Pendahuluan
Semaraknya
kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini
yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai
umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga
kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus
tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya.
Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila
semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan
Hindu di masa depan.
Agnihotra yang
juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam
pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara
yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang
menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang
disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang
menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai
pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau
pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang
curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai
sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan
ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci
membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan
pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena
dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra
berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan
hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan
atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk
upacara persembahan. Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti
sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang
dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan
dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa
persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa
Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah
jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan
nyasar ke tempat lain.
Dasar Sastra Upacara Agnihotra
1.
Agnimile
Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam
Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami
memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)
Mantra di atas mengandung makna
bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta
utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat
disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi
sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai
pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat
bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua
persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya
Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang
dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada
manifestasi/Tuhan itu
sendiri.