Beranda

Tampilkan postingan dengan label yajna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yajna. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Oktober 2023

SESAJI (BANTEN) SEDERHANA, "RAME TIRAKATE"

 Sebuah upacara besar dengan banyak sesaji bukanlah menjadi penentu bahwa itu akan menjadi upacara yang Sattwika, upacara yang sudah pasti berhasil mencapai tujuannya. Begitu juga sebaliknya, upacara yang sederhana tidak bisa dikategorikan sebagai upacara yang Tamasika yaitu upacara yang penuh dengan kekurangan. Jika ada yang berpikir bahwa upacara yang besar dengan sesaji yang “wahhhh” sekali adalah upacara yang sudah pasti sukses mencapai tujuannya maka itu pikiran “ngawur, bener karepe dewe”.

Para Mpu pembuat keris jaman dahulu saat memulai membuat keris entah dengan cara dipijat-pijat atau ditempa logamnya selalu dibarengi dengan laku spiritual tertentu hingga keris pusaka itu jadi. Dan setelah keris itu jadi tidak ada upacara khusus seperti misalnya proses “energized” (pengisian energi), karena energi itu mengisi keris saat keris itu mulai dibuat hingga selesai dibuat yang diperkuat dengan laku spiritual Sang Mpu. Tidak seperti sekarang, barang apapun termasuk sesaji dijadikan dulu baru diproses “urip” dengan ritual; tidak ada yang salah namun hasilnya akan sangat berbeda.

Dulu leluhur kami misal nenek dan orang tua kami bahwa jika kita memiliki tujuan yang ingin dicapai tidak boleh lupa sebelumnya sebaiknya puasa, nenek bilang “poso lhee ben kabul kajate” (puasa nak, biar tercapai yang diinginkan). Tidak seperti sekarang berdoa di sana sini sono ke berbagai tempat suci dan doanya agar apa yang dicita-citakan tercapai. Proses “inside” (dalam diri) sangat kurang, dan hanya ramai proses “outside” (luar diri). Jadi dalam hal ini pemakaian sesaji lebih banyak namun “tirakate” (brata nya) sangat kurang. Kualitas batiniah yang terbentuk sudah pasti akan sangat berbeda. Para leluhur di Jawa mengajarkan agar kita sering “tirakat” (puasa) dengan harapan diri kita menjadi bersih, jauh dari kesialan, jauh dari ketidakberuntungan. Sehingga saat diri kita sudah bersih maka untuk mencapai tujuan diharapkan tidak ada hambatan dan rintangan yang berarti. Artinya diri kita dari dalam dipersiapkan terlebih dahulu dengan baik agar pantas menjadi wadah sesuatu yang akan dicapai. Yang disebut tirakat (puasa) itu tidak hanya membatasi makan dan minum, akan tetapi juga menjaga pembicaraan, menjaga pemikiran kita, menjaga perilaku kita; agar jangan sampai ada pembicaraan, pemikiran dan perilaku yang tidak pantas. Itulah konsep berpikir leluhur Jawa yang sungguh hebat. Karena itulah dahulu tahun 90-an penulis sebelum mendaftar ke sekolah yang diimpikan puasa terlebih dahulu selama beberapa hari. Dan astungkarah tercapailah yang diinginkan. Saat itu sama sekali tidak seperti sekarang yang ngaturang pioning sana sini sono bahkan ada yang melaksanakan upacara khusus untuk itu. Tidak ada yang salah namun kondisi batin maupun psikologis yang terbentuk akan sangat berbeda sekali.

Begitu juga dengan upacara apapun di pura dahulu, para sesepuh dan lainnya banyak yang puasa pada saat hari pelaksanaan upacara. Kami pernah melaksanakan upacara “Entas-Entas” yaitu upacara Dewa Pitra Pratistha untuk para leluhur kami yang dipuput oleh seorang Romo Resi. Setelah dijemput di bandara lalu sesampainya di rumah tujuan kami menyajikan makanan lalu Beliau bilang “aku isih poso yo mas nganti telung dino sak wise rampung upacara, aku mung ngombe banyu putih wae” (saya masih puasa ya mas sampai tiga hari sesudah selesainya upacara, saya hanya minum air putih saja). Beliau lanjut mengatakan “aku wis mulai poso petang dino kepungkur” (saya sudah mulai puasa sejak empat hari lalu). Dan kita memakai sesaji yang cukup sederhana dan penulis sendiri dibantu seorang pinandhita yang membuatnya. Upacara-upacara yang sekelas dengan ini kita lihat diberbagai tempat banyak yang sesajinya “wahh” lumayan untuk memenuhi deretan-deretan tatanan meja yang berjajar. Upacara di setiap pura atau dimanapun haruslah dikemas dengan sangat bijaksana dengan berbagai pertimbangan atau perspektif. Tidak karena ada biaya banyak dan melimpah lalu upacara dibikin besar. Sisi pendidikan, pemberdayaan ekonomi, peningkatan sumber daya manusia, dan lain-lain harus juga menjadi pertimbangan. Namun adakalanya ternyata ada saja orang yang gila yang mengatakan “ini supaya bethara-betharinya turun semua maka harus dibikin besar”. Adalagi sebuah tempat yang umatnya hanya belasan KK, upacara yang dilaksanakan di sana disetting dan dibiayai dari luar oleh orang-orang yang punya kekuatan finansial dan karena setahun dua kali maka cukup menguras tenaga umat setempat yang kenyataannya hidupnya sebagai “wong cilik” dan tidak berani bicara hanya “iya iya saja” meski dalam hati berontak. Andai dana-dana yang ada itu sebagian dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi atau pendidikan masyarakat setempat bukankah itu lebih sangat bijaksana?

Sesaji itu posisinya sebagai sarana yang tidak mutlak harus ada semua dan berbagai tempat harus sama. Sama sekali tidak seperti itu. Coba lihat anak SD yang masih kelas awal bagaimana mereka berhitung? Ada yang menggunakan jarinya dan ada juga yang memakai bulatan-bulatan telur atau bola juga lainnya. Tanpa bantuan jari atau bulatan-bulatan itu mereka akan kesulitan untuk berhitung. Sehingga jari atau alat bantu lainnya berposisi sebagai sarana saja, bukan tujuan mereka berhitung. Ketika mereka sudah naik tingkat dikelas atas maka dalam berhitung mereka sudah tidak perlu lagi sarana jari-jari atau gambar bulatan-bulatan. Mengapa? Karena proses berhitung itu sudah berkembang dalam pikiran mereka. Begitu juga dengan sesaji atau banten baik yang sederhana atau banyak posisinya adalah sebagai sarana saja, bukan menjadi tujuan sebuah upacara. Jadi leluhur di Jawa yang mengajarkan agar kita sering “tirakat” (puasa) dengan maksud agar perkembangan rohani itu terjadi di dalam diri, karena memang rohani tidak bisa dikembangkan dengan lebih baik jika dilakukan dari luar diri.


Rahayu Sagung Dumadi
Aguswi

Minggu, 15 Juli 2018

BERYADNYA KARENA TAKUT ATAU GENGSI ?


Hal yang paling utama dalam beragama menurut Hindu adalah kesadaran diri pribadi masing-masing dengan segala keyakinannya karena Hindu lebih mendasarkan ajarannya pada cinta kasih kepada setiap orang, persaudaraan, dan saling menghargai dalam kesetaraan bagi semua makhluk, tanpa dilandasi kebencian dan kekerasan. Agama Hindu tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan kegiatan beragama yang dilandasi oleh rasa ketakutan yang berlebihan baik takut akan berbagai ancaman hukuman, takut Tuhan akan marah apabila dianggap kurang dalam menghaturkan persembahan atau ketakutan-ketakutan lainnya.

Harus kita akui bahwa dalam kenyataannya pilihan agama tidak sepenuhnya diawali berdasarkan kesadaran diri untuk menentukan pilihan dari berbagai alternatif yang ada namun lebih dominan diperoleh dari ketururnan/orang tua sehingga memiliki konsekwensi logis hanya memahami ajaran agama yang telah ditentukan sejak lahir dan tidak pernah memiliki pemahaman tentang ajaran agama lain sebagai pembanding. Kondisi ini bisa jadi berpotensi menimbulkan militansi dan fanatisme agama yang berlebihan atau dapat pula menimbulkan kelatahan ritual yang acapkali tanpa pemahaman tentang kedalaman maknanya karena melaksanakan ritual yajna hanya mengikuti warisan turun temurun, kemudian dihantui ketakutan karena bersembunyi dibalik kata “nak mule keto“.

Rabu, 04 Juli 2018

AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)


Pendahuluan

Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya. Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan Hindu di masa depan.
Agnihotra yang juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.  Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ke tempat lain.

Dasar Sastra Upacara Agnihotra

1.      Agnimile Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam

Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)

Mantra di atas mengandung makna bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada manifestasi/Tuhan itu sendiri.

Kamis, 28 Juni 2018

Yajna Upavitam Bagi Brahmacari

Veda merekomendasikan tahapan kehidupan ideal yang disebut dengan catur asrama dharma. Keempat tahapan kehidupan ini merupakan lapangan kehidupan yang hendaknya seseorang lalui, mulai dari tahapan awal yang disebut dengan brahmacari (masa menuntut ilmu), grehasta (masa berumah tangga), vanaprastha (masa dimana sedikit demi sedikit melepaskan kehidupan duniawi), dan masa sanyasin (masa sudah secara totalitas melepaskan diri dari ikatan duniawi).

Di antara keempat tahapan kehidupan tersebut, kiranya penting untuk dipahami bahwa tahapan brahmacari merupakan tahapan yang paling menentukan untuk seseorang dapat melewati tahapan kehidupan berikutnya. Mengapa demikian? Karena masa brahmacari ini adalah masa pembekalan diri dan masa pengisian diri untuk seseorang dapat menjalani tahapan selanjutnya. Brahmacari secara konseptual dapat dimaknai sebagai masa dimana seseorang hendaknya menuntut ilmu pengetahuan, baik itu pengetahuan yang bersifat sains maupun spiritual. Pengetahuan inilah yang pada nantinya akan dijadikan pijakan untuk memasuki tahapan berikutnya. Pada masa ini pula seseorang hendaknya membentuk karakter dirinya untuk menjadi mulia, sebab pada saat tua nanti sangat susah membentuk karakter karena beban kehidupan yang banyak dan ketajaman intelek sudah mengalami ketumpulan.

Rabu, 06 Juni 2018

Manusia Sempurna


Kesempurnaan pada dasarnya ini mengacu kepada bagaimana kita bisa mendapatkan sebuah keterampilan yang sekarang ini tidak kita punyai. Sebagai contoh, katakanlah kita mengetik 20 kata dalam satu menit dengan dua jari kita. Lalu kita ingin meningkatkan kemampuan kita selama enam bulan untuk praktek setiap hari. Maka kita pasti bisa mengetik dengan sepuluh jari kita, bahkan tanpa melihat pada keyboard, pada kecepatan rata-rata 50 kata dalam satu menit. Maka dapat disimpulkan bahwa latihan kita selama enam bulan telah membuat kita lebih sempurna.

Ketika konsep ini kita terapkan dalam upaya-upaya kehidupan spiritual kita, maka ini akan sangat berarti. Ini karena esensi jati diri kita, jiwa kita pada hakekatnya sempurna. Latihan dan upaya kita sendiri akan membawa kesempurnaan diri pada intelektual, emosional dan naluri kita.

Kita terlahir dalam badan fisik untuk tumbuh dan berkembang dengan kekuatan jati diri kita. Agama kita mengajarkan pengetahuan bagaimana menyadari kesatuan kita dengan Tuhan dan tidak menciptakan pengalaman yang tidak kita inginkan.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...