Beranda

Rabu, 06 Juni 2018

Pluralisme dan multikulturalisme


Perubahan tata kehidupan di era global terjadi karena didukung oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa berbagai kemudahan. Kemudahan dimaksud seperti kecepatan berkomunikasi, persahabatn lintas tempat dengan hilangnya sekat-sekat batas wilayah antar daerah bahkan negara, kemudahan memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia baik yang bersifat ilmiah, popular dan instan, tetapi di sisi lain teknologi juga dapat berpengaruh negatif, mudahnya mendapatkan informasi yang bersifat sampah seperti gambar tak senonoh, juga pada bentuk penanaman paham yang bersifat agitasi (penyebaran kebencian) pada paham lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip bertuhan yang pluralis dan multikultural.



Pluralisme dan multikulturalisme adalah suatu paham yang mengajarkan keanekaragaman makna dalam memahami suatu realitas, dan menerima kebhinekaan sebagai suatu fakta. Jika pluralisme dan multikulturalisme ini direlasitaskan dengan ”Hindu” sebagai suatu realitas agama dan keagamaan yang memiliki ajaran-ajaran kebenaran yang sangat universal, dapat dipelajari dari berbagai perspektif oleh setiap orang dari suku bangsa mana pun, maka dikatakan penganut agama Hindu itu sangat bersifat pluralis dan multikultural. Realitas demikian itu sangat diterima oleh penganut Hindu dari suku, ras dan bangsa manapun. Sebab kitab suci sebagai kumpulan Sabda/Wahyu Tuhan yang diturunkan melalui orang-orang suci, berisi ajaran tentang hakekat cara bertuhan dan bermasyarakat, agar setiap umat manusia saling mengasihi, saling mencintai, saling menghormati dan menghargai antar manusia, bukan sebaliknya. Agama Hindu adalah sebuah ajaran keyakinan yang sangat menghargai pluralisme. Hindu berkembang melalui pluralisme dalam kultur penganutnya, sebab kepercayaan Hindu tidak seperti kepercayaan lain yang nampak cemas dengan munculnya berbagai paradigma plularis. Hindu tidak pernah mempatenkan suatu kebudayaan tertentu sebagai konsep menjalankan agama, bahasa atau ritual sebagai lambang atau tanda resmi dari agamanya. Pluralisme sesungguhnya merupakan identitas, ciri khas Hinduisme. Doktrin Hinduisme yang pluralisme itu sangat menghargai berbagai theisme atau paham ketuhanan dan memelihara (bukan penghancur) budaya lokal (local genius) dimanapun Hindu dianut. Doktrin Hinduisme yang pluralis itu tidak arogan, tidak pernah mengklaim suatu kebenaran sebagai kebenaran yang hanya menjadi milikinya sendiri, justru sangat menghargai betapapun kecilnya dan sederhananya suatu kebenaran. Sebab dalam paham Hinduisme tidak pernah mengadili atau menghina kebenaran lain, inilah sesungguhnya keindahan dari Hindu.

Negara kita sebenarnya telah menjamin kehidupan yang pluralis dan multikultur, memberikan kebebasan bagi setiap pemeluk agama dan keyakinan untuk melaksanakan aktivitas keagamaan masing-masing tanpa harus menggangu aktivitas apalagi menyakiti pengikut paham agama dan keyakinan lain dengan sesanti Bhineka Tunggal Ika yang bersumber dari konsep ajaran Hindu. Tetapi dalam faktanya sering kita melihat adanya benturan dan persinggungan di antara umat, bahkan sesama anak bangsa yang berbau SARA. Hinduisme mengajarkan bahwa, setiap orang dan kelompok orang bergerak maju dari kebenaran yang sederhana menuju kebenaran yang lebih tinggi sampai kebenaran tertinggi. Oleh sebab itu antara kebenaran-kebenaran itu tidak harus saling intervensi. Dengan demikian Hindu tak pernah cemas, gelisah, ragu apalagi berburuk sangka terhadap berbagai wacana ataupun penampilan dari berbagai macam keyakinan. Hinduisme sebagai kepercayaan spiritual yang paling tua di dunia, sangat dewasa dalam melihat pluralisme kebenaran.

Pluralisme dalam Hindu bukan berarti menyamaratakan Hindu dengan yang lain, tapi dalam artian bahwa Hindu tidak pernah menyatakan konsep kepercayaan yang lain sebagai suatu paham yang menyesatkan. Hindu tidak pernah menolak kebenaran lain, justru Hindu mengajarkan untuk hidup berdampingan dalam suasana damai dan toleran. Setiap manusia memiliki potensi-potensi di dalam dirinya seperti; intelek, emosi, perasaan, imajinasi dengan kapasitas yang berbeda-beda. Dengan kapasitasnya yang berbeda-beda, mereka semuanya berjuang untuk mengisi kehidupan ini dengan harapan untuk dapat sampai pada tujuan kehidupan tertinggi yaitu pembebasan (moksa). Oleh karena “pembebasan” atau “keselamatan” itu milik dan tujuan dari setiap manusia dalam kehidupan ini. Dalam Weda dijelaskan bahwa Tuhan memberikan banyak jalan kepada manusia yang dapat ditempuhnya, sesuai dengan bakat dan kemampuannya.  Dengan jalan bagaimanapun orang mendekati, dengan jalan yang sama itu juga Aku memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia mengikuti jalanku, oh Parta, demikian yang tetulis dalam Bhagavad-Gita.                                                                                       

Menyadari bahwa manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, maka Brahman memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mendekati diri-NYA dan memberikan kebebasan untuk memilih jalan yang mana saja untuk menuju kepada-NYA, asalkan jalan-jalan yang dipilih itu adalah jalan yang dibenarkan. Jalan-jalan itu antara lain adalah Janana Marga, Bhakti Marga, Karma Marga, Yoga Marga. Di samping itu Hindu juga mengenal konsep tentang Istadewata, yaitu pemahaman dan penghayatan tentang Tuhan, yang memungkinkan manusia untuk memiliki konsep tentang Tuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya. Secara umum dalam paham Hindu bahwa Tuhan dapat dipahami sebagai Tuhan yang transenden dan Tuhan yang imanen yang secara jelas kita temukan dalam pemikiran Advaita dari Sankara. Menurut Sankara Tuhan yang transenden adalah Tuhan yang tanpa sifat, Tuhan terbebas dari perbedaan-perbedaan, sehingga tidak dapat dibedakan oleh manusia yang pada dasarnya memiliki kecerdasan yang terbatas dengan kebodohan yang tanpa batas. Upanisad menyatakan bahwa Brahman itu Neti-Neti, artinya bukan ini dan bukan itu. Tidak seorangpun manusia mampu memikirkan dan mengenalinya. Namun Brahman yang Saguna (Imanen) adalah Tuhan dengan segala atributnya yang dapat didekati dan dikenal oleh manusia. Oleh karena kemampuan manusia dalam mengenalnya dengan tingkat serta kapasitas yang berbeda-beda dan atribut Tuhan yang tak terbatas, maka Saguna Brahman dikenal dengan tingkat keragaman yang tinggi, oleh karena kemampuan pengenalan manusia yang satu berbeda dengan pengenalan manusia yang lainnya. Dengan demikian ada kecenderungan bagi mereka yang masih awam untuk menyimpulkan bahwa, di dalam Hindu ada banyak Tuhan, atau Hindu adalah agama yang Politeistis. Tentu saja kesimpulan seperti ini keliru, karena Nirguna Brahman dan Saguna Brahman adalah Advaita (tidak dua) hanyalah satu, Tuhan itu Esa. Dalam hal ini terkandung konsep dasar tentang kebebasan pada setiap manusia untuk memuliakan Istadewatanya masing-masing dengan perbedaan-perbedaan yang ada, tanpa harus dipertentangkan satu dengan yang lainnya.

Oleh karena itu pluralisme dalam konsep Hindu bukan ditabukan, tetapi justru sebaliknya disediakan dan direkomendasikan bagi setiap insan yang ada dimuka bumi ini. Pluralitas adalah suatu keharusan, suatu keniscayaan, yang tak dapat dipungkiri. Kontek ajaran Aku adalah Engkau (Tat Tvam Asi), maknanya sangat tepat bahwa tidak satu orangpun dapat mengklaim dirinya lebih mulia dari yang lainnya serta memiliki jalan terbaik dan satu-satunya jalan untuk sampai kepada-Nya, apalagi dengan cara sampai menyakiti yang lain (himsa). Oleh karena itu doa-doa dalam Hindu tidak hanya semata mendoakan keselamatan diri sendiri yang berdoa, tetapi juga untuk keselamatan orang lain, umat lainnya dan bahkan sampai kepada keselamatan seluruh alam semesta dan isinya.

Ungkapan sarva dharma samabhāva dalam konsep Hindu secara harfiah diartikan bahwa semua dharma/kebenaran adalah sejalan dan saling selaras satu sama lainnya. Secara teologis-filosofis Hindu meskipun mengenal beribu nama dewa tetapi pada dasarnya mengagungkan Tuhan Yang Maha Tunggal (monoteistis) yang disebut Brahman. Sesuai dengan pandangan teologi-pluralisme yang dianut, Hindu mengakui adanya kebenaran pada agama-agama. Pemahaman konsep teologis dan kesadaran filsafati bahwa Tuhan itu hanya satu merupakan landasan yang sangat penting dalam pendidikan agama pluralis-multikultural. Karena adanya agama dan kepercayaan yang bermacam-macam (sarva dharma) semata-mata sebagai media atau “jalan” yang terkait dengan konteks historis dan sosiologis. Dengan demikian semua jalan agama dan kepercayaan yang ditempuh oleh umat manusia untuk memahami hakikat Sang Pencipta secara filosofis adalah sama, yakni penyadaran dan pencerahan mental-spiritual manusia sebagai manusia religius. Jadi religiusitas merupakan inti terdalam dari kesadaran keagamaan/ kepercayaan tertentu yang dianut secara formal. Dengan kesadaran filosofis sarva dharma samabhava ini, setiap orang terpelajar yang mengaku beragama tentu sekaligus juga memiliki pemahaman multi-religius dan sikap menghargai agama dan kepercayaan yang lain, sehingga eksklusivitas agama dapat direduksi.

Berdasarkan pola pikir demikian itu, pemeluk agama Hindu tidak hanya beraneka ragam dalam tataran suku dan bangsa yang memiliki budaya-budaya tersendiri, tetapi juga menimbulkan keanekaragaman dalam memahami ajaran agama Hindu itu sendiri, sehingga menimbulkan banyak sampradaya. Dalam konteks demikian inilah pluralisme Hinduharus dipahami dan diorientasikan dalam kegiatan penyelenggaraan ketatakenegaraan. Dapat ditegaskan bahwa pemahaman integral terhadap maknawi dari Pluralisme secara imperatif harus diaktualisasikan dan diejawantahkan. Jika direlasitaskan dengan kondisi riil bahwa di satu pihak bahwa bangsa Indonesia menganut banyak agama, maka sudah dapat dipastikan bahwa agama harus kohesif dengan budaya dari suku bangsa dan ajaran itu sendiri. Membangun masa depan bangsa yang agamis dan humanis adalah usaha yang segera dan mendesak dilakukan, sebab bila hal ini dapat diwujudkan, maka nilai-nilai etika dan moralitas bangsa akan tegak dengan sendirinya. Dalam hal inilah”pluralisme” harus diakomodasi, diapresiasi serta harus direfleksikan serta diorientasikan dalam setiap kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan keagamaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam menjalan ajaran agama di era global, setiap umat beragama semestinya menyadari dan mampu mempraktikkan prinsip pluralisme secara totalitas, bukan hanya sebatas wacana tetapi dalam tindakan nyata.

AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...