Sebuah upacara besar dengan banyak sesaji bukanlah menjadi penentu bahwa itu akan menjadi upacara yang Sattwika, upacara yang sudah pasti berhasil mencapai tujuannya. Begitu juga sebaliknya, upacara yang sederhana tidak bisa dikategorikan sebagai upacara yang Tamasika yaitu upacara yang penuh dengan kekurangan. Jika ada yang berpikir bahwa upacara yang besar dengan sesaji yang “wahhhh” sekali adalah upacara yang sudah pasti sukses mencapai tujuannya maka itu pikiran “ngawur, bener karepe dewe”.
Para Mpu pembuat keris jaman dahulu saat memulai
membuat keris entah dengan cara dipijat-pijat atau ditempa logamnya selalu
dibarengi dengan laku spiritual tertentu hingga keris pusaka itu jadi. Dan
setelah keris itu jadi tidak ada upacara khusus seperti misalnya proses
“energized” (pengisian energi), karena energi itu mengisi keris saat keris itu
mulai dibuat hingga selesai dibuat yang diperkuat dengan laku spiritual Sang
Mpu. Tidak seperti sekarang, barang apapun termasuk sesaji dijadikan dulu baru
diproses “urip” dengan ritual; tidak ada yang salah namun hasilnya akan sangat
berbeda.
Dulu leluhur kami misal nenek dan orang tua kami
bahwa jika kita memiliki tujuan yang ingin dicapai tidak boleh lupa sebelumnya
sebaiknya puasa, nenek bilang “poso lhee
ben kabul kajate” (puasa nak, biar tercapai yang diinginkan). Tidak seperti
sekarang berdoa di sana sini sono ke
berbagai tempat suci dan doanya agar apa yang dicita-citakan tercapai. Proses
“inside” (dalam diri) sangat kurang, dan hanya ramai proses “outside” (luar
diri). Jadi dalam hal ini pemakaian sesaji lebih banyak namun “tirakate” (brata nya) sangat kurang.
Kualitas batiniah yang terbentuk sudah pasti akan sangat berbeda. Para leluhur
di Jawa mengajarkan agar kita sering “tirakat”
(puasa) dengan harapan diri kita menjadi bersih, jauh dari kesialan, jauh dari
ketidakberuntungan. Sehingga saat diri kita sudah bersih maka untuk mencapai
tujuan diharapkan tidak ada hambatan dan rintangan yang berarti. Artinya diri
kita dari dalam dipersiapkan terlebih dahulu dengan baik agar pantas menjadi
wadah sesuatu yang akan dicapai. Yang disebut tirakat (puasa) itu tidak hanya membatasi makan dan minum, akan
tetapi juga menjaga pembicaraan, menjaga pemikiran kita, menjaga perilaku kita;
agar jangan sampai ada pembicaraan, pemikiran dan perilaku yang tidak pantas. Itulah
konsep berpikir leluhur Jawa yang sungguh hebat. Karena itulah dahulu tahun
90-an penulis sebelum mendaftar ke sekolah yang diimpikan puasa terlebih dahulu
selama beberapa hari. Dan astungkarah tercapailah yang diinginkan. Saat itu
sama sekali tidak seperti sekarang yang ngaturang
pioning sana sini sono bahkan ada yang melaksanakan upacara khusus untuk
itu. Tidak ada yang salah namun kondisi batin maupun psikologis yang terbentuk
akan sangat berbeda sekali.
Begitu juga dengan upacara apapun di pura dahulu,
para sesepuh dan lainnya banyak yang puasa pada saat hari pelaksanaan upacara.
Kami pernah melaksanakan upacara “Entas-Entas” yaitu upacara Dewa Pitra
Pratistha untuk para leluhur kami yang dipuput oleh seorang Romo Resi. Setelah
dijemput di bandara lalu sesampainya di rumah tujuan kami menyajikan makanan
lalu Beliau bilang “aku isih poso yo mas
nganti telung dino sak wise rampung upacara, aku mung ngombe banyu putih wae”
(saya masih puasa ya mas sampai tiga hari sesudah selesainya upacara, saya
hanya minum air putih saja). Beliau lanjut mengatakan “aku wis mulai poso petang dino kepungkur” (saya sudah mulai puasa
sejak empat hari lalu). Dan kita memakai sesaji yang cukup sederhana dan
penulis sendiri dibantu seorang pinandhita yang membuatnya. Upacara-upacara
yang sekelas dengan ini kita lihat diberbagai tempat banyak yang sesajinya “wahh” lumayan untuk memenuhi
deretan-deretan tatanan meja yang berjajar. Upacara di setiap pura atau
dimanapun haruslah dikemas dengan sangat bijaksana dengan berbagai pertimbangan
atau perspektif. Tidak karena ada biaya banyak dan melimpah lalu upacara
dibikin besar. Sisi pendidikan, pemberdayaan ekonomi, peningkatan sumber daya
manusia, dan lain-lain harus juga menjadi pertimbangan. Namun adakalanya ternyata
ada saja orang yang gila yang mengatakan “ini
supaya bethara-betharinya turun semua maka harus dibikin besar”. Adalagi
sebuah tempat yang umatnya hanya belasan KK, upacara yang dilaksanakan di sana
disetting dan dibiayai dari luar oleh orang-orang yang punya kekuatan finansial
dan karena setahun dua kali maka cukup menguras tenaga umat setempat yang
kenyataannya hidupnya sebagai “wong
cilik” dan tidak berani bicara hanya “iya
iya saja” meski dalam hati berontak. Andai dana-dana yang ada itu sebagian
dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi atau pendidikan masyarakat setempat
bukankah itu lebih sangat bijaksana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar