Beranda

Selasa, 03 Januari 2023

Byaparaning Idep – Kekacauan Pikiran

 

Kebanyakan umat terbiasa dengan pemahaman bahwa merayakan Galungan adalah merayakan kemenangan dharma terhadap adharma. Ketika mereka ikut serta dalam ritual-ritual tahapan Galungan lalu mereka mengatakan sedang merayakan Galungan, yang artinya mereka merayakan kemenangan dharma terhadap adharma. Tanpa mengetahui esensi mendalam dari Galungan itu seperti apa. Ritualistik......sebatas itulah kebanyakan umat memahaminya. Melakukan persembahyangan di tempat-tempat suci dengan berbagai jenis sesaji/banten sebagai bentuk bahwa mereka merayakan Galungan. Sungguh sangat dangkal sekali. Dharma adalah bagian dari Sang Hidup Yang Sejati, bagian dari Sang Urip dalam diri ini. Benarkah itu bisa disentuh dengan ritual semata? Pikirkan hal itu!

Lontar Sundarigama menyebutkan:

"Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep"

Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani (dengan samadhi) supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

 

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani dengan samadhi agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Sama sekali tidak tersirat hanya berbau ritual semata. Pencerahan rohani inilah dharma dan byaparaning idep (kekacauan pikiran) inilah wujud adharma. Laku ritual harus diimbangi dengan laku spiritual, ritual tidak bisa berjalan sendirian karena akan bisa menyesatkan pikiran, yang justru akan menimbulkan byaparaning idep (kekacauan pikiran). Dan rentetannya, pikiran yang kacau akan menimbulkan perkataan dan perbuatan yang melenceng dari dharma itu sendiri.

Melalui momen Galungan inilah kita harus mengendalikan gelombang-gelombang pikiran yang sangat mungkin bisa menyebabkan byaparaning idep (kekacauan pikiran) dengan sadhana spiritual (latihan/laku spiritual) seperti (1) upawasa (berpantang terhadap makan dan minum), bukan dengan sebaliknya yang justru sibuk dengan memasak makanan khas dengan dalih untuk makan bersama; (2) tapa brata (laku pengendalian diri), segala prilaku selalu dalam kontrol dharma, semua indriya-indriya selalu dalam kendali, tidak mengumbar kata-kata, tidak membiarkan pandangan menjadi liar, menjaga pendengaran, dan sebagainya; (3) japa (menyebut nama suci Tuhan berulang-ulang), mengucapkan lalu meresapi dalam-dalam nama suci Ista Dewata pujaan kita sehingga nama suci itu selalu bergema dalam jiwa kita; (4) dhyana-samadhi (memusatkan pikiran kepada Sang Hidup dalam Diri dan merasakan Sang Hidup itu sendiri sebagai bagian dalam Diri). Dalam konsep Astangga Yoga, dhyana-samadhi ini adalah tahapan tertinggi dalam laku spiritual yang memang tidak mudah untuk dilakukan namun juga tidak sulit bagi yang sudah terlatih. Berawal dari konsep dhyana-samadhi inilah lalu dahulu kala para leluhur Jawa melahirkan pengajaran Manunggaling Kawula Gusti.

Dalam lontar juga disebutkan pangastawaning sang ngamong yoga samadhi artinya mereka yang paham tentang yoga dan samadhi, melakukan pemujaan. Kata yoga samadhi yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama ini juga menjadi sebuah kata kunci yang harus kita pertimbangkan bahwa Galungan bukan ritualistik belaka , namun lebih dari itu Galungan adalah momen menempa Diri yang bisa dilakukan dengan yoga samadhi agar hidup kita benar-benar bersenyawa dengan dharma itu sendiri dan melepaskan ikatan adharma dari senyawa hidup dalam Diri.   

Lebih jauh tentang Yoga, Rsi Patanjali dalam Yoga Sutra menjelaskan "yogas citta vrtti nirodhah" artinya yoga adalah untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran. Mengapa harus dikendalikan? Karena gelombang-gelombang pikiran jika tidak dikendalikan akan menyebabkan byaparaning idep (kekacauan pikiran). Seperti halnya gelombang laut yang dahsyat yang berpotensi menghancurkan pantainya, begitu pula gelombang-gelombang pikiran itu akan menyebabkan abrasi (pengikisan) bahkan penghancuran terhadap benteng dharma dalam diri. Karena itulah harus dikendalikan agar tidak berpengaruh buruk dalam diri dan dharma tetap bisa dipertahankan.

Byaparaning idep...misalnya saja adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri. Memurnikan kembali pikiran dari sifat-sifat kebinatangan bisa dilakukan dengan berbagai laku/sadhana spiritual seperti disebutkan di atas. Tradisi Galungan yang diwarnai dengan menyembelih binatang secara nyata (misalnya celeng), lalu diyakini sebagai simbol atau upaya memotong sifat-sifat kebinatangan dalam diri adalah keyakinan yang justru menjerumuskan pikiran ke dalam kondisi byaparaning idep, disadari atau tidak disadari. Secara logika, tidak ada kaitannya antara Galungan dengan menyembelih binatang (misalnya celeng), lalu dikatakan itu sebagai sebuah upaya atau simbol memotong sifat hewani dalam diri. Justru inilah byaparaning idep (kekacauan pikiran) yang seharusnya dikendalikan dalam momen Galungan ini. Dan mereka yang tidak bisa mengendalikan gelombang-gelombang pikirannya yang menyebabkan byaparaning idep, maka jangan berani menyebut bahwa anda merayakan Galungan.

Jadi Galungan sebenarnya adalah momen menempa Diri ini secara rohani melalui laku-laku rohani, bukan momen yang justru ritualistik belaka.

Dharma itu hanya bisa didapatkan dengan kemurnian diri, bukan dengan nafsu atau keinginan indriawi semata. 

Dharma tidak bisa merasuk dalam diri bila pikiran kita masih dipenuhi dengan kekacauan (byaparaning idep)

Dharma tidak bisa didapatkan dengan ritual semata. 

Dharma tidak bisa disentuh dengan menyakiti/membunuh makhluk lain.

Dharma hanya bisa dirasakan dengan cinta kasih.

Jadikan Dharma sebagai senyawa dalam hidupmu.

 

By Aguswi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...