyahkan dimanapun kita berada. Justru dengan pemikiran baik yang tangguh itu kita bisa pengaruhi atau pancarkan kepada lingkungan kita untuk kebaikan bersama. Dengan pemikiran baik yang tangguh itu pula berarti kita turut serta menjadi Pencipta Harmoni dalam lingkungan kita, dan ini menjadi karma baik yang luar biasa. Dalam situasi yang sekarang ini disaat pandemi mewabah, banyak bencana alam misal banjir tanah longsor dan semuanya membawa korban yang sangat banyak; jangan bertanya dan protes kepada alam mengapa bencana ini terjadi apa kesalahan manusia, tetapi pikirkan apa yang bisa kita berikan kepada alam untuk semua bencana ini. Pikirkan bagaimana agar orang-orang yang stress dan terdampak oleh berbagai bencana tadi menjadi teringankan stresnya, minimal di lingkungan kita masing-masing. Ciptakan Harmoni dengan cara yang kita mampu dan pancarkan Harmoni itu kepada lingkungan kita.

Ingatlah selalu bahwa dunia ini akan selalu memantulkan apapun perilaku penghuninya, jika perilaku penghuninya buruk maka dunia juga akan memberikan keburukan kepada kita. Dan sebaliknya jika kita berperilaku yang baik maka dunia akan memancarkan keharmonian kepada kehidupan kita.

Dalam sastra-sastra kuno diberikan cara-cara bagaimana agar kita mampu menetralisir berbagai pemikiran buruk dalam human mind kita, seperti misalnya ajaran Rsi Patanjali dalam Kitab Yoga Sutra bahwa dengan Yoga manusia bisa memiliki kendali atas pikiranya sendiri, dan berarti pula memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Dalam konsep Sains, frekuensi pun bisa diolah menjadi penetralisir berbagai gelombang/getaran/muatan buruk dalam human mind atau pun mind cosmic sekalipun. Frekuensi bisa diolah dalam bentuk yang applicable untuk kebaikan manusia, misal dalam bentuk musik, atau benda-benda yang berfrekuensi.

Bukti nyata bahwa musik bisa menenangkan pikiran kita bisa kita coba ketika pikiran sedang suntuk lalu dengarkan musik instrumen yang slow dan halus maka pikiran kita akan terbawa oleh alunan musik itu sehingga pikiran kita menjadi rileks dan sedikit-banyak akan membantu pikiran kita menjadi lebih tenang. Saat pikiran kita sedang serius memikirkan dalam-dalam tentang sesuatu lalu diperdengarkan musik keras dengan nada yang tidak karuan maka pikiran akan semakin kacau dan gagal konsentrasi. Ini bukti nyata bahwa frekuensi dalam alunan musik itu mampu mempengaruhi pikiran manusia untuk menjadi lebih tenang atau pun menjadi kacau.

Dalam Sains banyak produk-produk yang diciptakan dan diiklankan di TV atau media sosial yang dibuat dengan desain tertentu dan tambahan bahan-bahan alami yang memancarkan gelombang energi atau frekuensi tertentu yang berpengaruh baik pada tubuh atau pun pikiran manusia. Contoh pusat-pusat Spa yang banyak menggunakan batuan alami yang memancarkan gelombang energi/frekuensi untuk terapi. Dan ini semua ini tidak bisa kita sangkal bahwa frekuensi yang terkandung ataupun dikemas dengan desain tertentu akan membantu kehidupan manusia untuk menuju hidup yang Harmoni, baik Mind, Body and Spirit.

 By Aguswi

Rahayu Sagung Dumadi

Mungkinkah leluhurku yang telah meninggal memberiku penderitaan?

