Judulnya memang tendensius, tetapi kalau
alam sudah menggeliat dan mendukung, maka itu pun terjadi. Manusia boleh saja
berkomentar, tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Weda adalah penyangga alam semesta,
ia juga adalah alam dan isinya. Maka tidak aneh kalau yang berperan dalam
“penataan” alam ini adalah pengetahuan Weda itu sendiri. Jadi, siapapun itu
yang ingin berperan dan berbuat untuk ikut serta dalam menata kembali alam
semesta ini maka dia tidak akan pernah berhasil apabila mengabaikan Weda itu.
Kalau toh ini hanya angan-angan, maka
tidak banyak orang yang berangan-angan seperti ini. Ya, memang orang yang hanya mencari selamat seperti itu. Karena
berangan-angan pun memerlukan keberanian, harus punya nyali. Karena harus
berjuang keras untuk merealisasikan angan-angannya, dan siap untuk dicemoh dan
dicibir oleh orang-orang di sekitarnya. Dan orang bebas dan sah-sah saja
mencibir karena memang bukan misinya.
Manusia hidup tidak sendiri, alam ini diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dengan ciptaan yang beragam. Setiap ciptaan akan membutuhkan maupun dibutuhkan oleh yang lain. Harmoni diantara ciptaan-Nya adalah sebuah kewajiban agung dari setiap makhluk. Harmoni dengan seluruh isi Jagad Raya.
Beranda
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Juli 2018
Rabu, 04 Juli 2018
AGNIHOTRA (HOMA YAJNA)
Pendahuluan
Semaraknya
kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini
yang mungkin bahkan terbilang megah belumlah bisa dikatakan bahwa kita sebagai
umat Hindu telah melaksanakan ajaran agama dengan baik. Keseimbangan tiga
kerangka agama Hindu yaitu tattwa, etika dan upacara harus
tetap menjadi dasar agar umat menjadi semakin kuat dan kokoh sraddha dan bhaktinya.
Ritual yang tanpa disertai dengan pemahaman akan tattwa dan susila
semuanya maka terasa hambar dan bahkan sia-sia belaka, dan inilah tantangan
Hindu di masa depan.
Agnihotra yang
juga disebut Homa Yajna adalah sebuah upacara yang banyak dijelaskan dalam
pustaka suci Veda, bahkan Krishna dalam Bhagavadgita bersabda bahwa “diantara
yajna Aku adalah Homa (agnihotra)”. Tidak hanya kitab Sruti dan Smrti saja yang
menjelaskan tentang Homa Yajna (agnihotra), namun kitab-kitab agama yang
disusun para leluhur Nusantara ini yang berbahasa Jawa Kuno juga banyak yang
menjelaskan tentang Agnihotra. Upacara ini sangat baik dijadikan sebagai
pendamping atau sebagai alternatif didalam menyempurnakan persembahan atau
pelaksanaan upacara yajna.
Banyak yang
curiga dan anti dengan upacara Agnihotra yang mulai berkembang dan hidup lagi, dicurigai
sebagai aliran atau upacara yang asal atau sumbernya tidak jelas dan
ke-India-an. Perkembangan suatu ritual agama yang berdasarkan kitab suci
membantu memperkuat agama itu sendiri dan memperbesar keyakinan dan ketaatan
pelaksanaan ajaran agamanya. Upacara ini berlaku secara universal, karena
dilakukan di upacara-upacara keagamaan secara umum.
Agnihotra
berasal dari kata Sansekerta dimana terdiri dari dua kata yaitu agni dan
hotra. Agni adalah api dan hotra adalah persembahyangan
atau melakukan persembahan. Jadi agnihotra adalah sebuah ritual atau bentuk
upacara persembahan. Secara umum semua yajna dalam Veda mempunyai arti
sama yaitu Agnihotra. Sebab pengertian yajna dalam Veda adalah persembahan yang
dituangkan ke dalam api suci. Api suci yang dimaksud adalah api yang dihidupkan
dan dikobarkan dalam kunda. Kunda adalah lambang pengorbanan. Mengapa
persembahan dimasukkan dalam api, hal ini disebutkan dalam Purana, bahwa Dewa
Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga maknanya adalah
jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan tidak akan
nyasar ke tempat lain.
Dasar Sastra Upacara Agnihotra
1.
Agnimile
Purohitam, yajnasya devam rtvijam Hotaram ratnadhatanam
Oh Agni, Engkau sebagai Pendeta Utama, dewa pelaksana upacara yajna, kami
memuja-Mu, Engkau pemberi Anugrah berupa kekayaan yang utama (Reg Veda 1.1.1)
Mantra di atas mengandung makna
bahwa Deva Agni merupakan pemimpin atau pendeta
utama dalam suatu penyelenggaraan Yajna, maka dapat
disimpulkan bahwa tanpa Dewa Agni semua upacara persembahan akan menjadi
sia-sia. Lebih ditegaskan lagi bahwa Dewa Agni sekaligus berfungsi sebagai
pelaksana yajna, hal ini semakin memperkuat
bahwa Agni menjadi pokok upacara persembahan. Pada pelaksanaan upacara Agnihotra, semua
persembahan dituangkan langsung ke dalam api yang diumpamakan sebagai lidahnya
Manusia Kosmos (Tuhan) dalam kitab Purana dan Upanisad, sehingga apapun yang
dipersembahkan dalam upacara Agnihotra langsung ditujukan pada
manifestasi/Tuhan itu
sendiri.
Kamis, 28 Juni 2018
PANDANGAN HINDU TENTANG NASIONALISME
janam
bibhrati bahudha vivacasam
manadharmanam prthivi yathaikasam
sahasram dhara dravinasya me duham
dhraveva dhenuranapasphuranti
Berikanlah
penghargaan kepada bangsamu yang menggunakan berbagai bahasa daerah, yang
menganut kepercayaan yang berbeda. Hargailah mereka yang tinggal bersama di
bumi pertiwi ini. Bumi yang memberi keseimbangan bagaikan sapi yang memberi
susunya kepada umat manusia. Demikian ibu pertiwi memberikan kebahagiaan yang
melimpah kepada umatnya.
PEREMPUAN JAWA KUNO
Ken Angrok
terperangah ketika tanpa sengaja melihat betis Ken Dedes. Terlihatlah bagian
rahasianya yang bersinar.
“Jika
ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya Nariswari. Dia adalah
perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya
Ken Angrok dalam naskah Pararaton.
Empat tipe
perempuan antara lain padmini, citrini, sankini, dan hastini.
![]() |
| sumber: http://solo.tribunnews.com |
Tipe
pertama, padmini memiliki ciri fisik: matanya seperti mata kijang dengan
ujung-ujung kemerahan; hidungnya kecil dan bentuknya bagus; wajahnya bagaikan
bulan purnama yang keemasan seperti bunga cempaka; lehernya halus dan luwes;
buah dada yang penuh dan tinggi; pusarnya dikelilingi tiga garis lipatan;
kulitnya halus seperti kelopak bunga sirsa; suaranya manis mengalun; kalau
jalan seperti angsa; wataknya pemalu, menyenangkan, pemurah, setia, memiliki
rasa keagamaan, dan bertingkah terhormat.
Rabu, 06 Juni 2018
Pluralisme dan multikulturalisme
Perubahan tata kehidupan di era global terjadi karena didukung oleh
perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa berbagai kemudahan. Kemudahan
dimaksud seperti kecepatan berkomunikasi, persahabatn lintas tempat dengan hilangnya
sekat-sekat batas wilayah antar daerah bahkan negara, kemudahan memperoleh
informasi dari berbagai belahan dunia baik yang bersifat ilmiah, popular dan instan,
tetapi di sisi lain teknologi juga dapat berpengaruh negatif, mudahnya
mendapatkan informasi yang bersifat sampah seperti gambar tak senonoh, juga pada
bentuk penanaman paham yang bersifat agitasi (penyebaran kebencian) pada paham
lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip bertuhan yang pluralis dan
multikultural.
Langganan:
Postingan (Atom)
BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI
Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...
-
Kualitas atau pun harga diri seseorang itu tolok ukurnya adalah pada perilakunya, itulah yang menjadi tolok ukur. Prilaku yang menunjukkan ...
-
Pendahuluan Semaraknya kegiatan keagamaan yang dilaksanakan diberbagai pure yang kita lihat dewasa ini yang mungkin bahkan terbilang m...
-
Pemujaan kepada para dewa tidak akan lengkap tanpa menggunakan bunga. Jika kita memahami bunga atau daun yang mana yang kita perlukan ...

