Beranda

Tampilkan postingan dengan label kabuyutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabuyutan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2018

TEMPAT SUCI SUNDA KUNA

(Jejak-jejak Hindu di Jawa Barat)

 Kabuyutan
      Karya sastra Sunda Kuna tidak terlalu banyak menguraikan perihal bangunan suci. Dalam naskah-naskah Sunda Kuna penyebutan hanya sepintas saja. Dalam Carita Parahyangan, misalnya dijumpai kalimat yang berhubungan dengan bangunan suci atau tempat keramat: “…Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahyangan …” (Atja, 1968:30, Agus Aris Munandar dkk, 2011:53) (… yang membuat kabuyutan-kabuyutan dari sang Rama, dari sang Resi, dari sang Disri, dari sang Tarahan bagi Parahyangan …).
      Sangat mungkin kabuyutan yang dimaksud oleh Carita Parahyangan adalah semacam “bangunan suci” atau tempat yang dikeramatkan seperti persemayaman para leluhur yang telah meninggal (hyang). Tempat suci seperti itu disebut pula dalam naskah Amanat Galunggung, bahkan dijelaskan betapa pentingnya kedudukan kabuyutan yang terdapat di Gunung Galunggung. Kabuyutan Galunggung mungkin merupakan kabuyutan utama yang disucikan oleh masyarakat Sunda dan akhirnya menjadi pusaka kerajaan.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...