Beranda

Selasa, 30 September 2025

Buddha Gautama (Siddharta) BUKANLAH AWATARA WISNU yang dimaksud dalam sastra Purana

 

Dua Buddha

Buddha Sakya Simha dan Buddha Avatara Visnu

(edisi terjemahan)

Dapat ditelusuri di dalam berbagai sastra Purana bahwa Mayavadisme mengacu kepada Buddhisme. Oleh karena itu, dalam konteks ini perlu dibahas Buddhisme secara singkat. filsafat atau pandangan Sri Buddha adalah Buddhisme. Oleh karena itu, sangat penting bagi para pembaca untuk mengetahui fakta-fakta kitab suci tentang Sang Buddha, yang dinyatakan oleh kitab suci sebagai salah satu dari sepuluh inkarnasi (avatära) Visnu. Hal ini dijelaskan dalam uraian Gita Govinda oleh Srila Jayadeva Gosvami:

      vedan uddharate jaganti vahate bhugolam udbibhrate

daityam darayate balim chalayate ksatra ksayam kurvate

paulastyam jayate halam kalayate karunyam atanvate

mlecchan murccayate dasaktikrte krsnaya tubhyam namah

Terjemahan:

    Oh Kṛṣṇa, Dia yang merupakan sepuluh inkarnasi! Aku bersujud kepada-Mu karena telah menyelamatkan kitab suci Veda saat inkarnasi sebagai Matsya; Engkau yang menyelamatkan alam semesta saat inkarnasi sebagai Kurma dan mengangkat dunia saat inkarnasi sebagai Varaha, wujud Babi Hutan; sebagai Narasimha Engkau menaklukkan Hiranyakasipu; sebagai Vamana Engkau memperdaya Maharaja Bali; sebagai Parasurama Engkau memusnahkan para kesatriya jahat; sebagai Rama Engkau membunuh Ravana; sebagai Balarama Engkau mengangkat bajak; sebagai Buddha Engkau menganugerahkan cinta kasih, dan sebagai Kalki Engkau membunuh para Mleccha.

Dalam Dasa Avatara Strotram, Srila Jayadeva menulis syair yang ke sembilan:

nindasi yajna vidherahaha srutijatam

sadaya hrdaya darsita pasughatam

kesava dhrta buddha sarira

jaya jagadisa hare jaya jagadisa hare

 

Oh Kesava! Engkau mengambil wujud Sang Buddha yang penuh dengan cinta kasih dan menghentikan pembantaian hewan yang dilarang keras dalam Veda.

Jika Sang Buddha ini adalah inkarnasi dari Dewa Visnu, maka uraian Sri Sankaracarya tentang Sang Buddha memerlukan elaborasi dan analisis lebih lanjut. Menjadi penting untuk meneliti hal ini jika ajaran filsafat Sri Sankaracarya disebut sebagai penyajian lain dari ajaran Buddha. Penilaian Sri Sankaracarya terhadap Buddha tampak tidak jelas, karena ia ingin kita percaya bahwa Buddha Sakya Simha dan Sang Buddha yang dipuja oleh para Vaisnava adalah satu dan kepribadian yang sama. Akan tetapi, ini jauh dari kebenaran. Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura mengungkapkan bahwa Buddha Sakya Simha hanyalah seorang manusia yang sangat cerdas, orang yang sangat terpelajar yang telah mencapai beberapa realisasi batin. Jadi dengan menyatakan Buddha Sakya Simha sebagai Sang Buddha atau dengan menyamakannya dengan inkarnasi Dewa Visnu, Sri Sankaracarya memberikan bukti tentang rasa hormat dan dedikasi yang diam-diam ia pupuk dalam dirinya untuk Buddha Sakya Simha.

Seseorang bisa saja bertanya pada hal ini, dalam konteks apa Sri Sankaracarya berpandangan bahwa Buddha Sakya Simha (juga dikenal sebagai Buddha Gautama atau Buddha Sidharta Gautama) dan Avatara Buddha adalah pribadi yang sama? Sebagai tanggapan, mohon dengan hormat kepada para pembaca yang terpelajar untuk meneliti komentar-komentar Sri Sankaracarya. Dalam komentarnya terhadap Brahma-Sutra, kata ‘sugatena’ merujuk kepada Buddha Gautama, putra Suddhodana dan Mayadevi, dan bukan kepada Buddha inkarnasi Visnu yang asli. Ketika membahas filsafat Buddha, Sri Sankaracarya menyebutkan namanya dalam komentarnya: ‘sarvatha api anadarniya ayam sugata-samayah sreyaskamaih iti abhiprayah’ - Dalam pernyataan ini kata ‘sugata’ kembali merujuk kepada Buddha Gautama, putra Mayadevi. Kata ‘samayah’ menunjukkan kesimpulan filosofis (siddhanta) yaitu siddhanta dari Buddha Gautama. Akan tetapi, memang benar bahwa nama lain dari Buddha Avatara Visnu adalah Sugata, sehingga Sankaracarya secara keliru menyisipkan Buddha Sakya Simha seolah-olah ia adalah Buddha Avatara Visnu. Penggunaan nama Sugata-Buddha untuk Buddha Avatara Visnu sudah ada dalam kitab suci Buddha. Hal ini dibuktikan dalam buku ‘Amarakosa’, sebuah risalah yang sangat kuno yang ditulis oleh seorang penganut paham nihilisme dan ateis terkenal yaitu Amara Simha. Dipercaya bahwa Amara Simha lahir sekitar 150 tahun sebelum kelahiran Sankaracarya. Amara Simha adalah putra seorang brahmana Sabara Svami, yang menjadi ayah dari sejumlah anak dari ibu yang berbeda dari kasta yang berbeda. Syair kuno tentang Amara Simha ini terkenal dikalangan terpelajar dahulu kala:

      brahmanyam abhavad varaha mihiro jyotirvidam agranih

raja bhartrharis ca vikramanrpah ksatratratmajayam abhut

vaisyayam haricandra vaidya tilako jatas ca sankuh krti

sudrayam amarah sadeva sabara svami dvija sya atmajah

Varaha Mihira, yang terkemuka diantara astrolog terhebat, lahir dari rahim seorang wanita brahmana. Raja Vikrama dan Raja Bhartrhari lahir dari ibu ksatriya. Dari seorang ibu vaisya lahirlah Haricandra, seorang vaidya tilaka – seorang ahli Ayurveda dan Sanku yang sangat baik; dan dari ibu pelayan (sudra) lahirlah Amara Simha. Enam orang ini ayahnya adalah brahmana Sabara Svami.

 

Kitab Amarakosa Berkisah Tentang Dua Buddha

Amara Simha adalah penulis banyak buku tentang Buddhisme. Secara kebetulan, semua buku ini dimiliki oleh Sri Sankaracarya, yang kemudian hanya menyimpan Kitab Amarakosa dan membakar semua buku lainnya. Syair-syair berikut tentang Buddha ditemukan dalam Kitab Amarakosa.

sarvajnah sugato buddho dharmarajas tathagatah

samanta bhadro bhagavan marajil lokajij jinah

sadabhijno dasabalo dvayavadi vinayakah

munindra srighanah sasta munih

Ketahuilah, Buddha yang transendental, raja kebenaran, Dia yang telah datang, dermawan, Tuhan yang meliputi segalanya, penakluk dewa Cinta Mara, penakluk dunia, Dia yang mengendalikan indriyanya, pelindung dari enam musuh, pemilik sepuluh kekuatan, pembicara paham monisme, pemimpin utama, penguasa para petapa, perwujudan kemegahan dan guru para petapa.

Syair di atas berisi belasan nama Buddha Awatara Visnu termasuk nama Sugato, dan syair dibawah ini berisi nama Buddha Sakya Simha tanpa menyebutkan Sugato.

