Beranda

Tampilkan postingan dengan label kerukunan umat beragama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerukunan umat beragama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2018

PEMAHAMAN AGAMA DENGAN KACAMATA KUDA DAN HITAM PUTIH

Seringkali kita melihat atau mendengar tontonan atau berita berbagai kejadian atau peristiwa di luar batas etika perikemanusiaan yang membuat kita mengelus dada. Mungkin ada yang masih ingat kejadian beberapa tahun lalu tentang pengrusakan dan pembantaian secara biadab atas nama agama terhadap sekelompok penganut keyakinan di sebuah kampung yang bernama Cikesik Pandeglang yang sunyi dan amat sederhana. Kemudian peristiwa pembakaran gereja di Temanggung oleh sekelompok orang, pengrusakan pure di Lumajang yang terjadi awal tahun 2018 ini, dan yang baru-baru ini terjadi adalah teror bom di sejumlah gereja di Surabaya. Belum lagi ditambah dengan munculnya berbagai video yang provokatif dan mengandung SARA yang dilakukan oleh orang-orang yang justru mendapat sebutan “tokoh”.

Berbagai kejadian ini bisa menjadi bukti dan menambah catatan panjang betapa semakin buruknya  kehidupan beragama di negeri tercinta ini, yang konon dikenal sangat agamis dan religius. Bukan jaminan bahwa seseorang yang taat beragama akan menjadi pribadi-pribadi yang baik. Sikap ketaatan beragama ini kini justru lebih terkesan membentuk pribadi-pribadi yang berwajah keras dan sanggar yang menganggap orang lain yang berbeda keyakinan dengannya sebagai orang yang tidak berhak hidup dan dijadikan musuh yang perlu dibinasakan, meski UUD 1945 yang ada sejak republik ini berdiri secara jelas memberikan jaminan kebebasan kepada setiap warga negara untuk memeluk keyakinan atau kepercayaannya masing-masing. Juga kita ketahui bahwa sejarah mencatat sejak awal para pendiri republik ini telah sepakat membangun dan merajut negeri ini dari berbagai perbedaan sehingga dikenal sebagai negara yang pluralis, “Bhinneka Tunggal Ika” beragam dalam kesatuan.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...