Beranda

Jumat, 06 Juli 2018

Membangkitkan Hindu Jawa Barat – Sunda



Jawa Barat adalah cikal bakal kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara. Boleh dibilang Jawa Barat-lah  leluhurnya para Raja-raja diseluruh Nusantara. Pada abad ke II Masehi banyak datang para pedagang dari India dengan dikawal oleh para prajurit yang sangat tangguh. Lalu terjadi interaksi yang bukan hanya interaksi perdagangan tetapi interaksi budaya, agama dan lain-lain. Sebelum ada kerajaan Kutai pada abad ke IV Masehi, pada abad  ke II Masehi di Jawa Barat sudah ada kerajaan Hindu yaitu Salakanagara, dan ternyata Kudungga yang ada di Kutai ada hubungan saudara dengan Raja Salakanagara yang ke VIII. Dan karena Kudungga hanya punya anak perempuan maka mengadopsi anak kedua dari Raja Salakanagara tersebut yaitu Aswawarman dan dikawinkan dengan putrinya dan menjadi Raja di Kutai yang kemudian melahirkan Mulawarman, yang membawa Kutai mencapai kejayaannya. Raja-raja Salakanagara juga melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi raja-raja di Sumatera dan Jawa Tengah, bahkan Majapahit mengganggap Jawa Barat adalah leluhur mereka. Karena ternyata kakeknya Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan Majapahit), orang tua dari Lembu Tal (Ayah Raden Wijaya) adalah orang Sunda yang masih keturunan Raja-raja Jawa Barat. Karena itulah pada masa Raja Hayam Wuruk ketika majapahit mencapai puncak kejayaan, Beliau berpesan kepada Mahapatih Gajah Mada agar jangan berperang dengan Jawa Barat karena dosa besar apabila berperang menundukkan tanah leluhurnya sendiri. Dari uraian sekilas inilah dapat disimpulkan bahwa Salakanagara adalah Kerajaan Hindu Tertua di Nusantara. Tidak tahu pasti mengapa dari awal tidak dimunculkan bahwa Kerajaan tertua adalah Salakanagara di Jawa Barat. Sejarah ini secara detail Media Hindu sudah pernah memuatnya di Edisi yang sebelumnya, karena itulah penulis tidak akan mengulanginya lebih jauh.
Pada hari sabtu malam tanggal 7 Juli 2012, Ibu Melati Astisuka, seorang tokoh spiritual yang pernah dimuat MH di edisi sebelumnya, datang ke Pura Angkasa Amertha Dharma Jati yang ada di Atang Senjaya Bogor untuk melakukan Puja, dan pada kesempatan itu juga dihadiri oleh beberapa umat dan pengurus pura termasuk penulis sendiri sebagai penyuluh yang diundang. Acara dimulai pukul 22.30 diawali dengan Japa yang ditujukan ke berbagai Ista Devata. Ketika Japa baru beberapa saat dimulai dengan mantra Ganesa, penulis secara pribadi merasakan sesuatu aliran energi yang sangat besar dan dahsyat, juga sesuatu kedamaian yang luar biasa. Sesudah Japa selesai Ibu Melati meminta kepada Ibu Aryani yang mengiringi beliau untuk mengidungkan kidung sakral Sunda yaitu Sapu Nyere Pegat Simpai, menurutnya itu atas dasar permintaan batara-batari dalam penglihatan spiritualnya yang merupakan leluhur di Jawa Barat. Lagi-lagi kidung ini membuat bulu kudu penulis merinding.
Sapu Nyere Pegat Simpay

Ririungan urang karumpul
Meungpeung deukeut hayu urang sosonoan
Macangkrama bari ngawadul
Urang silih tempas silih aledan

Moal lila jeung babaturan
Hiji wanci anu geus ditangtukeun
Bakal pisah bakal pajauh
Bakal mopohokeun katineung urang

Sapu nyere pegat simpai, bakal kasorang
Takdir ti gusti hyang widhi, pasti kalakon
Urang rek papisah, urang rek pajauh
Meungpeung deukeut, hayu urang sosonoan 

Selesai Japa dilanjutkan yang terakhir yaitu Puja Tri Sandhya yang dipimpin oleh Pemangku Ketut Wirya Suta. Setelah itu acara dilanjutkan dengan diskusi. Dalam diskusi tersebut Ibu Melati mengatakan bahwa Pura Angkasa Amertha Dharma Jati tersebut didominasi oleh energi Siva dan Saraswati. Kemudian juga dijelaskan bahwa pada saat Japa banyak sekali leluhur Jawa Barat yang hadir dan termasuk Kanjeng Ratu Kidul yang dianggapnya sebagai Ibunya sendiri. Katanya mengapa banyak para leluhur Jawa Barat, batara-batari dan bahkan Kanjeng Ratu Kidul hadir, itu karena pura tersebut energinya masih sangat murni. Ini bukan berarti beliau menjelekkan pura-pura lain, tetapi dari kaca spiritualnya dalam kenyataannya seperti itu. Bahwa Pura Angkasa Amertha Dharma Jati kemungkinan besar akan menjadi Pura yang merupakan cikal bakal bangkitnya Hindu Sunda, dimana Hindu berbagai aliran bisa diterima dipura tersebut. Kejayaan yang pernah terjadi pada masa Salakanagara dan Pajajaran akan bangkit dari pura ini. Menurutnya bahwa hendaknya kidung Sapu Nyere Pegat Simpai dilantunkan dalam setiap acara persembahyangan dan juga disertai beberapa sesajen Sunda, meskipun tidak lengkap, dikolaborasikan dengan sesajen Bali. Beliau juga menjelaskan bahwa suatu saat ada beberapa peninggalan sejarah yang muncul yang ada hubungannya dengan pura tersebut. Dalam diskusi tersebut juga diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi. Terakhir beliau memberi pesan kepada umat agar seiring sejalan bersatu padu dalam menjalankan kegiatan-kegiatan spiritual di pura tersebut. Acara berakhir pukul 03.00 pagi.  
Analisa penulis bahwa banyak sekali keterangan dari Ibu Melati Astisuka cocok dengan keterangan dari Pak Dewa Suratnaya yang ketika pertama kali datang ke pura dan mengatakan kepada penulis “Wah kamu punya pura HEBAT BANGET gus, luar biasa ini!” (Pak Dewa Suratnaya juga memberikan beberapa penjelasan) dan juga dengan pengalaman-pengalaman pak Jaya (penunggu pura keturunan Sunda Wiwitan) yang dia anggap aneh dan tidak masuk akal. Dan juga keterangan dari seorang umat yang anaknya pernah mengalami trance, bahwa energi Siva dan Saraswati mendominasi pura tersebut. Dari pengalaman penulis sendiri yang sering bermeditasi disana memang begitulah adanya pura tersebut, SANGAT LUAR BIASA.
Jadi menurut penuturan umat yang hadir pada saat itu, sungguh sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya dalam acara-acara persembahyangan yang lain, pengalaman yang benar-benar baru dan luar biasa. Dan beberapa umat mengatakan sangat disayangkan mereka yang enak-enak tidur dirumah padahal sudah diberi tahu.   
Cerita-cerita tersebut diatas memang tidak bisa diterima dengan LOGIKA, karena memang bukan dalam tingkatan LOGIKA, melainkan dapat diterima dengan RASA yang disertai KEPASRAHAN, pesan penulis saat melakukan pemujaan bermainlah dengan RASA, bukan LOGIKA. Rasakan suara nafas kita sendiri saat pranayama, rasakan suara mantra yang kita ucapkan sendiri, jangan membayangkan apapun, karena Brahman / Hyang Widhi tidak dapat dibayangkan, tetapi dapat dirasakan. Energi alam semesta hanya dapat dirasakan, bukan dibayangkan. Dengan begitu maka anda akan mengalami pengalaman spiritual yang luar biasa damai, tenang, nyaman dan sesungguhnya tidak terkatakan.


Oleh:
AGUS WIDODO
(Satriyo Jawa)
Bogor - Jawa Barat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BRATA SIWARATRI: MELANTUNKAN SERIBU NAMA SIWA BERARTI SECARA TERUS-MENERUS MENGUPAYAKAN PERSAMAAN FREKUENSI DALAM DIRI DENGAN FREKUENSI SANG MAHADEWA, SEHINGGA SANG PELANTUN BISA MENGALAMI KE-SIWA-AN DALAM DIRI

Oleh : Aguswi Siwaratri, sebuah hari raya Hindu yang sangat agung dan penuh makna, sangat disayangkan bila dilewatkan begitu saja. Diantara ...