 

sakyamunis tu yah sa sakyasimhah sarvarthasiddha sauddhodanis ca sah

gautamas carkabandhus ca mayadevi sutas ca sah

 

Terjemahan:

Guru para Sakya, singa para Sakya, penyempurna semua tujuan, putra Suddhodana, dari garis keturunan Gautama, sahabat dia yang terperangkap, putra Mayadevi.

Dalam syair-syair ini, dimulai dengan sarvajnah dan diakhiri dengan munih terdapat delapan belas nama yang ditujukan kepada Sang Buddha inkarnasi Visnu yang sebenarnya. Tujuh nama berikutnya yang dimulai dengan Sakyamunis tu hingga Mayadevi Sutas ca merujuk kepada Sakya Simha Buddha. Sang Buddha yang dirujuk dalam delapan belas nama pertama dan Sang Buddha yang dirujuk dalam tujuh nama berikutnya jelas bukan orang yang sama. Dalam komentar tentang Amarakosa oleh Sri Raghunatha Cakravarti yang terpelajar, ia juga membagi syair-syair tersebut menjadi dua bagian. Pada kedelapan belas nama Buddha Awatara Visnu ia menuliskan kata-kata “astadas buddha”, yang jelas hanya merujuk pada awatara Visnu. Selanjutnya, pada komentarnya untuk tujuh alias Sakya Simha, ia menulis: “ete sapta sakya bangsabatirneh buddha muni bishete”, yang berarti “tujuh nama berikutnya yang dimulai dari Sakya-munistu adalah alias dari Buddha-muni yang lahir dalam dinasti Sakya.’

Jadi dari syair-syair di atas dan komentarnya, memang jelas bahwa Sugata Buddha dengan Buddha Gautama yang bijak dan ateis bukanlah orang yang sama. Jika merujuk ke kitab Amarakosa yang diterbitkan oleh H.T. Colebrooke pada tahun 1807. Pada halaman 2 & 3 dalam buku ini, nama “Buddha” telah dijelaskan. ‘Catatan’ pada halaman 2 untuk delapan belas nama pertama, menyatakan bahwa nama-nama tersebut adalah nama Ajina atau Buddha dan ‘Catatan’ untuk tujuh nama berikutnya menyatakan bahwa nama-nama tersebut adalah nama lain dari Buddha Sakya Simha. Catatan kaki yang lebih lanjut ditambahkan untuk memperjelas Buddha yang kedua, dari tujuh nama terakhir – Catatan kaki (b) ‘pendiri agama yang diberi nama menurut namanya’.

Colebrooke mencantumkan nama-nama dari banyak komentar yang ia gunakan sebagai referensi dalam kata pengantarnya. Selain komentar Raghunatha Cakravarti, ia mengambil referensi dari dua puluh lima komentar lainnya. Dapat dikatakan dengan pasti bahwa penyebar Bahyatmavada, Jnanatmavada, dan Sunyamavada yang merupakan tiga pilar ateisme, adalah Buddha Gautama atau ‘Buddha Sakya Simha’. Tidak ada bukti apa pun bahwa Sugata Buddha merupakan inkarnasi Dewa Visnu, dengan cara apa pun terkait dengan ateisme dalam bentuk apa pun. Sakya Simha atau Buddha Siddharta, menerima nama Gautama dari guru spiritualnya yaitu Gautama Muni, yang berasal dari garis perguruan Kapila. Hal ini ditegaskan dalam risalah Buddha kuno ‘Sundarananda Carita’: ‘guru gotrad atah kautsaste bhavanti sma gautamah’- yang artinya “Wahai Kautsa, karena gurunya adalah Gautama, mereka dikenal dari garis perguruannya”

 

Literatur Buddha lainnya yang mencatat dua Buddha

Selain Amarakosa, yang sangat disukai oleh Sankaracarya, ada teks-teks Buddha terkenal lainnya seperti Prajna-Paramita Sutra, Astasahastrika Prajna-Paramita Sutra, Sata-sahastrika Prajna-Paramita Sutra, Lalita Vistara, dll. Penelusuran yang tepat terhadap teks-teks ini mengungkapkan keberadaan tiga kategori Buddha yaitu:

·         Buddha Manusia: seperti Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Buddha setelah mengalami pencerahan.

·         Buddha Bodhisattva: Tokoh-tokoh seperti Samanta Bhadraka yang lahir dalam keadaan tercerahkan.

·         Adi (asli) Buddha: Avatara Visnu yang mahakuasa sebagai Sang Buddha.

Amarakosa menyatakan bahwa Sang Buddha sebagai inkarnasi Sri Visnu juga dikenal sebagai Samanta Bhadra, sedangkan Buddha Gautama adalah manusia. Selain delapan belas nama Buddha Visnu Avatara yang disebutkan dalam Amarakosa, banyak nama Sang Buddha yang tercatat dalam teks-teks Buddha yang disebutkan di atas. Dalam Lalita Vistara, Bab 21 halaman 178, dijelaskan bagaimana Buddha Gautama bermeditasi di tempat yang sama sebagaimana Buddha yang sebelumnya.

 

ca dharanimunde purvabuddhasanasthah

samartha dhanur grhitva sunya nairatmavanaih

klesaripum nihatva drstijalan ca bhitva

siva virajamasokam prapsyate bodhim agryam


Terjemahan:

Orang yang duduk di bumi suci tempat kelahiran Buddha yang sebelumnya berada adalah di      jalan kehampaan dan pelepasan keduniawian. Dengan senjatanya, busur yang kuat, ia menaklukkan musuh-musuh kesusahan dan ilusi. Dengan demikian, dengan kebijaksanaan ia akan mencapai keadaan yang menguntungkan dari tanpa kesedihan dan pelepasan duniawi.

Dari sloka ini jelas terlihat bahwa Buddha Gautama, yang menyadari potensi spiritual tempat kelahiran Buddha yang sebelumnya, memilih untuk melakukan meditasi dan pertapaan di sekitar tempat tersebut, di bawah pohon pipal. Nama kuno dan asli tempat ini adalah Kikata, tetapi setelah Gautama mencapai pencerahan di sini, tempat ini kemudian dikenal sebagai 'Buddha Gaya' (Bodhi Gaya). Bahkan hingga saat ini, ritual pemujaan kepada Buddha sebagai dewa di Bodhi Gaya dilakukan oleh seorang sannyasi (biksu yang telah meninggalkan keduniawian) dari 'garis Giri' yang termasuk dalam sekte Sri Sankaracarya. Di antara para Buddha ini, yang biasa dikenal sebagai Buddha-Gaya (yang merupakan Buddha Visnu Avatara) adalah pendahulu Buddha Gautama. Yang dikemudian hari Buddha Gautama datang ke tempat kelahiran Buddha-Gaya untuk berlatih meditasi. Buddha Sakya Simha Buddha memilih tempat ini untuk mencapai pembebasan, karena ia tahu bahwa tempat ini dipenuhi dengan kekuatan spiritual yang luar biasa.

Lankavatara Sutra adalah kitab suci Buddha yang terkenal dan sakral. Dari uraian tentang Buddha yang ditemukan dalam buku ini, dapat disimpulkan dengan tegas bahwa dia bukanlah Sakya Simha atau Buddha Gautama. Di awal buku ini, kita menemukan Rahwana, Raja Lanka, berdoa terlebih dahulu kepada Buddha inkarnasi Visnu yang asli dan kemudian kepada Buddha yang hidup di masa yang berikutnya. Sebagian dari doa ini direproduksi di bawah ini:

 

lankavatara sutram vai purva buddha anuvarnitam

smarami purvakaih buddhair jina-putra puraskrtaih

sutram etan nigadyante bhagavan api bhasatam

bhavisyatyanagate kale buddha buddha-sutas ca ye


Terjemahan:

Ravana, raja Lanka, pertama membacakan syair ‘Totaka’, lalu menyanyikan yang berikut ini – “Saya mengingat dalam ingatan saya kata-kata mutiara yang dikenal sebagai ‘Lankavatara-sutra’, yang disusun dan disebarkan oleh Buddha yang sebelumnya (inkarnasi Visnu). Putra Jina (Sang Buddha) mempersembahkan buku ini. Sang Buddha dan putra-putranya, yang akan muncul di masa depan sebagai Bhagavan, inkarnasi Visnu, akan terus mengajar semua orang dari buku ini.

 

”Putra Anjana yang bernama Buddha berbeda dengan putra Suddhodana

Beberapa orang mungkin menganggap bahwa ini bukan pengikut Sankaracarya, melainkan para Vaisnava yang menunjukkan kepedulian dan penghormatan yang lebih besar kepada Buddha, oleh karena itu, merekalah yang seharusnya juga dikenal sebagai penganut Buddha. Dalam hal ini, menurut Linga Purana, Bhavisya Purana, dan kesembilan inkarnasi Visnu yang disebutkan dalam Varaha Purana, Buddha yang dijelaskan di dalamnya bukanlah pribadi yang sama dengan Buddha Gautama yang merupakan putra Suddhodana. Para penganut Vaisnava tidak pernah menyembah Buddha yang ateis (sunyavada) atau Buddha Gautama. Mereka hanya menyembah kesembilan inkarnasi Dewa Visnu, Pemujaan Dewa Buddha yang terdapat dalam Srimad-Bhagavatam 10/40/22:

           namo buddhaya suddhaya daitya-danava-mohine

 

Oh Sang Buddha yang agung! Aku mempersembahkan penghormatanku kepada-Mu, Yang tanpa kecacatan dan telah muncul untuk memperdaya golongan manusia yang jahat dan ateis.

Sebelumnya dalam Srimad-Bhagavatam 1/3/24, kedatangan Sang Buddha dijelaskan  sebagaimana berikut ini:


tatah kalau sampravrtte

sammohaya sura-dvisam

buddho namnanjana-sutah

kikatesu bhavisyati


Terjemahan:

Kemudian, pada awal Kaliyuga, Dewa akan muncul sebagai Buddha, putra Anjana, di provinsi Gaya, hanya untuk tujuan memperdaya mereka yang iri kepada para theis yang beriman.

Buddha yang disebutkan dalam sloka ini adalah Sang Buddha putra Anjana yang juga dikenal oleh sebagian orang sebagai 'putra Ajina'. Svami Sri Sridhara menulis dalam komentar resminya terhadap sloka ini:


buddha avartaramaha tata iti anjanasya sutah

ajina suta it pathe ajino’ pi sa eva kikatesu madhye gaya-pradese

Kata ‘tatah kalau’ dan lain-lain, menggambarkan Buddha inkarnasi Visnu sebagai putra Anjana. Ajina dalam kata ‘ajina sutah’ sebenarnya adalah ‘Anjana’. Kikata adalah nama distrik di Gaya.

Penganut paham monisme, entah karena kesalahan atau alasan lain, menganggap Svami Sri Sridhara sebagai anggota sekte dan keyakinan mereka. Meski begitu, komentarnya mengenai masalah ini dapat dengan mudah diterima oleh para penganut Mayavadi sebagai yang benar tanpa keragu-raguan. Kutipan berikut ini dari Narasimha Purana 36/29:


kalau prapte yatha buddho bhavannarayana – prabhuh

 

Pada zaman Kaliyuga, Dewa Narayana yang agung muncul sebagai Buddha.

Perkiraan tentang kemunculan Sang Buddha dapat ditelusuri dari soka ini; bahwa Dia hidup sekitar 3500 tahun yang lalu, atau dengan perhitungan astronomi dan astrologi yang akurat sekitar 4000 tahun yang lalu. Mengenai fakta astrologi pada saat kelahiranya, risalah ‘Nirnaya-sindhu’ menyatakan dalam bab kedua:


jyaistha sukla dvitiyayam buddha-janma bhavisyati

 

Buddha yang agung akan muncul pada hari kedua bulan purnama, di bulan Jyaistha.

Di bagian lain dalam buku ini dijelaskan tata cara pemujaan Sang Buddha:


pausa suklasya saptamyam kuryat buddhasya pujanam

 

Sang Buddha secara khusus disembah pada hari ketujuh bulan purnama di bulan Pausa.

Ritual, doa-doa, dan tata cara pemujaan yang disebutkan dalam kitab suci ini semuanya dengan jelas menunjukkan bahwa semuanya dimaksudkan untuk inkarnasi avatara Dewa Visnu yang kesembilan. Sang Buddha juga disebutkan berulang kali dalam banyak kitab suci Veda yang autentik seperti Visnu Purana, Agni Purana, Vayu Purana, dan Skanda Purana. Sang Buddha yang disebutkan dalam Devi Bhagavata, sebuah teks yang lebih baru, dan dalam Sakti Pramoda merujuk kepada Sakya Simha – bukan Buddha Visnu Avatara.

Kebenaran tetap ada bahwa ada banyak dewa dan dewi yang berbeda yang disembah oleh pemujanya masing-masing, dengan cara yang sama seperti Buddha Sakya Simha (yang adalah seorang ateis) disembah atau dimuliakan oleh para pengikutnya. Namun, ini semua sama sekali terpisah dan tidak terkait dengan jalan Sanatana-Dharma, yang merupakan agama abadi manusia yang dinyatakan dalam Srimad-Bhagavatam.

Menurut Max Mueller seorang sarjana Jerman, Buddha Sakya Simha lahir pada tahun 477 SM di taman Lumbini, di dalam kota Kapilavastu. Kota kuno ini, dan pada saat itu, berpenduduk padat di wilayah Terai, Nepal, yang sangat terkenal. Ayah Sakya Simha atau Buddha Gautama dikenal sebagai Suddhodana, sementara ibunya bernama Mayadevi, ini semua adalah fakta sejarah yang diterima. Meskipun putra Anjana dan putra Suddhodana sama-sama memiliki nama yang sama (Buddha), mereka tetap merupakan dua pribadi yang berbeda. Salah satu dari mereka lahir di Kikata – yang sekarang terkenal sebagai Bodhi-Gaya, sementara Buddha kedua lahir di Kapilavastu, Nepal. Dengan demikian, tempat kelahiran, orang tua, dan jaman Buddha Visnu Avatära; dan tempat kelahiran, orang tua, jaman Buddha Gautama sama sekali berbeda.

Oleh karena itu, sekarang kita dapat mengetahui bahwa pribadi terkenal yang sekarang umumnya disebut sebagai 'Buddha', bukanlah inkarnasi Visnu, bukan Sang Buddha yang asli dan karenanya, pandangan Sankaracarya tentang hal ini sama sekali tidak dapat diterima. Tidak jarang ditemukan perbedaan pendapat dalam hal tradisi dan sejarah, tetapi berkenaan dengan isu-isu penting dan signifikan, diskusi yang tidak bias dan objektif sangatlah penting. Tertarik dengan kepribadian dan ketenaran Buddha, menghormati dan menghargainya adalah satu hal, tetapi menjadi terkesan dengan filosofi dan ajarannya serta berserah diri kepadanya dengan penuh hormat adalah hal yang sama sekali berbeda. Apa pun masalahnya, kita bisa memahami poin penting bahwa Buddha bukanlah satu pribadi, tetapi setidaknya dua identitas yang terpisah, – Sakya Simha tidak sama dengan Sang Buddha, inkarnasi Visnu yang kesembilan. Tentu saja tidak dapat disangkal bahwa ada beberapa kesamaan antara kedua Buddha ini, namun tidak dapat disangkal bahwa mereka adalah dua pribadi yang berbeda.

 

Senin, 22 September 2025

APAKAH MELUKAT BISA MELEBUR BUAH KARMA BURUK?

Melukat adalah sebuah proses ritual membasuh atau mandi dengan menggunakan tirtha (air suci) yang biasanya dilakukan ditempat-tempat suci dengan maksud untuk menetralisir atau melebur berbagai hal yang buruk dalam diri. Banyak juga yang meyakini bahwa dengan melukat maka buah-buah karma yang buruk bisa lebur. Benarkah keyakinan itu?

Melukat adalah salah satu bentuk praktek Bhuta Suddhi. Bhuta artinya elemen atau unsur. Suddhi artinya pembersihan atau pemurnian. Jadi Bhuta Suddhi artinya pembersihan atau pemurnian unsur-unsur yang membentuk tubuh manusia. Bhuta mengacu kepada unsur-unsur yang membentuk alam semesta, termasuk unsur-unsur (Panca Mahabhuta) yang membentuk tubuh fisik manusia yang meliputi Prthivi (padat/tanah), Bayu (udara), Apah (air), Teja (api), dan Akasha (ruang).

Air yang digunakan untuk melukat oleh Sang Wiku telah diinstall dengan energi tertentu sesuai yang dibutuhkan dengan metode lantunan mantra, penggunaan yantra, dan laku tantra tertentu. Dan hasilnya adalah jenis air yang berenergi yang familiar kita sebut tirtha. Jadi Tirtha adalah air yang berenergi (kedewataan).

Lalu apa saja yang membentuk tubuh manusia? Keilmuan yoga menjelaskan bahwa tubuh manusia terdiri dari 5 lapisan yang disebut Panca Mayakosa.

Pertama, lapisan fisik yang disebut Ana Mayakosa yaitu lapisan tubuh yang terbuat dari sari-sari makanan yang membentuk daging, otot, tulang, darah, organ tubuh, dll. Inilah lapisan yang tersusun dari unsur-unsur Panca Mahabhuta yang meliputi Prthivi, Bayu, Apah, Teja, dan Akasha. Seluruh organ tubuh fisik manusia terbuat dari Panca Mahabhuta ini. Dan jika semua unsur dalam kondisi yang harmoni, juga didukung energi (prana) yang cukup, maka tubuh fisik pasti sehat. Misalnya, darah terjaga kemurniannya, tulang terjaga kekokohannya, oksigen yang masuk melalui nafas terjaga kemurniannya, berbagai organ dan jaringan tubuh berfungsi dengan sempurna; maka tubuh fisik pasti akan sehat.

Kedua, lapisan energi yang disebut Prana Mayakosa yaitu lapisan tubuh yang terbuat dari energi vital alam semesta yang disebut Prana. Energi vital ini didapat dari prana makanan sehari-hari, nafas normal, teknik pranayama, dan bisa juga teknik lainnya misalnya teknik tantra tertentu. Energi inilah yang dibutuhkan dan mendukung semua sistem dalam tubuh bisa bekerja sesuai fungsinya. Misalnya untuk menggerakan tangan, kaki, mulut, dll. Orang yang merasa tubuhnya lesu lemah letih lelah oleh karena kekurangan energi (prana) dalam badannya. Istilah aura yang familiar bagi kebanyakan orang sebenarnya mengacu kepada tubuh energi (prana).

Ketiga, lapisan pengetahuan (memori) yang disebut Mano Mayakosa. Kebanyakan orang menyebut lapisan ini sebagai pikiran. Ketika kita bicara pikiran bukan berarti hanya mengacu kepada hardwarenya yang disebut otak, otak memang adalah pusat data, namun data-data lainnya ada pada setiap sel tubuh manusia. Misalnya bentuk telinga, hidung, mata, warna kulit kita menyerupai orang tua atau leluhur kita lainnya, itu berarti sel-sel tubuh kita membawa memori dari orang tua dan leluhur kita lainnya. Apa yang diserap oleh tubuh saat ada makanan yang dicerna? Lapisan tubuh fisik akan menyerap sari-sarinya misalnya yang berupa vitamin, protein, dan unsur semacam lainnya. Lapisan tubuh energi akan menyerap prana yang terkandung dalam makanan tersebut. Dan lapisan tubuh pengetahuan (memori) akan menyerap data-data (misalnya sifat-sifat) dalam makanan tersebut. Karena itulah pentingnya sebelum makan berdoa dulu dengan maksud untuk menetralisir sifat-sifat buruk dalam makanan itu.

Keempat, lapisan kecerdasan atau kesadaran yang disebut Wijnana Mayakosa. Mata bisa melihat oleh karena ada indriya yang disebut caksuindriya. Telinga bisa mendengar oleh karena ada indriya yang disebut srotendriya. Lidah bisa merasakan makanan yang manis, pahit, asam, asin, dan pedas oleh karena ada indriya yang disebut jihwendriya. Jantung terus berdenyut secara otomatis untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh, nafas bisa mengalir secara alami, adalah bukti adanya kecerdasan fungsi berbagai organ tubuh. Manusia bisa menunjukkan kemampuan supernya diatas rata-rata kebanyakan orang pada umumnya oleh karena kecerdasan atau kesadarannya berfungsi sangat optimal dengan latihan atau metode tertentu.

Kelima, lapisan kebahagiaan yang disebut Ananda Mayakosa. Lapisan inilah yang sebenarnya diluar jangkauan pikiran manusia, karena itulah dalam sistem Yoga hanya diberikan definisi sebagai lapisan kebahagiaan. Sangat mungkin lapisan inilah yang disebut Atman, lapisan kunci dari semua lapisan tubuh sehingga kita bisa hidup.

Lalu ketika seseorang melukat apa yang kemudian bereaksi pada lapisan tubuhnya?  Bahwa tirtha adalah air yang berenergi (kedewataan), maka energi dalam tirtha itu bisa bersenyawa dan mempengaruhi langsung lapisan tubuh energi (Prana Mayakosa) orang yang melukat tersebut. Seberapa besar dampak energi tirtha itu? Maka itu tergantung kondisi lapisan tubuh energi orang tersebut. Analoginya, untuk menetralkan rasa asin garam satu sendok dalam segelas air, maka butuh gula lebih dari satu sendok. Jika hanya satu sendok atau bahkan kurang dari satu sendok maka rasa asin masih sangat terasa, semakin banyak gula maka semakin lebur rasa asin garam dalam gelas itu, dan rasa manisnya langsung mendominasi. Energi dari tirtha itu tidak akan bisa berdampak langsung pada lapisan tubuh pengetahuan, pun juga lapisan tubuh kecerdasan atau kesadaran, itu disebabkan karena bukan entitas yang sejenis. Energi hanya akan bereaksi langsung dengan energi.

Buah karma (karmaphala) dari seseorang itu bentuknya adalah data-data atau file-file dalam lapisan Mano Mayakosa. Ini layaknya data-data atau file-file dalam sebuah komputer. Data-data atau file-file dalam komputer tidak akan bisa berubah hanya karena kondisi energi listriknya, namun energi listrik mendukung dalam proses perubahan data-data itu karena tanpa energi listrik maka komputer tidak akan bisa hidup. Begitu juga data-data atau file-file dalam pikiran tidak akan bisa berubah begitu saja hanya karena kondisi energi tubuh tanpa adanya upaya proses perubahan dalam pikiran.

Energi yang konstruktif (baik) dalam lapisan tubuh energi (Prana Mayakosa) memiliki kecenderungan dampak yang konstruktif juga pada lapisan tubuh fisik (Ana Mayakosa). Dampaknya misalnya tubuh fisik yang sehat, organ-organ tubuh fisik yang berfungsi dengan baik.

Lalu apakah energi itu bisa berdampak meski secara tidak langsung terhadap lapisan tubuh pengetahuan (pikiran/Mano Mayakosa)? Sangat mungkin bisa, bahwa energi yang baik berkecenderungan merangsang pikiran untuk melakukan proses-proses pemikiran yang baik. Namun sebesar apa rangsangannya? Itu sangat tergantung pada tingkat kesadaran orang itu sendiri. Meski energi dari tirtha penglukatan itu besar namun jika tingkat kesadaran orang itu rendah maka dampak rangsangannya juga rendah. Namun jika tingkat kesadarannya tidak rendah maka dampak rangsangannya pasti berbeda. Orang tersebut memungkinkan akan terdorong untuk berperilaku yang lebih baik. Dan semakin banyak perilaku baiknya maka semakin banyak ia menciptakan buah karma yang baik, dan semakin banyak buah karma yang baik maka semakin lebur buah karma buruknya.   


Aguswi

#Archangel

#VrilSociety

 

 

 

              

 

 

Selasa, 04 Maret 2025

MENGAPA DRESTARASTRA TERLAHIR BUTA? Jawaban atas pertanyaan itu sangat berguna bagi kita semua

Drestarastra pada kelahirannya yang sebelumnya adalah seorang pangeran kerajaan juga. Dan kegemaran seorang pangeran adalah berburu binatang di hutan. Pangeran ini pada suatu kali pergi berburu ke hutan dengan didampingi para abdinya. Di hutan mereka melihat seekor induk burung dengan anaknya yang jumlahnya ratusan ada disekelilingnya. Pangeran lalu mengambil busur panahnya dan mulai membidik induk burung. Saat itulah seorang abdinya menasehati dengan berkata "Pangeran mohon jangan dipanah induk burung itu, jika induk burung itu mati maka ratusan anaknya akan terlantar, sebaiknya kita mencari binatang buruan lainnya". Namun pangeran ini tidak mengindahkan nasehat abdinya ini meskipun pengeran itu sendiri dengan matanya melihat kebenaran bahwa induk burung itu anaknya memang ratusan, dan jika induknya mati maka anak-anaknya akan terlantar, tercerai berai, dan menderita. Namun kebenaran yang dia lihat itu tidak dipertimbangkannya. Lalu dilepaskanlah panahnya dan melesat menembus tubuh induk burung itu, dan......matilah induk burung itu. Lalu apa yang terjadi dengan ratusan anak burung itu? Tercerai berai tak tentu arah dengan bersuara seolah teriak-teriak memilukan.

Pada kelahiran yang selanjutnya jiwa sang pangeran ini kembali terlahir sebagai DRESTARASTRA yg hidup di dalam istana Hastinapura sebagai pangeran lagi dengan kondisi fisik BUTA, yg memiliki ANAK SERATUS dan dia menjadi TERLANTAR MENDERITA karena SERATUS ANAKNYA MATI DI MEDANG PERANG Kuruksetra. Itulah buah karmanya dari kelahiran sebelumnya yaitu KEBUTAAN. Di kelahiran yang lalu dia MENGINGKARI KEBENARAN yang dia lihat dgn MATANYA bahwa ratusan anak burung akan terlantar tercerai berai jika induknya dia panah, namun keangkuhannya sebagai pangeran tetap saja dia memanah induk burung itu.

LALU PENGETAHUAN APA YG DAPAT KITA PELAJARI DARI KISAH ITU?
HUKUM KARMA? Benar sekali.
Seseorang yang menyangkal atau melanggar kebenaran dengan matanya, maka bisa mengalami kebutaan sebagai buah karmanya seperti yang dialami Drestarastra. Entah itu dialami pada kehidupan itu juga atau kelahiran yang selanjutnya.
Bila melanggar kebenaran dengan pikirannya, maka bisa jadi mengalami penderitaan pikiran atau kesakitan pada bagian otaknya misal dengan menderita kanker otak.
Bila melanggar kebenaran dengan kakinya, maka bisa jadi akan mengalami penderitaan pada bagian kakinya atau terlahir kembali dalam kondisi cacat kakinya.
Begitu pula jika seseorang melanggar kebenaran dengan tangannya, telinganya, atau bagian tubuh lainnya. Maka bisa jadi pada bagian tubuh itulah nantinya dia akan menderita.

PARA KORUPTOR, MALING UANG RAKYAT adalah mereka yang MELANGGAR KEBENARAN DENGAN PIKIRANNYA ATAU OTAKNYA, pada kehidupan ini juga atau kelahiran yang selanjutnya maka mereka bisa jadi MENDERITA PIKIRANNYA ATAU OTAKNYA secara fisik karena TIDAK MENGGUNAKAN PIKIRAN ATAU OTAKNYA untuk KEBENARAN, melainkan untuk KEJAHATAN.
Jadi kita sebagai Insan Manusia sdh seharusnya menggunakan semua bagian tubuh kita untuk kebenaran, untuk kebermanfaatan dgn sesama, dengan begitu hidup ini akan indah, damai, bahagia, sejahtera. JAUH DARI DERITA FISIK DAN MENTAL.

Kamis, 06 Februari 2025

GANESHA BERBUSANA MERAH

Inilah dasar sastra dalam Ganapati Stotram mengapa arca Ganesha di kuil-kuil Hindu etnis India kebanyakan berwarna merah, dihias dengan permata merah di bagian keningnya, dan sesajinya adalah bubur manis dan susu


Om pallavi rakta ganapatim

bhaje aham ratna simha

Asana patim surapatim

 

Artinya:

Hamba memuja Ganapati yang berwarna merah, penguasa (yaitu duduk di atas) singgasana bertatahkan permata, Ganesha penguasa para Deva

 

Om anupallavi raktāmbara dharam

raga dveśa adi haram

parvati priyakaram mohanakaram

 

Artinya:

Dewa Ganesha yang mengenakan pakaian merah, penghilang nafsu dan kebencian, yang dikasihi/disayang oleh Devi Parvati, Deva yang menganugerahkan pesona,

 

Om caranam parasurama kśetra prabhavam

payasānna homa adi vibhavam

panca krtyātita svabhavam

bhakta jana adi samuha vaibhavam

sakala karyārtha siddhidam sthiram

vama deva adi pujitam varam

varija bhava vandita vallabhaisam

guru guha nutam paramaśiva sutam


Artinya:

Dewa Ganesha yang memberikan kemuliaan kepada Parasurama Kśetra (Kerala), Ganesha (Ia) yang senang dengan persembahan Payasanna (bubur nasi susu manis) sebagai yadnya, IA yang sifat sejatinya melampaui lima tindakan, yang dipuja oleh masyarakat penyembah dan lainnya, pemberi keberhasilan dalam segala perbuatan, yang kekal, yang terkemuka yang dipuja oleh (Rsi seperti) Vamadeva, penguasa dewi Vallabha, diberi hormat dengan singgasana kelahiran teratai (Brahma), yang dipuji oleh Guruguha,  Ganesha IA putra Paramaśiwa yang Agung

 

Penjelasan:

Warna merah pada arca Ganesha: 

1. sesuai dengan fungsi-Nya sebagai dewa yang penuh kekuatan penghancur segala halangan dan rintangan

2. mencerminkan sebagai dewa inteleks, kecerdasan dan kejayaan

3. diantara semua warna maka merahlah yang paling mencolok, ini sesuai dengan anugerah Dewa Wisnu kepada Ganesha bahwa Ganesha lah yang harus dipuja pertama kali oleh manusia dalam melakukan upacara yajna.

Sabtu, 28 September 2024

Tapa Brata Yoga sebagai upaya mematangkan diri dalam mensenyawakan diri dengan alam

 Tapa

 Yaduram yaduraradhyam

Yacca dure vyavasthitam

Tat-sarvam tapasa sadhyam

Tapo hi duratikramam

(Canakya Niti Darpana 17.3)

 

Terjemahan:

Yang sangat jauh, yang melalui pemujaan pun sangat sulit dicapai, yang berada di ketinggian maha tinggi, semua itu dapat dicapai melalui pertapaan. Karena tapa itu mempunyai kekuatan yang sangat hebat.

 

Brata

Dalam Yajurveda XIX.30 dinyatakan:

 vratena dīkāmāpnoti dīkayāpnoti dakiām,

dakiā śraddhāmāpnoti śraddhayā satyamāpyate

 

Terjemahan:

Dengan melakukan pantangan (vratenamaka akan mendapatkan penyucian (Diksa), dengan penyucian akan mendapatkan kehormatan (Daksina), dengan kehormatan akan mendapatkan keteguhan (Sraddha), dan dengan keteguhan akan mendapatkan kebenaran (satya) yang sejati.

 Kata vratena berasal dari kata vrata yang artinya pengekangan, ketaatan. Berarti pula vrata sama artinya dengan brata.

 

Yoga

Yoga berasal dari bahasa Sanskerta “yuj”, yaitu menghubungkan atau hubungan yang harmoni. Yoga adalah upaya menghubungkan, menyatukan, atau mensenyawakan diri dengan alam semesta.   

 Kita sering mendapatkan kata tapa yang biasanya disusul oleh kata brata, dan yoga. Kata-kata tersebut memang saling terkait dan tidak terpisahkan. Kata “tapa” berasal dari bahasa Sansekerta “tap” yang artinya membakar, memanaskan, membuat disiplin. Tapa berarti memanaskan diri melalui praktik-praktik disiplin ke dalam diri demi pematangan fisik, mental, dan spiritual. Jadi didalam “tapa” sudah pasti ada unsur “brata” yaitu pengekangan atau ketaatan sebagai bentuk disiplin diri.

Sesuai yang dijelaskan dalam Canakya Niti Darpana “tapo hi duratikramam” bahwa “tapa” mempunyai kekuatan yang hebat baik secara fisik, mental, dan spiritual; artinya kekuatan tapa ini sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Bermanfaat dalam menyehatkan diri secara fisik, mengembangkan mental maupun spiritual kita.

“Sarvam tapasa sadhyam”, segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Urusan-urusan yang sepertinya sudag tidak mungkin dapat diselesaikan melalui tapa.

Bentuk-bentuk disipilin tapa brata yang dapat kita lakukan sebenarnya sudah terkonsepkan dalam rangkaian-rangkaian berbagai hari suci Hindu. Ada Catur Brata Penyepian saat Hari Raya Nyepi. Ada berbagai rangkaian sadhana saat menyambut Hari Raya Galungan mulai dari sugihan jawa hingga penampahan. Ada jagra, monabrata dan japa saat Hari Raya Siwaratri.

Mari kita menelisik lebih dalam tentang tapa brata di Hari Raya Siwaratri. “Jagra” yaitu menjaga kesadaran diri yang dilatih dengan cara tidak tidur dalam jangka waktu tertentu. Saat melakukan sadhana ini tidak sekedar menjaga kesadaran agar tidak tidur dengan melakukan aktivitas duniawi semata apalagi yang mengarah kepada kesenangan belaka. Namun saat menjaga kesadaran dengan tidak tidur inilah kita harus berlatih untuk menyadari segala sesuatu yang terjadi dalam diri kita, menyadari segala rasa yang muncul dalam diri sendiri, menyadari segala sensasi yang terjadi dalam diri baik fisik maupun mental. Dan diharapkan dari seringnya melakukan latihan menjaga kesadaran tidak tidur inilah kita menjadi terlatih dalam menjaga kesadaran diri dalam dimensi yang lebih tinggi, dalam ruang kesadaran yang lebih dalam. Kita akan terlatih dalam hal “sadar”; sadar dengan perilaku kita, sadar bahwa itu baik perlu dilakukan atau tidak baik jadi tidak perlu dilakukan, sadar bahwa itu akan menyenangkan atau membahagiakan orang lain atau justru akan menyakiti orang lain, sadar bahwa kita mungkin telah melakukan kesalahan dan saatnya memperbaiki diri, sadar kita perlu bicara itu atau tidak, sadar bahwa kita harus bersikap bagaimana, maupun sadar dengan berbagai hal lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Survei membuktikan kebanyakan orang tidak pernah melakukan latihan menjaga kesadaran dengan tidak tidur ini, atau justru meremehkan sadhana ini. Dan bila memang tidak pernah mempraktekkan maka tidak akan menemukan kebenarannya dari latihan ini. Karena kebenaran dari tapa brata hanya akan didapatkan dari “laku” yaitu mempraktekkannya dengan disiplin diri yang tinggi.  

“Monabrata” artinya adalah berpantang terhadap kata-kata, atau tidak berkata-kata samasekali untuk jangka waktu tertentu. Memang sangat sulit untuk mempraktekkannya, namun bisa dilatih dari level yang mudah yaitu mengurangi untuk berkata-kata, atau hanya berkata seperlunya saja. Ini akan melatih diri untuk memiliki pengendalian diri dalam berkata-kata. Kekuatan dalam berkata yang kita kendalikan melalui latihan disiplin “monabrata” maka hasilnya adalah diri kita memiliki kekuatan berkata yang lebih baik atau bahkan luar biasa. Kata-kata yang kita katakan menjadi penuh power dirasakan oleh orang lain. Sehingga sangat mungkin disegani atau dituruti atau dipatuhi atau ditaati oleh orang lain.

Dalam konsep Tantra bila kita sering melatih pertapaan indriya kita maka lambat laun indriya kita akan memiliki kekuatan yang sangat berkembang, dan monabrata adalah bentuk pertapaan indriya kita dalam hal mengembangkan pengendalian, kemampuan dan kekuatan ucapan. Bahkan pada level tertentu kata-kata kita menjadi “siddhi”. Kita akan terlatih mengendalikan ucapan, menjadi tahu apakah kita perlu bicara atau tidak, ucapan kita pantas atau tidak, menjadi sangat berhati-hati dalam berucap, dan lain-lain.

Japa adalah bentuk sadhana dengan cara melantunkan mantra secara berulang-ulang. Bisa menggunakan hitungan atau pun tidak menggunakan hitungan sesuai kepuasan diri. Dalam hal ini kita berupaya bisa bersenyawa dengan mantra itu sendiri. Kita niatkan sepenuh hati bahwa kita adalah mantra itu sendiri. Pengalaman penulis cara untuk bisa bersenyawa dengan mantra itu sendiri adalah mulut bertugas mengucapkan mantra, telinga bertugas mendengarkan lantunan mantra yang diucapkan oleh mulut, dan pikiran bertugas mengamati sekaligus merasakan sensasi apapun yang timbul dari proses melantunkan mantra. Jadi pikiran tidak perlu membayangkan figur atau bentuk apapun saat melantunkan mantra. Saat pikiran membayangkan figur atau bentuk tertentu maka proses konsentrasi menjadi mengarah keluar diri, dan ini sangat tidak stabil. Namun jika pikiran dialihkan hanya bertugas merasakan segala bentuk sensasi dalam diri maka proses konsentrasi menjadi mengarah ke dalam diri, dan ada sebuah kestabilan proses. Saat kita terlatih mampu bersenyawa dengan mantra yang kita lantunkan maka kita pun akan terlatih mampu bersenyawa dengan setiap ucapan kita. Kita menjadi memiliki suatu tingkat pengendalian dalam ucapan, tingkat kekuatan dalam ucapan, tingkat kesadaran dalam ucapan. Menjadi tahu kata-kata yang perlu atau pun yang tidak perlu diucapkan kepada orang lain. Sehingga kita terhindar dari ucapan diri yang menghina, merendahkan, meremehkan, menyudutkan, dan lain-lain. Ucapan kita yang memiliki suatu kekuatan bisa kita manfaatkan untuk membuat orang lain bahagia. Atau bahkan menetralisir rasa kebencian orang lain terhadap diri kita dengan teknik tertentu hanya dengan ucapan dalam kondisi meditatif. Dan hal ini sudah pernah penulis buktikan. Beberapa sahabat penulis juga sudah pernah membuktikannya dengan panduan penulis.          

Jagra, monabrata dan japa sangat bagus jika disertai dengan pelaksanaan upawasa yaitu berpantang terhadap makan dan minum. Upawasa ini sangat bagus juga sebagai tahapan awal untuk melatih kemampuan pengendalian diri . Secara logika, jika terhadap nafsu makan dan minum saja tidak mampu mengendalikan maka terhadap berbagai rasa lainnya akan sangat sulit untuk mengendalikan, misalnya marah, benci, emosi, dan lain-lain. Pun juga upawasa akan berdampak pada fisik yang lebih sehat karena saat upawasa berlangsung maka saat itu ada proses pembersihan berbagai residu dalam semua bagian tubuh fisik. Dalam hal berpantang terhadap makan dan minum bisa dilakukan dari tingkat yang paling mudah dengan mengurangi porsi makanan hingga tidak makan dan minum samasekali dalam suatu periode waktu tertentu. Saat melakukan upawasa maka pikiran harus terhindar dari pemikiran tentang makan sehingga tidak akan ada rasa lapar dalam perut.     

Penulis pernah membimbing sekelompok generasi muda dalam melakukan “jagra, monabrata dan japa” saat Hari Raya Siwaratri di sebuah pura. Saat “jagra dan monabrata” peserta boleh jalan ke berbagai sudut area atau pun diam saja di tempat. Saat mata melihat sesuatu maka diupayakan tidak banyak menganalisa apa yang dilihatnya, atau kalau mampu diupayakan tidak menganalisanya samasekali, cukup sekedar melihat dan tidak perlu menganalisa. Begitu pula dengan telinga saat mendengar sesuatu maka diupayakan cukup sekedar mendengar saja dan tidak perlu menganalisanya di dalam pikiran. Begitu pula dengan indriya-indriya lainnya. Pengalaman peserta sangat beragam, ada yang merasa biasa-biasa saja, ada yang merasa dalam kondisi aneh, ada yang merasa menjadi “plong” alias tanpa beban menjadi sangat ringan dan itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah itu baru melakukan japa. Selesai melakukan itu, mereka semua merasa dirinya lebih ringan, lebih segar, lebih berenergi.

Bila kita terlatih dalam praktek bentuk-bentuk tapa brata maka dalam hal spiritual kita akan terlatih dalam bersenyawa dengan sisi-sisi kehidupan. Inilah Yoga yaitu persatuan dengan isi alam semesta. Rasa cinta kasih, empati, kemanusiaan kita menjadi berkembang. Melihat penderitaan maupun kesedihan orang lain kita juga merasakan itu. Kekurangan dan kelemahan orang lain juga kita rasakan. Pun juga kebahagiaan orang lain juga kita rasakan. Bukan hanya dengan sesama manusia, dengan makhluk lain atau benda lain pun kita menjadi perasa. Kita merasakan sebuah persatuan dengan yang lainnya. 

Selasa, 24 September 2024

1 Agustus 2023…..Penampahan Galungan bertepatan dengan Purnama

 

    Penampahan sejatinya adalah sebuah upaya diri untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam diri (mohon maaf penulis tidak setuju sifat-sifat buruk itu diasumsikan sebagai sifat binatang karena binatang pun banyak yang memiliki sifat-sifat yang baik yang justru harus ditiru manusia). Jadi dengan dasar pengertian diatas maka upaya itu hanya akan berhasil dengan laku spiritual, bukan ritual. Bagaimana mungkin sifat-sifat buruk bisa dihilangkan dengan ritual? Kalau memang bisa, harusnya semua umat sudah menjadi pribadi yang sangat baik semua, namun ternyata tidak. Konsep berpikir kita seharusnya bijaksana juga disertai logika. Bagaimana mungkin momen tradisi yang dipahami sebagai upaya memotong sifat-sifat buruk dalam diri justru dilaksanakan dengan memotong atau menyembelih binatang sungguhan?

    Yoga adalah sebuah solusi, karena yoga didasarkan pada upaya-upaya yang mengarah kepada pengendalian diri seperti yang dikonsepkan dalam Astangga Yoga. Bila setiap pribadi memiliki kemampuan pengendalian diri yang kuat, maka dia pun akan mampu mengendalikan setiap sifat-sifat buruk agar tidak menguasai dirinya. Harusnya kita semua menyadari tentang hal ini. Sebuah konsep pengetahuan yang telah berlangsung ratusan tahun bukan tidak mungkin untuk saat ini tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya atau dapat dikatakan sudah melenceng karena kwalitas manusia setiap jaman yang berbeda-beda. Dan sekarang saatnya kita menelaah dalam-dalam dan mengembalikan prinsip kebenarannya jika memang ada yang melenceng. Karena jika memang dilakukan secara melenceng dari prinsip kebenarannya maka akan menimbulkan kekacauan dalam pikiran yang disebut Byaparaning Idep.

Dan sastra memperkuat konsep berpikir diatas, seperti yang disebutkan dalam Lontar Sundarigama:

"Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep"

Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani dengan samadhi supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

“Samadhi” yang disebutkan lontar Sundarigama tersebut adalah salah satu tahapan dari Astangga Yoga.

    Dan momen Penampahan rangkaian dari Galungan yang akan datang akan bersamaan dengan momen Purnama. Purnama adalah disaat bulan terlihat paling bulat dalam sebulan oleh karena itu terlihat juga paling terang. Apa yang terjadi dengan Bumi saat bulan purnama? Salah satu fenomena yang terjadi adalah naiknya permukaan air laut. Ini menjadi bukti bahwa saat Purnama ada energi yang besar, dan salah satunya energi magnetik atau daya tarik bulan terhadap benda-benda di Bumi. Penulis yakin saat Purnama ada energi-energi lain yang terbentuk yang bisa berdampak pada kehidupan di Bumi. Kalau kita lihat, banyak tradisi-tradisi manusia di Bumi yang dilakukan saat Purnama tiba. Mengapa? Agar tujuan mereka bisa tercapai. Ini berarti secara tersirat sebenarnya sejak dahulu masyarakat sudah mengetahui bahwa saat bulan Purnama ada energi yang besar yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Dan upaya manusia pada hari itu untuk mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya melalui berbagai bentuk sadhana spiritual akan diperkuat oleh energi yang terbentuk di Bumi dari Purnama yang sedang berlangsung. Sangat mungkin kemampuan manusia disaat itu berlipat ganda dalam mengeliminasi sifat-sifat buruk dalam dirinya.

    Jadi Penampahan yang bersamaan dengan Purnama dari sisi spiritual sungguh suatu kesempatan. Jika ada yang justru bingung karena hal itu maka ada yang kurang bijak dalam konsep berpikirnya.

 Aguswi

VrilSociety

Archangel     

Kamis, 25 Juli 2024

TUMPEK LANDEP berpesan “TAJAMKAN PIKIRANMU agar mampu membedah segala permasalahan hidup, dan tercapailah kebahagiaan"

Pikiran manusia adalah sebuah sistem yang paling komplek dan paling canggih dibandingkan dengan sistem yang sama yang dimiliki makhluk hidup lainnya. Namun jika sistem dalam pikiran kita bermasalah atau EROR maka kita pun akan mengalami masalah juga; entah galau, bingung, resah, gelisah, depresi, dll. Setidaknya untuk memahami pikiran mari kita analogikan dengan KOMPUTER.

Semua orang pasti sudah tahu apa itu komputer. Sebuah alat yang terbilang canggih yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari rumah tangga, sekolah, perkantoran, bisnis, perusahaan hingga pemerintahan dan masih banyak lagi instansi-instansi yang lain yang menggunakan komputer sebagai salah satu alat operasionalnya. Alat yang satu ini bisa dibuat menjadi multi-fungsi. Dan anda akan sangat kagum apabila anda mengikuti berita perkembangan teknologi negara-negara maju dimana komputer merupakan alat kendali yang utama. Begitu juga dengan pikiran merupakan alat kendali yang utama pada tubuh manusia. Pikiran adalah gudang segala keinginan, dan pemenuhan keinginan itu hanya pikiran itu sendirilah yang bisa melakukannya. Pikiran memenuhi keinginan pikiran itu sendiri.

Komputer akan bisa dioperasikan dengan lancar apabila komputer itu bebas dari virus-virus atau malware yang mengganggu sistem dan file. Apabila di dalam komputer itu ada virusnya maka tidak dapat dioperasikan dengan maksimal karena ada gangguan di dalamnya, dan bahkan komputer itu bisa mati total karenanya. Ada virus yang merusak file dari pengguna komputer itu tanpa merusak sistem tetapi ada juga virus yang merusak sistem komputer sehingga semua file secara otomatis juga rusak. Dan virus yang merusak sistem inilah yang paling berat dan berbahaya karena komputer bisa rusak total. Untuk menghindari terjadinya hal seperti ini adalah dengan menginstal antivirus pada komputer tersebut, sehingga ketika ada virus masuk antivirus akan segera melenyapkan virus itu dengan segera, dan bebaslah komputer itu dari virus. Antivirus pun harus di update setiap saat agar kuat menghadapi virus yang kemungkinan besar bisa masuk.

Sebenarnya cara kerja komputer adalah sebagian kecil dari cara kerja pikiran. Hanya pikiran yang bersih saja yang bisa mendatangkan kebahagiaan hidup, pikiran yang bersih adalah pikiran yang bebas dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Pemikiran yang buruk inilah yang diibaratkan sebagai virus di dalam komputer. Apabila pikiran memelihara pemikiran-pemikiran yang buruk maka ia lambat laun akan mengalami gangguan di dalamnya seperti stres, depresi, rasa marah, rasa sesal, gila, emosional yang tinggi dan lain-lain. Pikiran menjadi tidak bisa berpikir dengan jernih karena terjangkit oleh pemikiran-pemikiran yang buruk itu. Ketika ada masalah pikiran itu menjadi bingung mencari jalan pemecahannya karena semua jalan pemikiran tersumbat oleh pemikiran yang buruk yang berperan sebagai virus. Dan seperti layaknya komputer yang mati total karena terjangkit virus, pikiran pun sangat mungkin bisa berhenti berfungsi secara normal alias GILA. Ibarat jenis-jenis virus pada komputer, besar kecilnya gangguan yang terjadi pada pikiran tergantung kepada jenis pemikiran-pemikiran buruk yang ada pada pikiran itu sendiri. Ada yang hanya menimbulkan stres ringan, ada yang mengakibatkan penyakit dalam tubuh, bahkan ada pemikiran buruk yang sampai menimbulkan kematian. Suatu contoh apabila orang banyak marah maka pelan tapi pasti secara fisik akan mempengaruhi kesehatan jantungnya, dan apabila hal ini sering terjadi maka orang itu akan mempunyai penyakit jantung. Dalam keadaan berpenyakit jantung apabila ia masih sering berperilaku marah-marah maka bukan tidak mungkin ia akan mengalami kematian karena penyakit itu yang sebenarnya bersumber dari rasa marah yang tak terkendalikan. Coba lihat orang gila, sebenarnya hanya pikirannyalah yang terganggu. Orang gila adalah orang yang sakit pikirannya. Jalan pikirannya yang normal tersumbat oleh pemikiran-pemikiran yang buruk sehingga orang itu lupa dengan identitas dirinya yang sebenarnya; alias GILA.

Seperti halnya antivirus yang harus diinstal pada komputer untuk mencegah adanya virus yang masuk, pikiran pun harus mempunyai senjata yang ampuh untuk melibas pemikiran-pemikiran yang buruk dan mencegah adanya pemikiran-pemikiran buruk yang lain untuk masuk ke dalamnya. Salah satu cara yang bisa digunakan sebagai senjata yang ampuh itu adalah dengan melakukan meditasi. Seperti halnya antivirus yang harus di update secara rutin, meditasi pun harus dilaksanakan sebagai rutinitas sehari-hari agar pikiran memiliki pemikiran yang kuat, bersih, dan bebas dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Secara tidak kita sadari banyak sekali pemikiran-pemikiran buruk yang ada pada pikiran yang dialami seseorang dari masa kecil hingga dewasa. Ketika masih kanak-kanak apabila pernah disakiti oleh orang lain maka akan menimbulkan rasa trauma, ingatan itu akan terbawa hingga dewasa; itulah salah satu contoh pemikiran yang buruk. Rasa trauma akan menjadikan orang hilang kepercayaan terhadap diri sendiri.

Untuk menghilangkan virus yang ada pada komputer maka antivirus harus melakukan scanning pada semua sistem dan file yang ada. Begitu pula dengan melakukan sadhana misalnya meditasi berarti seseorang dengan sendirinya melakukan scanning pada semua pemikiran yang ada pada pikirannya, meliputi pemikiran yang baik dan yang buruk. Ketika melakukan meditasi seseorang akan terbayang kejadian-kejadian masa kecilnya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Sedikit demi sedikit pemikiran yang buruk itu akan tersingkir dari pikiran, ingatan-ingatan yang merugikan pikiran akan musnah oleh kekuatan dari meditasi itu. Seberapa jauh seseorang melakukan meditasi sebagai rutinitas sehari-hari, maka sejauh itu pula ia membebaskan pikirannya sendiri dari pemikiran-pemikiran yang buruk. Orang yang melakukan meditasi secara rutin maka pikirannya akan terbebas dari rasa stres, depresi, marah, egoisme dan penyakit baik fisik maupun pikiran. Ia akan memiliki pemikiran yang kuat dan memiliki kharismatik. Ia akan terhindar dari hal-hal yang buruk dalam kehidupannya. Bukan berarti ia terbebas dari karma buruk masa lampau, karma masa lampau tetap akan terjadi. Tetapi ke masa depan ia akan menciptakan karma yang baik. Dalam hal berbuat ia akan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Kesadaran spiritual yang tinggi akan tumbuh dalam pikiran seseorang yang sering melakukan meditasi. Pikiran akan selalu diliputi oleh kebahagiaan dan kedamaian. Pikiran yang bersih dan memiliki power yang besar akan mampu memenuhi keinginan pikiran itu sendiri. Dengan pikiran kita menjadi “Mastermind” dari kehidupan kita sendiri di masa depan. Kita adalah “The Master” dari tujuan hidup kita sendiri.

Apabila menginginkan agar komputer bisa beroperasional dengan cepat maka harus menggunakan sistem operasi yang terupdate, jangan sampai menggunakan Pentium 1 karena komputer akan bekerja lambat. Sadhana spiritual seperti meditasi yang dilakukan secara rutin akan dapat meningkatkan kemampuan maupun kekuatan pikiran. Pikiran akan memiliki kinerja yang lebih cepat. Melakukan sadhana misalnya meditasi berarti melakukan pengasahan untuk mempertajam “Pisau” dalam diri yaitu Pikiran.

Jadi esensi TUMPEK LANDEP adalah tentang menajamkan Pikiran, bukan melakukan ritual untuk benda-benda yang kita gunakan sehari-hari misalnya mobil, alat dapur, alat pertaian, alat kerja, dll. Jika ini terjadi maka sudah SALAH KAPRAH, dan tidak bisa dijadikan sebagai sebuah kebenaran. Secara logika untuk menjadikan semua alat-alat kerja menjadi berfungsi maksimal maka harus menggunakan kecerdasan pikiran, bukan dengan ritual. Apa buktinya bahwa ini SALAH KAPRAH? Lontar Sundarigama dengan jelas menuturkan “tumpek landep pinaka landeping idep” yang artinya Tumpek Landep pada hakikatnya bertujuan untuk mengasah ketajaman pikiran (landeping idep). Dan cara menajamkan pikiran salah satu konsepnya diajarkan dalam Yogasutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali yaitu dengan melaksanakan tahapan sadhana Astangga Yoga.

Mari, tajamkan pikiran masing-masing dengan sadhana spiritual sehingga nantinya kita mampu membedah segala permasalahan hidup dengan ketajaman (kecerdasan) pikiran kita dan bisa meraih kesuksesan, kejayaan, kekuatan dan kebahagiaan. Tat Asthu Swaha.


Aguswi

Tantra

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...