Beranda

Tampilkan postingan dengan label hari raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari raya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Oktober 2023

HARI RAYA SARASWATI berpesan “jadilah orang yang cerdas”, Hari Raya PAGERWESI berpesan “bentengi dirimu dengan kecerdasanmu”

        Hari raya Saraswati dikemas dirayakan lebih dahulu baru kemudian dilaksanakan hari raya Pagerwesi, itu selalu dan akan terus seperti kita. Mengapa? Perlu kita ketahui bahwa satu-satunya hal yang dapat kita jadikan benteng atau pertahanan dalam diri kita hanyalah pengetahuan. Tanpa pengetahuan maka manusia akan mengalami kebodohan (avidya), dari kebodohan maka manusia akan sangat beresiko terjerumus dalam berbagai penderitaan dalam setiap kehidupannya. Tanpa pengetahuan yang baik manusia tidak akan bisa berpikir berkata-kata dan bertindak dengan benar. Tanpa pengetahuan sangat mungkin pemikiran orang akan liar tidak tentu arah sehingga membawa pada ketidakbenaran. Tanpa pengetahuan bisa jadi kata-kata pun tidak terkendali sehingga sering melontarkan kata-kata yang tidak baik. Dan ketika pemikiran dan kata-kata tidak terkendali maka tindakannya pun akan seperti itu pula, menjadi tidak terkendali. Dan hari Saraswati adalah hari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus mendapatkan jalannya terlebih dahulu untuk mengalir ke dalam diri seseorang, barulah jika pengetahuan itu sudah ada di dalam diri baru bisa difungsikan salah satunya sebagai benteng dalam diri. Itulah alasan mengapa Saraswati merupakan hari raya yang lebih dahulu dilaksanakan beberapa waktu sebelum Pagerwesi.

        Namun perlu dipahami bahwa sebagaimana air hanya akan bisa mengalir ke tempat yang lebih rendah, begitu juga air pengetahuan hanya akan bisa mengalir kepada mereka yang memiliki kerendahan hati. Orang-orang yang angkuh, sombong, congkak, penuh kedengkian, pemarah, mudah emosional, mudah membuli, gampang memprovokasi maka pengetahuan yang benar tidak akan bisa mengalir kepada orang-orang seperti itu. Dibutuhkan orang yang “pangerten” (ungkapan Jawa) yang artinya mau memahami, mau menyadari, mau mencari kebenarannya, mau bertoleransi. Barulah setelah pengetahuan itu bersenyawa dalam diri seseorang dan membentuk sebuah komposisi kesadaran maka dia bisa memfungsikannya sebagai “way of life” salah satunya sebagai benteng dalam diri; benteng yang memagari diri untuk tidak terpapar dalam berbagai pemikiran yang buruk, benteng yang memagari diri dari paparan tindakan yang asusila, benteng yang memagari diri agar setiap ucapan tidak keluar dari konteks kebenaran.

        Seringkali kita membaca postingan di medsos begitu mudahnya seseorang mencaci, memaki, membuli, memprovokasi, merendahkan, dsb; itu mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak memiliki benteng dalam dirinya sehingga dia dengan mudahnya terpapar dalam perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan dan kesantunan. Sifat-sifat buruk seperti itu akan menjadi sebuah penghalang atau blokir terhadap aliran pengetahuan ke dalam dirinya.

Pengetahuan memiliki kekuatan yang luar biasa, sebagaimana api yang mampu membakar benda hingga menjadi abu, begitu pula api pengetahuan akan sanggup membakar berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang dialami seseorang. Bhagavadgita memberikan penjelasan bahwa dengan pengetahuan orang yang paling berdosa sekalipun akan sanggup menyeberangi lautan penderitaan.

Pagerwesi menurut lontar Sundarigama disebutkan :

“budha kliwon shinta ngaran pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.”

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pamujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (Sembilan Dewata) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

 

“Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Mahabhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah”

Artinya:

Sang Pandhita hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara. Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada persembahan untuk Sang Panca Mahabhuta yang warnanya menurut uripnya dan ditempatkan di tempat pemujaan.

 

“Ngawerdhiaken” artinya mengembangkan, tumitah artinya yang terlahirkan, tumuwuh artinya tumbuh-tumbuhan. Dalam ungkapan Jawa ini sama dengan “Memayu Hayuning Bhuwana” yang artinya mengembangkan, melestarikan, menjaga segala bentuk kehidupan. Segala bentuk kehidupan ini harus dikembangkan, dilestarikan dan dijaga; karena apabila itu tidak dilakukan maka manusia akan dilanda penderitaan lahir maupun batin entah sebagai dampak dari yang terjadi secara global atau pun karena dirinya sendiri. Misal saja tumbuh-tumbuhan (pertanian ) tidak dikembangkan dan dilestarikan maka akibatnya adalah kemiskinan dan kelaparan. 

Dalam konteks sekarang, kata “sang purohita” ini ditujukan kepada kita semua yaitu orang-orang yang memiliki keluhuran budhi sebagaimana para purohita (pandhita) yang memiliki sifat-sifat mulia. Dan hendaknya mereka yang memiliki keluhuran budhi, yang memiliki kesadaran diri melakukan yoga samadhi. Jadi inilah hakikat dari Pagerwesi bahwa dengan segenap pengetahuannya seseorang hendaknya melakukan yoga samadhi. Menurut Yoga Sutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali bahwa “Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran” Mengapa pikiran perlu dikendalikan? Agar supaya pikiran tidak larut dalam berbagai gelombang pemikiran terutama pemikiran yang buruk yang memungkinkannya untuk kehilangan sifat sejatinya. Semakin gelombang-gelombang pemikiran itu dibiarkan, maka semakin mengganggu kinerja dari pikiran, bahkan bisa membuat pikiran menjadi galauw, stress hingga gila. Sehingga dengan kondisi pikiran yang seperti itu maka tingkat kesadaran seseorang menjadi menurun dan akibatnya mudah berprilaku yang tidak pantas hingga kejam. Yoga samadhi tidak bisa diartikan sempit sebagaimana asumsi kebanyakan orang yaitu “duduk diam hening tidak bergerak sama sekali”, tetapi lebih luas dari itu yaitu tertuang dalam konsep Astangga Yoga dimana pada bagian awal berkaitan dengan pengendalian perilaku kita sehari-hari yaitu Yama dan Nyama. Bahwa sebelum menjalankan laku sadhana inti atau puncak dari Yoga yaitu Samadhi maka syaratnya adalah perilaku sudah mencerminkan sebuah keluhuran budhi. Tanpa keluhuran budhi (sifat-sifat yang mulai) maka laku sadhana yoga tahap lanjutan adalah sia-sia belaka. Karena pengetahuan yang terkandung dalam inti atau puncak laku sadhana yoga tidak akan bisa mengalir dalam diri, oleh karena terblokir oleh sifat-sifat buruk dalam diri.

Buatkan jalan berupa kemuliaan diri bagi pengetahuan untuk bisa mengalir dan bersenyawa dalam sang diri dan membentuk sebuah komposisi kesadaran yang tinggi. DAN ORANG YANG CERDAS ADALAH ORANG YANG SANTUN DALAM BERPIKIR BERKATA DAN BERBUAT.

Saat pengetahuan sudah mengambil peran dalam komposisi kecerdasan maka hendaknya kita menggunakan kecerdasan itu untuk segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan, bukan malah sebaliknya yang menentang hukum kehidupan, menodai atau bahkan menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Dunia ini akan damai bila seluruh penghuninya bisa menggunakan kecerdasannya dengan tepat.

Jadi hanya pengetahuanlah yang bisa dijadikan benteng yang kuat dalam diri agar segala kecenderungan atau sifat-sifat yang buruk tidak mampu menyentuh sang diri sehingga tujuan hidup bisa tercapai.  

 

Aguswi

ARCHANGEL

Jumat, 13 Januari 2023

“Nyepi …..Apakah aku merasakan lapar dan haus? …..Apakah aku dalam keadaan terkendali?”

 

Oleh: Aguswi

 Nyepi …..sebuah hari raya yang rutin dilakukan umat Hindu dengan berbagai rangkaian ritual yang wajib dilaksanakan sebelumnya, seperti misalnya Melasti, Tawur Kesanga, Catur Brata Penyepian dan Ngembak Geni. Kali ini umat Hindu melaksanakan Nyepi saat pandemi Covid 19 masih menyebar. Dari berbagai rangkaian ritual tersebut mampukah kita menangkap esensi spiritualnya dari setiap ritualnya?

 Dalam Yajurveda XIX.30 dinyatakan:

vratena dīkṣāmāpnoti dīkayāpnoti dakiṇām,

dakiṇā śraddhāmāpnoti śraddhayā satyamāpyate

 

Terjemahan:

Dengan melakukan pantangan (vratena) maka akan mendapatkan penyucian (Diksa), dengan penyucian akan mendapatkan kehormatan (Daksina), dengan kehormatan akan mendapatkan keyakinan (Sraddha), dan dengan keyakinan akan mendapatkan kebenaran (satya) yang sejati.

Kata vratena berasal dari kata vrata yang artinya pengekangan, ketaatan. Berarti pula vrata sama artinya dengan brata.

Jadi kemanakah arah dari pelaksanaan Catur Brata Penyepian? Tidak lain adalah satyamāpyate (untuk mengetahui kebenaran yang sejati).

 

Melasti:

 Tersurat dalam lontar "Sundarigama", yang mengatakan (petikan dari website phdi.or.id): 

“irikang triodasi ikang kresnapaksalastiana ikangpratima yogamsa Sang Hyang Tiga Wisesaluirnya DesaPusehDalem sarengakena sarwa areapratimaDewa Parhyangan padang ke kabehkengakena maring sagarainiring dening wangsaha widhi widanahidangkan larapan ring Sang Hyang Barunamalaku anganyut laraningjagatsasapa klesa letu-hing bhuwana telas kalebur ring sagaraTelas tiningkah saparikramamantukakna punang pratima miwah jajaraken munggwing bale panjang aturin datengankayeng pralagiRi sampun puput sapula-palimantu-kakna maring sthananira soang-soang”

 Terjemahan:

Pada hari trio dasi krsna paksa, yakni dua hari sebelum hari tilem sasih kasanga atau pada hari ketiga belas sesudah bulan purnama sasih kasanga semua pratima atau pralingga sebagai simbol (niasa) perwujudan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Hyang Widhi Wasa) diusung ke laut atau ke sumber mata air terdekat dengan seperangkat upakara dengan tujuan untuk disucikan. Makna dari persembahan upakara tersebut adalah menghanyutkan semua kekotoran dunia.

Lontar Sundarigama (petikan) juga menambahkan tujuan Melasti yaitu “….amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara….’ yang artinya “…mengambil sari-sari air kehidupan ditengah samudera…”

Jadi tujuan Melasti menurut Lontar Sundarigama adalah untuk menghilangkan segala kekotoran dalam diri dan alam sehingga bisa mendapatkan pengetahuan yang sejati (sarining amertha kamandalu) ditengah-tengah lautan kehidupan (telenging sagara) ini yang penuh dengan suka duka.    

Dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan Melasti yang tersurat dalam lontar Sundarigama sejalan dengan sebuah mantra yang tersurat dalam Yajurveda XIX.30, bahwa untuk mendapatkan penyucian maka kekotoran-kekotoran dalam diri harus dibersihkan terlebih dahulu. Ketika kekotoran dalam diri sudah lenyap maka alam pun bisa dibersihkan pula dari kekotorannya. Dan secara ritual, Sundarigama telah memberikan sebuah metode yaitu melalui Melasti. Dan tentu Sundarigama memberikan metode lanjutan yang berbunyi (petikan):

“…enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.”

 Terjemahan:

“…besoknya, Nyepi, tidak menyalakan Api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tidak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat kebenaran melaksanakan samadhi tapa yoga menuju kebenaran sejati”.

Dari pantangan yang disebutkan yaitu amati geni dan anyambut karya inilah kemudian dikembangkan menjadi empat (ditambah amati lelungan dan amati lelanguan) yang disebut Catur Brata Penyepian. Namun pada dasarnya dari amati geni dan anyambut karya yang diarahkan kepada pelaksanaan semadi, sudah tentu tidak akan ada lelungan (bepergian) dan lelanguan (kesenangan). Namun dua brata tambahan ini menjadi sebuah penegasan yang mendukung dua brata yang sebelumnya.

Pada prinsipnya, saat Nyepi semua indria kita redakan, kita kendalikan sehingga seluruh indria kita menemukan ketenangannya. Memang tidak mudah, akan tetapi juga tidak sulit bagi yang tekun berusaha. Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spiritual maka Catur Brata Penyepian harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dengan disertai upawasa (berpantang makan dan minum), mona (berpantang terhadap berkata-kata), dan dhyana (pemusatan pikiran kepada obyek Ketuhanan).

Sudah jelas lontar Sundarigama menyebut amati geni, berarti pula kegiatan memasak tidak dibolehkan karena setiap memasak sudah pasti menggunakan api sehingga kita pun diarahkan untuk berpantang terhadap makanan (upawasa). Ketika semadi (dhyana) dijalankan maka akan ada pemusatan pikiran disana sehingga secara otomatis kita pun diarahkan kepada mona.

Catur Brata Penyepian sesungguhnya sebuah metode pengendalian diri bagaimana agar kita menjadi The Master (pengendali) dari diri kita sendiri sehingga kita pun bisa menjadi Master Mind (pencipta) dari jalan kehidupan kita sendiri.  Logikanya adalah bagaimana mungkin kita mampu mengendalikan bagian diri kita yang halus (misal indria) bila mengendalikan yang sifatnya fisik saja misal mengendalikan makan dan minum saja tidak mampu?

Pikiran kita setiap hari terisi dengan berbagai pemikiran yang berproses di dalamnya. Bila berbagai pemikiran itu tidak kita kendalikan maka bisa terjadi eror dalam sistemnya yang berwujud stress, depresi, galauw, emosi, marah, sedih, bingung dan sejenisnya; dan ini membahayakan diri kita sendiri karena pikiran tidak lagi diposisi sebagai teman tetapi sebagai beban atau bahkan bisa sebagai musuh kita sendiri karena sifatnya yang berubah. Seperti halnya sebuah kolam dengan air yang jernih namun bila banyak gelombang yang terjadi maka kejernihannya tidak akan tampak dan dasar kolam pun juga tidak tampak. Namun ketika gelombang-gelombang air kolam itu reda maka kolam mendapatkan ketenangannya dan kejernihannya pun tampak begitu juga dengan dasarnya. Begitu pula dengan pikiran yang setiap hari berproses dengan berbagai pemikiran, dan ketika berbagai pemikiran semakin banyak maka pikiran semakin kehilangan ketenangannya, pikiran akan menjadi semakin kacau dan ruwet. Namun bila berbagai pemikiran tadi bisa dikendalikan maka secara perlahan pikiran akan mendapatkan ketenangannya kembali, sehingga kita pun akan merasakan sesuatu yang damai saat berbagai gelombang pemikiran tadi dapat dikendalikan. Semakin terkendali maka semakin pikiran mendapatkan kemurniannya atau kesejatiannya (Lontar Sundarigama = ametitis kasunyatan yaitu mendapatkan pengetahuan yang sejati).

Dan Lontar Sundarigama memberikan metode untuk mengendalikan berbagai pemikiran itu yang puncaknya adalah dengan gelarakena semadi tama yoga yaitu melakukan pemusatan pikiran yang dalam Astangga Yoga disebut dhyana (termasuk rangkaian yang sebelumnya seperti misalnya pranayama).  Dalam Yoga Sutra Patanjali, I.2: Yogas Citta Vrtti Nirodah yang artinya Yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Jadi memang ini sejalan dengan tujuan dari konsep Catur Brata Penyepian yaitu metode sadhana untuk pengendalian diri.

Saat Nyepi….upawasa (puasa) yang dilakukan dengan semangat dan niat yang tulus maka tidak akan merasakan lapar dan haus. Jadi amatilah diri sendiri saat puasa “Apakah aku merasakan lapar dan haus?”. Saat dalam mona atau melakukan dhyana juga amati diri sendiri “Apakah aku bisa merasakan ketenangan?”. Dan secara keseluruhan amati juga “Apakah aku dalam keadaan terkendali?”. Jawablah dalam diri sendiri dengan penuh kesadaran.  

Jadi rangkaian Hari Raya Nyepi adalah metoda bagi diri ini untuk bertransformasi kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi yaitu kasunyatan (kebenaran yang sejati).

 Rahayu Sagung Dumadi

AGUSWI

Pasundan-Parahyangan-Nuswantara

Rabu, 11 Januari 2023

KUNINGAN - Sebuah Kematangan Diri

Lihatlah hamparan sawah yang penuh dengan tanaman padi, mula-mula berupa bibit yang kehijauan kemudian semakin tumbuh lalu muncul bulir-bulir (bakalan) padi yang kehijauan dan masih kosong tanpa isi. Kemudian Sang Petani melakukan perlakuan tertentu misal menyemprotnya dengan obat jika ada hama pada tanaman, juga melakukan pemupukan jika ternyata tanaman padi kurang subur. Sehingga dari perlakuan itu tanaman padi menjadi tumbuh sehat dan subur, dan bulir-bulir padi akan semakin terisi dan semakin matang seiring berjalannya waktu hingga padi menjadi menguning padat berisi dan siap dipanen, untuk kemudian dikonsumsi masyarakat sehingga bisa memuaskan rasa lapar setiap orang, bisa memberikan asupan-asupan yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam mendukung aktivitasnya sehari-hari.

Begitulah kita hendaknya, saat kita baru dilahirkan kita adalah bibit yang akan terus tumbuh. Mula-mula kita kekanak-kanakan dimana semua serba tergantung dari orang tua maupun orang lain, orang tua kita ibarat sang petani terus memupuk ataupun mengairi kekanak-kanakan atau keremajaan kita dengan kebutuhan jasmani dan pendidikan yang sebaik mungkin; memberikan asupan-asupan yang bergizi berharap agar putra mereka tumbuh sehat dan kuat, memberikan pendidikan yang terbaik berharap agar sang putra menjadi cerdas dan nantinya berguna bagi bangsa dan negara juga mengharumkan nama keluarga, memberikan obat berupa petuah-petuah bijak atau nasihat agar sang putra mampu menghadapi berbagai tantangan maupun halangan rintangan dalam hidupnya sehingga bisa terus tumbuh dari bulir-bulir keremajaannya menuju pribadi yang dewasa, yang sudah terisi dengan berbagai pengetahuan dan sudah matang untuk mandiri tidak tergantung lagi kepada orang lain, bahkan dengan pengetahuannya dia akan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat, dengan pengetahuannya dia bisa memberikan makanan dan air bagi masyarakat yang lapar dan haus akan pengetahuan, dia bisa memberikan asupan-asupan pengetahuan yang bergizi kepada masyarakat, dan pada akhirnya masyarakat menjadi terpuaskan dengan keberadaannya.

Sebagai pribadi yang sudah matang dan berpengetahuan ibarat padi yang sudah menguning padat berisi lalu merunduk, seperti itulah pribadi yang matang dia akan terus rendah hati, tidak akan mencerminkan diri yang sombong, congkah dan angkuh; karena dia menyadari bahwa kematangannya dalam hal pengetahuan bukan untuk disombongkan akan tetapi untuk kebermanfaatan bagi masyarakat.

Kematangannya dalam pengetahuan menjadikan dirinya menjadi memahami hakekat hidup ini, bagaimana harus bersikap dan berperilaku yang pantas di dalam masyarakat. Dia memiliki ketajaman dalam merasa, dalam istilah Jawa “ngrumangsani”, merasa bahwa sesuatu itu pantas atau tidak untuk dipikirkan dikatakan atau bahkan dilakukan. Merasakan bahwa dirinya bermanfaat atau justru menimbulkan masalah oleh karena sikap dan perilakunya. Merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, merasakan bahwa dirinya adalah satu dengan semua orang dalam kemanusiaan, itu “tat tvam asi”.

Dan sebagai puncaknya adalah dia matang dalam kerohanian, dalam hubungannya dengan Sang Maha Tinggi.

Sudahkah kita menjadi pribadi yang matang? Jadilah diri yang “ngrumangsani” alias merasa apakah sudah matang atau belum.

Rahayu Sagung Dumadi

AGUSWI          

Suwung – Nyepi

 

Oleh: Aguswi

         Kata “suwung” adalah literatur Jawa yang berarti kosong, sepi, tiada apapun juga. Dunia ini berawal dari Suwung (kekosongan). Itulah yang dinyatakan oleh Chandogya Upanisad: “idam va agranaiva kincit asit, sadva saumnya idam agra acit, ekam eva advitya”, artinya “sebelum diciptakan, alam semesta ini tidak ada apa-apa, sebelum alam semesta diciptakan hanya Hyang Kuasa yang ada, maha esa tiada duanya”

Manava Dharma Sastra I.5 juga menjelaskan: “asid idam tamobhutam aprajnatam alaksanam, apratarkyam avijneyam prasuptamiva sarvatah”, artinya “ketahuilah bahwa asal mulanya alam semesta ini terselimuti kegelapan, tak terlihat, tanpa sifat, melampaui daya penalaran atau akal, seakan-akan terselimuti dalam tidur lelap universal”.

Jika memang alam ini berawal dari Suwung (kekosongan), lalu benarkah Tuhan itu ada? Secara logika, kekosongan adalah tanpa ada apapun juga, tiada obyek apapun yang dapat ditemukan. Jawaban atas pertanyaan apakah Tuhan itu ada maka tergantung pada kesadaran kita mengenai definisi “ada”. Jika kita mendefinisikan kata “ada” sebagai sebuah kenyataan yang harus memiliki bentuk atau ciri-ciri fisik, maka sudah jelas Tuhan itu tidak ada. Instrumen apapun yang digunakan akan gagal untuk membuktikan bahwa Tuhan itu terlihat atau sosok-Nya yang sejati dapat disaksikan.

Dengan memperluas definisi “ada” hingga pada tingkat kasunyatan metafisik, pernyataan Tuhan itu “ada” atau “tidak” tergantung pada kesadaran pengertian mengenai Tuhan itu sendiri. Mereka yang berkesadaran bahwa Tuhan adalah Pribadi dengan keberadaan metafisik (mereka yang dikategorikan sebagai para penganut kepercayaan Tuhan Personal), maka ada teks-teks kuno yang menyatakan bahwa Tuhan itu “ada”. Seperti yang tertulis dalam Bhagavad-Gita adhyaya 11 yang menyatakan bahwa Arjuna menyaksikan Sri Krishna dalam wujud Mahavisvarupa-Nya yang sesungguhnya adalah wujudNya sebagai Saguna Brahman (Tuhan Berkepribadian, Yang Terpikirkan).

Begitu juga dengan Manava Dharma Sastra adhyaya 1 yang menjelaskan alam semesta secara runtut dari keadaan Suwung (kosong) hingga kemudian meng “ada” dengan sendirinya dengan kekuatan-Nya yang Maha Ada.

Terkait pernyataan bahwa Tuhan itu ada, para saintis atau siapa pun juga yang berpegang pada pembuktian empiris tentu saja bisa menyangkal pernyataan itu. Seperti pernyataan Stephen Hawking dan para atheis lainnya yang menyatakan bahwa tidak ada sosok Tuhan yang terlibat dalam pembentukan alam semesta. Namun, menyangkal sebuah realitas metafisik (niskala) dengan pendekatan empiris yang melibatkan perangkat indriawi manusia adalah kebodohan belaka. Meski dibantu dengan perangkat paling canggih sekalipun, tidak akan pernah bisa mengungkapkan keberadaan-Nya secara utuh. Wilayah non-materi dari alam semesta ini hanya akan bisa ditangkap dengan perangkat non-indriawi pada diri manusia.

Suwung merupakan realitas kekosongan yang menjadi inti sekaligus meliputi segala yang ada. Tuhan, sejatinya bukanlah sosok atau pribadi, melainkan kekosongan yang meliputi seluruh jagad raya. Tuhan dalam keadaan esensialnya adalah kekosongan yang tanpa batas. Segala sosok agung apapun juga yang digambarkan oleh berbagai sastra suci, atau pun sebagaimana yang disaksikan oleh beberapa Sang Waskita (pelaku spiritual), sejatinya tak lebih dari manifestasi atau pengejawantahan Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung mengejawantah menjadi Wisnu, atau Brahma atau Mahadewa adalah tergantung kepada tujuan-Nya dalam pengejawantahan-Nya tersebut. Atau pun mengejawantah dalam Realitas Cahaya Tertinggi yang meliputi segalanya. Sang Suwung mengejawantah (memanifestasi) dalam wujud keberadaan Yang Berpribadi tiada lain hanyalah cara Sang Suwung untuk membuat manusia lebih mudah mengenal keberadaan-Nya sebagai realitas Yang Maha Agung.

Leluhur Nusantara yang menjelaskan keberadaan Tuhan sebagai Kang Akarya Jagad, Kang Murbeng Dumadi; tidak sedang menyebut sosok Tuhan. Tetapi yang sedang diungkap adalah keberadaan Sang Suwung yang mengejawantah menjadi jagad raya beserta segala isinya. Hal ini senada dengan petikan dari Chandogya Upanisad 3.14.1 “sarvam khalvidam brahma” yang artinya “segalanya adalah pengejawantahan dari Hyang Kuasa”. Tuhan sebagai Sang Suwung adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta, dan Sang Suwung adalah akar dari keberadaan alam semesta.

Di dalam segala yang ada, di sana ada Tuhan, Sang Suwung. Sang Suwung adalah Kesadaran yang bekerja menjadikan (meng ”ada” kan), memelihara, dan meluruhkan segala keberadaan melalui serangkaian hukum yang kita sebut hukum alam (rta).

Berarti manusia juga merupakan pengejawantahan dari Sang Suwung, maka manusia disebut mikrokosmos, jagad alit. Sebagaimana Sang Suwung dan jagad raya tiada pernah terpisah, demikian pula Sang Suwung dengan manusia adalah kesatuan juga. Sebuah kesatuan antara Sang Suwung dengan Sang Diri inilah dalam filosofi Jawa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti. Bahwa sudah sejak pada awalnya antara Sang Suwung dengan Sang Diri ini merupakan sebuah kesatuan yang tidak pernah maupun tidak akan terpisahkan. Sang Suwung adalah Kekosongan yang menjadi esensi sekaligus memenuhi dan meliputi diri manusia. Sang Suwung yang mengejawantah menjadi Pribadi Agung atau Personal maka terkesan terpisah dengan manusia.

Setiap manusia (sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung) memiliki kebebasan penuh untuk memilih tindakan sesuai yang diinginkan. Yang menjadi batasannya adalah kapasitas dirinya sendiri dan hukum-hukum semesta. Manusia memiliki murba atau kuasa sejauh kapasitasnya, dan memiliki wasesa atau wewenang memilih tindakan dimana setiap pilihannya mendatangkan resiko tertentu yang dalam susastra Jawa disebut wohing pakarti – buah perbuatan. Manusia bisa melakukan sesuatu oleh karena ada daya atau kuasa yang diberikan oleh Sang Suwung, namun setiap apa yang dilakukan akan selalu terikat dengan hukum-hukum semesta yang sama sekali tidak bisa dihindari. Tindakan destruktif manusia akan dipatulkan oleh hukum-hukum semesta sebagai wohing pakarti yang juga merugikan dan membawa dukacita. Tanpa upaya untuk menata, memperbaruhi hidup, harmonis dengan alam semesta sebagai pengejawantahan dari Sang Suwung, maka dukacita pasti akan dialami. Dalam hal ini harus kita sadari bahwa sejatinya tidak ada dosa yang berakar pada ketidaksenangan dan kemarahan Hyang Kuasa terhadap tindakan manusia. Apapun yang diperbuat oleh manusia, Sang Suwung tetaplah Suwung; tiada marah dan benci, pun juga tiada senang dan duka. Tetapi manusia sudah pasti ngunduh wohing pakarti (mendapatkan segala akibat perbuatan yang dilakukannya).  

Nyepi....dalam pemahaman umat Hindu etnis Jawa sesungguhnya adalah sebuah laku dalam rangka Nyuwung (mengosongkan diri). Apa yang dikosongkan? Sebagaimana yang dijelaskan dalam upanisad-upanisad bahwa dunia ini pada awalnya hanyalah kekosongan saja tiada materi, tiada rupa, tiada obyek apapun juga dan yang ada hanya dengungan suara AUM; maka seperti itu pula bahwa Nyepi adalah laku mengosongkan hasrat-hasrat duniawi semata melalui pengendalian indriya-indriya dalam diri terutama rajendriya (rajanya indriya yaitu pikiran), dan hanya merenungkan esensi-esensi Ketuhanan. Jiwa manusia juga berasal dari-Nya, Sang Suwung yang mengejawantah; oleh karena itu Nyepi juga sebagai laku untuk suatu tujuan tertinggi perjalanan jiwa manusia, yaitu menuju sangkan paraning dumadining manungsa (asal dan tujuan manusia itu diciptakan). Nyuwung juga merupakan upaya bagi Sang Jiwa untuk kembali murni. Menjadi Diri Sejati atau Realitas Cahaya yang paling murni. Inilah yang disebut kamoksan sejati atau Moksa. Sang Diri Sejati akan menuntun untuk mencapai tataran Suwung. Inilah keadaan yang disebut sampurnaning hurip. Menjadi murni dan kembali kepada Suwung membuat manusia tiada tapi ada, dan ada tapi tiada. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Catur Brata yang selama ini kita kenal sebagai bagian dari sadhana atau laku di hari raya Nyepi adalah cara-cara brata untuk melatih Sang Diri ini dalam nyuwungke (mengosongkan) diri ini dari berbagai hasrat duniawi dengan cara (1) mengosongkan kerja (amati karya), (2) mengosongkan ego maupun ahangkara (amati geni), (3) mengosongkan kesenangan (amati lelanguan), dan (4) mengosongkan berbagai keinginan duniawi yang membuat pikiran menjadi mengembara kemana-mana (amati lelungan).

Saat sang Jiwa meneruskan perjalanan dengan menyelami realitas Sang Diri, maka pada puncaknya akan melampaui kerikatan dengan bumi dan serasa berada di angkasa raya. Kita akan secara nyata merasakan keagungan jagat raya yang tanpa batas, yang pada ujungnya kita akan berada pada sebuah kekosongan. Tubuh pun serasa lebur dan sirna, tetapi kesadaran kita tetap ada. Inilah yang disebut Suwung. Kita menjadi tiada, lebur dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari seluruh keberadaan ini.

Nyepi adalah upaya untuk jumbuh (menyatu, bersenyawa) dengan Sang Suwung yang merupakan sumber dari segala keberadaan di dunia ini. Oleh karena itu juga dapat diartikan jumbuh dengan segala bentuk kehidupan dari yang rendah hingga yang tertinggi. Dengan begitu kita pun menyadari bahwa kita dengan segala bentuk kehidupan adalah satu, kita dengan makhluk hidup lainnya adalah satu, bersaudara – Vasudheva Kutumbakan.

 

Satriya Jawa – Pasundan-Parahyangan

Selasa, 03 Januari 2023

Byaparaning Idep – Kekacauan Pikiran

 

Kebanyakan umat terbiasa dengan pemahaman bahwa merayakan Galungan adalah merayakan kemenangan dharma terhadap adharma. Ketika mereka ikut serta dalam ritual-ritual tahapan Galungan lalu mereka mengatakan sedang merayakan Galungan, yang artinya mereka merayakan kemenangan dharma terhadap adharma. Tanpa mengetahui esensi mendalam dari Galungan itu seperti apa. Ritualistik......sebatas itulah kebanyakan umat memahaminya. Melakukan persembahyangan di tempat-tempat suci dengan berbagai jenis sesaji/banten sebagai bentuk bahwa mereka merayakan Galungan. Sungguh sangat dangkal sekali. Dharma adalah bagian dari Sang Hidup Yang Sejati, bagian dari Sang Urip dalam diri ini. Benarkah itu bisa disentuh dengan ritual semata? Pikirkan hal itu!

Lontar Sundarigama menyebutkan:

"Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep"

Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani (dengan samadhi) supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

 

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani dengan samadhi agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Sama sekali tidak tersirat hanya berbau ritual semata. Pencerahan rohani inilah dharma dan byaparaning idep (kekacauan pikiran) inilah wujud adharma. Laku ritual harus diimbangi dengan laku spiritual, ritual tidak bisa berjalan sendirian karena akan bisa menyesatkan pikiran, yang justru akan menimbulkan byaparaning idep (kekacauan pikiran). Dan rentetannya, pikiran yang kacau akan menimbulkan perkataan dan perbuatan yang melenceng dari dharma itu sendiri.

