Beranda

Minggu, 22 Oktober 2023

"Nongkrong" Di Pura Itu Menyehatkan, Apalagi Jika Melakukan Sadhana

Apa yang kita rasakan saat kita berada dekat perapian yang sedang menyala-nyala? Pasti kita akan merasakan hangat atau bahkan panas. Mengapa? Karena kita berada dalam jangkauan pancaran energi panas yang bersumber dari perapian tersebut. Kecuali saat dekat perapian itu kita memakai baju atau selimut yang tebal maka kita tidak akan merasakan hangatnya atau panasnya perapian itu karena energi panasnya terhalang oleh baju kita yang tebal sehingga energi panas tidak sampai menyentuh kulit.

Begitu juga saat kita “nongkrong” di tempat sakral misalnya pura, maka kita akan terpapar oleh energi yang terpancar dari tempat itu. Idealnya sebuah pura itu penuh dengan pancaran energi baik, kecuali ada sesuatu yang kurang tertata yang menyebabkan sistem energi yang kacau. Katakanlah sebuah pura itu energinya sangat baik, maka siapa pun yang ada di pura itu idealnya terpapar energi yang sangat baik tersebut. Energi itu akan bersenyawa dengan energi badan siapapun yang ada dalam radius paparan energi tersebut. Dan dampaknya terhadap badan (bukan hanya badan fisik) kita sangat bagus. Namun lain cerita jika diri kita berselimut tebal dengan sifat keangkuhan, keegoisan, kesombongan, ketamakan, kedengkian, dan lain-lain; maka paparan energi baik dari pura itu tidak akan bisa merasuk dalam lapisan-lapisan badan kita, apalagi bersenyawa dengan energi badan kita. Mengapa terjadi demikian? Karena semua sifat-sifat buruk dalam diri berposisi sebagai blokir dalam lapisan-lapisan badan kita terhadap paparan energi baik dari pura tersebut. Apalagi kalau tidak hanya “nongkrong” tetapi melakukan sadhana di tempat itu maka akan sangat menguntungkan diri kita. Energi baik yang terpancar dari tempat itu akan lebih sempurna bersenyawa dengan energi badan kita. Dan bila lapisan-lapisan badan kita berlimpah energi maka sistem dalam badan kita akan berfungsi dengan sempurna juga karena sistem dalam badan hanya akan berfungsi optimal jika kebutuhan energinya terpenuhi. Maka sehatlah diri kita baik fisik maupun mental. Bebaskan diri dari sifat-sifat buruk maka diri kita akan terbuka menganga terhadap alam semesta untuk mengalirkan energinya.

Pura sebagai sebuah sistem energi, dan sebagian orang melebih-lebihkan sebagai “rumah bethara” itu soal keyakinan pribadi dan sah-sah saja. Dari awal hingga akhir pembangunannya melalui berbagai tahapan yang sebenarnya dalam rangkai membangun sebuah sistem energi. Karena itulah ada ruang-ruang atau tempat-tempat khusus untuk kegiatan yang khusus juga. Misal kegiatan yang sifatnya sosial maka hanya boleh dilakukan di ruang yang khusus sesuai peruntukkannya, tidak akan mungkin boleh dilakukan di tempat atau ruang dimana khusus untuk melakukan pemujaan. Dalam suatu ruang yang  didesain secara khusus untuk suatu sistem energi, maka itu akan memudahkan proses persenyawaan energi manusia yang saat di dalam ruang itu dalam melakukan proses hubungan dengan alam semesta (energi).

Padmasana….. dari sisi keyakinan memang diyakini sebagai hal tertentu dan berfungsi tertentu, dan setiap pribadi bisa saja berbeda dalam meyakininya. Namun dalam konsep Sains sebenarnya adalah antena pemancar sekaligus receiver (penerima) dari gelombang-gelombang energi yang terbentuk. Kita lihat dalam pembangunannya pasti yang ada di dasar padmasana itu adalah apa yang kita sebut “dhatu” yang dibuat atau ditata dari berbagai material tertentu misalnya logam, bebatuan, mineral, dll. Persenyawaan antar berbagai unsur logam, bebatuan, mineral, dan lainnya itu menghasilkan suatu pola atau sistem energi yang memperkuat sistem energi lainnya. Artinya “dhatu” yang ditanam di dasar padmasana berfungsi sebagai Booster dari fungsi Padmasana itu sendiri. Manusia yang melakukan pemujaan di sana memang dengan pikirannya sendiri memancarkan gelombang-gelombang energinya dari proses pemujaannya, namun kemampuan pikiran itu bisa saja sangat terbatas, ada orang yang kemampuan pikirannya kuat namun juga ada yang lemah. Dan dengan adanya Padmasana itu menjadi diuntungkan karena sistem energi dari Padmasana itu akan menangkap gelombang energi yang terpancar dari pikiran kita dan diperkuat lalu dipancarkan kembali oleh Padmasana ke alam semesta dengan lebih powerfull. Dan sebagai receiver maka Padmasana juga menangkap energi tertentu dari alam semesta lalu diperkuat dan dipancarkan ulang sehingga bisa ditangkap oleh sistem energi tubuh manusia. 

 

Rahayu Sagung Dumadi

Aguswi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...