Hal yang paling utama dalam beragama menurut Hindu adalah
kesadaran diri pribadi masing-masing dengan segala keyakinannya karena Hindu
lebih mendasarkan ajarannya pada cinta kasih kepada setiap orang, persaudaraan,
dan saling menghargai dalam kesetaraan bagi semua makhluk, tanpa dilandasi
kebencian dan kekerasan. Agama Hindu tidak pernah
mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan kegiatan beragama yang dilandasi
oleh rasa ketakutan yang berlebihan baik takut akan berbagai ancaman hukuman,
takut Tuhan akan marah apabila dianggap kurang dalam menghaturkan persembahan
atau ketakutan-ketakutan lainnya.
Harus kita akui bahwa dalam kenyataannya
pilihan agama tidak sepenuhnya diawali berdasarkan kesadaran diri untuk menentukan
pilihan dari berbagai alternatif yang ada namun lebih dominan diperoleh dari
ketururnan/orang tua sehingga memiliki konsekwensi logis hanya memahami ajaran
agama yang telah ditentukan sejak lahir dan tidak pernah memiliki pemahaman
tentang ajaran agama lain sebagai pembanding. Kondisi ini bisa jadi berpotensi
menimbulkan militansi dan fanatisme agama yang berlebihan atau dapat pula
menimbulkan kelatahan ritual yang acapkali tanpa pemahaman tentang kedalaman maknanya
karena melaksanakan ritual yajna hanya mengikuti
warisan turun temurun, kemudian dihantui ketakutan karena bersembunyi dibalik kata
“nak mule keto“.

