Kebanyakan umat terbiasa dengan pemahaman bahwa merayakan
Galungan adalah merayakan kemenangan dharma terhadap adharma.
Ketika mereka ikut serta dalam ritual-ritual tahapan Galungan lalu mereka
mengatakan sedang merayakan Galungan, yang artinya mereka merayakan kemenangan dharma
terhadap adharma. Tanpa mengetahui esensi mendalam dari Galungan itu
seperti apa. Ritualistik......sebatas itulah kebanyakan umat memahaminya. Melakukan
persembahyangan di tempat-tempat suci dengan berbagai jenis sesaji/banten
sebagai bentuk bahwa mereka merayakan Galungan. Sungguh sangat dangkal sekali. Dharma
adalah bagian dari Sang Hidup Yang Sejati, bagian dari Sang Urip dalam diri
ini. Benarkah itu bisa disentuh dengan ritual semata? Pikirkan hal itu!
Lontar Sundarigama menyebutkan:
"Budha Kliwon
Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang
maryakena sarwa byaparaning idep"
Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani (dengan
samadhi) supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala
kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani dengan samadhi
agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Sama sekali tidak tersirat
hanya berbau ritual semata. Pencerahan rohani inilah dharma dan byaparaning
idep (kekacauan pikiran) inilah wujud adharma. Laku ritual harus diimbangi
dengan laku spiritual, ritual tidak bisa berjalan sendirian karena akan bisa
menyesatkan pikiran, yang justru akan menimbulkan byaparaning idep
(kekacauan pikiran). Dan rentetannya, pikiran yang kacau akan menimbulkan
perkataan dan perbuatan yang melenceng dari dharma itu sendiri.
Melalui momen Galungan inilah kita harus mengendalikan
gelombang-gelombang pikiran yang sangat mungkin bisa menyebabkan byaparaning
idep (kekacauan pikiran) dengan sadhana spiritual (latihan/laku
spiritual) seperti (1) upawasa (berpantang terhadap makan dan
minum), bukan dengan sebaliknya yang justru sibuk dengan memasak makanan khas
dengan dalih untuk makan bersama; (2) tapa brata (laku
pengendalian diri), segala prilaku selalu dalam kontrol dharma, semua
indriya-indriya selalu dalam kendali, tidak mengumbar kata-kata, tidak
membiarkan pandangan menjadi liar, menjaga pendengaran, dan sebagainya; (3)
japa (menyebut nama suci Tuhan berulang-ulang), mengucapkan lalu
meresapi dalam-dalam nama suci Ista Dewata pujaan kita sehingga nama suci itu
selalu bergema dalam jiwa kita; (4) dhyana-samadhi (memusatkan
pikiran kepada Sang Hidup dalam Diri dan merasakan Sang Hidup itu sendiri
sebagai bagian dalam Diri). Dalam konsep Astangga Yoga, dhyana-samadhi
ini adalah tahapan tertinggi dalam laku spiritual yang memang tidak mudah untuk
dilakukan namun juga tidak sulit bagi yang sudah terlatih. Berawal dari konsep dhyana-samadhi
inilah lalu dahulu kala para leluhur Jawa melahirkan pengajaran Manunggaling
Kawula Gusti.
Dalam lontar juga disebutkan pangastawaning sang ngamong yoga
samadhi artinya mereka yang paham tentang yoga dan samadhi,
melakukan pemujaan. Kata yoga samadhi yang disebutkan dalam Lontar
Sundarigama ini juga menjadi sebuah kata kunci yang harus kita pertimbangkan
bahwa Galungan bukan ritualistik belaka , namun lebih dari itu Galungan adalah
momen menempa Diri yang bisa dilakukan dengan yoga samadhi agar hidup kita
benar-benar bersenyawa dengan dharma itu sendiri dan melepaskan ikatan adharma
dari senyawa hidup dalam Diri.
Lebih jauh tentang Yoga, Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra
menjelaskan "yogas citta vrtti nirodhah" artinya yoga adalah
untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Mengapa harus dikendalikan?
Karena gelombang-gelombang pikiran jika tidak dikendalikan akan menyebabkan byaparaning
idep (kekacauan pikiran). Seperti halnya gelombang laut yang dahsyat yang
berpotensi menghancurkan pantainya, begitu pula gelombang-gelombang pikiran itu
akan menyebabkan abrasi (pengikisan) bahkan penghancuran terhadap benteng dharma
dalam diri. Karena itulah harus dikendalikan agar tidak berpengaruh buruk dalam
diri dan dharma tetap bisa dipertahankan.
Byaparaning idep...misalnya saja adalah sifat-sifat kebinatangan
dalam diri. Memurnikan kembali pikiran dari sifat-sifat kebinatangan bisa
dilakukan dengan berbagai laku/sadhana spiritual seperti disebutkan di atas. Tradisi
Galungan yang diwarnai dengan menyembelih binatang secara nyata (misalnya celeng),
lalu diyakini sebagai simbol atau upaya memotong sifat-sifat kebinatangan dalam
diri adalah keyakinan yang justru menjerumuskan pikiran ke dalam kondisi byaparaning
idep, disadari atau tidak disadari. Secara logika, tidak ada kaitannya antara
Galungan dengan menyembelih binatang (misalnya celeng), lalu dikatakan
itu sebagai sebuah upaya atau simbol memotong sifat hewani dalam diri. Justru
inilah byaparaning idep (kekacauan pikiran) yang seharusnya dikendalikan
dalam momen Galungan ini. Dan mereka yang tidak bisa mengendalikan
gelombang-gelombang pikirannya yang menyebabkan byaparaning idep, maka
jangan berani menyebut bahwa anda merayakan Galungan.
Jadi Galungan sebenarnya adalah momen menempa Diri ini secara
rohani melalui laku-laku rohani, bukan momen yang justru ritualistik belaka.
Dharma itu hanya bisa didapatkan dengan kemurnian diri, bukan
dengan nafsu atau keinginan indriawi semata.
Dharma tidak bisa merasuk dalam diri bila pikiran kita masih
dipenuhi dengan kekacauan (byaparaning idep)
Dharma tidak bisa didapatkan dengan ritual semata.
Dharma tidak bisa disentuh dengan menyakiti/membunuh makhluk
lain.
Dharma hanya bisa dirasakan dengan cinta kasih.
Jadikan Dharma sebagai senyawa dalam hidupmu.
By Aguswi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar