“Jika
ada perempuan yang demikian anakku, perempuan itu namanya Nariswari. Dia adalah
perempuan yang paling utama, anakku,” jawab Dang Hyang Lohgawe ketika ditanya
Ken Angrok dalam naskah Pararaton.
Empat tipe
perempuan antara lain padmini, citrini, sankini, dan hastini.
![]() |
| sumber: http://solo.tribunnews.com |
Tipe
pertama, padmini memiliki ciri fisik: matanya seperti mata kijang dengan
ujung-ujung kemerahan; hidungnya kecil dan bentuknya bagus; wajahnya bagaikan
bulan purnama yang keemasan seperti bunga cempaka; lehernya halus dan luwes;
buah dada yang penuh dan tinggi; pusarnya dikelilingi tiga garis lipatan;
kulitnya halus seperti kelopak bunga sirsa; suaranya manis mengalun; kalau
jalan seperti angsa; wataknya pemalu, menyenangkan, pemurah, setia, memiliki
rasa keagamaan, dan bertingkah terhormat.
Tipe
kedua, citrini memiliki tinggi badan sedang, ramping, dengan pinggul
besar; rambutnya hitam lebat; matanya lincah dengan bibir yang penuh seperti
buah bimba; lehernya membulat seperti siput dan luwes; dadanya besar dan berat
dengan badan yang lentur; suaranya seperti suara merak; jalannya seperti gajah.
Tipe ini tidak begitu tinggi sifat spiritualnya. Namun, ia mahir dan bercita
rasa tinggi dalam kesenian. Ia suka mengenakan pakaian dan perhiasan yang
bagus. Ia pandai bicara dan bebas mengutarakan pendapat. Pandai mengatur urusan
rumah tangga. Pun senang dikagumi laki-laki.
Tipe
ketiga, sankini, memiliki ciri-ciri berbadan kurus, tinggi, kekar,
berdarah hangat, dengan lengan dan tungkai yang panjang; pinggangnya besar
dengan buah dada yang kecil; di bawah kulitnya yang sawo matang terlihat
urat-urat nadi; wajahnya berbentuk lonjong dan mendongak; suaranya serak; kalau
berjalan cepat seperti terburu-buru; ia cerdik juga sopan. Meski begitu,
perempuan tipe ini selalu mencari kesempatan untuk menguntungkan dirinya
sendiri; ia egois namun tetap pandai bersikap seolah pemurah; ia punya sifat
keras kepala dan buruk hatinya, namun mampu menyembunyikannya. Ia banyak bicara
dan banyak makan.
Tipe
terakhir, hastini, bertubuh pendek, gemuk, buruk rupa; mulutnya besar
dengan bibir yang tebal; matanya kecil dan merah; wajahnya pucat, tidak
bersinar; lehernya pendek atau kalau panjang bentuknya bengkok; kalau berjalan
pelan dan tidak enak dilihat; sifatnya kejam dan tak punya malu.
Menurut beberapa
arkeolog Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, keempat tipe
perempuan Jawa Kuno ini mewakili empat warna dalam Hindu: Brahmana, Ksatrya,
Waisya, dan Sudra. Putri yang digambarkan dalam teks sastra dan relief candi
masuk ke dalam tipe citrini. Sementara para pengiring putri dan putra raja atau
para emban dimasukkan dalam kriteria hastini.
Dalam
relief kisah Arjunawiwaha di Gua Selomangleng, Tulungagung misalnya, tokoh Panakawan,
baik perempuan maupun laki-laki digambarkan berbadan serba gemuk dengan mulut
lebar dan bibir tebal. Contoh perempuan tipe padmini terdapat dalam teks Sri
Tanjung. Ia merupakan perempuan yang tinggal di sebuah wanasrama. Ini mengacu
pada kasta Brahmana. Ia digambarkan pula sebagai perempuan berkulit halus,
cantik, tenang, dan jalannya seperti angsa.
Meski
begitu, ada perbedaan penggambaran putri raja dalam teks tadi dengan prasasti.
Jika dalam teks sastra yang sesuai dengan teks India mereka masuk ke dalam tipe
citrini, sedangkan dalam prasasti mereka dimasukkan dalam tipe padmini. Itu
seperti deskripsi dalam Prasasti Kayumwunan (824 M) yang menyebut
Pramodyawarddhani, permaisuri Rakai Pikatan, raja keenam Kerajaan Medang
(Mataram Kuno) cara berjalannya seperti angsa, suaranya bagaikan tekukur,
matanya bagaikan menjangan. Ciri ini lebih mirip dengan tipe padmini.
![]() |
| sumber: jawakuno.com |
Hal yang
sama juga diungkapkan dalam Prasasti Pucanan (1037 M). Prasasti ini melukiskan
Sri Isanatunggawijaya bagaikan seekor angsa yang mempesona karena tinggal di
telaga Manasa yang suci. Ini kemungkinan karena Pramodhawarddhani maupun
Isanatunggawijaya adalah putri raja yang sangat taat pada agama sehingga lebih
pantas dimasukkan ke dalam tipe padmini atau mereka tipe perempuan paling baik
yang di dalam bahasa Jawa disebut dengan padmanagara.
AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat


Tidak ada komentar:
Posting Komentar