Jawa Barat
adalah cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Boleh dibilang Jawa
Barat-lah leluhurnya para Raja-raja
diseluruh Nusantara. Pada abad ke II Masehi banyak datang para pedagang dari
India dengan dikawal oleh para prajurit yang sangat tangguh. Lalu terjadi
interaksi yang bukan hanya interaksi perdagangan tetapi interaksi budaya, agama
dan lain-lain. Sebelum ada kerajaan Kutai pada abad ke IV Masehi, pada
abad ke II Masehi di Jawa Barat sudah
ada kerajaan Hindu yaitu Salakanagara, dan ternyata Kudungga yang ada di Kutai
ada hubungan saudara dengan Raja Salakanagara yang ke VIII. Dan karena Kudungga
hanya punya anak perempuan maka mengadopsi anak kedua dari Raja Salakanagara tersebut
yaitu Aswawarman dan dikawinkan dengan putrinya dan menjadi Raja di Kutai yang
kemudian melahirkan Mulawarman, yang membawa Kutai mencapai kejayaannya. Raja-raja
Salakanagara juga melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raja-raja di
Sumatera dan Jawa Tengah, bahkan Majapahit mengganggap Jawa Barat adalah
leluhur mereka. Karena ternyata kakeknya Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan
Majapahit), orang tua dari Lembu Tal (Ayah Raden Wijaya) adalah orang Sunda
yang masih keturunan Raja-raja Jawa Barat. Karena itulah pada masa Raja Hayam
Wuruk ketika majapahit mencapai puncak kejayaan, Beliau berpesan kepada
Mahapatih Gajah Mada agar jangan berperang dengan Jawa Barat karena dosa besar
apabila berperang menundukkan tanah leluhurnya sendiri. Dari uraian sekilas inilah
dapat disimpulkan bahwa Salakanagara adalah Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara.
Tidak tahu pasti mengapa dari awal tidak dimunculkan bahwa Kerajaan tertua
adalah Salakanagara di Jawa Barat. Sejarah ini secara detail Media Hindu sudah
pernah memuatnya di Edisi yang sebelumnya, karena itulah penulis tidak akan
mengulanginya lebih jauh.
Pada hari sabtu
malam tanggal 7 Juli 2012, Ibu Melati Astisuka, seorang tokoh spiritual yang
pernah dimuat MH di edisi sebelumnya, datang ke Pura Angkasa Amertha Dharma Jati
yang ada di Atang Senjaya Bogor untuk melakukan Puja, dan pada kesempatan itu
juga dihadiri oleh beberapa umat dan pengurus pura termasuk penulis sendiri
sebagai penyuluh yang diundang. Acara dimulai pukul 22.30 diawali dengan Japa
yang ditujukan ke berbagai Ista Devata. Ketika Japa baru beberapa saat dimulai
dengan mantra Ganesa, penulis secara pribadi merasakan sesuatu aliran energi
yang sangat besar dan dahsyat, juga sesuatu kedamaian yang luar biasa. Sesudah
Japa selesai Ibu Melati meminta kepada Ibu Aryani yang mengiringi beliau untuk
mengidungkan kidung sakral Sunda yaitu Sapu Nyere Pegat Simpai, menurutnya itu
atas dasar permintaan batara-batari dalam penglihatan spiritualnya yang
merupakan leluhur di Jawa Barat. Lagi-lagi kidung ini membuat bulu kudu penulis
merinding.
