Judulnya memang tendensius, tetapi kalau
alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja
berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta,
ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam
“penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu
yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam
semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu.
Kalau toh ini hanya angan-angan, maka
tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena
berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus
berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan
dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja
mencibir karena memang bukan misinya.
Manusia hidup tidak sendiri, alam ini diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dengan ciptaan yang beragam. Setiap ciptaan akan membutuhkan maupun dibutuhkan oleh yang lain. Harmoni diantara ciptaan-Nya adalah sebuah kewajiban agung dari setiap makhluk. Harmoni dengan seluruh isi Jagad Raya.
Beranda
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Juli 2018
Rabu, 11 Juli 2018
TEMPAT SUCI SUNDA KUNA
(Jejak-jejak Hindu di Jawa Barat)
Kabuyutan
Karya sastra Sunda Kuna tidak terlalu
banyak menguraikan perihal bangunan suci. Dalam naskah-naskah Sunda Kuna
penyebutan hanya sepintas saja. Dalam Carita
Parahyangan, misalnya dijumpai kalimat yang berhubungan dengan bangunan
suci atau tempat keramat: “…Nu
ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang
tarahan tina parahyangan …” (Atja, 1968:30, Agus Aris Munandar dkk,
2011:53) (… yang membuat kabuyutan-kabuyutan
dari sang Rama, dari sang Resi, dari sang Disri, dari sang Tarahan bagi
Parahyangan …).
Sangat mungkin kabuyutan yang dimaksud oleh Carita
Parahyangan adalah semacam “bangunan suci” atau tempat yang dikeramatkan
seperti persemayaman para leluhur yang telah meninggal (hyang). Tempat suci seperti itu disebut pula dalam naskah Amanat Galunggung, bahkan dijelaskan
betapa pentingnya kedudukan kabuyutan
yang terdapat di Gunung Galunggung. Kabuyutan
Galunggung mungkin merupakan kabuyutan
utama yang disucikan oleh masyarakat Sunda dan akhirnya menjadi pusaka
kerajaan.
Jumat, 06 Juli 2018
Membangkitkan Hindu Jawa Barat – Sunda
Jawa Barat
adalah cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Boleh dibilang Jawa
Barat-lah leluhurnya para Raja-raja
diseluruh Nusantara. Pada abad ke II Masehi banyak datang para pedagang dari
India dengan dikawal oleh para prajurit yang sangat tangguh. Lalu terjadi
interaksi yang bukan hanya interaksi perdagangan tetapi interaksi budaya, agama
dan lain-lain. Sebelum ada kerajaan Kutai pada abad ke IV Masehi, pada
abad ke II Masehi di Jawa Barat sudah
ada kerajaan Hindu yaitu Salakanagara, dan ternyata Kudungga yang ada di Kutai
ada hubungan saudara dengan Raja Salakanagara yang ke VIII. Dan karena Kudungga
hanya punya anak perempuan maka mengadopsi anak kedua dari Raja Salakanagara tersebut
yaitu Aswawarman dan dikawinkan dengan putrinya dan menjadi Raja di Kutai yang
kemudian melahirkan Mulawarman, yang membawa Kutai mencapai kejayaannya. Raja-raja
Salakanagara juga melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raja-raja di
Sumatera dan Jawa Tengah, bahkan Majapahit mengganggap Jawa Barat adalah
leluhur mereka. Karena ternyata kakeknya Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan
Majapahit), orang tua dari Lembu Tal (Ayah Raden Wijaya) adalah orang Sunda
yang masih keturunan Raja-raja Jawa Barat. Karena itulah pada masa Raja Hayam
Wuruk ketika majapahit mencapai puncak kejayaan, Beliau berpesan kepada
Mahapatih Gajah Mada agar jangan berperang dengan Jawa Barat karena dosa besar
apabila berperang menundukkan tanah leluhurnya sendiri. Dari uraian sekilas inilah
dapat disimpulkan bahwa Salakanagara adalah Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara.
Tidak tahu pasti mengapa dari awal tidak dimunculkan bahwa Kerajaan tertua
adalah Salakanagara di Jawa Barat. Sejarah ini secara detail Media Hindu sudah
pernah memuatnya di Edisi yang sebelumnya, karena itulah penulis tidak akan
mengulanginya lebih jauh.
Kamis, 28 Juni 2018
PEREMPUAN JAWA KUNO
Ken Angrok
terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes. Terlihatlah bagian
rahasianya yang bersinar.
“Jika
ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya Nariswari. Dia adalah
perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya
Ken Angrok dalam naskah Pararaton.
Empat tipe
perempuan antara lain padmini, citrini, sankini, dan hastini.
![]() |
| sumber: http://solo.tribunnews.com |
Tipe
pertama, padmini memiliki ciri fisik: matanya seperti mata kijang dengan
ujung-ujung kemerahan; hidungnya kecil dan bentuknya bagus; wajahnya bagaikan
bulan purnama yang keemasan seperti bunga cempaka; lehernya halus dan luwes;
buah dada yang penuh dan tinggi; pusarnya dikelilingi tiga garis lipatan;
kulitnya halus seperti kelopak bunga sirsa; suaranya manis mengalun; kalau
jalan seperti angsa; wataknya pemalu, menyenangkan, pemurah, setia, memiliki
rasa keagamaan, dan bertingkah terhormat.
Langganan:
Postingan (Atom)
BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI
Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...
-
Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan ...
-
Pendahuluan Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang m...
-
Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan ...