 

Oleh: Aguswi

 

Ini adalah pertanyaan yang sangat sering diajukan umat. Mereka akan selalu mengenang orang-orang terdekat dan tersayangnya yang telah meninggal dan merasa bertanya-tanya mungkinkah permasalahan hidup mereka yang sering mereka derita adalah berakar pada leluhur mereka, sungguh tak terbayangkan bahwa orang-orang yang telah meninggal tersebut akan dengan sengaja menyebabkan permasalahan dalam kehidupan mereka.

Ada beberapa penyebab utama mengapa para leluhur mengganggu keturunan mereka:

1.    Keinginan/hasrat para leluhur yang tidak terpenuhi

2.    Ketidakmampuan untuk bergerak maju dalam perjalanan jiwa mereka ke alam yang seharusnya (alam para pitara) dan mencapai wilayah alam yang lebih tinggi.

 

Ketidaknyamanan (distress) yang disebabkan oleh hasrat/ keinginan yang tidak terpenuhi

Para leluhur mengganggu keturunannya karena mereka memiliki keinginan yang tidak terpenuhi. Hasrat/keinginan tersebut dapat mencakup:

1.     Kemarahan yang ditujukan kepada keturunan yang tidak berprilaku baik. Misalnya antara keturunannya yang cecok masalah warisan, keyakinan yang tidak lebih baik dan bertentangan dengan ajaran leluhurnya, dll.

2.     Leluhur yang memiliki kemelekatan kepada keluarganya dan masih menginginkan perihal urusan keluarga dilakukan dengan cara leluhur tersebut. Misalnya tradisi leluhur yang tidak dilanjutkan oleh keturunannya untuk dipraktekkan dalam lingkungan keluarga.

3.     Leluhur-leluhur yang menderita kecanduan terhadap beberapa hasrat keinginan fisik seperti rokok, obat-obatan, seks, makanan, dll. Leluhur-leluhur tersebut mengambil manfaat dari perhitungan memberi-dan-menerima (akun karma) antara leluhur tersebut dan keturunannya untuk merasuki keturunan tersebut dan dengan demikian dapat memenuhi hasrat keinginan mereka. Dalam hal ini leluhur-leluhur yang telah meninggal lebih memilih mengganggu keturunan mereka dan bukan orang lain yang juga mungkin memiliki perhitungan memberi-dan-menerima dengan mereka. Hal ini disebabkan ikatan hubungan darah merupakan hal yang terkuat antara leluhur dengan keturunannya. Poin ke 3 ini adalah para jiwa-jiwa leluhur yang selama hidup memiliki tingkat kesadaran/spiritualitas yang cukup rendah sehingga saat sudah tidak berbadan fisik-pun masih melekat dengan kebiasaannya saat masih berbadan fisik dan tidak mampu melepaskannya. Karena tingkat kesadarannya yang rendah itu ia masih terikat dengan hukum-hukum bumi; masih merasakan lapar karena itulah muncul hasrat ingin makan, merasa ketagihan dengan aroma rokok, juga kenikmatan akan seks. 

 

Mereka yang meninggal dan hanya memiliki kekuatan spiritual yang sangat sedikit maka perjalanan jiwa mereka akan banyak hambatan, jiwa-jiwa seperti itu akan sering terjebak diantara alam manusia (fisik) dan alam halus dan mereka butuh bantuan dari para keturunannya yang masih hidup untuk bisa bergerak maju ke alam yang lebih tinggi. Jiwa-jiwa mereka mengalami rasa sakit akibat ulah keturunannya, kemelekatannya ataupun akibat karma buruk jiwa itu sendiri dan tidak tahu bagaimana untuk membantu diri mereka sendiri. Oleh karena tingkat kesadaran jiwa mereka yang rendah maka mereka menjadi lemah (dalam sastra disebut preta yaitu jiwa-jiwa leluhur yang lemah) sehingga ada kemungkinan juga jiwa-jiwa yang lemah itu dalam kendali entitas negatif lainnya untuk tindakan-tindakan yang buruk atau jahat. Dalam kondisi kelemahan atau kesaradan yang rendah itu jiwa-jiwa itu pun tidak menyadari bahwa dirinya dalam kendali entitas lainnya dan juga tidak menyadari apakah tindakannya baik atau buruk. Di sisi lain, jiwa-jiwa leluhur yang lemah itu dalam konteks bertahan hidup dan tidak dapat berpikir di luar diri mereka sendiri. Oleh sebab itu, alih-alih membantu keturunannya, justru mereka sendiri yang sebenarnya membutuhkan bantuan.

Para leluhur yang telah meninggal mengalami kebahagiaan ataupun ketidakbahagiaan penuh sesuai dengan buah karma mereka. Leluhur yang tingkat spiritualnya rendah oleh karena banyak mendapatkan hasil karma yang buruk dan sebagai akibatnya mengalami rasa sakit yang besar. Karena mereka sudah terlepas dengan aktivitas duniawi sebagaimana ketika mereka masih hidup di Bumi, maka mereka menjadi luar biasa terfokus dalam mengurangi rasa sakit tersebut atau untuk mengalami beberapa hasrat keinginan duniawi. Mereka pun menggapai keturunan mereka di Bumi untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Karena tidak memiliki tubuh fisik, maka mereka tidak perlu tidur dan dapat bekerja dalam menggapai keturunan mereka dengan kumulatif pikiran yang terfokus yang menakjubkan. Fokus pada satu pikiran tersebut yang pada gilirannya akan meningkatkan kemampuan mereka untuk mempengaruhi keturunannya.

Penderitaan atau ketidaknyamanan (distress) yang dialami oleh para leluhur di wilayah alam semesta yang lebih rendah tingkatannya memancar dari diri mereka sebagai frekuensi/getaran tidak nyaman yang kemudian terpancar melintasi berbagai wilayah halus serta wilayah bumi. Karena anggota keluarga atau keturunan mereka memiliki frekuensi yang paling cocok/sesuai, maka merekalah yang dapat menerima frekuensi tersebut paling baik.

Hanya para keturunan yang ada di alam Bumi yang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu bagi leluhurnya yang telah meninggal. Namun kenyataannya banyak bahwa pada saat ini kebanyakan keturunan tidak cukup berkembang secara spiritual untuk dapat melihat secara halus frekuensi tidak nyaman tersebut, karena itulah para leluhur dengan kemampuannya menggunakan kekuatan energinya untuk menciptakan stress atau permasalahan dalam kehidupan keturunan mereka sehingga keturunan tersebut memperhatikan kebutuhan atau pun memahami maksud para leluhur tersebut. Dalam hal demikian, penderitaan ataupun ketidaknyamanan yang disebabkan oleh para leluhur pada dasarnya merupakan sarana untuk berkomunikasi tentang rasa sakit atau pun ketidaknyamanan para leluhur itu sendiri. Para leluhur mencoba untuk berkomunikasi dengan keturunan mereka dan melakukannya dalam bentuk menciptakan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan keturunan mereka. Luasnya permasalahan yang dapat mereka sebabkan secara proporsional jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuan mereka untuk membantu.

Ketika keturunan mereka mendapatkan bahwa permasalahannya tidak kunjung selesai meskipun setelah usaha terbaik mereka, maka terkadang mereka mencari bimbingan spiritual. Jika bimbingan spiritual yang tepat diperoleh dan dilaksanakan, maka hal tersebut tidak hanya memberikan mereka perlindungan yang diperlukan dari leluhur mereka, tetapi juga memberikan para leluhur dorongan yang diperlukan untuk perjalanan mereka selanjutnya di alam spiritual.

Tingkat penderitaan atau ketidaknyamanan (distress) yang diciptakan oleh para leluhur akan bervariasi tergantung pada sifat dan tingkat pencapaian spiritual dari para leluhur. Seorang leluhur yang baik akan memberikan ketidaknyamanan hanya sebatas untuk membuat keturunannya menjadi sadar. Di sisi lain, seorang leluhur pendendam dapat menyebabkan penderitaan yang luas pada keturunannya. Seorang leluhur yang ingin memenuhi hasrat keinginannya akan mengganggu keturunannya dengan hasrat keinginan yang serupa.

Dalam beberapa kasus, perjalanan jiwa para leluhur terganggu oleh karena ada keturunannya yang masih sangat terikat dan larut dalam kesedihan oleh kematian para leluhurnya. Keturunan tidak bisa mengikhlaskan kematian para leluhurnya sehingga setiap saat selalu dihantui dengan kenangan saat mereka masih hidup, dan seolah menginginkan kehadiran para leluhurnya secara fisik. Kondisi ini bagaikan sebuat tali yang mengikat kuat yang dililitkan keturunan kepada jiwa leluhurnya sehingga menjadi hambatan jiwa leluhurnya untuk terus berjalan ke alam yang lebih tinggi.

Seorang leluhur yang berkeinginan pergi bergerak ke wilayah halus yang lebih tinggi akan membidik keturunan mereka agar melakukan sadhana ritual ataupun spiritual yang bisa membantu para leluhur untuk melanjutkan perjalanan jiwanya ke alam yang lebih tinggi. Doa-doa yang diucapkan oleh para keturunannya untuk para leluhurnya sangat membantu para leluhur tersebut. Ada beberapa tradisi misalnya di Jawa ada Pangentas Panjurung Suksma yang tujuan utamanya adalah membantu (mengentaskan) jiwa para leluhur agar tidak terjebak dalam penderitaan atau ikatan yang menghambat perjalanan jiwa mereka menuju ke alam yang lebih tinggi. Ada sebutan “anak suputra” juga terkait dengan hal ini yaitu anak yang berbhakti dan mampu membebaskan orang tuanya termasuk para leluhurnya dari penderitaan.  Ketika jiwa-jiwa para leluhur sudah sempurna dan memiliki kekuatannya sendiri, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dan mampu memberikan hubungan yang positif kepada para keturunannya maka jiwa-jiwa itu baru bisa disebut “pitara”.

 

Rahayu Sagung Dumadi

Selasa, 02 Maret 2021

Virus Corona Adalah Karma Kolektif Manusia Bumi

 Oleh: Aguswi

Kita semua sudah tahu bagaimana virus corona menyebar dan menginfeksi jutaan manusia di seluruh Bumi ini yang menyebabkan kerugian diberbagai sisi kehidupan bahkan menyebabkan angka kematian meningkat drastis di setiap negara. Ini merupakan peristiwa alam yang sama sekali belum pernah kita hadapi dimasa-masa yang sebelumnya dimana seluruh manusia di Bumi menjadi terdampak pada berbagai sektor kehidupan baik fisik (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dll) maupun non-fisik (psikologi, spiritual).

Sejak awal penyebaran virus ini sudah dilakukan berbagai cara atau strategi bagaimana agar virus corona ini berhenti menyebar dan menyebabkan pandemi; seperti menjaga jarak, menjaga kebersihan, memakai masker, mengkarantina warga, mengembangkan vaksin, dll. Bahkan para spiritualis baik secara kelompok ataupun pribadi melalukan doa-doa dengan tujuan terhindar dari pandemi ini. Namun ternyata virus corona ini semakin menggila, dengan sangat cepat menyebar dan menginfeksi jutaan manusia Bumi dan menyebabkan jutaan kematian.

 Kita semua setiap hari melewati berbagai fase yang berbeda-beda seperti pagi, siang, malam dan begitu seterusnya. Alam semesta pun melewati banyak siklus berdasarkan roda waktu.

Setiap siklus melewati tahap penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran. Saat kita mendekati masa akhir dari suatu siklus maka polusi spiritual di lingkungan mulai meningkat pesat dan mencapai tingkat tertinggi, yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran siklus dan kemunculan siklus baru. Polusi spiritual disebabkan oleh perilaku-perilaku yang rendah yang dimiliki banyak orang di Bumi. Dan apabila itu terus terjadi maka semakin memperburuk degradasi spiritual di lingkungan. Polusi spiritual inilah yang memicu terbentuknya energi negatif di lingkungan kita. Bila banyak penduduk Bumi memiliki perilaku yang rendah maka polusi spiritual yang terjadi akan semakin tinggi dan itu akan membentuk energi negatif tingkat tinggi di seluruh lingkungan Bumi. Dan energi negatif inilah yang memicu materialisasi dari virus dan mempercepat penyebarannya serta menambah kedahsyatan (sifat merugikan) dari virus tersebut.   

Setiap perilaku buruk seseorang sudah pasti mengandung konsekuensi yang buruk biasanya dalam bentuk penderitaan yang harus diterima/dialami oleh orang tersebut dalam kehidupan saat ini atau kehidupan yang akan datang. Hal ini dikenal sebagai karma individual orang tersebut. Sama seperti seorang individu yang memiliki hasil karmanya sendiri, begitu juga dengan wilayah, negara dan keseluruhan umat manusia memiliki hasil karma sesuai dominasi perilaku kebanyakan. Hal inilah yang disebut karma kolektif dari wilayah tertentu beserta penduduknya. Sebagai keluarga, komunitas, bangsa, ataupun sebagai bagian dari keseluruhan umat manusia; memori karma kita saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya. Mungkin secara individu kita tidak melakukan sesuatu, tetapi masyarakat dimana kita menjadi bagiannya melakukan sesuatu itu yang tentu memiliki konsekuensi yang bisa dialami semua anggota masyarakat. Situasi apapun bisa terjadi terhadap kita oleh karena realita sosial atau realita dunia. Ada jutaan situasi dimana manusia bisa meninggal setiap hari oleh karena sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan. Banyak orang menderita dan sakit meski mereka tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Namun mereka berada dalam situasi itu, itulah karma mereka.

Banyak orang bertanya seputar karma sebagai “Apakah ini kesalahanku? Aku tidak melakukannya. Lalu mengapa ini terjadi pada diriku?” Karma bukanlah seperti itu, karma adalah sebuah sistem memori. Tanpa memori ini maka tidak akan ada struktur yang berbagai macam. Seluruh struktur dibangun dan secara khusus struktur kehidupan bisa terulang hanya karena ada simpanan memori dalam setiap kehidupan. Masyarakat memiliki memori dan terjadilah sebuah situasi, dunia memiliki memori dan terjadilah sebuah situasi. Dan apapun perilaku yang dilakukan ataupun situasi di sekitar kita maka akan berdampak kepada kita.

Karma kolektif, sebagai contoh sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang cerdas, menguasai teknologi tinggi dan mewujudkannya pada berbagai produk berteknologi tinggi yang sangat banyak dibutuhkan seluruh manusia, akibatnya perekonomian negara menjadi sangat berkembang dan dampaknya adalah seluruh warga negara tersebut menjadi makmur dan sejahtera. Penduduk yang seluruhnya menderita akibat dari negaranya yang sedang berperang juga adalah contoh dari karma kolektif buruk yang dialami oleh seluruh penduduk negara itu yang disebabkan oleh peperangan yang sedang terjadi meski yang perang adalah militer dari negara itu. Sebuah wilayah yang tertimpa bencana yang dahsyat dengan korban yang sangat banyak, ini juga contoh dari karma kolektif buruk yang harus dialami bagi para korban bencana. Karma buruk masa lalu mereka yang memiliki tingkatan yang sama mengarahkan mereka untuk menempati suatu wilayah yang pada suatu waktu akan menerima karma bersama. Ratusan ribu orang menempati suatu wilayah yang pada suatu waktu terjadi tsunami dan ribuan orang tersebut menjadi korban, tsunami memang disebabkan oleh faktor alam, dan ribuan orang yang menjadi korban bersama adalah faktor karma kolektif yang buruk, dan tsunami menjadi perantara yang diberikan oleh alam bagi ribuan orang itu untuk menerima karma buruknya bersama-sama.  

Secara fisik, kita mengamati bahwa penyebaran virus corona disebabkan karena pergerakan manusia dan kontak dari orang ke orang. Namun ditingkat spiritual, penyebabnya berbeda. Negara-negara akan terpengaruh lebih awal sesuai dengan karma kolektifnya. Semakin banyak karma kolektif merugikan di suatu wilayah, maka semakin besar pula kerentanannya terhadap penyebaran virus corona. Dan juga semakin besar polusi spiritual di suatu daerah, maka semakin rentan orang-orang di daerah itu untuk tertular virus corona. Polusi spiritual dapat meningkat karena sejumlah alasan seperti kurangnya latihan spiritual, keserakahan, materialisme, kekejaman terhadap makhluk hidup, tren dan tradisi yang tidak baik secara spiritual, dll. Saat ini sebagian besar umat manusia tidak siap secara spiritual (karena kurangnya latihan spiritual) dan oleh karena itu mudah terpengaruh oleh peningkatan polusi spiritual ini.

Lalu kapan virus corona ini akan berakhir? Ada suatu aturan kehidupan yang menjadi bagian dari Hukum Alam bahwa segala sesuatu yang diciptakan akan dipertahankan selama beberapa waktu dan kemudian akan dihancurkan. Ini juga berlaku bagi pandemi virus corona yang akan berakhir ketika energi dari entitas negatif yang menciptakannya mulai berkurang dan hancur sama sekali. Perilaku-perilaku baik yang dilakukan seluruh manusia sebagai usaha menghadapi pandemi virus corona akan membentuk suatu kumpulan energi yang kuat dan sedikit-demi sedikit akan mampu mengikis entitas negatif yang berperan dalam menciptakan virus corona ini. Menjaga jarak, menjaga kebersihan, menjaga imunitas tubuh, latihan spiritual; adalah perilaku baik yang bisa dilakukan setiap orang. Para ilmuwan berusaha membuat vaksin ataupun alat-alat antivirus adalah usaha-usaha yang lebih utama dibidang Sains.

Apakah doa membantu mengatasi virus corona? Hal ini sangat bergantung pada dua hal yaitu kekuatan karma yang harus dijalani seseorang dan kekuatan spiritual doanya untuk mengatasi penderitaan. Perlu diketahui bahwa kekuatan spiritual doa berbanding lurus dengan level spiritual seseorang. Agar doa dapat mengatasi karma buruk, maka orang yang berdoa perlu memiliki tingkat spiritual yang tinggi. Dalam kaitannya dengan karma kolektif yang buruk, doa yang diucapkan oleh orang-orang dengan level spiritual rata-rata tidaklah manjur untuk mengatasi penderitaan yang harus dijalani. Doa bersama yang dilakukannya pun juga tidak mampu mengatasi hai ini. Doa tersebut hanyalah sebatas memberikan manfaat  psikologis bagi mereka sendiri yang berdoa.

Paradoksnya adalah mereka yang memiliki level spiritual yang tinggi dan yang doanya mampu membuat perubahan dalam situasi duniawi tidak memanjatkan doa yang duniawi dan menerima apapun yang terjadi sesuai dengan kehendak alam. Namun disisi lain orang-orang dengan level spiritual rata-rata berdoa untuk memperoleh hasil tertentu seperti menghentikan virus corona, akan tetapi mereka tidak memiliki kekuatan spiritual yang diperlukan untuk membuat perubahan dalam karma kolektif yang buruk, khususnya bebas dari pandemi virus corona ini.


Rahayu Sagung Dumadi

AGUSWI

 

 

 

 

 

 

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...