Beranda

Tampilkan postingan dengan label jawa barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa barat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2018

TEMPAT SUCI SUNDA KUNA

(Jejak-jejak Hindu di Jawa Barat)

 Kabuyutan
      Karya sastra Sunda Kuna tidak terlalu banyak menguraikan perihal bangunan suci. Dalam naskah-naskah Sunda Kuna penyebutan hanya sepintas saja. Dalam Carita Parahyangan, misalnya dijumpai kalimat yang berhubungan dengan bangunan suci atau tempat keramat: “…Nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan tina parahyangan …” (Atja, 1968:30, Agus Aris Munandar dkk, 2011:53) (… yang membuat kabuyutan-kabuyutan dari sang Rama, dari sang Resi, dari sang Disri, dari sang Tarahan bagi Parahyangan …).
      Sangat mungkin kabuyutan yang dimaksud oleh Carita Parahyangan adalah semacam “bangunan suci” atau tempat yang dikeramatkan seperti persemayaman para leluhur yang telah meninggal (hyang). Tempat suci seperti itu disebut pula dalam naskah Amanat Galunggung, bahkan dijelaskan betapa pentingnya kedudukan kabuyutan yang terdapat di Gunung Galunggung. Kabuyutan Galunggung mungkin merupakan kabuyutan utama yang disucikan oleh masyarakat Sunda dan akhirnya menjadi pusaka kerajaan.

Jumat, 06 Juli 2018

Membangkitkan Hindu Jawa Barat – Sunda



Jawa Barat adalah cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Boleh dibilang Jawa Barat-lah  leluhurnya para Raja-raja diseluruh Nusantara. Pada abad ke II Masehi banyak datang para pedagang dari India dengan dikawal oleh para prajurit yang sangat tangguh. Lalu terjadi interaksi yang bukan hanya interaksi perdagangan tetapi interaksi budaya, agama dan lain-lain. Sebelum ada kerajaan Kutai pada abad ke IV Masehi, pada abad  ke II Masehi di Jawa Barat sudah ada kerajaan Hindu yaitu Salakanagara, dan ternyata Kudungga yang ada di Kutai ada hubungan saudara dengan Raja Salakanagara yang ke VIII. Dan karena Kudungga hanya punya anak perempuan maka mengadopsi anak kedua dari Raja Salakanagara tersebut yaitu Aswawarman dan dikawinkan dengan putrinya dan menjadi Raja di Kutai yang kemudian melahirkan Mulawarman, yang membawa Kutai mencapai kejayaannya. Raja-raja Salakanagara juga melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raja-raja di Sumatera dan Jawa Tengah, bahkan Majapahit mengganggap Jawa Barat adalah leluhur mereka. Karena ternyata kakeknya Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan Majapahit), orang tua dari Lembu Tal (Ayah Raden Wijaya) adalah orang Sunda yang masih keturunan Raja-raja Jawa Barat. Karena itulah pada masa Raja Hayam Wuruk ketika majapahit mencapai puncak kejayaan, Beliau berpesan kepada Mahapatih Gajah Mada agar jangan berperang dengan Jawa Barat karena dosa besar apabila berperang menundukkan tanah leluhurnya sendiri. Dari uraian sekilas inilah dapat disimpulkan bahwa Salakanagara adalah Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara. Tidak tahu pasti mengapa dari awal tidak dimunculkan bahwa Kerajaan tertua adalah Salakanagara di Jawa Barat. Sejarah ini secara detail Media Hindu sudah pernah memuatnya di Edisi yang sebelumnya, karena itulah penulis tidak akan mengulanginya lebih jauh.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...