Melalui momen Galungan inilah kita harus mengendalikan gelombang-gelombang pikiran yang sangat mungkin bisa menyebabkan byaparaning idep (kekacauan pikiran) dengan sadhana spiritual (latihan/laku spiritual) seperti (1) upawasa (berpantang terhadap makan dan minum), bukan dengan sebaliknya yang justru sibuk dengan memasak makanan khas dengan dalih untuk makan bersama; (2) tapa brata (laku pengendalian diri), segala prilaku selalu dalam kontrol dharma, semua indriya-indriya selalu dalam kendali, tidak mengumbar kata-kata, tidak membiarkan pandangan menjadi liar, menjaga pendengaran, dan sebagainya; (3) japa (menyebut nama suci Tuhan berulang-ulang), mengucapkan lalu meresapi dalam-dalam nama suci Ista Dewata pujaan kita sehingga nama suci itu selalu bergema dalam jiwa kita; (4) dhyana-samadhi (memusatkan pikiran kepada Sang Hidup dalam Diri dan merasakan Sang Hidup itu sendiri sebagai bagian dalam Diri). Dalam konsep Astangga Yoga, dhyana-samadhi ini adalah tahapan tertinggi dalam laku spiritual yang memang tidak mudah untuk dilakukan namun juga tidak sulit bagi yang sudah terlatih. Berawal dari konsep dhyana-samadhi inilah lalu dahulu kala para leluhur Jawa melahirkan pengajaran Manunggaling Kawula Gusti.

Dalam lontar juga disebutkan pangastawaning sang ngamong yoga samadhi artinya mereka yang paham tentang yoga dan samadhi, melakukan pemujaan. Kata yoga samadhi yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama ini juga menjadi sebuah kata kunci yang harus kita pertimbangkan bahwa Galungan bukan ritualistik belaka , namun lebih dari itu Galungan adalah momen menempa Diri yang bisa dilakukan dengan yoga samadhi agar hidup kita benar-benar bersenyawa dengan dharma itu sendiri dan melepaskan ikatan adharma dari senyawa hidup dalam Diri.   

Lebih jauh tentang Yoga, Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra menjelaskan "yogas citta vrtti nirodhah" artinya yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Mengapa harus dikendalikan? Karena gelombang-gelombang pikiran jika tidak dikendalikan akan menyebabkan byaparaning idep (kekacauan pikiran). Seperti halnya gelombang laut yang dahsyat yang berpotensi menghancurkan pantainya, begitu pula gelombang-gelombang pikiran itu akan menyebabkan abrasi (pengikisan) bahkan penghancuran terhadap benteng dharma dalam diri. Karena itulah harus dikendalikan agar tidak berpengaruh buruk dalam diri dan dharma tetap bisa dipertahankan.

Byaparaning idep...misalnya saja adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri. Memurnikan kembali pikiran dari sifat-sifat kebinatangan bisa dilakukan dengan berbagai laku/sadhana spiritual seperti disebutkan di atas. Tradisi Galungan yang diwarnai dengan menyembelih binatang secara nyata (misalnya celeng), lalu diyakini sebagai simbol atau upaya memotong sifat-sifat kebinatangan dalam diri adalah keyakinan yang justru menjerumuskan pikiran ke dalam kondisi byaparaning idep, disadari atau tidak disadari. Secara logika, tidak ada kaitannya antara Galungan dengan menyembelih binatang (misalnya celeng), lalu dikatakan itu sebagai sebuah upaya atau simbol memotong sifat hewani dalam diri. Justru inilah byaparaning idep (kekacauan pikiran) yang seharusnya dikendalikan dalam momen Galungan ini. Dan mereka yang tidak bisa mengendalikan gelombang-gelombang pikirannya yang menyebabkan byaparaning idep, maka jangan berani menyebut bahwa anda merayakan Galungan.

Jadi Galungan sebenarnya adalah momen menempa Diri ini secara rohani melalui laku-laku rohani, bukan momen yang justru ritualistik belaka.

Dharma itu hanya bisa didapatkan dengan kemurnian diri, bukan dengan nafsu atau keinginan indriawi semata. 

Dharma tidak bisa merasuk dalam diri bila pikiran kita masih dipenuhi dengan kekacauan (byaparaning idep)

Dharma tidak bisa didapatkan dengan ritual semata. 

Dharma tidak bisa disentuh dengan menyakiti/membunuh makhluk lain.

Dharma hanya bisa dirasakan dengan cinta kasih.

Jadikan Dharma sebagai senyawa dalam hidupmu.

 

By Aguswi

 

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...