Perubahan tata kehidupan di era global terjadi karena didukung oleh
perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa berbagai kemudahan. Kemudahan
dimaksud seperti kecepatan berkomunikasi, persahabatn lintas tempat dengan hilangnya
sekat-sekat batas wilayah antar daerah bahkan negara, kemudahan memperoleh
informasi dari berbagai belahan dunia baik yang bersifat ilmiah, popular dan instan,
tetapi di sisi lain teknologi juga dapat berpengaruh negatif, mudahnya
mendapatkan informasi yang bersifat sampah seperti gambar tak senonoh, juga pada
bentuk penanaman paham yang bersifat agitasi (penyebaran kebencian) pada paham
lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip bertuhan yang pluralis dan
multikultural.Pluralisme dan multikulturalisme adalah suatu paham yang mengajarkan keanekaragaman makna dalam memahami suatu realitas, dan menerima kebhinekaan sebagai suatu fakta. Jika pluralisme dan multikulturalisme ini direlasitaskan dengan ”Hindu” sebagai suatu realitas agama dan keagamaan yang memiliki ajaran-ajaran kebenaran yang sangat universal, dapat dipelajari dari berbagai perspektif oleh setiap orang dari suku bangsa mana pun, maka dikatakan penganut agama Hindu itu sangat bersifat pluralis dan multikultural. Realitas demikian itu sangat diterima oleh penganut Hindu dari suku, ras dan bangsa manapun. Sebab kitab suci sebagai kumpulan Sabda/Wahyu Tuhan yang diturunkan melalui orang-orang suci, berisi ajaran tentang hakekat cara bertuhan dan bermasyarakat, agar setiap umat manusia saling mengasihi, saling mencintai, saling menghormati dan menghargai antar manusia, bukan sebaliknya. Agama Hindu adalah sebuah ajaran keyakinan yang sangat menghargai pluralisme. Hindu berkembang melalui pluralisme dalam kultur penganutnya, sebab kepercayaan Hindu tidak seperti kepercayaan lain yang nampak cemas dengan munculnya berbagai paradigma plularis. Hindu tidak pernah mempatenkan suatu kebudayaan tertentu sebagai konsep menjalankan agama, bahasa atau ritual sebagai lambang atau tanda resmi dari agamanya. Pluralisme sesungguhnya merupakan identitas, ciri khas Hinduisme. Doktrin Hinduisme yang pluralisme itu sangat menghargai berbagai theisme atau paham ketuhanan dan memelihara (bukan penghancur) budaya lokal (local genius) dimanapun Hindu dianut. Doktrin Hinduisme yang pluralis itu tidak arogan, tidak pernah mengklaim suatu kebenaran sebagai kebenaran yang hanya menjadi milikinya sendiri, justru sangat menghargai betapapun kecilnya dan sederhananya suatu kebenaran. Sebab dalam paham Hinduisme tidak pernah mengadili atau menghina kebenaran lain, inilah sesungguhnya keindahan dari Hindu.
Negara kita sebenarnya telah menjamin kehidupan yang pluralis dan multikultur, memberikan
kebebasan bagi setiap pemeluk agama dan keyakinan untuk melaksanakan aktivitas
keagamaan masing-masing tanpa harus menggangu aktivitas apalagi menyakiti
pengikut paham agama dan keyakinan lain dengan sesanti Bhineka Tunggal Ika yang bersumber dari konsep ajaran
Hindu. Tetapi dalam faktanya sering kita melihat adanya benturan dan
persinggungan di antara umat, bahkan sesama anak bangsa yang berbau SARA. Hinduisme mengajarkan bahwa, setiap orang dan kelompok
orang bergerak maju dari kebenaran yang sederhana menuju kebenaran yang lebih
tinggi sampai kebenaran tertinggi. Oleh sebab itu antara kebenaran-kebenaran
itu tidak harus saling intervensi. Dengan demikian Hindu tak pernah cemas,
gelisah, ragu apalagi berburuk sangka terhadap berbagai wacana ataupun
penampilan dari berbagai macam keyakinan. Hinduisme sebagai kepercayaan
spiritual yang paling tua di dunia, sangat dewasa dalam melihat pluralisme
kebenaran.
Pluralisme dalam Hindu bukan berarti
menyamaratakan Hindu dengan yang lain, tapi dalam artian bahwa Hindu tidak
pernah menyatakan konsep kepercayaan yang lain sebagai suatu paham yang menyesatkan.
Hindu tidak pernah menolak kebenaran lain, justru Hindu mengajarkan untuk hidup
berdampingan dalam suasana damai dan toleran. Setiap
manusia memiliki potensi-potensi di dalam dirinya seperti; intelek, emosi,
perasaan, imajinasi dengan kapasitas yang berbeda-beda. Dengan kapasitasnya
yang berbeda-beda, mereka semuanya berjuang untuk mengisi kehidupan ini dengan
harapan untuk dapat sampai pada tujuan kehidupan tertinggi yaitu pembebasan (moksa). Oleh karena “pembebasan” atau
“keselamatan” itu milik dan tujuan dari setiap manusia dalam kehidupan ini. Dalam
Weda dijelaskan bahwa Tuhan memberikan banyak jalan kepada manusia yang dapat
ditempuhnya, sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Dengan jalan bagaimanapun orang mendekati,
dengan jalan yang sama itu juga Aku
memenuhi keinginan mereka, melalui banyak jalan manusia mengikuti jalanku, oh
Parta, demikian yang tetulis dalam Bhagavad-Gita.
Menyadari bahwa manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, maka
Brahman memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mendekati diri-NYA dan
memberikan kebebasan untuk memilih jalan yang mana saja untuk menuju kepada-NYA,
asalkan jalan-jalan yang dipilih itu adalah jalan yang dibenarkan. Jalan-jalan
itu antara lain adalah Janana Marga, Bhakti Marga, Karma Marga, Yoga Marga. Di samping
itu Hindu juga mengenal konsep tentang Istadewata, yaitu pemahaman dan
penghayatan tentang Tuhan, yang memungkinkan manusia untuk memiliki konsep
tentang Tuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya. Secara umum dalam paham
Hindu bahwa Tuhan dapat dipahami sebagai Tuhan yang transenden dan Tuhan yang imanen
yang secara jelas kita temukan dalam pemikiran Advaita dari Sankara. Menurut
Sankara Tuhan yang transenden adalah Tuhan yang tanpa sifat, Tuhan terbebas
dari perbedaan-perbedaan, sehingga tidak dapat dibedakan oleh manusia yang pada
dasarnya memiliki kecerdasan yang terbatas dengan kebodohan yang tanpa batas.
Upanisad menyatakan bahwa Brahman itu Neti-Neti, artinya bukan ini dan bukan
itu. Tidak seorangpun manusia mampu memikirkan dan mengenalinya. Namun Brahman
yang Saguna (Imanen) adalah Tuhan dengan segala atributnya yang dapat didekati
dan dikenal oleh manusia. Oleh karena kemampuan manusia dalam mengenalnya
dengan tingkat serta kapasitas yang berbeda-beda dan atribut Tuhan yang tak terbatas,
maka Saguna Brahman dikenal dengan tingkat keragaman yang tinggi, oleh karena
kemampuan pengenalan manusia yang satu berbeda dengan pengenalan manusia yang
lainnya. Dengan demikian ada kecenderungan bagi mereka yang masih awam untuk
menyimpulkan bahwa, di dalam Hindu ada banyak Tuhan, atau Hindu adalah agama
yang Politeistis. Tentu saja kesimpulan seperti ini keliru, karena Nirguna
Brahman dan Saguna Brahman adalah Advaita (tidak dua) hanyalah satu, Tuhan itu
Esa. Dalam hal ini terkandung konsep dasar tentang kebebasan pada setiap
manusia untuk memuliakan Istadewatanya masing-masing dengan perbedaan-perbedaan
yang ada, tanpa harus dipertentangkan satu dengan yang lainnya.
Oleh karena itu pluralisme dalam konsep Hindu bukan ditabukan,
tetapi justru sebaliknya disediakan dan direkomendasikan bagi setiap insan yang
ada dimuka bumi ini. Pluralitas adalah suatu keharusan, suatu keniscayaan, yang
tak dapat dipungkiri. Kontek ajaran Aku adalah Engkau (Tat Tvam Asi), maknanya sangat tepat bahwa tidak satu orangpun
dapat mengklaim dirinya lebih mulia dari yang lainnya serta memiliki jalan
terbaik dan satu-satunya jalan untuk sampai kepada-Nya, apalagi dengan cara sampai
menyakiti yang lain (himsa). Oleh
karena itu doa-doa dalam Hindu tidak hanya semata mendoakan keselamatan diri
sendiri yang berdoa, tetapi juga untuk keselamatan orang lain, umat lainnya dan
bahkan sampai kepada keselamatan seluruh alam semesta dan isinya.
Ungkapan sarva dharma
samabhāva dalam konsep Hindu secara harfiah diartikan bahwa semua
dharma/kebenaran adalah sejalan dan saling selaras satu sama lainnya. Secara
teologis-filosofis Hindu meskipun mengenal beribu nama dewa tetapi pada
dasarnya mengagungkan Tuhan Yang Maha Tunggal (monoteistis) yang disebut
Brahman. Sesuai dengan pandangan teologi-pluralisme yang dianut, Hindu mengakui
adanya kebenaran pada agama-agama. Pemahaman konsep teologis dan kesadaran
filsafati bahwa Tuhan itu hanya satu merupakan landasan yang sangat penting
dalam pendidikan agama pluralis-multikultural. Karena adanya agama dan
kepercayaan yang bermacam-macam (sarva dharma) semata-mata sebagai media atau
“jalan” yang terkait dengan konteks historis dan sosiologis. Dengan demikian
semua jalan agama dan kepercayaan yang ditempuh oleh umat manusia untuk
memahami hakikat Sang Pencipta secara filosofis adalah sama, yakni penyadaran
dan pencerahan mental-spiritual manusia sebagai manusia religius. Jadi
religiusitas merupakan inti terdalam dari kesadaran keagamaan/ kepercayaan
tertentu yang dianut secara formal. Dengan kesadaran filosofis sarva dharma samabhava ini, setiap
orang terpelajar yang mengaku beragama tentu sekaligus juga memiliki pemahaman
multi-religius dan sikap menghargai agama dan kepercayaan yang lain, sehingga
eksklusivitas agama dapat direduksi.
Berdasarkan pola pikir demikian itu, pemeluk agama Hindu tidak hanya
beraneka ragam dalam tataran suku dan bangsa yang memiliki budaya-budaya
tersendiri, tetapi juga menimbulkan keanekaragaman dalam memahami ajaran agama
Hindu itu sendiri, sehingga menimbulkan banyak sampradaya. Dalam konteks
demikian inilah ”pluralisme Hindu” harus dipahami dan
diorientasikan dalam kegiatan penyelenggaraan ketatakenegaraan. Dapat ditegaskan
bahwa pemahaman integral terhadap maknawi dari Pluralisme secara
imperatif harus diaktualisasikan dan diejawantahkan. Jika direlasitaskan dengan
kondisi riil bahwa di satu pihak bahwa bangsa Indonesia menganut banyak agama,
maka sudah dapat dipastikan bahwa agama harus kohesif dengan budaya dari suku
bangsa dan ajaran itu sendiri. Membangun masa depan bangsa yang agamis dan
humanis adalah usaha yang segera dan mendesak dilakukan, sebab bila hal ini
dapat diwujudkan, maka nilai-nilai etika dan moralitas bangsa akan tegak dengan
sendirinya. Dalam hal inilah”pluralisme” harus diakomodasi,
diapresiasi serta harus direfleksikan serta diorientasikan dalam setiap
kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan keagamaan. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa dalam menjalan ajaran agama di era global, setiap umat beragama
semestinya menyadari dan mampu mempraktikkan prinsip pluralisme secara
totalitas, bukan hanya sebatas wacana tetapi dalam tindakan nyata.
AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar