Beranda

Rabu, 06 Juni 2018

Pandangan Hindu tentang kemajemukan bangsa, persatuan dan warga negara

Kemajemukan atau keberagaman bukan hanya sebagai sebuah realitas sosial. UUD 1945 menyatakan dgn jelas bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Karena itulah ditegaskan bahwa semua agama memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang, termasuk pemeluknya untuk menjalankan agamanya secara bebas. Pemeluk agama tertentu tidak boleh memaksa pemeluk agama lainnya untuk pindah agama sebagaimana realita yang kita lihat selama ini. Setiap orang memiliki hak dasar untuk memeluk agama yang berarti kebebasan dan kewenangan seseorang untuk menganut suatu agama yang tercantum dalam Pustaka Suci Veda, khususnya Bhagavadgita.

Umat Hindu menghormati kebenaran dari manapun datangnya dan menganggap bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu menuju Tuhan, namun dengan berbagai sudut pandang dan cara pelaksanaan yang berbeda. Hal ini diuraikan dalam Bhagavadgita IX.29 yang berbunyi:

samo ‘ham sarvabhuutesu
na me dvesyo ‘sti na priyah
ye bhajanti tu maam bhaktyaa
mayi te tesu caa ‘py aham

Aku bersikap adil pada semua makhluk, tidak ada yang paling Ku-benci ataupun yang paling Ku-kasihi, akan tetapi mereka yang berbhakti kepada-Ku, maka dia ada dalam Diri-Ku dan Aku ada dalam dirinya.


Begitu pula Bhagavadgita IV.11 yang menyatakan:

ye yathaa mam prapadyante
tams tathaiva bhajamy aham
mama vartmanuvartante
manusyah partha sarvasah

Jalan manapun yang ditempuh seseorang mendekati-Ku, Aku terima, melalui banyak jalan manusia mengikuti jalan-Ku, wahai Arjuna.

Selanjutnya Bhagavadgita VII.21 juga menyatakan:

yo-yo yam-yam tanum bhaktah
sraddhayarcitum icchati
tasya-tasya calam sraddham
tam eva vidadhamy aham

Apapun bentuk pemujaan yang ingin dilakukan oleh para bhakta dengan penuh keyakinan, Aku menjadikan bentuk keyakinannya itu menjadi mantap.

Pandangan Hindu tentang kebhinekaan dan kewarganegaraan juga tertuang dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada jaman Majapahit saat pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Dalam kitab ini terdapat ungkapan yang dipetik oleh para pendiri bangsa yaitu pada pupuh 139 (bait V) yang dijadikan motto dalam Garuda Pancasila sebagai lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang selengkapnya berbunyi:

hyang buddha tanpahi siwa rajadewa
rwaneka dhatu winuwus buddha wiswa
bhineki rakwan ring apan kena parwanesen
mangkana jiwatman kalawan siwatattwa tunggal
bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa      

Hyang Buddha tiada berbeda dengan Siwa Mahadewa, keduanya merupakan sesuatu yang satu, tiada mungkin memisahkan satu dengan lainnya, berbeda keadaannya namun satu jua adanya, karena tiada kebenaran yang mendua.

Semboyan “bhinneka tunggal ika” yang telah ditorehkan pada Garuda Pancasila sebagai lambang NKRI telah menginspirasi banyak orang bahwa sesungguhnya umat manusia di Indonesia dapat dipersatukan dalam wadah keberagaman. Atharwaweda VII.52.1 yang berbunyi

Samjnanam nah svebhih samjnanam aranebhih, 
samjnanam asvina yuvam ihasmasu ni yacchatam

Hendaknya harmonis diantara kamu baik dengan orang-orang yang dikenal maupun dengan orang asing sekalipun. Semogalah Dewa Asvin memberikan anugerah untuk keharmonisan.

Bahkan Hindu memandang bahwa orang hina dan binatang sekalipun adalah sama, sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavadgita V.18:
vidya vinaya sampanne
brahmane gavi hastini
suni caiva svapake ca
panditah sama darsinah

Orang bijaksana melihat semuanya sama, baik dalam melihat brahmana budiman nan rendah hati maupun seekor sapi, gajah, dan anjing ataupun orang yang rendah sekalipun.


AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...