Beranda

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juli 2018

WEDA MEMBANGUN KEMBALI NUSANTARA

      Judulnya memang tendensius, tetapi kalau alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta, ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam “penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu. Kalau toh ini hanya angan-angan, maka tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja mencibir karena memang bukan misinya.

Rabu, 11 Juli 2018

TEMPAT SUCI SUNDA KUNA

(Jejak-jejak Hindu di Jawa Barat)

 Kabuyutan
      Karya sastra Sunda Kuna tidak terlalu banyak menguraikan perihal bangunan suci. Dalam naskah-naskah Sunda Kuna penyebutan hanya sepintas saja. Dalam Carita Parahyangan, misalnya dijumpai kalimat yang berhubungan dengan bangunan suci atau tempat keramat: “…Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahyangan …” (Atja, 1968:30, Agus Aris Munandar dkk, 2011:53) (… yang membuat kabuyutan-kabuyutan dari sang Rama, dari sang Resi, dari sang Disri, dari sang Tarahan bagi Parahyangan …).
      Sangat mungkin kabuyutan yang dimaksud oleh Carita Parahyangan adalah semacam “bangunan suci” atau tempat yang dikeramatkan seperti persemayaman para leluhur yang telah meninggal (hyang). Tempat suci seperti itu disebut pula dalam naskah Amanat Galunggung, bahkan dijelaskan betapa pentingnya kedudukan kabuyutan yang terdapat di Gunung Galunggung. Kabuyutan Galunggung mungkin merupakan kabuyutan utama yang disucikan oleh masyarakat Sunda dan akhirnya menjadi pusaka kerajaan.

Jumat, 06 Juli 2018

Membangkitkan Hindu Jawa Barat – Sunda



Jawa Barat adalah cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Boleh dibilang Jawa Barat-lah  leluhurnya para Raja-raja diseluruh Nusantara. Pada abad ke II Masehi banyak datang para pedagang dari India dengan dikawal oleh para prajurit yang sangat tangguh. Lalu terjadi interaksi yang bukan hanya interaksi perdagangan tetapi interaksi budaya, agama dan lain-lain. Sebelum ada kerajaan Kutai pada abad ke IV Masehi, pada abad  ke II Masehi di Jawa Barat sudah ada kerajaan Hindu yaitu Salakanagara, dan ternyata Kudungga yang ada di Kutai ada hubungan saudara dengan Raja Salakanagara yang ke VIII. Dan karena Kudungga hanya punya anak perempuan maka mengadopsi anak kedua dari Raja Salakanagara tersebut yaitu Aswawarman dan dikawinkan dengan putrinya dan menjadi Raja di Kutai yang kemudian melahirkan Mulawarman, yang membawa Kutai mencapai kejayaannya. Raja-raja Salakanagara juga melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raja-raja di Sumatera dan Jawa Tengah, bahkan Majapahit mengganggap Jawa Barat adalah leluhur mereka. Karena ternyata kakeknya Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan Majapahit), orang tua dari Lembu Tal (Ayah Raden Wijaya) adalah orang Sunda yang masih keturunan Raja-raja Jawa Barat. Karena itulah pada masa Raja Hayam Wuruk ketika majapahit mencapai puncak kejayaan, Beliau berpesan kepada Mahapatih Gajah Mada agar jangan berperang dengan Jawa Barat karena dosa besar apabila berperang menundukkan tanah leluhurnya sendiri. Dari uraian sekilas inilah dapat disimpulkan bahwa Salakanagara adalah Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara. Tidak tahu pasti mengapa dari awal tidak dimunculkan bahwa Kerajaan tertua adalah Salakanagara di Jawa Barat. Sejarah ini secara detail Media Hindu sudah pernah memuatnya di Edisi yang sebelumnya, karena itulah penulis tidak akan mengulanginya lebih jauh.

Kamis, 28 Juni 2018

PEREMPUAN JAWA KUNO

Ken Angrok terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes. Terlihatlah bagian rahasianya yang bersinar.
“Jika ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya Nariswari. Dia adalah perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya Ken Angrok dalam naskah Pararaton.
Empat tipe perempuan antara lain padmini, citrini, sankini, dan hastini.

sumber: http://solo.tribunnews.com

Tipe pertama, padmini memiliki ciri fisik: matanya seperti mata kijang dengan ujung-ujung kemerahan; hidungnya kecil dan bentuknya bagus; wajahnya bagaikan bulan purnama yang keemasan seperti bunga cempaka; lehernya halus dan luwes; buah dada yang penuh dan tinggi; pusarnya dikelilingi tiga garis lipatan; kulitnya halus seperti kelopak bunga sirsa; suaranya manis mengalun; kalau jalan seperti angsa; wataknya pemalu, menyenangkan, pemurah, setia, memiliki rasa keagamaan, dan bertingkah terhormat.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...