Beranda

Rabu, 06 Juni 2018

Manusia Sempurna


Kesempurnaan pada dasarnya ini mengacu kepada bagaimana kita bisa mendapatkan sebuah keterampilan yang sekarang ini tidak kita punyai. Sebagai contoh, katakanlah kita mengetik 20 kata dalam satu menit dengan dua jari kita. Lalu kita ingin meningkatkan kemampuan kita selama enam bulan untuk praktek setiap hari. Maka kita pasti bisa mengetik dengan sepuluh jari kita, bahkan tanpa melihat pada keyboard, pada kecepatan rata-rata 50 kata dalam satu menit. Maka dapat disimpulkan bahwa latihan kita selama enam bulan telah membuat kita lebih sempurna.

Ketika konsep ini kita terapkan dalam upaya-upaya kehidupan spiritual kita, maka ini akan sangat berarti. Ini karena esensi jati diri kita, jiwa kita pada hakekatnya sempurna. Latihan dan upaya kita sendiri akan membawa kesempurnaan diri pada intelektual, emosional dan naluri kita.

Kita terlahir dalam badan fisik untuk tumbuh dan berkembang dengan kekuatan jati diri kita. Agama kita mengajarkan pengetahuan bagaimana menyadari kesatuan kita dengan Tuhan dan tidak menciptakan pengalaman yang tidak kita inginkan.


Apa yang paling diperlukan oleh seorang pemuda untuk bisa menjadi penari yang baik? Tentu jawabannya adalah dengan latihan yang tekun. Bukan dengan membaca teori dari buku berkali-kali. Teori menari dalam buku setebal apapun tidak akan membuat seorang menjadi penari yang baik kalau hanya dibaca. Harus dengan latihan. Latihan yang teratur akan membuat badan menjadi lentur dan menguasai berbagai gerakan, posisi, sikap dan ekspresi. Begitu juga untuk tumbuh dan berkembang dalam spiritual – untuk mewujudkan kesempurnaan jati diri kita maka diperlukan latihan-latihan yang tekun.

Inti dari latihan ini bisa difokuskan pada pemujaan sehari-hari di rumah, terutama sebelum fajar menyingsing. Dan hendaknya setiap rumah orang Hindu harus punya tempat untuk pemujaan. Bisa berupa merajan, atau altar atau tempat khusus seperti yang banyak dimiliki oleh orang Jawa yaitu “senthong tengah” (kamar khusus dan biasanya ada di tengah). Di tempat pemujaan inilah kita menyalakan dupa atau jyotir dan melakukan pemujaan sehari-hari.

Pemujaan sehari-hari inilah yang disebut Upasana. Sehingga rumah akan selalu terberkati. Di tempat pemujaan tersebut ucapkan nama-nama suci Tuhan, bernyanyilah atau lantunkan kidung-kidung pujaan, bacalah kitab suci atau lakukanlah meditasi. Tempat pemujaan yang ada di rumah juga merupakan tempat yang sangat bagus untuk memusatkan diri melalui puja dan refleksi.

Ekspresi kedua sebagai pemujaan dalam Hindu adalah Utsava. hari-hari suci, baik yang setiap minggu atau setiap bulan atau setiap tahun. Setiap minggu bisa menghadiri upacara/ritual yang diselenggarakan di Pura terdekat. Pura adalah bangunan yang suci, dianggap sebagai rumah Tuhan. Ini karena arsitektur mistiknya, kesakralannya, dan kegiatan-kegiatan pemujaan yang terus berlangsung secara berkesinambungan.

Hadir dalam setiap upacara suci seperti Purnama, Tilem dan lainnya juga adalah suatu latihan spiritual bagi kita untuk menuju kesempurnaan bila dilakukan dengan penuh kesadaran, namun itu kurang berarti apabila tidak dibarengi dengan kesadaran bahwa pada saat itu diri kita harus total dalam melakukan pemujaan. Dalam istilah Jawa “Ora manut grubyuk” artinya tidak hanya sekedar ikut-ikutan.

Harus benar-benar disadari mengapa mengikuti upacara itu, bagaimana cara melakukannya yang benar dan untuk apa sejatinya. Perlu ditegaskan bahwa pada saat pemujaan ada mantra-mantra tertentu yang harus diucapkan sendiri oleh seorang individu, bukan diwakilkan kepada pemangku, contohnya mantra Tri Sandhya harus diucapkan sendiri dan mantra kramaning sembah. Namun dalam kenyataannya mantra kramaning sembah ini tidak diikuti oleh umat, sering kali hanya pemangku yang mengucapkan, umat hanya mengacungkan bunga, diam entah apa yang ada dalam pikirannya, padahal kalau ia mengacungkan bunga maka harusnya ia mengucapkan juga mantranya.

Ekspresi ketiga adalah perjalanan suci atau Tirthayatra. Ini dengan mengunjungi tempat-tempat suci, maupun orang-orang suci, bisa yang jauh maupun yang dekat dari rumah. Selama persinggahan tersebut, Tuhan, para Dewa dan para Guru menjadi pusat kehidupan. Dengan demikian perjalanan ini akan menjadikan seseorang istirahat total sejenak dari aktivitas duniawi. Fokus pada pemujaan yang khusus, melebur dosa, atau melakukan persembahan.

Ketiga bentuk pemujaan ini – pemujaan sehari-hari, hari suci dan perjalanan suci – membantu kita untuk mewujudkan kesempurnaan dalam diri kita sendiri. Aspek keempat yang menjadi inti pemujaan adalah Dharma, atau kehidupan yang luhur, kehidupan yang tanpa ego dalam kewajiban dan perbuatan. Seseorang belajar untuk tidak mementingkan diri sendiri dengan pertama memikirkan orang lain, menghormati orang tua, atau yang lebih tua atau para orang suci, mengikuti hukum spiritual – sebagai contoh Ahimsa, yaitu tidak menyakiti secara fisik, mental dan emosional terhadap orang lain atau makhluk lain.

Contoh lain yaitu Sevanam, pelayanan kepada makhluk lain. Seorang pedagang bisa menjadikan dirinya sebagai seorang yang materialis atau seorang yang spiritualis. Ketika dalam aktivitas perdagangannya ia hanya memikirkan untung dan rugi secara materi tanpa memikirkan bagaimana ia harus memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggannya, maka ia adalah seorang yang Materialis. Namun, jika ia juga berusaha memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggannya, dan penuh kesadaran bahwa pelayanan adalah salah satu bagian dari kehidupan yang berbudi luhur, dan tidak semata-mata mengeruk keuntungan dari pelanggan, sehingga pelanggannya menjadi senang dan merasa puas, maka ia adalah seorang pedagang yang Spiritualis. Maka sempurnalah ia sebagai seorang pedagang sejati. Menjadikan kerjanya sebagai bentuk pelayanan kepada orang lain, bentuk pemujaan kepada Tuhan melalui pelayanan.



SATRIYO JOWO
7 Juni 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...