Sapu
Nyere Pegat Simpay
Ririungan urang
karumpul
Meungpeung
deukeut hayu urang sosonoan
Macangkrama bari
ngawadul
Urang silih
tempas silih aledan
Moal lila jeung
babaturan
Hiji wanci anu
geus ditangtukeun
Bakal pisah
bakal pajauh
Bakal mopohokeun
katineung urang
Sapu nyere pegat
simpai, bakal kasorang
Takdir ti gusti hyang widhi, pasti kalakon
Urang rek
papisah, urang rek pajauh
Meungpeung
deukeut, hayu urang sosonoan
Selesai Japa
dilanjutkan yang terakhir yaitu Puja Tri Sandhya yang dipimpin oleh Pemangku
Ketut Wirya Suta. Setelah itu acara dilanjutkan dengan diskusi. Dalam diskusi
tersebut Ibu Melati mengatakan bahwa Pura Angkasa Amertha Dharma Jati tersebut
didominasi oleh energi Siva dan Saraswati. Kemudian juga dijelaskan bahwa pada
saat Japa banyak sekali leluhur Jawa Barat yang hadir dan termasuk Kanjeng Ratu
Kidul yang dianggapnya sebagai Ibunya sendiri. Katanya mengapa banyak para
leluhur Jawa Barat, batara-batari dan bahkan Kanjeng Ratu Kidul hadir, itu
karena pura tersebut energinya masih sangat murni. Ini bukan berarti beliau
menjelekkan pura-pura lain, tetapi dari kaca spiritualnya dalam kenyataannya
seperti itu. Bahwa Pura Angkasa Amertha Dharma Jati kemungkinan besar akan
menjadi Pura yang merupakan cikal bakal bangkitnya Hindu Sunda, dimana Hindu
berbagai aliran bisa diterima dipura tersebut. Kejayaan yang pernah terjadi
pada masa Salakanagara dan Pajajaran akan bangkit dari pura ini. Menurutnya
bahwa hendaknya kidung Sapu Nyere Pegat Simpai dilantunkan dalam setiap acara
persembahyangan dan juga disertai beberapa sesajen Sunda, meskipun tidak
lengkap, dikolaborasikan dengan sesajen Bali. Beliau juga menjelaskan bahwa
suatu saat ada beberapa peninggalan sejarah yang muncul yang ada hubungannya
dengan pura tersebut. Dalam diskusi tersebut juga diwarnai dengan
pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi. Terakhir beliau memberi pesan
kepada umat agar seiring sejalan bersatu padu dalam menjalankan
kegiatan-kegiatan spiritual di pura tersebut. Acara berakhir pukul 03.00 pagi.
Analisa penulis
bahwa banyak sekali keterangan dari Ibu Melati Astisuka cocok dengan keterangan
dari Pak Dewa Suratnaya yang ketika pertama kali datang ke pura dan mengatakan
kepada penulis “Wah kamu punya pura HEBAT BANGET gus, luar biasa ini!” (Pak
Dewa Suratnaya juga memberikan beberapa penjelasan) dan juga dengan
pengalaman-pengalaman pak Jaya (penunggu pura keturunan Sunda Wiwitan) yang dia
anggap aneh dan tidak masuk akal. Dan juga keterangan dari seorang umat yang
anaknya pernah mengalami trance,
bahwa energi Siva dan Saraswati mendominasi pura tersebut. Dari pengalaman
penulis sendiri yang sering bermeditasi disana memang begitulah adanya pura
tersebut, SANGAT LUAR BIASA.
Jadi menurut
penuturan umat yang hadir pada saat itu, sungguh sesuatu yang belum pernah
dirasakan sebelumnya dalam acara-acara persembahyangan yang lain, pengalaman
yang benar-benar baru dan luar biasa. Dan beberapa umat mengatakan sangat
disayangkan mereka yang enak-enak tidur dirumah padahal sudah diberi tahu.
Cerita-cerita
tersebut diatas memang tidak bisa diterima dengan LOGIKA, karena memang bukan
dalam tingkatan LOGIKA, melainkan dapat diterima dengan RASA yang disertai
KEPASRAHAN, pesan penulis saat melakukan pemujaan bermainlah dengan RASA, bukan
LOGIKA. Rasakan suara nafas kita sendiri saat pranayama, rasakan suara mantra
yang kita ucapkan sendiri, jangan membayangkan apapun, karena Brahman / Hyang
Widhi tidak dapat dibayangkan, tetapi dapat dirasakan. Energi alam semesta
hanya dapat dirasakan, bukan dibayangkan. Dengan begitu maka anda akan
mengalami pengalaman spiritual yang luar biasa damai, tenang, nyaman dan
sesungguhnya tidak terkatakan.
Oleh:
AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar