Beranda

Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Oktober 2023

Warna Hitam Dalam Tradisi (Baju) Jawa dan Sunda

Dalam keilmuan Jawa, warna hitam pada baju tradisi Jawa adalah lambang kesempurnaan. Kesempurnaan seperti apa yang dimaksud?

Dalam kesusastraan Veda dijelaskan bahwa dunia ini pada awalnya tidak ada apapun, kosong dan hanya ada gema suara AUM. Dapat diasumsikan bahwa kondisinya adalah Maha Kegelapan. Kata “kegelapan” disini tidak mengacu kepada hal-hal yang negatif melainkan untuk mendeskripsikan sesuatu kekosongan dari apapun yang tidak dapat dipikirkan. Inilah yang disebut alam Sunya (baca: sunia) yang dalam kesusastraan Jawa disebut Suwung. Karena itulah masyarakat Jawa familiar menyebut Sang Pencipta jagad raya ini sebagai Sang Hyang Suwung. Maka warna yang identik dengan gelap adalah warna Hitam.

Warna hitam pada baju tradisi yang dipakai masyarakat Jawa dan Sunda memberi pesan bahwa dalam menghubungkan diri pribadi dengan Diri Agung (Sang Pencipta atau Sang Hyang Suwung) maka kita harus men-Sunia-kan atau menyuwungkan atau mengosongkan diri dari segala bentuk gejolak indriawi atau gejolak rasa lainnya sehingga pada saat diri kita mencapai kondisi Sunya atau Suwung maka akan menyerap berbagai pengetahuan dari Sang Hyang Suwung itu sendiri. Tanpa bisa men-Sunia-kan diri maka aliran deras pengetahuan dari alam semesta tidak akan bisa membanjiri diri ini.

Mari kita jelaskan secara logika. Misalnya sebuah botol kaca dihampakan dengan sebuah alat sehingga menjadi hampa udara lalu ditutup. Coba tutup botol kaca itu dilepas maka dengan cepat udara yang diluar botol akan terserap ke dalam botol dan botol menjadi terisi dengan udara bebas. Peristiwa ini membuktikan bahwa kehampaan botol memiliki energi serap yang besar sekali dengan dengan secepatnya botol terisi udara. Nah, ketika kita mampu menghampakan atau men-Sunia-kan diri maka kita akan memiliki daya serap yang sangat tinggi terhadap pengetahuan di alam semesta ini. Kondisi Sunia atau Suwung inilah dalam Yoga Sutra disebut kondisi Samadhi. Dan inilah yang dilakukan dan dicapai oleh para waskita atau para kaum bijaksana jaman dahulu sehingga mereka semua mampu menuliskan pengetahuan-pengetahuan yang berharga yang kita warisi hingga saat ini.

Itulah makna warna Hitam dalam tradisi (baju) Jawa dan Sunda.

 

Rahayu Sagung Dumadi

Aguswi            

SESAJI (BANTEN) SEDERHANA, "RAME TIRAKATE"

 Sebuah upacara besar dengan banyak sesaji bukanlah menjadi penentu bahwa itu akan menjadi upacara yang Sattwika, upacara yang sudah pasti berhasil mencapai tujuannya. Begitu juga sebaliknya, upacara yang sederhana tidak bisa dikategorikan sebagai upacara yang Tamasika yaitu upacara yang penuh dengan kekurangan. Jika ada yang berpikir bahwa upacara yang besar dengan sesaji yang “wahhhh” sekali adalah upacara yang sudah pasti sukses mencapai tujuannya maka itu pikiran “ngawur, bener karepe dewe”.

Para Mpu pembuat keris jaman dahulu saat memulai membuat keris entah dengan cara dipijat-pijat atau ditempa logamnya selalu dibarengi dengan laku spiritual tertentu hingga keris pusaka itu jadi. Dan setelah keris itu jadi tidak ada upacara khusus seperti misalnya proses “energized” (pengisian energi), karena energi itu mengisi keris saat keris itu mulai dibuat hingga selesai dibuat yang diperkuat dengan laku spiritual Sang Mpu. Tidak seperti sekarang, barang apapun termasuk sesaji dijadikan dulu baru diproses “urip” dengan ritual; tidak ada yang salah namun hasilnya akan sangat berbeda.

Dulu leluhur kami misal nenek dan orang tua kami bahwa jika kita memiliki tujuan yang ingin dicapai tidak boleh lupa sebelumnya sebaiknya puasa, nenek bilang “poso lhee ben kabul kajate” (puasa nak, biar tercapai yang diinginkan). Tidak seperti sekarang berdoa di sana sini sono ke berbagai tempat suci dan doanya agar apa yang dicita-citakan tercapai. Proses “inside” (dalam diri) sangat kurang, dan hanya ramai proses “outside” (luar diri). Jadi dalam hal ini pemakaian sesaji lebih banyak namun “tirakate” (brata nya) sangat kurang. Kualitas batiniah yang terbentuk sudah pasti akan sangat berbeda. Para leluhur di Jawa mengajarkan agar kita sering “tirakat” (puasa) dengan harapan diri kita menjadi bersih, jauh dari kesialan, jauh dari ketidakberuntungan. Sehingga saat diri kita sudah bersih maka untuk mencapai tujuan diharapkan tidak ada hambatan dan rintangan yang berarti. Artinya diri kita dari dalam dipersiapkan terlebih dahulu dengan baik agar pantas menjadi wadah sesuatu yang akan dicapai. Yang disebut tirakat (puasa) itu tidak hanya membatasi makan dan minum, akan tetapi juga menjaga pembicaraan, menjaga pemikiran kita, menjaga perilaku kita; agar jangan sampai ada pembicaraan, pemikiran dan perilaku yang tidak pantas. Itulah konsep berpikir leluhur Jawa yang sungguh hebat. Karena itulah dahulu tahun 90-an penulis sebelum mendaftar ke sekolah yang diimpikan puasa terlebih dahulu selama beberapa hari. Dan astungkarah tercapailah yang diinginkan. Saat itu sama sekali tidak seperti sekarang yang ngaturang pioning sana sini sono bahkan ada yang melaksanakan upacara khusus untuk itu. Tidak ada yang salah namun kondisi batin maupun psikologis yang terbentuk akan sangat berbeda sekali.

Begitu juga dengan upacara apapun di pura dahulu, para sesepuh dan lainnya banyak yang puasa pada saat hari pelaksanaan upacara. Kami pernah melaksanakan upacara “Entas-Entas” yaitu upacara Dewa Pitra Pratistha untuk para leluhur kami yang dipuput oleh seorang Romo Resi. Setelah dijemput di bandara lalu sesampainya di rumah tujuan kami menyajikan makanan lalu Beliau bilang “aku isih poso yo mas nganti telung dino sak wise rampung upacara, aku mung ngombe banyu putih wae” (saya masih puasa ya mas sampai tiga hari sesudah selesainya upacara, saya hanya minum air putih saja). Beliau lanjut mengatakan “aku wis mulai poso petang dino kepungkur” (saya sudah mulai puasa sejak empat hari lalu). Dan kita memakai sesaji yang cukup sederhana dan penulis sendiri dibantu seorang pinandhita yang membuatnya. Upacara-upacara yang sekelas dengan ini kita lihat diberbagai tempat banyak yang sesajinya “wahh” lumayan untuk memenuhi deretan-deretan tatanan meja yang berjajar. Upacara di setiap pura atau dimanapun haruslah dikemas dengan sangat bijaksana dengan berbagai pertimbangan atau perspektif. Tidak karena ada biaya banyak dan melimpah lalu upacara dibikin besar. Sisi pendidikan, pemberdayaan ekonomi, peningkatan sumber daya manusia, dan lain-lain harus juga menjadi pertimbangan. Namun adakalanya ternyata ada saja orang yang gila yang mengatakan “ini supaya bethara-betharinya turun semua maka harus dibikin besar”. Adalagi sebuah tempat yang umatnya hanya belasan KK, upacara yang dilaksanakan di sana disetting dan dibiayai dari luar oleh orang-orang yang punya kekuatan finansial dan karena setahun dua kali maka cukup menguras tenaga umat setempat yang kenyataannya hidupnya sebagai “wong cilik” dan tidak berani bicara hanya “iya iya saja” meski dalam hati berontak. Andai dana-dana yang ada itu sebagian dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi atau pendidikan masyarakat setempat bukankah itu lebih sangat bijaksana?

Sesaji itu posisinya sebagai sarana yang tidak mutlak harus ada semua dan berbagai tempat harus sama. Sama sekali tidak seperti itu. Coba lihat anak SD yang masih kelas awal bagaimana mereka berhitung? Ada yang menggunakan jarinya dan ada juga yang memakai bulatan-bulatan telur atau bola juga lainnya. Tanpa bantuan jari atau bulatan-bulatan itu mereka akan kesulitan untuk berhitung. Sehingga jari atau alat bantu lainnya berposisi sebagai sarana saja, bukan tujuan mereka berhitung. Ketika mereka sudah naik tingkat dikelas atas maka dalam berhitung mereka sudah tidak perlu lagi sarana jari-jari atau gambar bulatan-bulatan. Mengapa? Karena proses berhitung itu sudah berkembang dalam pikiran mereka. Begitu juga dengan sesaji atau banten baik yang sederhana atau banyak posisinya adalah sebagai sarana saja, bukan menjadi tujuan sebuah upacara. Jadi leluhur di Jawa yang mengajarkan agar kita sering “tirakat” (puasa) dengan maksud agar perkembangan rohani itu terjadi di dalam diri, karena memang rohani tidak bisa dikembangkan dengan lebih baik jika dilakukan dari luar diri.


Rahayu Sagung Dumadi
Aguswi

Selasa, 24 Juli 2018

Perpaduan Ruwatan dan Melukat

Hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2015, bertempat di Pura Taman Mini Indonesia Indah, Paguyuban umat Hindu Jawa – Paguyuban Majapahid – melaksanakan acara ruwatan/melukat. Pada awalnya pihak panitia menargetkan peserta yang tidak lebih dari 50 orang, namun ternyata yang memberikan konfirmasi ikut acara tersebut lebih dari 100 orang. Dan itu tidak menjadikan masalah apapun karena sarana upakara yang dipakai bisa untuk ngruwat/melukat orang berapapun.

Acara pertama diawali oleh pemangku yang melakukan puja pembersihan dan penyucian diri, dilanjutkan dengan puja nuwur tirtha lukat/ruwat dan penguripan sarana sesaji untuk pembersihan dan penyucian (byakala, durmanggala, prayascitta) dan penguripan sesaji lainnya.

Kemudian tirtha lukat/ruwat sebagai bibit, dicampur dengan toya anyar yang sudah dilengkapi dengan berbagai sarana antara lain:
1.      Berbagai jenis daun (daun kayu sisih, daun kayu tulak, daun kayu suji, daun beringin, daun andong, daun mengkudu, daun alang-alang, daun bambu, daun dadap serep, daun temen, daun nagasari, dsb)
2.      Bunga (melati, jepun, kenanga, kantil putih, kantil kuning, mawar, kaca piring, soka, teratai, bunga kelapa, dsb)
3.      Buah (delima putih, jeruk purut, jeruk nipis)
4.      Kayu (cendana, gaharu, stigi, ulin, tulasi)
5.      Batu permata/akik (putih, merah, hitam, kuning)
6.      Cengkir kelapa (kelapa bulan, kelapa udang, kelapa gading, kelapa hijau)
7.      Ruas tebu wulung
8.      Dhatu (emas, perak, tembaga dan permata mirah)
9.      Sejenis minyak yang sangat langka (minyak buluh perindu)
Pencampuran ini diurip dengan mencelupkan sejumlah dupa yang menyala ke dalam campuran tirtha. Perpaduan antara ruwatan dan melukat ini tidak menggunakan wayang, tetapi mengkombinasikan antara daya spiritual dan ritual pelaksana dengan berbagai sarana alami yang mengandung mineral dan daya energi masing.

Rabu, 18 Juli 2018

Menyatukan Cipta, Rasa dan Karsa Dalam Kebersamaan Ngembak Geni Dan Banyu Pinaruh

Ngembak Geni....sebuah rangkaian ritual dalam Hari Raya Nyepi. Istilah Geni disini tidak mengacu kepada unsur api atau unsur apapun, melainkan sebuah kata filosofis yang lebih terkait dengan nafsu/keinginan duniawi dalam diri setiap manusia. Ngembak Geni adalah sebuah kemenangan diri dari peperangan melawan Geni (nafsu/keinginan) saat melaksanakan Catur Brata Penyepian. Ritual ini sangat tampak sekali di pura yang ada di desa-desa umat Hindu etnis Jawa, setelah selama 24 jam melaksanakan Catur Brata Penyepian pada pagi harinya melaksanakan sembahyang bersama dan dilanjutkan anjangsana dari rumah ke rumah umat Hindu.
Ngembak Geni tahun ini yang jatuh pada tanggal 18 Maret 2018 bersamaan dengan Banyu Pinaruh yang merupakan rangkaian Hari Raya Saraswati. Banyu disini yang secara harfiah artinya air juga merupakan kata yang filosofis; namun sah-sah saja jika dikaitkan dengan tirtha, dan tirtha itu bisa digunakan dengan cara diminum atau dibasuhkan atau untuk mandi. Pinaruh sama artinya dengan Pangaweruh (dalam literatur Jawa Kuno) yang artinya Pengetahuan Yang Sejati. Jadi Banyu Pinaruh yang dilaksanakan keesokkan hari setelah Hari Raya Saraswati membawa pesan bahwa hendaknya setiap manusia mandi/membasuh/meminum/mengisi diri dengan pengetahuan yang sejati. Bagaimana caranya? Tentu bisa dengan mempelajari berbagai sastra suci Veda dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kemenangan terhadap berbagai nafsu/keinginan (Geni) saat Catur Brata Penyepian yang secara ritual diwujudkan dalam pelaksanaan Ngembak Geni harus dilanjutkan dengan berusaha memahami hakekat hidup dan kehidupan dengan cara mengisi diri dengan pengetahuan yang sejati (Banyu Pinaruh), inilah pesan yang disampaikan dalam momen pertemuan dua ritual tersebut diatas.

Kamis, 12 Juli 2018

WEDA MEMBANGUN KEMBALI NUSANTARA

      Judulnya memang tendensius, tetapi kalau alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta, ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam “penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu. Kalau toh ini hanya angan-angan, maka tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja mencibir karena memang bukan misinya.

Rabu, 04 Juli 2018

AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)


Pendahuluan

Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya. Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan Hindu di masa depan.
Agnihotra yang juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.  Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ke tempat lain.

Dasar Sastra Upacara Agnihotra

1.      Agnimile Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam

Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)

Mantra di atas mengandung makna bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada manifestasi/Tuhan itu sendiri.

Kamis, 28 Juni 2018

PEREMPUAN JAWA KUNO

Ken Angrok terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes. Terlihatlah bagian rahasianya yang bersinar.
“Jika ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya Nariswari. Dia adalah perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya Ken Angrok dalam naskah Pararaton.
Empat tipe perempuan antara lain padmini, citrini, sankini, dan hastini.

sumber: http://solo.tribunnews.com

Tipe pertama, padmini memiliki ciri fisik: matanya seperti mata kijang dengan ujung-ujung kemerahan; hidungnya kecil dan bentuknya bagus; wajahnya bagaikan bulan purnama yang keemasan seperti bunga cempaka; lehernya halus dan luwes; buah dada yang penuh dan tinggi; pusarnya dikelilingi tiga garis lipatan; kulitnya halus seperti kelopak bunga sirsa; suaranya manis mengalun; kalau jalan seperti angsa; wataknya pemalu, menyenangkan, pemurah, setia, memiliki rasa keagamaan, dan bertingkah terhormat.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...