Hari
Sabtu tanggal 15 Agustus 2015, bertempat di Pura Taman Mini Indonesia Indah,
Paguyuban umat Hindu Jawa – Paguyuban Majapahid – melaksanakan acara ruwatan/melukat. Pada awalnya pihak
panitia menargetkan peserta yang tidak lebih dari 50 orang, namun ternyata yang
memberikan konfirmasi ikut acara tersebut lebih dari 100 orang. Dan itu tidak
menjadikan masalah apapun karena sarana upakara yang dipakai bisa untuk ngruwat/melukat orang berapapun.
Acara
pertama diawali oleh pemangku yang melakukan puja pembersihan dan penyucian
diri, dilanjutkan dengan puja nuwur tirtha lukat/ruwat
dan penguripan sarana sesaji untuk pembersihan dan penyucian (byakala, durmanggala, prayascitta) dan
penguripan sesaji lainnya.
Kemudian
tirtha lukat/ruwat sebagai bibit,
dicampur dengan toya anyar yang sudah
dilengkapi dengan berbagai sarana antara lain:
1.
Berbagai
jenis daun (daun kayu sisih, daun kayu tulak, daun kayu suji, daun beringin,
daun andong, daun mengkudu, daun alang-alang, daun bambu, daun dadap serep,
daun temen, daun nagasari, dsb)
2.
Bunga
(melati, jepun, kenanga, kantil putih, kantil kuning, mawar, kaca piring, soka,
teratai, bunga kelapa, dsb)
3.
Buah
(delima putih, jeruk purut, jeruk nipis)
4.
Kayu
(cendana, gaharu, stigi, ulin, tulasi)
5.
Batu
permata/akik (putih, merah, hitam, kuning)
6.
Cengkir
kelapa (kelapa bulan, kelapa udang, kelapa gading, kelapa hijau)
7.
Ruas
tebu wulung
8.
Dhatu
(emas, perak, tembaga dan permata mirah)
9.
Sejenis
minyak yang sangat langka (minyak buluh perindu)
Pencampuran
ini diurip dengan mencelupkan sejumlah dupa yang menyala ke dalam campuran
tirtha. Perpaduan antara ruwatan dan
melukat ini tidak menggunakan wayang, tetapi mengkombinasikan antara daya
spiritual dan ritual pelaksana dengan berbagai sarana alami yang mengandung
mineral dan daya energi masing.
Kemudian
pemangku melaksanakan prosesi pembersihan dan penyucian terhadap peserta dengan
sarana byakala, durmanggala dan prayascitta. Dilanjutkan oleh ibu Tiwi
Susanti yang melaksanakan lukat/ruwat
dengan menyiramkan tirtha lukat/ruwat
kepada para peserta hingga basah kuyub. Di bawah kedua kaki peserta diletakkan byakala yang akan menyerap limbah
peserta agar tidak menyebar ke mana-mana. Limbah-limbah ini nantinya akan
dipralina dan diserap oleh kekuatan Pertiwi melalui para bhuta. Limbah yang dimaksud disini adalah muatan-muatan negatif
yang ada dalam diri, seperti contohnya ketika kita berpikir buruk maka saat
itulah terbentuk muatan negatif yang menempel pada diri kita, dan limbah-limbah
seperti itulah yang harus dibersihkan karena bisa mendatangkan sial, apes, dsb.
Ini
adalah kombinasi ruwat dan lukat yang menggunakan sesaji kombinasi
Jawa dan Bali, antara lain:
1.
Sesaji
Jawa: Cok bakal dan bubur merah
putih
2.
Sesaji
Bali: Pesaksi (sebuah daksina pejati), Taksu Pemangku (sebuah daksina pejati), Pembersihan dan Penyucian
(byakala, durmanggala dan prayascitta)
Ruwat
dan lukat sesungguhnya sama/identik yang tujuannya membebaskan limbah-limbah
rohani, melepaskan apes dan sial, dsb. Di dalam setiap sarana yang dipakai
untuk ruwatan/melukat ada kekuatan
tertentu, seperti contohnya di dalam bunga kenanga ada kekuatan Wisnu, bunga
jempiring-kekuatan Iswara, bunga kantil-kekuatan Uma, bunga teratai-kekuatan
Saraswati, tebu wulung-kekuatan Brahma, batu permata putih-kekuatan Siva,
permata merah-kekuatan Brahma, permata hitam-kekuatan Wisnu, buah delima
putih-kekuatan Indra, dsb.
Dengan
adanya ruwatan/melukat ini lebih jauh
diharapkan menguatkan dan mengukuhkan keHinduan Jawa, sehingga di dalam dirinya
menggema “INI LHO.......AKU ADALAH ORANG HINDU JAWA” Dengan kuatnya dan
kukuhnya keHinduan seorang Hindu Jawa maka diharapkan dimasa mendatang siap
memperjuangkan dan meneruskan KEJAYAAN HINDU NUSANTARA. Setiap umat Hindu Jawa
harus mempertahankan keHinduannya, oleh karena jika ada yang pindah dari AGAMA
HINDU ke AGAMA LAIN maka hukumnya adalah (1)
kehilangan kesempatan untuk moksa, (2) kehilangan pengayoman/hubungan dengan
leluhur, (3) ketika meninggal akan terjebak di alam antara, (4) samsara yang
tiada henti. Jadi orang-orang yang ber-AGAMA LAIN pindah ke AGAMA HINDU
adalah KARUNIA bagi mereka, tetapi orang-orang yang ber-AGAMA HINDU pindah ke
AGAMA LAIN adalah PETAKA bagi mereka. Mengapa? Karena HINDU adalah KEBENARAN
yang sesungguhnya, SANATANA DHARMA, kebenaran abadi.
Ada
beberapa macam orang yang wajib diruwat menurut tradisi Jawa antara lain:
1.
Pendawa
lima: lima bersaudara laki-laki
2.
Panca
gati: lima bersaudara perempuan
3.
Ting-ting
kebanting: satu anak laki-laki
4.
Ontang-anting:
satu anak perempuan
5.
Kedono-kedini:
dua bersaudara laki-laki dan perempuan
6.
Sendang
kaapit pancuran: tiga bersaudara ditengah laki-laki
7.
Pancuran
kaapit sendang: tiga bersaudara ditengah perempuan
8.
Uger-uger
lawang: dua bersaudara semuanya laki-laki
9.
Kembang
sepasang: dua bersaudara keduanya perempuan.
10. Dsb
Dalam
tradisi jawa, ruwatan bertujuan untuk membebaskan orang sukerta (keburukan, aura buruk, sial, apes, atau penyakit non
fisik) dari bencana yang membayangi hidupnya. Menurut masyarakat Jawa, jika
orang sukerta tidak segera diruwat,
maka dia akan menemui kesialan di sepanjang hidupnya. Biasanya tradisi ini
dibarengi dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang wayang kulit yang sekaligus
bisa meruwat dan dengan lakon khusus bertema murwakala, dengan sesajen khusus untuk Batara Kala. Dan dalam acara
ruwatan/melukat yang diselenggarakan Paguyuban Majapahid ini tidak menggunakan
wayang kulit namun lebih kepada menggunakan daya ritual dan spiritual pelaksana
yang didukung dengan berbagai kombinasi sarana yang luar biasa.
Para
peserta juga mendapatkan Catur Bija yang terdiri dari beras putih dan beras
merah, ketan putih dan ketan merah. Catur Bija ini sangat bermanfaat, contohnya
untuk mereka yang punya usaha dagang dirumah maka bisa dicampur dengan gula
pasir dan uang logam lalu disebarkan ditempat usahanya, untuk pagar rumah maka
bisa ditambahkan garam dan mrica. Ada juga yang sebenarnya ingin bertanya
tetapi mungkin malu, kalau untuk jodoh maka dicampur dengan apa?
Acara
ruwatan/melukat ini sangat baik
apabila dilakukan setiap 3-4 bulan, ini karena dalam satu hari ada kalanya
pemikiran seseorang ada yang buruk, dan inilah yang menjadi limbah rohani yang
perlu dibersihkan secara rutin.
Dalam
momen dharmatula juga dijelaskan tentang bayuh oton, dengan bayuh oton maka
bisa menetralisir penyakit yang kemungkinan diderita, melenyapkan derita bawaan
lahir. Dengan bayuh oton maka kemungkinan potensi fisik dan jiwa seseorang bisa
meningkat 4x lipat. Dharmatula berakhir pukul 2 malam, itupun menyisakan
berbagai pertanyaan yang belum terlontar dan terjawab, namun karena sdh sangat
larut bahkan menjelang pagi maka dharmatula diakhiri.
oleh:
Agus Widodo
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar