Kabuyutan
Karya sastra Sunda Kuna tidak terlalu
banyak menguraikan perihal bangunan suci. Dalam naskah-naskah Sunda Kuna
penyebutan hanya sepintas saja. Dalam Carita
Parahyangan, misalnya dijumpai kalimat yang berhubungan dengan bangunan
suci atau tempat keramat: “…Nu
ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang
tarahan tina parahyangan …” (Atja, 1968:30, Agus Aris Munandar dkk,
2011:53) (… yang membuat kabuyutan-kabuyutan
dari sang Rama, dari sang Resi, dari sang Disri, dari sang Tarahan bagi
Parahyangan …).
Sangat mungkin kabuyutan yang dimaksud oleh Carita
Parahyangan adalah semacam “bangunan suci” atau tempat yang dikeramatkan
seperti persemayaman para leluhur yang telah meninggal (hyang). Tempat suci seperti itu disebut pula dalam naskah Amanat Galunggung, bahkan dijelaskan
betapa pentingnya kedudukan kabuyutan
yang terdapat di Gunung Galunggung. Kabuyutan
Galunggung mungkin merupakan kabuyutan
utama yang disucikan oleh masyarakat Sunda dan akhirnya menjadi pusaka
kerajaan.