Beranda

Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juli 2018

WEDA MEMBANGUN KEMBALI NUSANTARA

      Judulnya memang tendensius, tetapi kalau alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta, ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam “penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu. Kalau toh ini hanya angan-angan, maka tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja mencibir karena memang bukan misinya.

Rabu, 04 Juli 2018

AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)


Pendahuluan

Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya. Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan Hindu di masa depan.
Agnihotra yang juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk upacara persembahan.  Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan nyasar ke tempat lain.

Dasar Sastra Upacara Agnihotra

1.      Agnimile Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam

Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)

Mantra di atas mengandung makna bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada manifestasi/Tuhan itu sendiri.

Kamis, 28 Juni 2018

PANDANGAN HINDU TENTANG NASIONALISME



Hindu memandang bahwa kecintaan terhadap bangsa dan negara dan pengejawantahan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan landasan bagi umat Hindu untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pandangan ini dapat kita jumpai dalam beberapa kitab suci. Seperti Atharwa Weda XII.1.45:

janam bibhrati bahudha vivacasam
manadharmanam prthivi yathaikasam
sahasram dhara dravinasya me duham
dhraveva dhenuranapasphuranti

Berikanlah penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang menganut kepercayaan yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang melimpah kepada umatnya.


PEREMPUAN JAWA KUNO

Ken Angrok terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes. Terlihatlah bagian rahasianya yang bersinar.
“Jika ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya Nariswari. Dia adalah perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya Ken Angrok dalam naskah Pararaton.
Empat tipe perempuan antara lain padmini, citrini, sankini, dan hastini.

sumber: http://solo.tribunnews.com

Tipe pertama, padmini memiliki ciri fisik: matanya seperti mata kijang dengan ujung-ujung kemerahan; hidungnya kecil dan bentuknya bagus; wajahnya bagaikan bulan purnama yang keemasan seperti bunga cempaka; lehernya halus dan luwes; buah dada yang penuh dan tinggi; pusarnya dikelilingi tiga garis lipatan; kulitnya halus seperti kelopak bunga sirsa; suaranya manis mengalun; kalau jalan seperti angsa; wataknya pemalu, menyenangkan, pemurah, setia, memiliki rasa keagamaan, dan bertingkah terhormat.

Rabu, 06 Juni 2018

Pluralisme dan multikulturalisme


Perubahan tata kehidupan di era global terjadi karena didukung oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa berbagai kemudahan. Kemudahan dimaksud seperti kecepatan berkomunikasi, persahabatn lintas tempat dengan hilangnya sekat-sekat batas wilayah antar daerah bahkan negara, kemudahan memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia baik yang bersifat ilmiah, popular dan instan, tetapi di sisi lain teknologi juga dapat berpengaruh negatif, mudahnya mendapatkan informasi yang bersifat sampah seperti gambar tak senonoh, juga pada bentuk penanaman paham yang bersifat agitasi (penyebaran kebencian) pada paham lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip bertuhan yang pluralis dan multikultural.

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...