Apa yang kita rasakan saat kita berada dekat perapian yang sedang menyala-nyala? Pasti kita akan merasakan hangat atau bahkan panas. Mengapa? Karena kita berada dalam jangkauan pancaran energi panas yang bersumber dari perapian tersebut. Kecuali saat dekat perapian itu kita memakai baju atau selimut yang tebal maka kita tidak akan merasakan hangatnya atau panasnya perapian itu karena energi panasnya terhalang oleh baju kita yang tebal sehingga energi panas tidak sampai menyentuh kulit.
Begitu juga saat kita “nongkrong” di tempat sakral
misalnya pura, maka kita akan terpapar oleh energi yang terpancar dari tempat
itu. Idealnya sebuah pura itu penuh dengan pancaran energi baik, kecuali ada
sesuatu yang kurang tertata yang menyebabkan sistem energi yang kacau.
Katakanlah sebuah pura itu energinya sangat baik, maka siapa pun yang ada di
pura itu idealnya terpapar energi yang sangat baik tersebut. Energi itu akan
bersenyawa dengan energi badan siapapun yang ada dalam radius paparan energi
tersebut. Dan dampaknya terhadap badan (bukan hanya badan fisik) kita sangat
bagus. Namun lain cerita jika diri kita berselimut tebal dengan sifat
keangkuhan, keegoisan, kesombongan, ketamakan, kedengkian, dan lain-lain; maka
paparan energi baik dari pura itu tidak akan bisa merasuk dalam lapisan-lapisan
badan kita, apalagi bersenyawa dengan energi badan kita. Mengapa terjadi
demikian? Karena semua sifat-sifat buruk dalam diri berposisi sebagai blokir
dalam lapisan-lapisan badan kita terhadap paparan energi baik dari pura
tersebut. Apalagi kalau tidak hanya “nongkrong” tetapi melakukan sadhana di
tempat itu maka akan sangat menguntungkan diri kita. Energi baik yang terpancar
dari tempat itu akan lebih sempurna bersenyawa dengan energi badan kita. Dan
bila lapisan-lapisan badan kita berlimpah energi maka sistem dalam badan kita
akan berfungsi dengan sempurna juga karena sistem dalam badan hanya akan
berfungsi optimal jika kebutuhan energinya terpenuhi. Maka sehatlah diri kita
baik fisik maupun mental. Bebaskan diri dari sifat-sifat buruk maka diri kita
akan terbuka menganga terhadap alam semesta untuk mengalirkan energinya.
Pura sebagai sebuah sistem energi, dan sebagian
orang melebih-lebihkan sebagai “rumah bethara” itu soal keyakinan pribadi dan
sah-sah saja. Dari awal hingga akhir pembangunannya melalui berbagai tahapan
yang sebenarnya dalam rangkai membangun sebuah sistem energi. Karena itulah ada
ruang-ruang atau tempat-tempat khusus untuk kegiatan yang khusus juga. Misal
kegiatan yang sifatnya sosial maka hanya boleh dilakukan di ruang yang khusus
sesuai peruntukkannya, tidak akan mungkin boleh dilakukan di tempat atau ruang
dimana khusus untuk melakukan pemujaan. Dalam suatu ruang yang didesain secara khusus untuk suatu sistem
energi, maka itu akan memudahkan proses persenyawaan energi manusia yang saat
di dalam ruang itu dalam melakukan proses hubungan dengan alam semesta
(energi).
Padmasana….. dari sisi keyakinan memang diyakini
sebagai hal tertentu dan berfungsi tertentu, dan setiap pribadi bisa saja
berbeda dalam meyakininya. Namun dalam konsep Sains sebenarnya adalah antena
pemancar sekaligus receiver (penerima) dari gelombang-gelombang energi yang
terbentuk. Kita lihat dalam pembangunannya pasti yang ada di dasar padmasana
itu adalah apa yang kita sebut “dhatu” yang dibuat atau ditata dari berbagai
material tertentu misalnya logam, bebatuan, mineral, dll. Persenyawaan antar
berbagai unsur logam, bebatuan, mineral, dan lainnya itu menghasilkan suatu
pola atau sistem energi yang memperkuat sistem energi lainnya. Artinya “dhatu”
yang ditanam di dasar padmasana berfungsi sebagai Booster dari fungsi Padmasana
itu sendiri. Manusia yang melakukan pemujaan di sana memang dengan pikirannya
sendiri memancarkan gelombang-gelombang energinya dari proses pemujaannya,
namun kemampuan pikiran itu bisa saja sangat terbatas, ada orang yang kemampuan
pikirannya kuat namun juga ada yang lemah. Dan dengan adanya Padmasana itu
menjadi diuntungkan karena sistem energi dari Padmasana itu akan menangkap
gelombang energi yang terpancar dari pikiran kita dan diperkuat lalu
dipancarkan kembali oleh Padmasana ke alam semesta dengan lebih powerfull. Dan
sebagai receiver maka Padmasana juga menangkap energi tertentu dari alam
semesta lalu diperkuat dan dipancarkan ulang sehingga bisa ditangkap oleh
sistem energi tubuh manusia.
Rahayu Sagung Dumadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar