Berbagai kejadian ini bisa menjadi
bukti dan menambah catatan panjang betapa semakin
buruknya kehidupan beragama di negeri
tercinta ini, yang konon dikenal sangat agamis dan religius. Bukan jaminan bahwa seseorang yang taat beragama akan menjadi pribadi-pribadi yang baik. Sikap ketaatan beragama ini kini justru lebih terkesan membentuk pribadi-pribadi yang berwajah keras dan sanggar yang menganggap orang lain yang berbeda
keyakinan dengannya sebagai orang yang tidak berhak hidup dan dijadikan musuh yang perlu dibinasakan, meski UUD 1945 yang ada sejak
republik ini berdiri secara jelas memberikan jaminan kebebasan kepada setiap warga negara untuk memeluk
keyakinan atau
kepercayaannya masing-masing. Juga kita ketahui bahwa sejarah mencatat sejak
awal para pendiri republik ini telah sepakat membangun dan merajut negeri ini
dari berbagai perbedaan sehingga dikenal sebagai negara yang pluralis, “Bhinneka Tunggal Ika” beragam dalam kesatuan.
Manusia hidup tidak sendiri, alam ini diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dengan ciptaan yang beragam. Setiap ciptaan akan membutuhkan maupun dibutuhkan oleh yang lain. Harmoni diantara ciptaan-Nya adalah sebuah kewajiban agung dari setiap makhluk. Harmoni dengan seluruh isi Jagad Raya.
Beranda
Tampilkan postingan dengan label beragama dengan kaca mata kuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label beragama dengan kaca mata kuda. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 Juli 2018
PEMAHAMAN AGAMA DENGAN KACAMATA KUDA DAN HITAM PUTIH
Seringkali kita
melihat atau mendengar tontonan atau berita berbagai kejadian atau peristiwa di
luar batas etika
perikemanusiaan yang membuat kita mengelus dada. Mungkin ada yang masih ingat kejadian beberapa
tahun lalu tentang pengrusakan dan pembantaian secara
biadab atas nama agama terhadap sekelompok
penganut keyakinan di sebuah kampung yang bernama
Cikesik Pandeglang yang sunyi dan amat
sederhana. Kemudian
peristiwa pembakaran gereja di Temanggung oleh sekelompok orang, pengrusakan pure di
Lumajang yang terjadi awal tahun 2018 ini, dan yang baru-baru ini terjadi
adalah teror bom di sejumlah gereja di Surabaya. Belum lagi ditambah dengan munculnya berbagai
video yang provokatif dan mengandung SARA yang dilakukan oleh orang-orang yang justru
mendapat sebutan “tokoh”.
Langganan:
Postingan (Atom)
BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI
Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...
-
Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan ...
-
Pendahuluan Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang m...
-
Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan ...