Kesempurnaan pada dasarnya ini mengacu kepada bagaimana
kita bisa mendapatkan sebuah keterampilan yang sekarang ini tidak kita punyai.
Sebagai contoh, katakanlah kita mengetik 20 kata dalam satu menit dengan dua
jari kita. Lalu kita ingin meningkatkan kemampuan kita selama enam bulan untuk
praktek setiap hari. Maka kita pasti bisa mengetik dengan sepuluh jari kita,
bahkan tanpa melihat pada keyboard,
pada kecepatan rata-rata 50 kata dalam satu menit. Maka
dapat disimpulkan bahwa latihan kita selama enam bulan telah membuat kita lebih
sempurna.
Ketika
konsep ini kita terapkan dalam upaya-upaya kehidupan spiritual kita, maka ini
akan sangat berarti. Ini karena esensi jati diri kita, jiwa kita pada hakekatnya
sempurna. Latihan dan upaya kita sendiri akan membawa kesempurnaan diri pada
intelektual, emosional dan naluri kita.
Kita
terlahir dalam badan fisik untuk tumbuh dan berkembang dengan kekuatan jati
diri kita. Agama kita mengajarkan pengetahuan bagaimana menyadari kesatuan kita
dengan Tuhan dan tidak menciptakan pengalaman yang tidak kita inginkan.
Apa
yang paling diperlukan oleh seorang pemuda untuk bisa menjadi penari yang baik?
Tentu jawabannya adalah dengan latihan yang tekun. Bukan dengan membaca teori
dari buku berkali-kali. Teori menari dalam buku setebal apapun tidak akan
membuat seorang menjadi penari yang baik kalau hanya dibaca. Harus dengan
latihan. Latihan yang teratur akan membuat badan menjadi lentur dan menguasai
berbagai gerakan, posisi, sikap dan ekspresi. Begitu juga untuk tumbuh dan
berkembang dalam spiritual – untuk mewujudkan kesempurnaan jati diri kita maka
diperlukan latihan-latihan yang tekun.
Inti
dari latihan ini bisa difokuskan pada pemujaan sehari-hari di rumah, terutama
sebelum fajar menyingsing. Dan hendaknya setiap rumah orang Hindu harus punya
tempat untuk pemujaan. Bisa berupa merajan, atau altar atau tempat khusus
seperti yang banyak dimiliki oleh orang Jawa
yaitu “senthong tengah” (kamar khusus dan biasanya ada di tengah). Di tempat
pemujaan inilah kita menyalakan dupa atau jyotir dan melakukan pemujaan
sehari-hari.
Pemujaan
sehari-hari inilah yang disebut Upasana. Sehingga rumah akan selalu
terberkati. Di tempat pemujaan tersebut ucapkan nama-nama suci Tuhan,
bernyanyilah atau lantunkan kidung-kidung pujaan, bacalah kitab suci atau
lakukanlah meditasi. Tempat pemujaan yang ada di rumah
juga merupakan tempat yang sangat bagus untuk memusatkan diri melalui puja dan
refleksi.
Ekspresi
kedua sebagai pemujaan dalam Hindu adalah Utsava. hari-hari suci, baik yang
setiap minggu atau setiap bulan atau setiap tahun. Setiap minggu bisa
menghadiri upacara/ritual yang diselenggarakan di Pura terdekat. Pura adalah
bangunan yang suci, dianggap sebagai rumah Tuhan. Ini karena arsitektur
mistiknya, kesakralannya, dan kegiatan-kegiatan pemujaan yang terus berlangsung
secara berkesinambungan.
Hadir
dalam setiap upacara suci seperti Purnama, Tilem dan lainnya juga adalah suatu
latihan spiritual bagi kita untuk menuju kesempurnaan bila dilakukan dengan
penuh kesadaran, namun itu kurang berarti apabila tidak dibarengi dengan
kesadaran bahwa pada saat itu diri kita harus total dalam melakukan pemujaan.
Dalam istilah Jawa “Ora manut grubyuk” artinya tidak hanya sekedar ikut-ikutan.
Harus
benar-benar disadari mengapa mengikuti upacara itu, bagaimana cara melakukannya
yang benar dan untuk apa sejatinya. Perlu ditegaskan bahwa pada saat pemujaan
ada mantra-mantra tertentu yang harus diucapkan sendiri oleh seorang individu,
bukan diwakilkan kepada pemangku, contohnya mantra Tri Sandhya harus diucapkan
sendiri dan mantra kramaning sembah.
Namun dalam kenyataannya mantra kramaning
sembah ini tidak diikuti oleh umat, sering kali hanya pemangku yang
mengucapkan, umat hanya mengacungkan bunga, diam entah apa yang ada dalam
pikirannya, padahal kalau ia mengacungkan bunga maka harusnya ia mengucapkan
juga mantranya.
Ekspresi
ketiga adalah perjalanan suci atau Tirthayatra. Ini dengan mengunjungi
tempat-tempat suci, maupun orang-orang suci, bisa yang jauh maupun yang dekat
dari rumah. Selama persinggahan tersebut, Tuhan, para Dewa dan para Guru
menjadi pusat kehidupan. Dengan demikian perjalanan ini akan menjadikan
seseorang istirahat total sejenak dari aktivitas duniawi. Fokus pada pemujaan
yang khusus, melebur dosa, atau melakukan persembahan.
Ketiga
bentuk pemujaan ini – pemujaan sehari-hari, hari suci dan perjalanan suci –
membantu kita untuk mewujudkan kesempurnaan dalam diri kita sendiri. Aspek keempat
yang menjadi inti pemujaan adalah Dharma, atau kehidupan yang luhur,
kehidupan yang tanpa ego dalam kewajiban dan perbuatan. Seseorang belajar untuk
tidak mementingkan diri sendiri dengan pertama memikirkan orang lain,
menghormati orang tua, atau yang lebih tua atau para orang suci, mengikuti
hukum spiritual – sebagai contoh Ahimsa,
yaitu tidak menyakiti secara fisik, mental dan emosional terhadap orang lain
atau makhluk lain.
Contoh
lain yaitu Sevanam, pelayanan kepada makhluk lain. Seorang pedagang bisa
menjadikan dirinya sebagai seorang yang materialis atau seorang yang spiritualis.
Ketika dalam aktivitas perdagangannya ia hanya memikirkan untung dan rugi
secara materi tanpa memikirkan bagaimana ia harus memberikan pelayanan yang
prima kepada pelanggannya, maka ia adalah seorang yang Materialis. Namun, jika ia juga berusaha memberikan pelayanan yang
prima kepada para pelanggannya, dan penuh kesadaran bahwa pelayanan adalah
salah satu bagian dari kehidupan yang berbudi luhur, dan tidak semata-mata
mengeruk keuntungan dari pelanggan, sehingga pelanggannya menjadi senang dan
merasa puas, maka ia adalah seorang pedagang yang Spiritualis. Maka sempurnalah ia sebagai seorang pedagang sejati.
Menjadikan kerjanya sebagai bentuk pelayanan kepada orang lain, bentuk pemujaan
kepada Tuhan melalui pelayanan.
SATRIYO JOWO
7 Juni 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar